ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 50. ONE NIGHT with Ipar


__ADS_3

Khayra ditemani Barra berjalan tergesa di lorong rumah sakit. Kabar yang diterima dari ibu tirinya membuat wanita itu kaget dan bersedih.


Ibu Eti mengatakan jika Ayah kaget saat melihat video yang di kirim Ferdi sehingga saat berdiri dari duduknya dia oleng dan terjatuh hingga membentur ujung meja.


Saat ini Ayah telah ditangani dokter. Khayra dan Barra langsung menuju ruang perawatan yang Ibu Eti katakan.


Tanpa mengetuk pintu Khayra masuk dan melihat Ayahnya terbaring. Rasa marah dan kecewanya membaur entah kemana. Khayra langsung memeluk Ayahnya.


"Ayah, kenapa bisa begini?" tanya Khayra menangis sambil memeluk tubuh kurus pria itu.


Ayah Erik membuka matanya dan melihat Khayra yang menangis dengan memeluk tubuhnya. Pria paruh baya itu mengusap rambut putrinya itu. Telah berabad lamanya tangan pria itu tidak melakukanya.


"Khayra ... maafkan Ayah, Nak!" ucap Ayah pelan. Tanpa Ayah sadari air mata menetes dari sudut matanya.


Saat istrinya Ningsih masih hidup, tubuh kecil Khayra selalu dalam pelukan. Semua berubah saat Ningsih meninggal.


Khayra melepaskan pelukannya dan duduk di kursi samping ayah. Di kamar itu hanya ada Ayah seorang. Khayra merasa iba dengan nasib ayah-nya itu. Dalam keadaan sakit begini, ibu Eti istrinya mengapa tidak menemani.

__ADS_1


Khayra tidak ingin bertanya kenapa dan mengapa Ibu tiri nya itu tidak ada di kamar. Biarlah itu menjadi urusan ayah Erik dan ibu Eti.


"Maafkan Ayah. Selama ini telah mengabaikan kamu," ucap Ayah Erik dengan terbata. Dia sebenarnya malu mengucapkan kata maaf, karena terlalu banyak luka yang telah diberikan pada anaknya itu.


"Ayah sadar selama ini sering membuat kamu bersedih dan terluka hatimu. Ayah emang bukan orang tua yang baik. Seharusnya tidak melakukan itu padamu. Semua bukan salahmu. Setiap orang tua pasti ingin melindungi anaknya. Jadi wajar jika ibumu melindungi kamu dari kecelakaan itu. Sekali lagi maafkan Ayah."


Khayra tidak dapat berkata satu parah kata pun. Saat ini hatinya seperti sedang dipermainkan dan entah mau apa, dia juga tidak bisa menjawab.


Kecewa, sudah pasti. Selama hampir 12 tahun Ayahnya memperlakukan dirinya tidak adil. Dari usia 10 tahun hingga 22 tahun saat ini, baru kali ini Khayra bisa memeluk lagi tubuh Ayah nya.


"Ayah tahu, Nak. Kamu pasti marah dan kecewa dengan Ayah. Semua itu wajar. Ayah juga tidak meminta lebih. Melihat kamu tetap mau menjengukku, bagiku itu sudah sangat luar biasa. Kau mau menemui aku aja itu sudah lebih dari segalanya."


"Aku selalu berusaha untuk menjadi apa yang kamu mau, menjadi seorang anak yang selalu patuh dengan perintahmu. Selalu berusaha untuk membanggakanmu dengan seluruh perjuanganku dalam hal apapun. Namun tidak pernah kamu merasa bangga padaku?" Khayra menjeda kembali ucapannya. Menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Saat teringat tentang ayah, aku coba untuk tetap bersabar dan menerima kenyataan. Aku harus kuat menghadapi semuanya.Terkadang aku menangis ketika ada teman yang menceritakan kebahagiaan suasana keluarganya. Aku menangis saat temanku mengatakan bagaimana Ayah mereka menyayanginya, memeluk tubuhnya dan bangga pada putrinya. Mungkin aku iri."


Khayra makin terisak. Teringat bagaimana ayah memperlakukan dirinya. Jika membayangkan itu semua, ingin rasanya Khayra pergi jauh dan tidak pedulikan semua yang terjadi dengan ayahnya. Namun, Khayra tidak bisa. Dia sadar, tanpa ayah tidak akan ada dirinya.

__ADS_1


"Maafkan Ayah," ucap Ayah sekali lagi. Tampak sekali wajah penyesalannya.


"Sudahlah, Yah. Sekarang aku ingin tahu, kenapa Ayah bisa begini. Apa Ayah kecewa karena anak yang Ayah banggakan ternyata tidak seperti yang diharapkan. Bukannya aku ingin menambah beban Ayah dengan pertanyaan seperti ini. Aku hanya ingin tahu!"


"Ayah tidak tahu apa yang saat ini dirasakan. Jika Ayah mengatakan menyesal telah membuat hari-hari yang kamu lalui dulu penuh dengan tangisan, tidak akan bisa mengembalikan semuanya. Kamu mau marah atau mencaci silakan. Kamu mau menertawakan kebodohan Ayah selama ini juga silakan. Karena semua itu memang pantas buat Ayah."


Khayra tersenyum miring menanggapi ucapan Ayahnya. Dia sendiri juga tidak mengerti apa yang ingin dilakukan. Kemarin Khayra ingin Ayahnya tahu siapa Naina, untuk membuat Ayahnya malu. Namun, saat ini Khayra bahkan merasa kasihan dengan nasib ayahnya. Ibu Eti dan Naina, anak yang disayangnya bahkan tak tahu dimana saat dia terbaring sakit.


"Nak, dari mana kamu tau Ayah di rawat?" tanya Ayah akhirnya memecahkan kesunyian karena Khayra hanya diam.


"Ibu Eti yang mengatakan padaku, jika Ayah terkejut melihat video yang Ferdi kirimkan hingga terjatuh dan membentur ujung meja. Apakah Ayah sangat sedih sehingga sampai syok begitu melihat video Naina?"


Ayah memandangi langit kamar rumah sakit. Ternyata istrinya Eti telah berbohong pada Khayra. Dan kemana saat ini mereka berdua. Apakah Eti dan Naina takut masuk penjara jika terjadi sesuatu yang buruk padaku? Pertanyaan itu bermain dipikirannnya.


...****************...


Selamat Pagi. Selamat beraktifitas. Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.

__ADS_1



__ADS_2