ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 61. ONE NIGHT with IPAR.


__ADS_3

Keesokan harinya Naina memutuskan untuk menemui Ferdi. Bukankah selama ini setiap berhubungan dia tidak pernah menggunakan pengaman.


"Mau kemana kamu, Nai?" tanya Ibu Eti melihat putrinya pagi-pagi telah rapi. Biasanya jam segini masih bergulung dengan selimut.


"Apa kamu kemarin jadi bertemu Reno?" tanya Ibu lagi. Pertanyaan dari ibunya membuat Naina menghentikan suapannya. Dia masih teringat ucapan Melli istrinya Reno jika perusahaan yang selama ini pria itu pimpin adalah miliknya dan akan diwariskan pada anak-anaknya bukan suaminya.


Naina langsung berpikir jika itu adalah Ferdi. Bukankah Ferdi anak kesayangannya. Naina bertekad akan meluluhkan hati Ferdi lagi.


Naina akan meyakinkan Ferdi jika anak yang dia kandung saat ini adalah darah daging Ferdi. Pria itu harus kembali dia dapatkan. Naina tidak mau hidup susah lagi. Jika Reno memang sudah tidak bisa diharapkan dia harus dapatkan Ferdi sebagai tambang emasnya.


"Aku nggak bisa bertemu dengan bandot tua itu. Padahal aku ingin meminta pertanggungjawaban darinya."


"Maksud kamu Reno tidak mau menemui kamu lagi?" Kembali ibu bertanya. Jika memang Reno tidak mau mengakui bayi dalam kandungan anaknya itu, apa yang harus dilakukan buat Naina. Pikir Ibu.


"Bukannya tidak mau menemui aku, tapi Reno itu sudah tidak ada di perusahaan lagi," ucap Naina.


"Kenapa bisa begitu? Bukankah itu perusahaan milik dia? Apa perusahaannya dah dijual?" Ibu bertanya beruntun membuat Naina malas menjawabnya. Ibu memandangi anaknya itu,karena tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya.


"Ternyata perusahaan itu milik Melli istrinya, bukan milik Reno. Saat ini Melli telah mengambil alih pimpinan perusahaan dan memecat Reno. Aku nggak tahu kemana perginya Reno!" gumam Naina. Namun masih dapat di dengar ibu, membuat wanita itu kaget.


"Terus bagaimana dengan anak dalam kandunganmu itu? Dari awal ibu telah melarang kau berhubungan dengan Reno. Namun kamu mengabaikan semua larangan Ibu. Sekarang lihatlah, apa yang akan kamu lakukan lagi?"


"Jangan menegurku lagi. Semua telah terjadi! Apa dengan mencaci, menghina, dan mengomel semua akan kembali semula? Lebih baik ibu doakan aja Ferdi mau bertanggung jawab denganku!"


Naina berdiri dari duduknya dan mengambil tas, lalu pamit pergi. Ibu melihat kepergian anaknya itu dengan perasaan cemas. Tabungannya sudah mulai menepis dan Naina belum juga mulai bekerja. Jika begini terus, bisa-bisa tabungan mereka ludes.


***

__ADS_1


Sampai di perusahaan yang Ferdi pimpin, Naina langsung menuju lift dan naik ke atas menuju ruang kerja Ferdi. Beruntung kali ini Naina tidak dicegah karena dia memang telah dikenal karyawan sebagai kekasihnya Ferdi.


Naina sering ke kantor dan menemani Ferdi kerja. Berbeda dengan Reno, wanita itu tidak pernah ke perusahaan karena Reno memang tidak mengizinkan. Mereka bertemu di luar kantor terus.


Tanpa mengetuk pintu Naina masuk. Ferdi yang sedang asyik dengan laptop-nya menjadi kaget dan langsung menyimpan data yang sedang diketik.


Ferdi tampak marah melihat ke arah Naina dan memandangi wanita itu tanpa kedip. Dia mengepalkan tangan menahan amarah.


"Apa kau tidak ada sopan santun?!" tanya Ferdi dengan suara tinggi.


"Aku mau bicara!"


"Apa lagi yang harus kita bicarakan? Aku rasa sudah tidak ada. Sekarang pergilah sebelum aku mengusir dengan kasar!"


Ferdi berdiri dari duduknya dan mendekati Naina. Dengan pandangan jijik dia memandangi wanita itu.


