ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 51. ONE NIGHT with IPAR.


__ADS_3

Saat Khayra akan pamit pulang tampak Ibu Eti masuk dengan wajah menunduk. Khayra menjadi heran melihat tingkah ibu tirinya itu. Tidak biasa dia menundukkan kepala.


Biasanya Ibu Eti berjalan dengan kepala tegak dan langkah pasti. Wanita itu berjalan mendekati ranjang tempat Ayah berbaring. Dengan terpaksa Khayra pamitan dengan ibu Eti.


"Ayah, aku pulang. Semoga lekas sembuh. Ibu aku pulang!" ucap Khayra dan menyalami tangannya.


Saat di perjalanan, Khayra hanya diam. Dia tidak tahu harus bagaimana. Jika ingin jujur, dia kasihan melihat Ayahnya yang kurang diperhatikan ibu Eti. Namun, jika ingat perlakuan Ayahnya ada rasa kecewa menyelinap di hati kecilnya.


Barra menggenggam tangan kanan Khayra. Pria itu tahu bagaimana perasaan Khayra saat ini. Antara sedih dan kecewa melihat Ayahnya.


"Khay, apa besok malam kamu ada keperluan?" tanya Barra.


"Besok aku kerja pagi. Jam 5 sore sudah pulang. Tidak ada kerjaan lagi malam harinya. Mau apa?" Khayra balik bertanya.


"Aku ingin mengajakmu makan malam."


"Hhhmmm, apa ada pilihan selain kata setuju?" tanya Khayra lagi dengan tersenyum.


"Nggak ada. Harus kata setuju dan bersedia! Aku jemput jam 7 malam ya?"


"Oke, Bos!"


***


Malam harinya tepat jam 7 malam sesuai janji, Barra mendatangi apartemen milik Khayra. Menekan bel untuk memanggilnya.


Setelah beberapa saat Khayra membuka pintu. Wanita itu tampak sangat cantik dengan gaun putihnya. Barra terpesona hingga tidak dapat berkata lagi. Pria itu memandangi Khayra tanpa kedip.


Khayra yang merasa gugup karena dipandangi tanpa kedip itu, memukul lengan Barra pelan. Caranya itu berhasil membuat Barra tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Apa kita jadi pergi?" tanya Khayra melihat Barra yang bingung.


"Tentu saja. Ayo! Aku nggak sabaran ingin makan malam berdua dengan wanita yang paling cantik di dunia."


"Gombal nya basi. Kalau aku paling cantik di dunia, aku pasti akan bisa memikat hati seorang pangeran!"


"Akulah pangeran yang kau maksud, Tuan Putri," ujar Barra dengan senyuman.


Mereka berjalan berdua menuju lift yang akan membawa mereka turun menuju parkiran.


Barra malam ini berencana melamar menyatakan cinta dan langsung melamar Khayra.Dia sengaja menyewa satu kafe untuk memberikan kejutan. Barra tidak ingin menunda lagi. Jika nanti ditolak atau diterima, Barra tidak peduli yang pasti dia telah mencoba mengungkapkan perasaannya.


Barra membuat kafe menjadi tempat yang sangat romantis. Hanya ada mereka berdua nantinya.


"Bar, emang kita akan makan malam di mana? Tumben pakai rahasia segala," ucap Khayra keheranan. Tidak biasanya Barra menyembunyikan tempat makan malam mereka.


"Aku ingin memberikan kejutan. Jika aku mengatakan sekarang. Itu bukan kejutan namanya. Nanti kamu pasti akan tau juga, Khay!" ucap Barra.


Tiba di salah satu kafe ternama di kota tempat mereka tinggal, Barra menutup mata kekasihnya.


"Kenapa harus ditutup matanya, Bar? Kamu tidak ingin mengerjai aku'kan?" tanya Khayra sedikit gugup.


"Berhenti bertanya, Khayra. Tidak mungkin aku mengerjai wanita yang aku sayangi, nikmati saja kejutan yang akan aku berikan," jawab Barra.


Laki-laki itu turun dari mobil, membukakan pintu untuk wanita yang sangat dicintainya itu. Barra dengan setia menuntun Khayra memasuki kafe yang telah didekorasi secantik dan seromantis mungkin.


Dia menarik kursi untuk Khayra duduk. "Jangan membuka matamu sebelum ada perintah dariku," bisik Barra dengan sedikit menunduk.


"Jantung aku berdebar, entah apa yang akan kamu lakukan, Bar. Aku takut kamu melakukan sesuatu yang aneh. Kamu janji ini bukan untuk mengerjai aku?" tanya Khayra lagi.

__ADS_1


"Intinya itu akan membuat kamu dan aku bahagia," jawab Barra.


Laki-laki itu memberi kode pada pelayan yang telah di latih pagi tadi untuk kelancaran acara kejutan. Barra ingin semua berjalan lancar sebab hari ini adalah hari istimewa untuknya kalau saja wanita itu menerima lamarannya.


"Barra, kamu di mana? Masih di sini'kan?" panggil Khayra meraba tangan Barra yang duduk di hadapannya.


Masih dengan mata tertutup, Khayra menolehkan kepala ke sana kemari mencari dari mana asal alunan musik yang begitu romantis dan menusuk relung hati.


"Barra kamu di mana? Jangan mempermainkan aku!" Suara Khayra tampak mulai cemas.


Barra masih tidak menyahut, lelaki itu berjongkok di depan wanita yang sangat dia cintai itu seraya memegang kotak cincin sangat indah.


"Sekarang bukalah matamu, Khay!" perintah Barra.


Tepat saat Khayra membuka penutup matanya, dia di suguhkan pemandangan yang sangat indah. Di belakang Barra rangkaian bunga mawar bertuliskan: ‘WILL YOU MARRY ME KHAYRA MAFAZA?’. Lilin-lilin yang disusun sedemikian rupa menambah keromantisan suasana malam ini.


Khayra menutup mulutnya tidak percaya melihat kejutan yang di berikan Barra untuknya. Terlebih saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria itu.


Memang akhir-akhir ini mereka telah kembali dekat, namun Khayra tidak pernah menduga jika Barra akan secepat ini melamarnya.


"Kebanyakan orang mengatakan obat dari jatuh cinta adalah menikah. Dan sekarang aku sedang jatuh cinta. Khayra Mafaza, maukah kamu menjadi obat jatuh cintaku? Di hati ini hanya tertulis namamu, namun apalah arti itu semua jika bukan namamu yang tertulis di buku nikah kita."


Khayra dengan gugup meraih tangan Barra agar berdiri. "Aku sangat bahagia dengan kejutan yang kamu berikan, aku tidak menyangka kamu akan melamarku malam ini, Barra," ucap Khayra penuh kelembutan.


Barra memandangi wajah Khayra tanpa kedip menantikan jawaban apa yang akan keluar dari mulut mungil wanita yang dicintainya itu.


...****************...


Selamat Siang. Apa ya jawaban yang akan Khayra berikan untuk Barra? Diterima apa ditolak?

__ADS_1


Sambil menunggu novel ini update kembali, bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.



__ADS_2