ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 52. ONE NIGHT with IPAR


__ADS_3

Khayra dengan gugup meraih tangan Barra agar berdiri. "Aku sangat bahagia dengan kejutan yang kamu berikan, aku tidak menyangka kamu akan melamarku malam ini, Barra," ucap Khayra penuh kelembutan.


Barra memandangi wajah Khayra tanpa kedip menantikan jawaban apa yang akan keluar dari mulut mungil wanita yang dicintainya itu.


Barra masih menunggu Khayra memberikan jawaban atas pernyataannya cintanya. Melihat Khayra yang hanya diam, Barra kembali bersuara.


"Khay, aku tahu kamu masih ragu dengan cintaku karena aku pernah mengkhianati kepercayaanmu. Aku memang tidak berhak bertanya padamu tentang sesuatu, tapi aku ingin mengatakan bahwa cintaku padamu akan hidup selamanya. Aku mohon, maafkan aku. Aku berkata "Aku mencintaimu" dan aku bersungguh-sungguh. Tapi aku menyakitimu, sekarang "Aku minta maaf" dan aku juga bersungguh-sungguh."


Khayra berdiri dari duduknya, berdiri dihadapan Barra. Kembali Khayra menggenggam tangannya.


"Cinta sejati bukanlah bagaimana kamu memaafkan, tetapi bagaimana kamu melupakan, bukan apa yang kamu lihat tetapi apa yang kamu rasakan, bukan bagaimana kamu mendengarkan tetapi bagaimana kamu mengerti, dan bukan bagaimana kamu melepaskan tetapi bagaimana kamu bertahan," ucap Khayra.


"Terima kasih Khayra. Bagaimana bisa aku mengucapkan kata-kata, "Maafkan aku" ketika aku tahu bahwa kata-kata itu tidak cukup? Dan bagaimana aku bisa memintamu untuk memaafkanku ketika aku tahu aku tidak bisa memaafkan diri sendiri? Aku benar-benar menyesal atas semua yang pernah aku lakukan," ucap Barra dengan penuh penyesalan.


"Aku tidak tahu di mana aku berdiri denganmu. Dan aku tidak tahu apa maksudku bagimu. Yang aku tahu adalah setiap kali aku memikirkan dirimu, aku ingin bersamamu. Aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tetapi karena siapa aku ketika aku bersamamu. Pegang tanganku, dan aku akan pergi ke mana pun denganmu."


Barra tampak kaget mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Khayra. "Apa itu artinya kamu menerima lamaranku, Khay?" tanya Barra dengan suara lantang karena bahagia.


Khayra tidak menjawab pertanyaan Barra, hanya anggukan kepala sebagai jawabannya. Barra langsung memeluk Khayra erat.

__ADS_1


"Orang-orang bilang kalau jatuh cinta hanya terjadi sekali, tapi mereka tidak benar. Setiap aku melihatmu, aku selalu jatuh cinta, lagi dan lagi. Kamu adalah orang yang muncul pertama kali ketika aku akan mengawali hari dan kamu akan selalu hadir ketika aku akan tidur di malam hari," ucap Barra dengan antusias.


"Aku mencintaimu hati ini, esok dan selamanya."


"Aku nggak butuh kata cinta dan gombal saja tapi bukti nyata dari semua ucapanmu itu."


"Baiklah, Sayang. Aku akan buktikan dengan menikahimu lusa. Kita bisa menikah dulu dan pesta nya nanti saat Mama telah bisa berdamai dengan hatinya. Aku pikir kamu akan menolak cintaku."


Barra mengajak Khayra duduk dan setelah itu menyematkan cincin di jari manis wanita itu sebagai tanda pengikat.


Tanpa kedip Khayra memandangi cincin yang disematkan di jari manisnya. Tanpa bisa di bendung air mata jatuh membasahi pipi mulusnya.


"Aku hanya memikirkan omongan orang. Apa nanti yang orang-orang katakan jika kita menikah. Setelah berpisah dari Mas Ferdi aku lalu menikah denganmu."


Khayra tadi memang memikirkan itu semua. Sempat terpikir untuk menolak lamaran Barra, namun Khayra juga menyadari tidak selamanya kita meski mendengar omongan mereka. Bukan mereka yang memberi kita makan.


Terkadang, menjadi sebuah hal yang sering terdengar tentang mendengarkan omongan orang lain ini memang sulit untuk dihindari. Maka dari itu penting sekali untuk menyeleksi apa yang terucap dari orang lain untuk kita. Kalau kata-kata itu memang baik, kita dapat menyerapnya karena pada dasarnya juga kita sebagai manusia tidak lepas dari kesalahan.


Sebenarnya kata-kata dari orang lain itu bisa bersifat positif maupun negatif tergantung kita menyaring kata-kata tersebut. Kalaupun kata-kata tersebut bersifat kritik dan masukan yang membangun maka sah-sah saja kalau kita menerimanya akan tetapi kalau kata-kata tersebut bersifat berlebihan maka kita berhak menolaknya.

__ADS_1


Dengan kita dapat menyaring kata-kata orang lain menjadikan kita tidak terbebani dengan omongan orang yang membuat stress. Dan disisi lain kita mampu menjaga kesehatan mental.


"Khayra, terkadang ada saatnya kita mengabaikan omongan orang demi kebahagiaan kita. Karena banyak orang terlalu pintar menilai orang lain tapi sayang dia terlalu bodoh menilai dirinya sendiri."


"Barra, apakah Mama kamu setuju dan merestui jika kita menikah?" tanya Khayra.


Khayra teringat jika Mama Barra kurang menyukai kehadiran dirinya, apa lagi jika tahu dia akan menikahi Barra.


"Aku ini anak laki-laki. Jika aku rasa pilihanku tepat, tidak ada yang bisa melarangnya."


"Semuanya aku serahkan padamu. Jika Mama masih belum dapat menerima kehadiranku, aku mau kita berjuang bersama agar suatu saat direstui."


...****************...


Selamat sore. Terima kasih karena masih setia menanti novel ini update.


Sambil menunggu update terbaru bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.


__ADS_1


__ADS_2