
Tidak terasa saat ini kandungan Khayra telah memasuki bulan ke sembilan. Mama Merri telah menerima kehadiran Khayra dengan sepenuh hati.
Setiap minggu Mama selalu menginap di rumah Barra dan Khayra. Semenjak berpisah dari papa, mama lebih pendiam.
Khayra mendapat kabar jika Ayahnya kembali dengan ibu tirinya Eti. Mereka lebih tampak akur saat ini. Tinggal di desa dengan cucu mereka anaknya Naina. Sedangkan Naina kembali ke kota untuk bekerja.
Dari foto yang ayah-nya kirim, anak Naina lebih mirip ke Ferdi. Namun, Naina tidak mau melakukan tes DNA, biarlah semua itu menjadi masa lalu. Naina bertekat membesarkan anaknya dengan uang hasil kerjanya saja tanpa bantuan dari siapapun.
***
Pagi dini hari, Khayra masih belum bisa memejamkan matanya. Dari sehabis magrib dia sudah merasakan pinggangnya yang mulai sakit.Khayra sengaja tak mengatakan pada Barra agar suami posesifnya itu tak kuatir.
Khayra menunggu sampai rasa itu tak bisa ditahan lagi, baru dia mengatakan pada suaminya.Khayra tak mau lama lama di rumah sakit.
"Mas Barra ...," panggil Kahyra sambil mengguncang tubuh Barra.
"Ada apa, Sayang? Kamu pengin lagi ya?" tanya Barra dan membuka matanya.
"Mas, aku nggak lagi pengin itu!" ucap Khayra sedikit kesel.
"Jadi kenapa, Sayang?" tanya Barra dengan mata yang agak tertutup menahan kantuk.
"Pinggangku sakit banget!"
"Sini, Sayang, lebih dekat tidurnya. Biar aku usap untuk mengurangi sakitnya!"
"Mas, sepertinya aku mau melahirkan!"
"Apaaa ...?" tanya Barra kaget dan langsung duduk.
"Aku rasa ini mau lahiran, Mas!"
"Kamu betul mau lahiran,Sayang? Jadi aku harus bagaimana, Sayang?" tanya Barra dengan gugup.
"Ya ke rumah sakit, Mas," ucap Khayra meringis menahan sakit.
"Kalau gitu ayo kita ke rumah sakit "ucap Barra langsung turun dari ranjang menuju pintu.
"Mas, emang kamu mau kerumah sakit hanya dengan memakai boxer gitu!"
"Astaga, kamu kok nggak ngomong, Sayang."
"Itu yang tadi ngomong siapa?" tanya Khayra.
"Sayang, yang sakit apa sih"ucap Barra sambil berpakaian, dia mulai tampak panik.
"Seluruh badan ini terasa sakit, Mas!"
"Kamu aku gendong aja ya!"ujar Barra langsung menggendong Khayra dan dia menurunkan Khayra di sofa ruang tamu.
"Aku hubungi mama dulu ya, Sayang?"
"Iya, Mas. Cepet dikit, pinggang dan perutku makin terasa sakit!" ucap Khayra.
"Iya, Sayang," ucap Barra mengambil ponselnya dan menghubungi mama. Lama dihubungi, baru mama mengangkat ponselnya
"Ada apa Bar, masih subuh mengganggu aja!"
"Ma sepertinya Kahyra mau lahiran!"
"Apa ...? Mau lahiran!"
__ADS_1
"Iya, Ma. Temani aku kerumah sakit, Ma. Aku takut menghadapinya sendirian!"
"Iya, kamu siapin mobil. Bawa pakaian yang disiapkan Khayra untuk lahiran, bawa ke rumah sakit. Nanti mama menyusul!"
"Iya Ma!"
Setelah itu Barra langsung menutupi sambungan ponselnya.Barra menghampiri Khayra yang sedang memegang pinggangnya yang makin terasa sakit.
"Sayang, mama bilang bawa tas isi perlengkapan bayi buat di rumah sakit."
"Ambil itu tas koper yang disamping lemari ,Mas. Yang aku tunjukin sama Mas kemarin."
"Oke Sayang, kamu tunggu ya!"
Barra langsung berlari kembali ke lantai atas mengambil tas koper itu. Setelah itu Barra membawa tas masuk ke dalam bagasi mobil. Dia lalu menggendong Khayra dan mendudukkan di jok belakang. Saat akan masuk mobil, tampak mobil mama datang. Barra meminta mama cepat masuk
Awalnya mama ingin menyusul saja. Tapi mengingat Barra dan Khayra belum berpengalaman, akhirnya mama menyusul ke rumah. Jarak rumah mereka memang dekat. Mama sengaja membeli rumah baru yang lebih mungil di dekat kediaman Barra.
Barra menjalankan mobil dengan kecepatan yang lumayan cepat. Beruntung jalanan sepi karena jam masih menunjukan pukul tiga pagi.
Khayra ada dalam pelukan mama. Mama mengusap pinggang dan perut Khayra mengurangi rasa sakitnya.
"Bagaimana Sayang,masih sakit ya?" tanya Barra sambil menyetir.
"Tentu aja Barra, sakitnya terasa sampai anak lahir dan makin dekat kelahiran semakin sakit yang terasa. Kamu tak akan bisa menahannya, seperti kata dokter, sakitnya seperti dua puluh tulang dipatahkan secara serempak," ucap Mama.
"Sayang, bertahan ya sebentar lagi kita sampai rumah sakit," ucap Barra cemas memdengar ucapan mama.
"Tahan sebentar, Khay!" ucap mamia masih mengelus pinggang Khayra.
"Ya, Ma," ucap Khayra sambil menahan rasa sakit yang makin lama makin terasa intens.
