
"Uhm." Barra menggumam perlahan saat matanya silau oleh cahaya matahari yang menembus kaca mobilnya. Ia mengedarkan pandangannya ke Khayra dan menemukan istrinya masih tertidur pulas di ringkuhannya.
Ia mengambil handphone yang dia letakkan di dashboard depan setelah ia menurunkan Khayra dari ringkuhannya. Ia melirik jam digital di layar handphonenya yang menunjukkan jam delapan siang.
Dan matanya kemudian beralih ke pojok kiri atas dimana bar sinyal masih menandakan tidak ada sinyal di sekitar sana.
"Udah bangun?" tanya Khayra yang melihat suaminya sudah duduk di jok depan.
"Iya, ini masih ngecek sinyal belum ada juga," jawab Barra menyemprotkan parfum ke badannya serta cologne ke sekitar tengkuknya yang beraroma berry.
Khayra merenggangkan badannya, kemudian merapihkan rambut nya lalu menyusul Barra keluar dari mobil.
"Terus kita pulangnya gimana?" tanya Khayra yang sudah berdiri didepan suaminya.
Barra menatap Khayra sesaat. "Berdoa aja, moga ada pengendara yang bisa dimintai bantuan."
Khayra hanya mengangguk, sementara Barra menyapukan cologne yang dia tadi bawa keluar ke tengkuk Khayra kemudian memberinya sedikit morning kiss.
"Sarapan dulu yah," tawar Barra masuk kedalam mobil mengambil dua botol teh kemasan yang Khayra beli kemarin.
Suasana disekitar sana walaupun sudah jam delapan pagi sangat dingin dan membuat Khayra sedikit mengelus kedua tangannya karena hawa dingin.
"Nih," Barra menyodorkan botol teh yang langsung diterima Khayra.
"Dingin yah?" Barra menarik Khayra ke ringkuhannya sehingga kini Khayra tengah dipeluk dari samping oleh Barra.
Pittt!
Suara klakson mobil lain mengagetkan Khayra dan Barra yang membuat mereka berdua menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut.
Ternyata mobil penduduk yang dekat dengan Villa yang Barra beli. Satu jam orang itu dan Barra bekerja agar mobil kembali jalan.
Barra memberikan sejumlah uang untuk pria itu karena telah membantunya. Saat ini mobil telah kembali bisa dijalankan.
"Beruntung ada yang lewat, kalau nggak kita bisa bermalam-malam di sana. Mana jalan mau ke Villa salah. Seharusnya belok kanan di bawa belok kiri. Ya nyasarlah," omel Khayra.
Barra hanya pasrah melihat istrinya mengomel, karena itu semua memang salahnya.
Kriukk!
Suara keripik yang dikunyah Khayra memecah keheningan diantara mereka. Sesekali Khayra mengecek handphonenya yang sudah mendapatkan sinyal, karena mereka sudah tiba di kawasan penduduk, yang sudah pasti akan ada sinyal ditempat itu.
__ADS_1
Khayra melirik jam digital di sudut atas handphonenya yang menunjukkan pukul dua belas siang.
"Udah deket?" tanya Khayra pada Barra yang fokus menyetir.
"Belok kanan di pertigaan dan kita sampai gak jauh lagi," jawab Barra memutar radio dari speaker mobilnya.
'A Thounsand Dream, I Still Belive'
'I Make You, Give Them Al To Me"
'I Heart, To In My Arms, I Never Let Go'
'I Surrender...'
Lagu milik Celine Dion tersebut kini sudah terdengar didalam mobil mereka. Sambil sesekali Khayra menyanyikan lagu tersebut dalam hatinya, sedangkan Barra hanya fokus menyetir dan menikmati alunan musik dari speaker tersebut.
Akhirnya mereka sampai, pikir Barra. Dia sengaja membawa Khayra ke Villa ini agar istrinya itu aset miliknya. Barra mengelus kepala istrinya gemas sebelum menghentikan mobilnya didepan sebuah Villa yang dicat putih.
Villa tersebut tampak asri dengan pepohonan disekitarnya, dihimpit kebun stroberi disisi kanan dan kiri dan diseberang jalan ada hamparan kebun Nanas.
Jangan tanya itu milik siapa, itu milik warga desa yang Barra beli tiga tahun lalu. Dan tidak pernah lagi kesini. Hanya seseorang yang Barra percaya, di minta menjaganya. Jika ada kerusakan Barra hanya mengirim dana.
"Ini Villanya?" tanya Khayra tidak percaya.
"Iya, gimana? Suka gak?" tanya balik Barra mengambil koper dari dalam bagasi dan menyusul Khayra yang sudah masuk ke halaman.
