
Reno saat ini sedag menunggu kedatangan Naina disebuah resto tak jauh dari kantornya. Pria itu sudah menunggu kekasih simpanannya sekitar lima belas menit, dia sebenarnya sudah merasa bosan menunggu, ada sedikit rasa takut yang ada di dalam hatinya, Reno takut ada yang memergokinya karena kali ini dia bertemu dengan Naina di tempat dekat kantornya.
Sekali lagi Reno mengrimi Naina pesan untuk menanyakan di mana posisinya saat ini, tapi tidak ada jawaban dari wanita itu. Sedikit membuat Reno kesal, tapi dia tetap menunggu.
"Hai, sayang," sapa Naina sambil menggeret kursi yang berseberangan dengan Reno.
Pria itu merasa senang akhirnya Naina datang, tapi dia masih memasang wajah datar. Dia ingin dibujuk oleh Naina.
"Maaf ya aku telat, kamu ngajak ketemuannya dadakan banget sih," ucap Naina sambil membenarkan tatanan rambutnya.
Reno tidak menjawab, pria itu masih berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Naina yang sangat peka kalau saat ini Reno sedang marah padanya langsung menyentuh lengan pria itu dengan lembut. "Ih, kamu maraha ya? Maaf, aku juga butuh waktu untuk datang ke sini. Haruskah aku berjongkok untuk meminta maaf padamu?" tanya Naina dengan memainkan mimik mukanya menjadi sedih.
Reno melirik wanita itu, melihat ekspresinya membuat pria itu langsung luluh. "Tidak usah," jawabnya dengan singkat.
"Jawabnya kok gitu? Ya udah aku lakukan." Naina langsung berdiri dari duduknya. Tetapi, Reno dengan cepat mencegah tangan wanita itu, mencoba untuk mencegah.
"Sudah ku bilang itu tidak perlu," ucap Reno dengan lembut. Kali ini wajah pria itu sedikit melunak, tidak sekuat tadi. "Aku hanya sedikit kesal karena kamu lama datangnya."
Naina mengerucutkan bibirnya. "Iya, aku 'kan sudah minta maaf," ucapnya.
"Iya, sudah lupakan ini semua."
Naina langsung mengangguk, wanita itu tidak cemberut lagi. "Jadi kenapa kamu mengajakku untuk bertemu sekarang ini?"
Reno tersenyun, pria itu tampak merogohkan tangannya ke kantung jasnya. Hal itu membuat Naina semakin penasaran.
"Coba tebak apa yang akan aku beri?"
tanya Reno.
"Apa? Aku tidak tau. Cepat katakan, aku sudah tidak sabar," ucap Naina dengan wajah yang sangat penasaran. Dia sudah membayangkan Reno akan memberinya sesuatu yang sangat mewah, cincin misalnya.
__ADS_1
"Taraaa!" Reno mengeluarkan dua buah tiket kereta api. Pria itu terlihat sangat bersemangat saat mengeluarkam tiket itu dari dalam saku jasnya.
Berbeda dengan reaksi yang diperlihatkan oleh Naina. Wanita itu tampak kebingungan, sebenarnya bukan itu yang dia inginkan. "Tiket kereta api?" tanya Naina bingung.
"Iya, kita akan berlibur ke luar kota menaiki kereta api. Pasti sangat seru, aku sering melihat ini di film-film menjadi hal yang romantis," jelas Reno. Pria itu sudah membayangkan bagaimana rencana perjalanan mereka berdua.
"Ta-tapi kenapa tidak naik mobil saja?"
"Kamu tidak suka?" tanya Reno.
"Bukan begitu, tapi apa naik kereta tidak akan repot nantinya? Banyak barang yang harus kita bawa nanti. Jadi pastinya aka repot, kan?" Naina mengeluarkan keresahannya untuk menaiki kereta api.
Reno tertawa ringan, pria itu sudah menebak kalau Naina akan mengatakan hal itu.
"Kenapa kamu malah tertawa?" Naina bingung dengan reaksi yang diperlihatkan oleh Reno.
