ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 54. ONE NIGHT with IPAR.


__ADS_3

Walau Mama belum sepenuhnya merestui, Barra dan Khayra tetap melangsungkan pernikahan. Dia tidak ingin menunda lagi. Yang menjadi wali nikahnya, ayah Khayra langsung. Pria paruh baya itu tidak banyak bicara. Hanya matanya berkaca menahan air mata agar tidak tumpah membasahi pipinya.


Setelah akad nikah, acara syukuran diadakan di panti asuhan yang Barra menjadi donatur tetapnya. Selain penghuni panti, tetangga sekitar panti juga di undang atas syukuran pernikahan itu.


Hari yang dinantikan Barra dan Khayra akhirnya datang juga. Dia dan Khayra akan melangsungkan akad nikah pada hari ini.


Barra memilih hari sabtu pagi sebagai hari pernikahannya. Dan sabtu siang buat acara syukuran atas pernikahannya. Barra tampak gugup duduk dihadapan penghulu dan wali nikah yaitu Ayah Erik.


Sebelum ijab kabul dimulai pak penghulu meminta Barra untuk menanyakan kesediaan calon pengantin wanita untuk menikah dengannya. Barra memegang Mix dengan gugup.


"Khayra Mafaza, aku bukan pria romantis yang pandai merangkai kata. Dengan disaksikan orang-orang yang hadir disini, aku ingin meminang kamu ...." Barra menjeda ucapannya dan menarik nafas.


"Hari ini aku berjanji dengan segenap hati aku, dengan ketulusan hati aku untuk bisa menjaga kamu. Untuk bisa menjadikan kamu satu-satunya di hidupku. Jika dulu pernikahan pertamamu menorehkan luka, maka izinkan aku sebagai cinta terakhirmu untuk bisa menghadirkan surga," ucap Barra. Dia menjeda ucapannya dan menarik napas panjang sebelum melanjutkan.


"Saya percaya takdir tuhan itu nyata dan adil, jika kamu ditakdirkan Tuhan menjadi jodoh saya, maka izinkan saya membahagiakan kamu untuk selamanya. Terakhir kata saya ingin bertanya padamu duhai wanita yang sangat aku cintai, apakah kamu bersedia menikah denganku?" Setelah mengucapkan kata terakhir itu, tampak Barra kembali menarik nafasnya.


"Bismillahirahmanirahim, dengan izin Allah, Insha Allah aku menerima kamu sebagai calon suami aku," jawab Khayra sembari menahan tangis.


Setelah menanyakan kesediaan calon pengantin wanita, acara akad nikah akan segera dilangsungkan.


"Baiklah acara ijab kabul bisa kita mulai. Bapak wali dan calon pengantin pria silakan berjabat tangan."


Ayah Erik dengan gugup menjabat tangan Barra. Walau ini kedua kalinya dia menikahkan Khayra, namun Erik merasa kali ini lebih gugup. Mungkin karena hubungannya dengan Khayra putrinya yang mulai membaik.


"Barra Hadziq Iyas," panggil Ayah Erik.

__ADS_1


"Saya, Pak!" jawab Barra.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandungku Khayra Mafaza binti Muhammad Erik dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas, Tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Khayra Mafaza binti Muhammad Erik dengan mas kawin tersebut diatas, Tunai."


"Bagaimana saksi, SAH" tanya pak penghulu pada kedua saksi, yang ditunjuk Barra. Mereka berdua orang kepercayaannya.


"SAAHH .... "ucap kedua saksi serempak.


"Alhamdulillah," ucap Barra lega.


"Sekarang kamu dan Khayra telah resmi menjadi suami istri. Pengantin wanita silakan ke sini. Dampingi pengantin pria." ucap penghulu.


Khayra yang terharu saat saksi menyatakan sah tak bisa membendung air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


Syukuran acara pernikahan dilangsungkan di taman belakang panti asuhan. Di sudut taman tampak Ferdi mengusap air matanya melihat Khayra dan Barra yang tersenyum menyambut para undangan.


Pandangan Ferdi beradu dengan Khayra. Tampak Khayra memberikan senyuman padanya, Ferdi membalas senyuman itu.


Khayra, maafkan aku. Mungkin tak mudah bagimu melupakan semua kesalahanku. Aku harap pernikahan kamu kali ini bisa memberikan kebahagiaan yang tak bisa aku berikan.


Penyesalanku adalah pernah hadir ke dalam kehidupanmu dan menghancurkan kesempurnaanmu. Pada akhirnya kita benar-benar terasing, kamu pergi dengan kekesalanmu, aku berbalik dengan segala penyesalanku. Menangisi penyesalanku, aku tahu ini mungkin karma, ya aku terima karma ini, kenyataan jika waktu nggak akan bisa kembali lagi.


Satu persatu tamu undangan yang hadir memberikan restu buat kedua pengantin. Membuat hati Ferdi yang melihatnya makin terasa sesak. Jika waktu dapat diulang, pasti tak akan siakan Khayra.

__ADS_1


Hingga sore hari barulah tamu pada pulang. Khayra dan Barra juga ikut pulang ke apartemen.


Khayra duduk ditepi ranjang dengan sedikit gugup. Dia tak pernah berdua pria dalam satu kamar. Hanya malam pertama saat Barra merenggut kesuciannya itu dia berdua seorang pria.


Khayra memandangi Barra yang sedang membuka pakaiannya. Tak tampak kecanggungan didirinya walau mereka baru hari ini berada sedekat ini di dalam satu ruangan.


"Kenapa memandangi aku seperti itu?" tanya Barra. Dia berjalan mendekati Khayra dengan hanya bertelanjang dada.


"Kamu nggak malu bertelanjang dada begitu?" tanya Khayra dengan gugup.


"Kenapa harus malu. Kamu saat ini sudah menjadi istriku," ucap Barra.


"Kita tak pernah sekamar lagi sejak malam itu. Dan aku pun tak mengingatnya. Karena semua lampu kamu matikan!"


Barra secara tiba-tiba mengangkat tubuh Khayra membuat wanita itu kaget dan berteriak. Barra mendudukan tubuh Khayra dipangkuannya. Dipeluknya pinggang ramping wanita itu. Khayra melingkarkan tangannya di leher Barra, dia takut jatuh.


"Aku bahagia akhirnya bisa memeluk dan menyentuh tubuhmu. Telah lama aku menahan diri ini. Aku tak mau kamu marah dan menjauhiku jika aku melakukan itu. Padahal aku sebenarnya sulit untuk menahannya setiap kali kita berdekatan," ucap Barra.


"Maksud kamu, apa?"


"Dari pertama aku mendekati kamu lagi, sebenarnya aku ingin sekali mengecup bibirmu ini."


"Berarti selama ini kamu selalu berpikiran mesum saat bersamaku?" tanya Khayra.


"Aku ini pria normal, Khay! Setiap pria yang berdekatan dengan wanita cantik pasti pikirannya mesum."

__ADS_1


Tangan Barra yang berada dipinggang Khayra mulai nakal, tangannya merayap masuk kedalam baju yang Khayra kenakan.


...****************...


__ADS_2