ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 62. ONE NIGHT with IPAR.


__ADS_3

Setelah makan siang, Barra dan Khayra menonton televisi di ruang tengah. Tangannya selalu memeluk pundak istrinya.


Barra masih mengira Khayra datang bulan. Padahal tidak. Khayra juga lupa mengatakan kebenarannya. Setelah puas menonton Barra mengajak istrinya untuk tidur siang.


"Tidur yuk, Sayang. Nanti malam kita ke pasar malam. Mamang penjaga Villa ini tadi ngomong, jika ada pasar malam," ucap Barra.


"Boleh juga. Sudah lama aku nggak ke pasar malam. Tidur dulu biar nggak ngantuk."


Barra dan Khayra masuk ke kamar dan membaringkan tubuh mereka. Udara sekitar yang sejuk membuat mata cepat terpejam.


Beberapa jam kemudian Khayra terbangun, dia melirik jam dinding yang ada di kamar dan melihat jarum jam menunjukkan angka tiga sore. Wanita itu segera bangun dan melihat suaminya rebahan dengan memejamkan matanya. Khayra segera mengambil baju ganti di dalam lemari dan mengganti bajunya dikamar mandi.


Setelah selesai, Khayra keluar dari kamar mandi dan menemukan suaminya berdiri didepan pintu kamar mandi tanpa memakai apapun.


Khayra menatapnya sejenak yang membuat Barra berjalan mendekatinya sembari menaik turunkan alisnya.


Disaat Barra hendak mendaratkan ciuman kepada dirinya, Khayra segera menahan wajah suaminya dan mendorongnya pelan.


"Sana mandi dulu. Masa mau main nyosor aja," ujar Khayra hendak meninggalkan Barra namun segera ditarik oleh Barra.


Barra kemudian mengunci tangan Khayra ke belakang dan memojokkannya ditembok kamar mandi.


"Kakak belum selesai, dan kamu harus selesai in," jawab Barra semakin mendekatkan wajahnya kepada Khayra.


"Kak, ada kecoa!" teriak Khayra.


Barra segera melepaskan tangan Khayra karena kaget. Membuat Khayra segera berlari keluar dari kamar mandi meninggalkan Barra yang masih kaget.


Setelah keluar dari kamar, Khayra memilih untuk kembali ke rutinitasnya, menonton tv yang lagi menayangkan berita gosip.


Setelah melihat sebentar, Khayra merasa kurang tertarik dengan gosip yang disajikan televisi. Khayra mengambil ponselnya


dan memilih membaca novel online.


Khayra membuka aplikasi Noveltoon dan memilih membaca novel dari karya penulis favoritnya Mama Reni. Khayra membaca novel yang berjudul (Bukan) RAHIM PENGGANTI, yang baru saja tamat.


Sementara Barra segera mandi untuk menuntaskan hasratnya dengan jarinya di kamar mandi. Membersihkan diri sebelum memakai baju baru dan menyusul Khayra yang sedang asyik membaca novel kesukaannya.


"Aku balas nanti yah." Barra mengambil handphonenya yang ada dinakas ruang tv.

__ADS_1


"Coba aja," jawab Khayra menyandarkan kepalanya kembali ke bahu Barra.


Barra membuka sosial medianya dan aplikasi chatnya. Banyak chat dari kliennya. Tiga hari lagi dia harus kembali untuk rapat.


Setelah selesai dan merasa tidak ada yang penting. Barra meletakkan ponselnya dan ikut membaca apa yang sedang dibaca istrinya sembari mengelus puncak kepala istrinya.


"Sayang, kayaknya aku masuk angin deh," ujar Barra yang membuat Khayra menatapnya cepat.


"Kan udah kubilang kalau tidur itu pakai baju, Kakak itu bukan muda lagi. Mudah masuk angin," ucap Khayra.


"Kamu bukannya mijitin suami kamu, malah kamu ejek, kakak serius gak enak banget ini badan." Barra menunjukkan wajah memelasnya kepada Khayra. Membuat Khayra berjalan ke arah kamar untuk mengambil minyak urut yang ada di kotak obat kamar mandi.


Setelah mendapat minyak yang dia cari, Khayra segera menghampiri suaminya yang sudah bertelanjang dada dan tengkurap di sofa ruang tv.


"Kalau emang gampang masuk angin, jangan sok-sokan tidur nggak pakai baju," ujar Khayra membalurkan minyak urut ke punggung suaminya.


"Yaudah maaf in." Barra memejamkan matanya menikmati tangan halus istrinya bergerak di punggungnya.


Khayra tidak menjawab, ia masih memijat punggung Barra yang sangat menikmati pijatan darinya.


"Sekarang bagian depan yah." Barra membalikkan tubuhnya yang memperlihatkan dada bidangnya kepada Khayra.