"Suka banget!" teriak Khayra langsung memeluk tubuh suaminya itu. "Makasih yah."
Barra tersenyum membalas pelukan istrinya dan mengecup puncak kepala Khayra pelan. "Apapun itu untuk kamu."
Khayra melepas pelukannya dan berlari ke hamparan tanaman stroberi yang sudah siap panen. Ia menatap dengan mata berbinar buah-buah ranum merah yang siap untuk dipetik.
Hap!
Disaat Khayra hendak mengambil buah tersebut, Barra langsung memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuknya.
"Makan siang dulu yuk, kamu yang masak yah? Bahannya ada di kulkas," pinta Barra pada Khayra.
"Nanti dulu, aku pengen makan itu," tolak Khayra menunjuk buah stroberi yang hendak dia petik tadi.
"Aku gak nerima penolakan!"
__ADS_1
Barra langsung menggendong tubuh Khayra dan membawanya masuk ke Villa, sementara Khayra hanya mengalungkan tangannya di leher Barra dengan posisi gendongan ala bridal style.
"Keras kepala," hardik Khayra mencubit pipi Barra.
"Biarin, aku lapar, dan aku pengen makan," jawab Barra.
Kriet!
Suara decitan pintu tersebut menggema disaat Barra membuka pintu Villa dengan kakinya. Mata Khayra terpanah dengan arsitektur bangunan tersebut, ruangan minimalis dengan nuansa green macha, ada ruangan tv, dapur, ruang keluarga dan kamar tidur di samping dapur.
Sangat minimalis untuk bulan madu yang konsepnya hanya berdua. Sejenak Khayra merasa ingin tinggal selamanya diVilla tersebut.
"Design Kak Barra?" tanya Khayra yang sudah diturunkan oleh Barra.
"Nggak, aku serahkan semua pada penjaga Villa untuk mencarikan!" Khayra hanya mengangguk memberi tanggapan.
Khayra membuka kulkas dan melihat isi kulkas tersebut. Masih segar seperti sudah diisi oleh seseorang yang pasti adalah pengurus Villa itu. Khayra mengambil beberapa bahan dan berjalan ke counter dapur untuk mengolahnya.
Barra memeluk Khayra dari belakang.
"Jangan pernah menyesal menjadi istri dari pria seperti aku ini, yang banyak kekurangannya. Aku hanya bisa memiliki usaha dibidang alat berat," bisik Barra sekali lagi.
"Terkadang semua hal yang dilihat orang lain itu tidak seperti apa yang kita lihat." Khayra menangkup pipi suaminya dan menyatukan hidungnya.
"Kakak kuliah dengan nilai yang hampir tidak mencapai standar, tapi sekarang sudah jadi CEO karena Kakak punya skill untuk berkembang bukan cuma Nilai. Coba lihat aku yang sampai dapat beasiswa tapi tetap aja aku ujung-ujungnya kerja di supermarket . Itu karena aku gak ada skill untuk berkembang. Dengar Kak, nilai itu gak jadi patokan untuk kesuksesan, kenapa harus malu jadi istri seorang kayak Kakak? Toh suamiku itu punyaku bukan suami orang lain, jadi gak ada alasan untuk malu," jelas Khayra melepaskan tangkupannya.
Khayra melanjutkan kegiatan memasaknya sementara Barra memilih untuk duduk di meja makan seperti biasa. Memperhatikan istrinya memasak didapur, merupakan pemandangan yang indah untuk dilihat.
Setelah selesai memasak, Khayra menyajikan apa yang dia masak dihadapan Barra yang langsung dimakan dengan lahap. Hari itu mereka habiskan untuk memetik stroberi dan beristirahat setelah dua hari perjalanan yang melelahkan. Kamar yang mereka tempati pun tak kala indahnya dengan arsitektur ruangan lain dengan perpaduan macha dan putih.
Malam sudah menyapa mereka berdua, Khayra tengah duduk memainkan handphonenya dengan berbantal dada suaminya, sementara suaminya dari tadi sudah tertidur karena kelelahan dalam posisi meringkuh.
Khayra memandangi wajah suaminya yang damai dan tenang ketika tertidur.
Ia sesekali mengecup kening pria yang telah mengisi bagian dihatinya itu. Pria yang kurang romantis yang dititipkan Tuhan untuknya.
Khayra merasa perjalanan hidupnya penuh dengan lika-liku sebelum akhirnya menemukan kebahagiaan bersama Barra.
Sebelum tidur, Khayra masuk kamar mandi, ternyata dia tidak datang bulan, hanya perasaan dirinya saja. Khayra mandi dan setelah itu menyusul Barra tidur.
...****************...
__ADS_1