
Ibu Eti memandangi Naina yang tampak akan pergi dengan pakaian yang telah rapi. Ibu lalu berjalan mendekati anaknya.
"Mau kemana, Nai?" tanya Ibu.
"Aku mau ke rumah Reno menemui istrinya Melli. Aku ingin dia membujuk anak atau suaminya buat bertanggung jawab."
"Apa kamu tidak salah? Mana mungkin Ibu Melli mau membujuk suami atau anaknya, yang ada kamu akan di caci dan dimaki. Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri aja. Sudahlah, Nai. Lebih baik kamu dengarkan saran ibu. Pergi dari sini. Jual apartemen ini. Kita mulai kehidupan baru di desa!"
Naina diam mendengar ucapan ibunya. Apa yang dikatakan wanita yang telah melahirkan dia itu benar adanya. Tapi Naina juga ingin mencoba, siapa tahu kali ini dia beruntung.
"Aku mau usaha dulu, Bu! Siapa tahu sebagai sesama wanita ibu Melli bisa mengerti perasaan aku!" ucap Naina dengan penuh pengharapan.
Naina mengambil tas-nya dan pergi meninggalkan ibu tanpa bicara apa pun lagi. Dia masih memiliki keyakinan jika Ibu Melli mau mendengarkan ucapannya.
Naina mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju kediaman Melli. Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, Naina duduk di ruang tamu rumah yang mewah itu.
__ADS_1
Naina memandangi seluruh ruangan, meneliti setiap sudut. Tampak kemewahan di setiap perabot yang ada.
Beberapa saat tampak seorang wanita melangkah dengan elegan. Melihat tamunya ternyata Naina, wanita itu berbalik arah. Melihat itu Naina berdiri dan melangkah cepat mengikuti Melli.
"Tunggu dulu, Tante. Aku harus bicara!" ucap Naina menahan langkah Melli dengan memegang pergelangan tangan Melli.
Melli menghentakan tangannya agar pegangan tangan Naina lepas. Wanita itu menatap tajam ke arah Naina.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan! Pergilah! Aku tak ingin rumahku dikotori wanita seperti kamu!" ucap Melli ketus.
"Apa kamu yakin itu anaknya Ferdi? Bukankah kamu sering pergi dan tidur dengan Reno?" tanya Melli dengan suara sinis.
Naina hanya diam mendengar ucapan Melli. Jika dia mengatakan tidur dengan Reno, pasti Melli tidak akan mau menolong. Karena seorang wanita mana yang bisa menerima anak dari suaminya. Namun, dia pasti bisa menerima cucu dari darah daging anaknya.
"Ini cucu, Tante. Bukan anaknya Om Reno. Aku dan Om Reno tidak memiliki hubungan lebih. Aku menganggap Om Reno seperti Ayah sendiri. Dari kecil aku tak memiliki ayah dan ayah tiriku kejam. Om Reno memberikan perhatian seperti Ayah kandung saja!"
__ADS_1
Melli tertawa mendengar ucapan Naina. Dia memandangi Naina dengan intens.
"Kamu pikir aku percaya. Apakah kamu lupa dengan pengakuan jika Reno lebih hebat dari Ferdi. Apa karena kehamilan membuat kamu lupa ingatan?!"
"Tante percayalah ini anak Ferdi, cucu Tante! Aku mohon tolong bujuk Ferdi menikahiku demi cucu Tante ini! Sebagai seorang ibu, Tante pasti mengerti bagaimana perasaanku!"
"Dasar wanita ja*lang. Saat kamu berhubungan dengan suamiku, apakah kamu pernah berpikir akan hamil begini? Apakah kamu berpikir bagaimana perasaan aku? Apa kamu berpikir tentang perasaanku? Jadi apa alasannya aku harus memikirkan perasaan kamu saat ini!" ucap Melli dengan emosi.
Melli menjeda ucapannya dan kembali memandangi Naina dengan wajah memerah menahan amarah yang makin memuncak.
"Sekarang aku minta kamu keluar! Jangan sampai aku meminta petugas keamanan untuk menyeret kamu keluar!"
Setelah mengucapkan itu, Melli melangkah pergi naik ke lantai atas menuju kamarnya. Naina masih berdiri terpaku di tempat semula.
Naina sadar semua usahanya tidak ada yang berhasil. Dengan langkah berat meninggalkan rumah kediaman Melli.
__ADS_1
...****************...