"Ini bukan pipis, Khay. Ini air ketuban kamu kayaknya. Barra percepat dikit, air ketuban istrimu sudah pecah. Khayra sudah hampir lahiran," ujar Mama.
"Iya, Ma," jawab Barra makin panik.
"Konsentrasi, walau dipercepat kamu harus hati hati. Kamu sudah menghubungi dokter tadikan?"
"Sudah, Mau!"
Mobil memasuki halaman rumah sakit, Barra segera menggendong Khayra dan membawa masuk ke ruang IGD.
"istrinya kenapa, Pak?" tanya perawat melihat Barra menggendong Khayra menuju IGD.
"Mau lahiran, dokter Zulaida nya mana?"
"Oh, kalau mau lahiran sebaiknya jangan IGD Pak, mari sini ... bawa masuk Pak. Dan tidurlah di kasur itu, saya panggilkan dokter! "ucap Perawat setelah Khayra dibaringkan di ruang persalinan. Mama mengikuti dari belakang.
"Sayang, mana yang sakit?" tanya Barra.
"Semuanya, perut, pinggang, dan badan."
"Aku harus bagaimana biar sakitnya berkurang, Sayang?"
"Nggak ada, Mas. Jangan tinggalkan aku sendiri, itu aja!"
"Ma, apa nggak ada obat untuk menghilangkan sakit yang dirasakan Khayra?"
"Nggak ada Barra. Itu memang proses alami ketika wanita akan melahirkan."
Dokter Zulaida masuk bersama dua bidan pembantu. Barra langsung mendekati.
__ADS_1
"Dokter, tolong istri saya. Tolong hilangkan rasa sakitnya"
"Sebentar ya Pak Barra. Saya periksa dulu, sudah bukaan berapa istri anda!"
"Bukaan apa Dok?" tanya Barra heran.
"Bukaan buat jalan lahirnya putra anda!"
"Cepat periksa Dok. Kasihan Khayra. Lihat keringat sudah membasahi tubuhnya karena menahan sakit!"
"Ya, Pak," ucap Dokter dan memeriksa Khayra, memeriksa bukaan buat jalan lahir.
"Ternyata udah bukaan sembilan. Sebentar lagi istri anda lahiran. Ibu Khayra nanti jika saya minta ibu mengejan, ibu tarik nafas dalam-dalam baru ibu mengejan ya!"
"Ya, Dok!" jawab Khayra lemah sambil terus menggenggam tangan Barra menahan rasa sakit.
Barra yang merasa kuatnya genggaman tangan Khayra tahu jika istrinya itu sedang menahan rasa sakit. Barra menangis melihat istrinya yang meringis menahan sakit.
"Sayang, apa yang harus aku lakukan agar sakit yang kamu rasakan bisa berkurang?" tanya Barra sambil menangis.
"Nggak ada, Mas. Pegang aja tanganku. Biar aku kuat!"
" Iya,Sayang, kamu harus kuat ya. Sebentar lagi putra kita lahir!"
"Iya, Mas."
"Dokter, aku sudah nggak tahan,apa aku sudah boleh mengejan?" tanya Khayra makin mempererat genggaman tangannya dengan Barra. Khayra merasa seperti akan membuang air besar.
"Mama, bantu Khayra!" ucap Barra memohon,karena melihat Khayra yang menahan sakit.
"Barra, nggak ada yang bisa Mama bantu. Cuma doa aja. Kamu tenang! Sebentar lagi pasti istrimu lahiran!"
"Ibu Khayra, ini sudah saatnya ibu mengejan. Saya hitung sampai sepuluh, ibu tarik nafas kuat kuat dan mulai mengejan ya!" ucap dokter Zulaida.
Dokter lalu memulai hitungan, Khayra menarik nafas kuat dan mengejan sekuat tenaga,
"Sekarang tahan dulu bu, kita coba lagi. Ibu tarik nafas kuat seperti tadi lalu mengejan ulang!"
Khayra menarik napas dalam dan mulai mengejan kembali. Ingin rasanya dia berteriak. Tapi anaknya belum juga tampak keluar, hanya rambutnya yang udah keliatan.
"Dokter, saya sudah nggak kuat," ucap Khayra akhirnya karena udah beberapa kali mencoba masih gagal. Dia merasa sangat lelah.
Barra semakin kuatir dan kasihan melihat istrinya yang berjuang melahirkan buah hati mereka.
"Sayang, kamu harus kuat. Jangan menyerah!" ucap Barra mengusap kepala Khayra.
"Ibu kita coba lagi. Ini rambut anak ibu sudah kelihatan. Ibu harus kuat!" ucap Dokter.
Dokter mengarahkan Khayra buat mencoba mengejan lagi. Khayra kembali menarik napasnya kuat. Kali ini bidan membantu bayi keluar dengan mendorong dari perut Khayra.
Barra tak bisa menahan tangisnya melihat Khayra yang masih terus berjuang melahirkan. Tadi Barra meminta operasi saja, tapi Khayra masih mau lahiran normal.
"Ya Tuhan bantu Khayra, beri dia kekuatan agar dapat melahirkan bayi kami!"
Setelah di bantu bidan akhirnya bayi Khayra keluar. Terdengar suara tangisan bayi menggema diruangan itu.
Barra melihat bayinya keluar dari perut istrinya tak bisa menahan tangisnya. Ia terisak dan langsung memeluk Khayra.
"Selamat Pak Barra dan ibu Khayra, anak bapak lahir sehat dan ganteng!"ucap Dokter. Barra tampak menarik napas lega dan tak berhenti mengucapkan syukur.
******************************
__ADS_1