
Reno dan Naina sudah sampai di villa. Saat ini Naina sedang menangis karena merasa sangat senang ternyata tujuan Reno membawanya ke villa itu adalah untuk memberikannya sebuah kejutan, merayakan ulang tahun Reno.
"Jadi ini alasan kamu mengajak aku berlibur?" tanya Naina sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi.
Naina berpikir saat ini pastilah posisinya telah menggantikan istri sah Reno, sehingga pria itu mau merayakan ulang tahunnya berdua Naina saja.
"Kenapa kamu nangis? Seharusnya ini menjadi hari bahagia kita," ucap Reno sambil ikut mengusap pipi Naina dengan lembut.
"Ini bukan air mata sedih, tapi ini air mata bahagia sekaligus terkejut," jawab Naina. Wanita itu berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak menangis terus. "Aku tidak mengira jika kamu mau merayakan ulang tahunmu hanya berdua denganku!"
Tanpa aba-aba, Naina langsung memeluk tubuh Reno dengan sangat erat. Dia menumpahkan semua kebahagiannya dengan cara seperti itu.
Reno terkekeh, dia tidak menyangka kalau Naina akan melakukan itu.
Setelah cukup lama berpelukan, Reno mulai mengurai pelukannya. Pria itu membenarkan beberapa anak rambut yang menutupi mata Naina untuk diselipkan pada belakang telinga itu.
"Sekarang kamu mandi dulu, setelah ini kita akan melakukan makan malam bersama," ucap Reno.
"Baiklah aku akan mandi." Naina langsung menurut perintah Reno.
Wanita itu langsung mencari keberadaan kamar mandi, setelah melakukan perjalanan panjang di kereta api membuat diri Naina menjadi sangat lemas. Sepertinya, mandi akan sedikit mengembalikan rasa semangatnya.
*
Setelah selesai dengan acara mandinya. Wanita itu keluar dari kamar dengan pakaian yang terlihat cukup terbuka, dia menghampiri Reno yang sedang sibuk di dapur.
Naina memeluk pinggang Reno dengan sangat mesra dari belakang. Wanita itu berusaha untuk menggoda Reno.
"Kamu ini ngapain aja sayang?" tanya Naina dengan suara yang dibuat sangat manja.
"Aku sedang mengeluarkan kue untuk kita makam bersama nanti," jawab Reno dengan santainya.
Naina semakin menguatkan pelukannya pada Reno. Wanita itu menaruh dagunya di bahu pria itu sambil memandangi kue yang dipersiapkan oleh dirinya.
Setelah selesai menata kue, Reno membawa donat itu ke meja makan. Sedangkam Naina terus mengekor di belakang Reno.
"Kita nyalakan dulu ya lilinnya. Habis itu kamu bisa meniupnya sambil berdoa," ucap Naina sambil memantikkan korek pada sumbu lilin.
"Baiklah." Reno langsung merapatkam kedua jarinya untuk melakukam sebuah permohonan sebelum meniup api lilin di atas kue.
__ADS_1
Setelah permohonan yang sangat lama itu, akhirnya Reno meniup api kecil itu. Dia bertepuk tangan sendiri karena merasa senang mendapat kejutan yang sangat membuatnya sangat bahagia.
Kemudian Reno meletakkan rotinya di atas meja. Sekarang ini, pria itu sedang mendekat pada Naina. Tangannya juga sigap melingkar dipinggul wanita itu, tatapan mereka saling bertemu, mengunci pergerakan satu sama lain.
"Malam ini kamu terlihat sangat menggoda sayang," ucap Reno dengan suara serak khasnya.
Naina merasa tersipu mendengar pujian itu dari mulut Reno.
Setelah itu Reno semakin mendekat pada Naina, napas mereka saling bertabrakan pada kulit wajah mereka masing-masing.
***
Disisi lain, Barra dan yang lainnya sudah bersiap untuk masuk ke dalam villa. Mereka mengira akan memberikan sebuah kejuatan biasa pada Reno, mereka tidak tahu kalau ada hal lain yang harus di selesaikan oleh Barra malam ini juga.
Dengan mengendap-endap mereka berempat masuk ke dalam villa. Barra memimpin paling depan, disusul oleh Ferdi, yang terakhir adalah Khayra.
Mereka berempat masuk ke villa, menuju ruang tengah di mana Reno berada.
Melli yang membawa kue langsung membeku saat melihat pemandangan dihadapannya. Tangannya seolah sangat lemas, dan akhirnya menjatuhkan kue itu.
"Papa!!" teriaknya dengan histeris.
"Apa ini yang kau lakukan selama ini di belakangku? Aku sudah percaya dengan apa yang kau katakan kemarin, ternyata semua hanya omong kosongmu!" teriak Melli.