"Aku tau kalau kamu akan mengatakan hal itu, makanya aku sudah memikirkan semuanya sebelum mengajakmu untuk menaiki kereta api." Reno mulai menjelaskannya. Pria itu meraih tangan Naina dan menggenggamnya dengan erat. "Kita tidak akan repot dengan barang bawaan, karena nantinya aku akan menyuruh supirku untuk membawakan barang bawaan kita. Jadi kita akan santai menaiki kereta api dan menikmati perjalanan kita berdua. Bagaimana? Kamu masih belum mau untuk menaiki kereta?"
"Baiklah, kita akan berangkat sore ini. Jadi bersiap-siaplah."
"Baiklah, jadi kita akan bertemu langsung di stasiun kereta?"
"Iya, nanti ada supirku yang akan menjeputmu dan mengantarkanmu ke stasiun. Aku akan menunggumu di sana, oke!"
"Oke."
Naina tampak sangat senang, dia selalu tidak bisa menebak kejutan yang akan diberikan oleh Reno. Hal itu yang membuat dirinya betah menjadi kekasih gelap Reno, meskipun hanya wanita simpanan dia selalu diperlakukan istimewah.
* * *
Barra baru selesai melakukan panggilan dengan salah satu orang, pria itu tampak sedang menyembunyikan sesuatu. Wajah pria itu tampak mengeras setelah mematikan sambungan telpon. Barra juga menghembuskan napasnya dengan jengah.
Kemudian Barra mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Pria itu mencari keberadaan Melli, dia mencari di ruang tengah tapi tidak menemukan mamanya itu. Adalagi satu tempat yang biasa bisa menemukan keberadaan Melli, wanita itu biasanya berada di taman belakang rumah. Barra langsung pergi ke sana.
__ADS_1
Saat sudah di taman belakang, Barra melihat Melli sedang bersama Ferdi. Ini kebetulan sekali, dia juga ingin berbicara dengan dua orang itu sekaligus.
"Ma, Fer," sapanya.
Melli menoleh, tatapannya tampak sangat sinis. Wanita itu memang sedikit tidak menyukai Barra, sejak kecil perlakuannya pada Barra dan Ferdi sangat berbeda. Melli selalu memperlakukan Barra sebagai anak tiri, itu karena saat pria itu lahir, perusahaan yang dikelolahnya mendadak bangkrut. Melli menyakini kalau Barra membawa sial bagi keluarganya.
"Ada apa?" Ferdi yang menyahut.
"Aku mau ajak kalian ke suatu tempat," ucap Barra. Dia sudah biasa mendapat tatapan sinis dari Melli, jadi dia merasa biasa saja. "Kalian tau 'kan kalau besok itu ulang tahun papa. Aku ingin memberi papa kejutan, aku sudah mempersiapkan semuanya. Jadi kalian tinggal datang dan memeriahkan acara."
Ferdi dan Melli saling menatap, mereka sebenarnya lupa dengan hari ulang tahun Reno.
"Males, ah. Kamu aja Fer yang ikut," ucap Melli dengan sinis.
"Kenapa ma? Sebaiknya mama juga ikut, biar nanti acranya meriah. Lagi pula ini untuk papa, papa pasti sangat senang jika kita semua bisa hadir untuk memberinya kejutan." Barra sedikit memohon, karena hal ini juga sangat penting.
"Iya, Ma. Sebaiknya mama ikut aja, toh kita juga cuma ngasih kejutan aja. Yang nyiapin juga si Barra semua." Ferdi menimpali.
Melli sedikit berpikir, jika Ferdi yang mengatakannya dia takut untuk menolak karena Ferdi adalah anak krbanggaannya.
"Baiklah, mama ikut," jawab Melli pada akhirnya.
Barra merasa sangat lega karena akhirnya mamanya akhirnya setuju. Tapi dibalik itu ada rasa sakit yang ada di hatinya karena Melli mau menyetujui setelah Ferdi yang mengatakannya, padahal tadi dia juga mencoba untuk membujuk.
"Baiklah, nanti kita akan berangkat sore ini," ucap Barra.
Setalah itu, Barra langsung meninggalkan tempat itu. Masih banyak yang harus ia urus mengenai kejutan yang akan diberikam pada Reno nanti. Dia ingin menunjukkan sesuatu pada semua orang, jadi Barra tidak mau membuat kesalahan.
...****************...
Selamat Siang. Masih setia menantikan novel ini update'kan? Sambil menunggu, bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.
__ADS_1