"Jangan aneh-aneh yah, Kak!” Ancam Khayra saat Barra memegang tangan Khayra dan menekannya didadanya.


Barra membuka matanya kemudian menarik Khayra yang langsung terjatuh ke pelukan Barra. Khayra dengan cepat membalik tubuhnya untuk menindih suaminya dan mendapati bajunya kini belepotan minyak urut.


"Kak ih, kan aku baru ganti baju.” Khayra memprotes tingkah suaminya yang membuat Barra semakin gemas kepada istrinya.


"Aku udah bilang bakal balas kan, jadi ini cara aku balas kamu, dan kamu harus nurut sama denganku," jawab Barra mendaratkan ciuman kepada Khayra tanpa bisa ditahan.


Khayra yang mendapat ciuman tiba-tiba hanya terdiam. Membiarkan suaminya melakukan apa yang dia mau, sedangkan Barra semakin dalam mencium istrinya.


Setelah sepuluh menit, Barra melepaskan ciumannya dan menggendong istrinya menuju dapur dan mendudukkan istrinya ke meja makan.


Barra mengambil roti dari meja makan dan menyuapi istrinya. Khayra yang bingung hanya menerima roti tersebut dan memakannya sampai dia sadar bahwa Barra juga ikut memakan ujung roti yang masih terhubung.


Dan secara tidak langsung pada saat roti tersebut habis, bibir Khayra dan Barra kembali bertemu. Memang agak aneh bagi Khayra, tapi menurut Barra ini adalah hal yang romantis yang pernah ia lakukan.


Setelah selesai, Barra melepas ciumannya dan menatap istrinya lekat yang membuat Khayra membuang muka sejenak.

__ADS_1


"Maaf in Kakak yah, terlalu bernapsu di dekat kamu. Tapi aku janji bakal lebih kontrol. Kita lakukan ini lain kali aja, bukankah kamu lagi datang bulan." Barra berdiri dan menggendong kembali istrinya kemudian membawanya ke ruang tv.


Awalnya Barra berencana melakukan hubungan badan di dapur.


Khayra menatap tidak percaya suaminya, apakah karena ciuman tadi suaminya jadi telat berpikir yang membuat Khayra berpikir keras. Bahkan dia tidak menolak jika suaminya terlalu bernapsu, tapi dia senang karena suaminya bisa sadar bahwa hubungan pernikahan tidak tentang itu saja.


Setelah sampai ruang tv, Khayra kembali menyalakan televisi dan Barra duduk menemaninya dengan menyandarkan kepala Khayra di dadanya yang sudah memakai baju.


"Aku ganti baju dulu kayaknya, ini belepotan minyak," ujar Khayra hendak berdiri namun ditahan oleh Barra.


"Oke Kakak antar," jawab Barra menggendong Khayra ala bridal style yang membuat Khayra tersenyum kemudian mengalungkan tangannya dileher Barra.


Barra kemudian membawa Khayra kedalam kamar untuk mengganti bajunya, setelah selesai mereka menghabiskan waktu kembali dengan menonton tv sambil berpelukan menunggu makan malam.


***


Setelah selesai Makan malam, Barra tidak seperti biasanya langsung tidur dan Meninggalkan Khayra yang masih sibuk mencuci piring bekas makan malam mereka.


Setelah selesai dan rapi, Khayra menyusul suaminya yang sudah tertidur. Tampak wajah suaminya yang damai dan tergurat sedikit rasa lelah diwajahnya. Khayra tersenyum memandanginya.


Khayra langsung naik ke ranjang dan tidur di samping suaminya. Barra yang merasakan kehadiran istrinya segera memiringkan badannya menatap Khayra yang membalas menatapnya.


"Selamat Tidur, sayang," ujar Barra mengecap kening Khayra.


"Too, Selamat Tidur juga," jawab Khayra membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya yang membuat wajahnya terasa panas akan kehangatan dari suaminya itu.


Barra mengambil tangan Khayra dan menggenggamnya erat kemudian menarik Khayra ke pelukannya. Khayra seketika merasakan kehangatan dan mulai memejamkan matanya di dada suaminya.


"Apa kakak nggak pengin melakukan itu?" tanya Khayra. Barra membuka matanya mendengar ucapan istrinya itu.


"Bukankah kamu sedang datang bulan?"


"Ternyata tidak. Aku salah!" ucap Khayra pelan.


Seketika Barra dengan semangatnya bangun dan langsung mengecup seluruh bagian di wajah istrinya. Tanpa berpikir lagi Barra melecuti seluruh pakaian istrinya dan juga pakaiannya.


Barra kembali mengecup istrinya, kali ini ciuman turun ke leher. Barra meninggalkan banyak jejak di leher jenjang Khayra. Begitu juga di dada istrinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2