
Di kota, tepatnya di sebuah apartemen, Naina masih saja berbaring walau hari telah menunjukan pukul sebelas siang. Telah satu minggu ini Naina merasa sangat pusing dan seluruh badannya terasa pegal sehingga inginnya berbaring saja.
Ibu Eti yang telah memasak buat makan siang mencoba membangunkan putrinya. Ibu Eti telah seminggu ini memperhatikan tingkah anaknya itu. Dia tidak ingin berpikir negatif sebelum memastikan segalanya.
"Nai, bangunlah! Udah jam sebelas. Kamu nggak kerja?" tanya Ibu Eti melihat anaknya masih saja bergulung dengan selimut.
Naina memang bekerja di salah satu butik. Di tempat dia bekerjalah awal mula bertemu Ferdi, berkenalan dan akhirnya berpacaran.
"Aku malas, Bu. Kepalaku pusing dan kalau dipaksa berdiri juga sering mual."
"Pergilah ke rumah sakit atau klinik. Kamu harus tahu sakit apa yang sedang kamu derita saat ini. Sudah lima hari kamu nggak kerja. Kalau nanti diberhentikan bagaimana?" tanya Bu Eti.
"Om Reno tidak akan membiarkan orang itu mengeluarkan aku!"
"Kamu yakin Reno masih mau membantu kamu? Sejak kejadian kemarin, mana ada dia bertanya tentang kamu!" ucap Ibu Eti.
"Aku mau menemui Om Reno setelah badan ini terasa lebih baik," ujar Naina.
__ADS_1
"Cobalah periksa penyakitmu. Ibu takut ini bukan penyakit!" ucap Ibu lagi.
Naina memandangi ibunya dengan pandangan penuh tanda tanya. Apa maksud ibunya jika itu bukan penyakit, kenapa dia diminta ke rumah sakit? Berbagai pertanyaan bermain di otak Naina.
"Jika bukan penyakit, kenapa ibu meminta aku ke klinik?" tanya Naina akhirnya. Dia ingin tahu apa yang ibunya pikirkan. Karena ibu dari kemarin tampak gelisah.
"Ibu takut semua itu karena kamu hamil! Telah satu minggu ini ibu lihat kamu selalu mual, muntah dan bawaannya mau rebahan saja seperti tanda2 orang hamil."
Naina langsung bangun dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang. Memandangi ibunya dengan wajah tanda tanya. Apa mungkin itu tanda-tanda kehamilan? Apa memang dia sedang hamil? Jika memang saat ini dia hamil, anak siapa?
"Kenapa kamu memandangi ibu seperti itu? Apakah itu benar? Kamu sedang hamil?" Ibu bertanya dengan beruntun.
"Pil KB itu bisa saja membuat kita hamil jika kamu tidak teratur minumnya. Apa lagi kalau sampai lupa."
"Bu, belikan aku tespek. Aku coba cek dulu."
"Ibu beli di apotek bawah. Kamu tidurlah lagi!"
__ADS_1
Ibu keluar dari kamar dan membeli tespek di apotek yang ada di lantai dasar. Setelah kembali ke apartemen, ibu memberikan pada Naina.
"Cobalah kamu tes. Lebih cepat lebih baik agar nanti cepat tahu kamu hamil apa nggak!" ucap Ibu.
Ibu bukannya tidak pernah melarang Naina untuk berhubungan dengan Ferdi dan Reno sekaligus. Ibu sudah berpesan agar Naina berhubungan dengan satu pria saja. Namun, Naina yang keras kepala tidak pernah mau mendengarkan nasihat ibunya.
Naina masuk ke kamar mandi dan melakukan tespek. Saat melihat hasilnya, Naina langsung lemas. Dia berpegang dengan wastafel agar tidak terjatuh.
Dua garis merah terpampang nyata di tespek yang dia gunakan. Naina tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Apa yang harus dia lakukan saat ini.
Naina keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi ranjang, masih memandangi hasil respek yang di pegang. Tampaknya Naina masih syok mengetahui ternyata dirinya memang hamil.
Ibu masuk dengan segelas air putih dan sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Melihat Naina yang tampak termenung, ibu mendekati anaknya itu.
"Bagaimana hasilnya, Nai?" tanya ibu ingin tahu hasilnya.
Sebelum menjawab pertanyaan ibu, nampak Naina menarik napas dalam sebelum akhirnya bicara.
__ADS_1
"Aku positif hamil, Bu!" jawab Naina.
...****************...