"Aku tak akan pergi sebelum mengatakan ini." Naina merogoh sesuatu dari tasnya. Ternyata hasil USG. Naina mengangkat dan menunjukan itu pada Ferdi.


"Kamu lihat ini! Aku hamil anak kamu. Aku mau kamu bertanggung jawab dengan anak yang ada dalam kandunganku ini," ucap Naina mengusap perutnya.


Ferdi tertawa mendengar ucapan dan pernyataan dari Naina. Setelah tawanya terhenti Ferdi makin mendekati Naina. Wanita itu hanya diam. Tidak mengerti apa yang akan Ferdi lakukan.


"Kamu pikir aku percaya jika itu anakku! Entah berapa pria yang tidur denganmu. Kau cari saja pria bodoh lain yang mau bertanggung jawab. Cukup selama ini kau bodohi aku. Tidak akan lagi!" ucap Ferdi dengan suara lantang.


"Kamu pikir aku wanita apa? Aku cuma berhubungan badan denganmu. Jika dengan Om Reno, aku tidak pernah melakukan. Kami hanya sekadar berciuman."


Naina terpaksa berbohong untuk meyakinkan Ferdi. Dia harus membuat pria itu mau bertanggung jawab.

__ADS_1


"Aku nggak tahu kenapa bisa terbujuk rayu Om Reno. Mungkin karena aku tidak memiliki ayah. Ayah tiriku juga jahat. Hanya sering memukulku. Jadi saat Om Reno memberikan perhatian, aku menjadi dekat. Keakraban kami hanya seperti ayah dan anak," ucap Naina.


"Kamu pikir aku percaya dengan ucapanmu. Pergi saja kau cari Reno, mungkin dia mau bertanggung jawab. Bukankah kau katakan jika dia baik dan menyayangi kamu!"


Naina menarik napas. Dia berpikir harus lebih sabar membujuk Ferdi. Bukankah selama ini pria itu selalu percaya dengan apa yang dia katakan. Semua kebohongannya tentang Kahyra, dia juga percaya.


"Ferdi, apa kamu lupa ... setiap kita berhubungan badan, kamu tidak pernah menggunakan pengaman. Jadi telah pasti ini anakmu. Kamu harus bertanggung jawab. Anak ini tidak bersalah. Dia berhak hidup dan besar dengan kedua orang tuanya!"


Ferdi memandangi Naina dengan mata tajam menyorotinya. Seolah ingin memakan Naina hidup-hidup.


"Apa kamu pikir aku peduli! Aku tidak percaya jika itu anakku. Kamu lakukan tes DNA, jika ternyata memang anakku, akan aku keluarkan tiap bulan biaya hidupnya. Namun, jangan pernah bermimpi aku akan menikahi kamu! Pergilah! Aku muak melihatmu. Jangan sampai aku melakukan kekerasan!" ucap Ferdi lantang. Dia tidak peduli karyawan yang lain mendengar teriakan darinya.


"Yakinlah Ferdi, ini anakmu. Coba kau ingat lagi. Kita selalu berhubungan tanpa pengaman. Pakai perasaanmu. Bukankah kamu berkata ingin memiliki anak denganku dan kita hidup bersama," ucap Naina belum mau mundur membujuk Ferdi.


"Itu dulu, sebelum aku tahu siapa kamu! Sekarang, jangankan untuk berkeluarga denganmu, dekat denganmu saja aku jijik!" ucap Ferdi.


"Ferdi, jangan berkata begitu. Ingat saat kita bersama. Bukankah kita saling mencintai?"


"Cintaku padamu lenyap seketika saat melihat kau berdua dengan Reno. Sekarang keluarlah! Sebelum aku mengusirmu dengan kasar!"


"Ferdi ... dengarlah ...." Belum sempat Naina bicara selanjutnya, Ferdi telah mengusirnya dengan mendorong tubuhnya keluar dari ruangan kerjanya dan langsung menguncinya.


"Ferdi, percayalah ini anakmu!" teriak Naina di luar ruangan. Ferdi tidak mempedulikan itu. Bahkan dia meminta satpam untuk membawa Naina keluar dari gedung ini.


Satpam menarik tangan Naina mengajaknya keluar. Naina menghentakan tangan petugas itu agar lepas dari tangannya.


"Aku bisa keluar sendiri. Jangan sentuh aku!" ucapnya dan berjalan keluar menuju lift.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2