
Ferdi mengepal tangannya menahan amarah. Jika saja Barra tidak mencegah pastilah Ferdi telah adu jotos dengan Papa kandungnya itu.
Mama Melli tampak syok, dan langsung masuk kamar membaringkan tubuhnya. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Memegang dadanya yang terasa sesak.
"Kamu tinggal di sini dulu. Aku mau selesaikan semua dengan anak istriku!"
"Aku mau Ikut! Aku juga mau memberikan penjelasan," ucap Naina.
"Penjelasan apa? Yang ada jika kamu ikut, semua makin runyam," ucap Reno.
Reno mengganti pakaiannya dan meninggalkan Naina menyusul anak istrinya yang ada di villa samping. Tanpa Reno tahu dan sadari, Naina mengikuti dari belakang.
Reno membuka pintu villa tampak Ferdi, Barra dan Khayra duduk di ruang tengah Villa itu. Khayra masih syok dengan apa yang disaksikan. Jika saja Naina hanya selingkuh dengan Ferdi karena mereka telah lama menjalin cinta, bagi Khayra masih bisa dinalar. Namun, Naina juga selingkuh dengan Papa Ferdi.
Melihat Papa-nya datang membuat Ferdi kembali naik darah. Dia berdiri dan menghampiri pria itu.
"Mau apa lagi kau ke sini. Tidak puas mencicipi kekasih anakmu sendiri. Apa kau tidak berpikir saat berhubungan dengan wanita itu, jika anakmu juga sering berhubungan dengannya? Jika aku tahu ja*lang itu juga berhubungan denganmu, aku tidak akan sudi menyentuhnya. Aku jijik!" teriak Ferdi.
Reno hanya diam, membiarkan Ferdi meluapkan semua kekesalannya. Pria itu ingin menemui istrinya. Dia tidak ingin wanita itu marah dan menarik semua aset miliknya. Walau perusahaan itu di pimpin dan dijalankan Reno, tapi modal awalnya dari Melli. Saham diperusahaan 60 persen milik istrinya. Bisa saja istrinya itu mengalihkan pimpinan.
"Aku mau bertemu Mama. Di mana mama kamu?" tanya Reno.
"Buat apa kau mencari Mama? Sudah cukup kau khianati dia. Pergilah! Sebelum aku hilang kesabaran dan menghajarmu," ucap Ferdi mengusir Reno.
__ADS_1
Dari balik pintu tampak Naina berdiri, mendengar semua pertengkaran yang terjadi. Dia telah merencanakan sesuatu untuk menjerat salah satu dari anak atau ayah itu.
Khayra berdiri dari duduknya dan mendekati Ferdi. "Aku rasa memang lebih baik Papa dan Mama bicara. Papa harus menjelaskan semuanya!" ucap Khayra.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Khay! Sudah jelas pria ini berselingkuh."
"Justru karena itu, Papa harus menjelaskan semuanya. Kenapa dia tega melakukan itu dengan Mama?" ucap Khayra.
"Pa, aku tahu jika diri ini bukan lagi bagian dari keluarga Papa. Aku seharusnya memang tidak ikut campur. Namun, sebagai Kakak dari wanita selingkuhan Papa, aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah Papa saat berhubungan dengan Naina, tahu jika dia juga berhubungan dengan Ferdi?"
Naina yang merasa tidak terima langsung keluar dari persembunyian. Dia tidak terima jika Khayra ikut campur, karena mereka bukan saudara kandung.
"Apa urusanmu menanyakan itu?" teriak Naina.
Reno yang merasa kasihan membantu wanita itu berdiri kembali. Naina menjadi berani, karena merasa Reno membelanya.
"Dasar ja*lang. Kau berhubungan denganku tapi juga dengan Papa ku. Di mana otak dan pikiranmu. Apa kau tak malu mengangkang dengan dua pria yang ada hubungan darah?!" Ferdi berteriak. Dia merasa geram karena selama ini telah dibohongi pria itu.
"Kau mau tau jawabannya? Aku tak malu melakukan itu karena aku sebenarnya tidak sudi berhubungan denganmu. Aku hanya kasihan, jika aku meninggalkan kamu, pastilah kamu akan tepuruk. Jika aku diminta memilih antara kamu dan Om Reno, aku jelas memilih papa mu karena kau tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Papa-mu!" ucap Naina dengan suara lantang.
Ferdi yang sudah emosi mendengar ucapan Naina semakin kalap. Dia mendekati wanita itu dan menarik rambutnya. Naina menjerit minta tolong.
"Lepaskan ba*ji*ngan.Aku akan melapormu ke polisi jika kau tak melepasnya!" teriak Naina berusaha melepaskan jambakan Ferdi.
__ADS_1
Reno dan Naina berusaha memisahkan. Barra yang awalnya hanya diam, ikut membantu karena melihat Khayra yang memeluk Ferdi menarik tubuhnya agar menjauh dari Naina.
Akhirnya tangan Ferdi terlepas dari rambut Naina. Wanita itu memeluk Reno dan menangis di dada pria itu. Naina merasa rambutnya akan copot dari kepala.
"Dasar banci! Pantas Khayra minta bercerai. Tidak ada yang bisa dibanggakan darimu. Anak manja yang hanya bisa berlindung dibawah ketek Mama, dan saat berhubungan denganmu aku juga tidak pernah puas. Beda dengan Papa mu yang selalu membuat aku puas dan merintih karena nikmat!" ucap Naina.
Khayra menutup mulutnya tidak percaya ucapan dari adik tirinya itu. Kenapa tidak tahu malu mengatakan semua itu. Reno juga tampak kaget dengan ucapan Naina, matanya membulat tidak percaya dengan apa yang wanita itu katakan.
"Kamu bicara apa?" tanya Reno akhirnya.
"Dasar ja*lang. Begitu bangganya kau berhubungan dengan suami orang yang pantas menjadi Ayahmu!" teriak Ferdi.
Barra yang awalnya diam tidak ada bicara akhirnya mendekati Naina dan Reno.
"Jangan bangga jadi pelakor, karena suami orang memilih bukan karena cinta, hanya sebagai pelampiasan syah*wat saja. Kalaupun akhirnya terus bersama, itu hanya karena keterpaksaan pria yang sulit mengendalikan hawa nafsunya. Orang yang merusak kebahagiaan tidak akan pernah merasa puas dengan pencapaiannya," ucap Barra mulai terbawa emosi.
"Tidak ada pelakor yang lebih baik dari pasangan sah. Karena wanita baik-baik tidak akan merebut kebahagiaan sesama wanita. Dan Salah satu ciri wanita tidak laku adalah menjatuhkan pilihan terakhir pada suami orang karena jika memang laku tentu akan ada pria single yang bisa mengambil hatinya." Barra kembali berucap dengan penuh emosi.
...****************...
Selamat siang. Masih setia'kan menantikan update novel ini.
Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.
__ADS_1