ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 74. ONE NIGHT with IPAR


__ADS_3

Setelah dua hari di rumah sakit, Khayra telah diizinkan pulang ke rumah. Barra ingin ada seorang perawat membantu Khayra menjaga bayinya. Namun, Khayra menolaknya. Dia bisa sendiri menjaga putranya. Di rumah mereka juga sudah ada yang membantu memasak dan membersihkan rumah.


Sampai di kamar, Barra membantu Khayra naik ke ranjang. Meletakan bayi mereka di samping Khayra.


"Sayang, kamu yakin nggak perlu perawat buat membantu menjaga bayi kita. Nanti aku kerja kamu sendirian menjaganya?" tanya Barra lagi.


"Yakin, Mas. Aku pasti bisa menjaga sendiri. Aku tidak ingin melewati perkembangan anak kita, Mas. Kalau malam kamu juga bisa membantu menjaganya'kan, Mas?" tanya Khayra.


"Tentu aja bisa, Sayang!" jawab Barra.


"Kalau begitu, aku nggak butuh perawat. Aku juga kurang percaya jika masalah anak di pegang orang lain."


"Terserah kamu aja, Sayang. Jika nanti akhirnya kamu butuh perawat, katakan saja. Oh ya, siapa nama putra kita, Sayang. Kamu yang akan memberinya nama, bukan?" tanya Barra.


"Aku udah mencari nama buat putra kita, Gafi Fazal Ilario yang artinya Kebahagiaan memiliki anak laki-laki yang lemah lembut, baik hati, dan suka mengampuni kesalahan orang lain. Dengan nama panggilan Gafi. Bagaimana menurut Mas?" tanya Khayra.


"Bagus banget, Sayang. Aku suka!" ucap Barra. Setelah lama berbincang, Barra melihat ke samping istrinya.


Barra melihat putranya yang tertidur dengan pulas mengganggunya. Di pegang dan di cium ters tangan mungil putranya.


"Jangan di ganggu, Mas! Nanti menangis Gafi-nya!" ucap Khayra sedikit kesal melihat Barra yang terus saja mengganggu putra mereka.



Barra terus saja mengganggu putranya sampai akhirnya menangis. Khayra yang kesal mencubit lengan Barra.


Gafi di gendong dan di peluk Khayra. "Mas, jadi menangis'kan Gafi-nya!" ucap Khayra dengan cemberut.

__ADS_1


"Gemas banget, lihat tangan mungilnya itu!" ucap Barra dengan cengegesan.


Kahyra bersandar di kepala ranjang buat menyusui bayinya. Barra ikutan bersandar dan duduk di samping Khayra.


"Berarti secara naluri dari kecil lelaki sudah suka menghisap put*ing susu ya, Sayang. Dewasa makin pintar deh mengemut dan menghisapnya, dengan istrinya!" ucap Barra sambil memperhatikan putranya yang sedang menyusu.


"Mas ngomong apa? Mesum banget!"


"Kok mesum? Aku'kan cuma menyampaikan apa yang aku lihat. Baby boy, jangan terlalu lama ya menguasai milik mommy! Nanti Daddy bisa lama puasanya!" ucap Barra.


"Mas, ngomongnya makin ngelantur aja!"


Barra tertawa melihat raut wajah istrinya yang cemberut. Barra senang jika istrinya sewot begitu.


"Sayang, kalau kamu masih ada ASI nya berarti aku nggak boleh ya mengemutnya?" tanya Barra makin ngelantur.


"Berarti masih lama banget dong giliran Daddy-nya!'


"Mas ... pikirannya mesum aja!"


Barra kembali tertawa melihat kekesalan istrinya itu. Dia mengecup pipi istrinya lama.


"Kenapa ciumnya lama banget?"


"Wangi wanita baru lahiran, enak banget."


"Jangan lama lama ciumnya, Mas," ucap Khayra dan mendorong pelan wajah Barra agar menjauh.

__ADS_1


"Kenapa nggak boleh sih mencium kamu?"


"Nanti pikiran Mas jadi mesum!"


"Pikiran kamu tuh yang mesum, aku juga tahu kamu baru habis lahiran. Nggak mungkin aku berpikiran mesum, aku sudah lihat bagaimana kamu berjuang ketika lahiran. Dan aku tahu sekarang mengapa istri yang baru lahiran ngga boleh melayani suami, agar istrinya bisa istirahat memulihkan kondisi tubuh dan juga rahimnya ,Sayang," ucap Barra dan mengacak rambut istrinya itu.


"Itu papi tahukan? Jadi jangan minta macam macam hingga 40 hari."


"Nggak lah, Sayang.Akan tetapi kalau minta cium masih bolehkan?" ucap Barra dan langsung mengecup bibir Khayra.


"Mas, hati hati! Nanti kena baby-nya!"


Barra dan Khayra terus saja becanda. Kebagiaan akhirnya dapat Khayra rasakan setelah melalui banyak cobaan hidup.


Dalam hidup ini setiap kita pasti pernah merasa bahwa terkadang cobaan dan masalah kehidupan silih berganti menghampiri? Tanpa aba-aba, tanpa bertanya siap atau tidak, mereka selalu saja berhasil membuat kita bersedih dan berputus asa.


Kita semua mungkin percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini ‘digilirkan’ oleh Tuhan yang Maha Esa. Seperti siang dan malam yang akan tiba pada waktunya, seperti roda yang berputar kadang dibawah dan kadang diatas.


Tidak selamanya kita merasakan kesedihan, percayalah cepat atau lambat jika kita mampu bersabar maka hal itu akan indah pada waktunya.


Nikmati hujanmu maka pelangi impianmu akan datang. Jika ingin melihat pelangi yang indah, maka bersabarlah menanti redanya hujan, karena Pelangi tidak akan muncul tanpa hujan dan bintang tidak akan bersinar tanpa malam.


End


...****************...


Selamat malam semuanya. Akhirnya sampai kita pada akhir cerita. Terima kasih untuk semua dukungannya selama ini.

__ADS_1


Mama harap dukungannya untuk novel terbaru mama NODA MASA LALU.


__ADS_2