
Barra dan Khayra saat ini telah berada didalam kamar setelah mengucapkan janji suci didepan penghulu.
Mereka saat ini telah sah sebagai sepasang suami istri, Barra meraih pipi Khayra wanita yang sangat dia cintai dan mengusapnya dari kening sampai kebawah bibirnya.
Terulang kembali kejadian dimana ketika Barra adalah orang pertama yang merenggut kehormatan Khayra dan saat itu pula Barra sadar kalau dia telah jatuh cinta begitu dalamnya pada Khayra.
Walau niat awalnya merenggut kesucian Khayra karena mau balas dendam, namun Barra tidak bisa memungkiri jika dia menikmati semuanya.
Barra tidak ingin memulainya dengan cepat, seperti saat malam dia memaksa Khayra malam itu. Saat itu dia pernah memulainya dengan tanpa cinta.
Jadi kini dia ingin melakukannya dengan penuh cinta, Tangan Barra yang berada dibawah Bibir Khayra, beralih menyingkap bagian baju Khayra dan sampai ke punggungnya.
Membuat lenguhan pertama lolos begitu saja dari penjara bibir wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
Siapa sangka jika kini Barra melakukannya lagi namun dengan status sebagai seorang suami.Barra meraih kepala Khayra dan menyatukan kening mereka. "Bisakah aku memulainya sekarang, Sayang?"
Khayra memejamkan matanya dan mengangguk pelan Barra lalu membuka satu persatu, helai demi helai kain yang melekat di tubuh wanita yang dia cintai itu. Kini hanya tersisa pakaian dalam saja yang melekat di tubuh mulus wanita itu.
Khayra duduk di pangkuan Barra. Mata bening mereka beradu pandang. Sesekali Khayra tertunduk malu namun tangan Barra segera mengusap lembut dagu lancip nan indah milik Khayra.
Walau kesuciannya telah direnggut namun Khayra merasa kali ini jauh lebih gugup dari malam pertama tidak terduga saat itu.
Napas Barra terasa hangat menyapu wajah Khayra yang hanya berjarak beberapa centi darinya. Tangan Barra yang betah bertengger di dagu istrinya itu bagaikan magnet yang ingin segera membawa bibir mungil istrinya menuju bibirnya.
Namun, ingat lagu Kotak, 'Pelan Pelan Saja'. Dengan perlahan tapi pasti, wajah mereka semakin mendekat. Kini bibir mereka menyatu tanpa jarak. Hangat.
Naluri menuntun dua bibir itu untuk menari-menari bersama. Ciuman lembut itu berlangsung lama membuat deru napas keduanya kian terpacu. Sesekali Khayra tersengal, namun tak membuat Barra berhenti malah semakin gemas.
__ADS_1
Jantung mereka berdegup semakin kencang diiringi aliran darah yang semakin deras di nadi keduanya.
Tangan Barra tak lagi diam. Jemarinya merayap-rayap di sekujur tubuh wanita yang tengah berada di pangkuannya itu. Sentuhan-sentuhan tangan itu membuat napas Khayra kian memburu.
Bibir Barra kini tak lagi menyatu dengan milik istrinya. Kini bibir tebal itu bertengger di ceruk leher Khayra yang harum. Aroma vanila dari tubuh istrinya membuatnya terbuai.
"Aaawww ..." pekik lirih Khayra. .
Rupanya pagutan Barra di leher istrinya terlalu keras hingga meninggalkan tanda merah di sana.
"Boleh kita memulai lagi," bisik Barra kembali.
"Boleh, Bar," cicit Khayra.
"Kamu telah siap." Barra memandangi wajah Khayra dengan intens.
Khayra hanya mengangguk sebagai jawaban. Barra kini mulai melecuti seluruh sisa pakaian yang melekat di tubuh istrinya itu.
Setelah ia menanamkan benih di rahim istrinya itu, Barra berpindah ke samping. Memeluk erat pinggang Khayra dan menariknya agar lebih merapat.
Tubuh mereka yang masih sama-sama polos bersentuhan membuat sesuatu di tubuh Barra kembali bangun.
"Kamu masih seperti awal aku melakukannya," ucap Barra sambil mengusap rambut istrinya pelan.
"Bar, jangan ngomong gitu. Aku malu."
"Tapi itu emang benar. Apa boleh aku minta sekali lagi."
__ADS_1
"Apa kamu belum puas?" tanya Khayra kaget.
"Kamu nggak merasakan sesuatu dibawah sana yang kembali bangun."
"Barra ... kamu mesum banget!"
Barra menaiki kembali tubuh istrinya tanpa menunggu persetujuan dari wanita itu.
Barra perlahan kembali melakukan penyatuan tubuh mereka. Kembali pria itu melenguh puas setelah mencapai puncaknya.
"Kalau begini, bisa-bisa aku ingin di kamar terus. Aku tak akan pernah merasa puas. Pengin lagi dan lagi," bisik Barra ditelinga Khayra dan mengecapnya.
"Barra, apa nggak capek? Kamu masih kuat?" tanya Khayra.
"Masih, tapi nanti malam," ujar Barra sambil tertawa.
"Maunya ...."
"Emang mau. Sekarang kita mandi dulu. Berdua ya."
"Kamu yang mandi dulu, setelah itu baru aku."
"Berengan aja."
"Nggak, kamu aja yang duluan!" ucap Khayra.
Barra bangun tanpa rasa malu padahal tubuhnya masih polos. Pria itu mengangkat tubuh Khayra dan membawanya menuju kamar mandi.
__ADS_1
Hampir satu jam mereka berada di kamar mandi. Entah apa yang mereka lakukan. (yang tau bisikin mama ya ðŸ¤ðŸ¤).
...****************...