
Barra bersujud sebagai tanda rasa syukurnya. Setelah itu dia memeluk dan mencium dahi Khayra. Barra lalu mendekati mama-nya. Selama ini dia merasa selalu saja berburuk sangka karena Mama lebih dekat dan menyayangi Ferdi. Padahal perjuangan seorang ibu begitu besarnya.
"Mama, maafkan aku! Selama ini aku selalu saja menyalahkan mama karena lebih sayang dengan bang Ferdi. Aku mengerti sekarang,pasti ada alasan tertentu yang membuat mama melakukan itu.Seorang ibu pasti menyayangi anaknya!"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Seorang ibu juga bisa melakukan kesalahan!"
"Mama tidak salah. Sekrang aku baru tahu perjuangan seorang ibu buat melahirkan buah hatinya, aku minta maaf karena belum bisa membalas pengorbanan mama."
"Kamu anak yang baik, mama bangga punya anak seperti kamu. Semua pengorbanan mama sudah terbalas melihat kamu menjadi anak yang bertanggung jawab seperti ini!"
"Mama, terima kasih karena telah menjadi mama yang baik untukku!"
Mama mengelus punggung putra keduany itu,yang sekarang telah menjadi seorang ayah di usia yang masih termasuk muda. Barra kembali mendekati Khayra dan mengecup seluruh bagian di wajah istrinya itu.
"Terima kasih sayang, karena kamu telah berjuang melahirkan putra kita!"
"Mas, terima kasih juga karena selalu ada disampingku," ucap Khayra.
Bidan membawa bayi mereka tadi kembali ke hadapan Barra. "Bapak Barra dan Ibu Khayra ini putranya," ucap Bidan itu dan meletakkannya di atas dada Khayra.
Barra dan Khayra memeluk putranya dan menciuminya. Mama mendekat dan meminta Baarra buat mengadzani anaknya.
Barra di bantu mama menggendong bayinya dan mengadzani. Setelah diadzani mama meletakkan bayi itu kembali di atas dada Khayra.
"Coba kamu ajari bayi kamu menyusu, Khay!" ucap Mama.
"Iya, Ma."
Kayra membuka bajunya dan mengarahkan mulut bayinya ke put*ing susunya. Pertama tampak bayi itu kesulitan, mama dan Khayra terus mengarahkan mulutnya, dan akhirnya ia bisa menghisap put*ng susu Khayra.
Setelah puas menyusu, putra mereka tertidur kembali. Barra dan Khayra tidak hentinya mengucpa
"Mirip dengan Mas Barra wajahnya," ujar Khayra mengusap pipi putranya yang tertidur setelah menyusu.
__ADS_1
"Iya, mirip banget dengan Barra kecil," ucap Mama.
"Aku ganteng dari kecil berarti ya, Ma?"
"Kalau kamu nggak ganteng mana mau Khayra denganmu!" canda mama.
"Iya juga, Ma. Karena aku ganteng, baik hati, dan rajin menabung lah, makanya Khayra jadi cinta banget."
"Mas Barra narsis banget!"
Dokter Zulaida masuk keruangan dan mendekati Khayra. "Ibu, nanti ibu dibersihkan sama bidan sebelum pindah ke ruang inap. Sekarang saya pamit dulu, ada pasien yang akan di operasi."
"Terima kasih, Dok," ucap ketiganya.
Sementara Khayra dibersihkan, mama mendorong bayi Barra yang ada di bok menuju ruang inap.
Setelah Khayra dibersihkan dan berganti pakaian, perawat dibantu Barra mendorong tempat tidur Khayra menuju ruang inap.
"Sayang, apa masih ada yang sakit "ucap Barra yang duduk di samping tempat tidur Khayra sambil menggenggam tangan istrinya itu.
"Sayang, terima kasih!"
"Terima kasih buat apa, Mas? Tadi juga sudah ucapkan terima kasih!"