Ferdi dan Khayra masih membeku, mereka tidak bisa mengeluarkan kata-kata apa pun. Pemandangan yang baru saja mereka lihat rasanya benar-benar sangat gila.
Sedangkan Barra sangat puas karena rencananya untuk membongkar perselingkuhan ini berhasil. Meskipun ini akan membuat banyak orang merasa sangat sakit hati saat melihatnya, tapi setidaknya tidak ada orang yang di duakan.
"Apa-apaan ini semua?!" Ferdi sekarang bersuara. Rahang pria itu tampak mengeras karena menahan amarahnya, langkahnya juga mendekat ke arah Naina dan Reno yang saat ini masih membeku di tempat.
"Apa yang kalian lakukan?! Jelaskan semua ini!" teriak Ferdi dengan menggebu.
"Kendalikan dirimu, ini semua tidak seperti yang kamu li ...," ucap Reno terpotong.
"Tidak seperti yang kita lihat bagaimana Pa?! Sudah jelas-jelas kalian sedang berciuman! Kami semua melihatnya, dan kalian masih mau mengelak?!" Ferdi langsung menyela ucapan Reno yang merasa sangat terpojok.
"Dan kamu." Ferdi beralih pada Naina. Pria itu menatap nyalang pada kekasihnya itu. "Bisa-bisanya kamu berselingkuh dengan Papaku! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?"
Naina hanya diam saja, dia tidak berani menjawab maupun menatap wajah Ferdi.
__ADS_1
"Dasar wanita ja*lang,menjijikan. Apa kau tidak bisa mencari pria lain untuk pemuas dirimu!"
"Hentikan Ferdi!" Melli mengeluarkan suaranya lagi. "Kita sudah memergoki perbuatan mereka berdua secara langsung, itu artinya tidak ada ruang untuk memberikan mereka maaf. Kita pergi dari sini sekarang juga," ucap Melli dengan sangat cepat. Lalu pergi meninggalkan villa.
Sedangkan Khayra masih diam, dia bingung harus berbuat apa. Dia juga sangat tidak menyangka kalau Naina akan melakukan yang sangat memalukan seperti ini.
Walau dia telah mendengar dari Barra, namun Khayra masih berharap itu tidak benar.
"Papa juga! Apa Papa tidak punya malu berselingkuh dengan kekasih anak papa sendiri?" tanya Ferdi. Dia masih tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh papanya.
"Apa yang ada dalam pikiran Papa sampai mau berselingkuh dengan kekasih anakmu! Kalian berdua sangat memalukan, menjijikkan. Lebih kotor dari sampah!"
"Cukup! Papa tidak mau mendengar semua nasihatmu. Ini kehidupan papa, jadi kamu tidak perlu ikut campur." Reno mencoba untuk membela diri.
"Tentu saja ini menjadi urusanku, Pa. Aku sangat kecewa dengan Papa, apa Papa tidak pernah memikirkan perasaan mama saat melakukan hal ini?! Apa Papa juga tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku saat Papa berselingkuh dengan kekasihku?! Apa papa tida ...." Ferdi tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya. Hatinya terlalu sakit untuk mengatakan semuanya, dia masih belum percaya kalau papa dan kekasihnya melakukan ini pada dirinya.
"Jangan sok suci. Papa tahu apa yang kau lakukan dibelakang Khayra saat kalian masih berstatus suami istri. Dan kamu tahu apa yang Barra lakukan dibelakangmu ...," ujar Papa.
"Cukup, Pa. Aku tidak mau mendengar apa pun yang kau katakan!" ucap Ferdi memotong ucapan Papa nya.
Barra menghampiri Ferdi, dia mencoba untuk menenangkannya. Kemudian Barra mengintruksikan agar Ferdi keluar untuk menemui Melli dan menenangkan wanita itu, perasaan Mamanya pasti juga sama hancurnya dengan Ferdi. Mungkin lebih parah lagi.
Ferdi langsung menurut. Pria itu keluar dari villa dan menemui mamanya.
Sedangkan Barra masih berada di sana, menatap nyalang ke arah papanya dan Naina secara bergantian.
"Aku sangat senang akhirnya bisa membongkar semua kejahatan kalian," ucap Barra dingin.
"Dan papa, aku sangat kecewa dengan apa yang Papa lakukan. Semoga setelah ini Papa tidak menyesali apa pun dari perbuatan yang Papa lakukan!" lanjutnya dengan penuh penekanan.
Kemudian Barra dan Khayra meninggalkan villa juga. Menyisakan Reno dan Naina yang tampak bingung dengan situasi yang baru saja terjadi.
...****************...
Selamat Pagi. Bagaimana bab kali ini, masih belum puas ya? Jangan lupa nantikan terus kelanjutannya. Terima kasih.
Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.
__ADS_1