"Aku tak akan berhenti mengucapkan terima kasih. Karena memang banyak yang telah kamu lakukan buatku dan sebenarnya tak hanya cukup dengan ucapan terima kasih saja!"
"Mas, aku yang seharusnya banyak mengucapkan terima kasih, karena kamu telah memberikan semua yang diinginkan seorang wanita dan istri, kamu memberikan aku cinta, perhatian dan juga kamu seorang suami yang sangat bertanggung jawab."
"Itu memang kewajibanku sebagai suami, untuk membahagiakan istriku," ujar Barra mengecup tangan Khayra.
"Mas mulai hari ini tanggung jawab kamu bertambah. Aku ingin kamu jaga kesehatan. Kita akan menjaga dan membesarkan bayi kita bersama!"
"Iya sayang, aku akan menjaga kesehatan. Karena aku ingin mendampingi kamu dan anak anak sampai kita menua bersama!"
__ADS_1
"Mama mana, Mas? Kok nggak kelihatan. Pulang ya?"
"Mama menyusul Papa keparkiran. Papa mau kesini, tapi mama minta tolong belikan sarapan. Jadi mama pergi beli sarapan dulu dengan Papa," ucap Barra
"Papa sepertinya masih mencintai mama. Apa Mama sudah bisa menerima Papa lagi? "
"Memangnya kenapa sayang, kalau papa masih mencintai mama?" tanya Barra.
"Kenapa mama dan papa nggak rujuk lagi?"
"Aku nggak tahu, mungkin mama masih belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang pengkhianatan papa. Atau mungkin juga ada pertimbangan lain. Tapi bagiku sekarang ini jauh lebih baik. Jika dulu awal mama tahu pengkhianatan Papa, dia selalu saja menangis dan ada saja yang mereka perdebatkan jika bertemu. Saat ini ,aku melihat mama dan papa jauh lebih tenang dan bisa menerima semua yang pernah terjadi. Aku juga tidak merasa sedih karena harus melihat mama yang selalu menangis. Aku nggak merasa bersalah lagi karena mengungkap perselingkuhan Papa!"
"Mas benar, kita nggak tahu apa yang saat ini mama pikirkan dan pertimbangkan sehingga tidak bisa rujuk dengan papa. Kita anak-anak hanya bisa mendukung apapun itu keputusan yang akan diambil mama selama itu membuat mama senang."
"Tuh pintar Sayangnya Mas!" ucap Barra mengacak rambut Khayra.
"Mas, ngomongnya kayak sama anak kecil aja!"
Ketika mereka sedang asyik bicara terdengar ketukan di pintu. Barra lalu mempersilakan masuk. Perawat masuk membawakan sarapan buat Khayra.
"Maaf, Pak. Ini sarapan buat ibu Khayra. Serta obatnya," ucap perawat dan meletakan di meja samping tempat tidur Khayra.
"Terima kasih," ucap Barra dengan ramah.
"Kalau begitu saya permisi, Pak."
Setelah perawat itu pergi, Barra membantu Khayra duduk. Barra pun ikut duduk di tepi ranjang dan menyuapi Khayra. Setelah Kahyra makan. Barra mengambil bayinya dan menggendong putranya itu.
"Sayang, putra kita ganteng banget, apa aku seganteng ini juga ya waktu bayi," cicit Barra.
Kahyra tersenyum melihat Barra yang masih sedikit kaku menggendong anaknya.
Tanpa di sadari kembali Barra menitikan air mata. Rasanya tidak cukup rasa syukurnya atas semua yang dia terima saat ini.
__ADS_1
"Ya Tuhan, tak berhentinya aku mengucapkan syukur atas Karunia dan Rahmat Mu ini. Kau beri aku kebahagiaan yang melimpah, seorang putra yang tampan. Kau beri aku istri yang baik. Aku merasakan hidupku sangat sempurna saat ini. Aku tak ingin apa apa lagi selain kebahagiaan keluarga kecilku. Semoga istri dan anak anakku selalu dalam lindungan Mu!"
...****************...