ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 56. ONE NIGHT with IPAR


__ADS_3

Keesokan harinya Barra dan Khayra sedang mempersiapkan segala yang dibutuhkan buat mereka menghabiskan waktu liburan di Villa selama satu minggu ke depan. Setelah sarapan, Barra dan Khayra berangkat.


Barra mengangkat koper dan memasukan ke bagasi, setelah itu menjalankan mobilnya meninggal kan area rumahnya, dengan kecepatan sedang menuju Villa yang akan mereka datangi.


Villa yang akan mereka tempati adalah sebuah Villa pribadi milik Barra yang dibeli sejak tiga tahun yang lalu, terletak dikawasan pegunungan yang dihimpit perkebunan nanas dan stroberi serta air terjun yang tidak jauh dari sana.


Hawa segar pasti sudah tidak diragukan lagi yang membuat Khayra berpikir bahwa tidak buruk juga rencana bulan madu ini.


Setidaknya dia bisa melepaskan penat setelah kegiatan sehari-hari sebagai karyawan sebuah super market. Namun, mulai esok Barra meminta dia resign.


Barra juga meminta Khayra memanggilnya Kakak, karena telah sah menjadi suaminya.


"Kak, singgah di minimarket dulu yah, aku mau beli sesuatu," pinta Khayra pada Barra.


"Apa yang mau di beli?" tanya Barra menatap Khayra sekilas.


"Aku datang bulan," jawab Khayra enggan menyebutkan barang yang pengen dia beli.


"Kenapa gak beli pas sampai di villa aja sih?"


"Emang disana ada supermarket?"


"Nggak ada sih,"


"Ya, udah ih Kak, cari buruan,"


"Oke," Barra melanjutkan menyetir mobilnya sambil sesekali melirik ke kanan dan kiri mencari minimarket atau supermarket terdekat.


Hampir lima menit mereka disana melewati jalan tol yang menghubungkan pembatas kota dan daerah pegunungan dimana Villa mereka berada, di depan perbatasan terlihat satu indooktober yang sedang buka.


Melihat itu, Barra segera menepikan mobilnya di halaman indooktober tersebut.


"Yuk, turun, ajak Barra yang membuat Khayra mengangguk.


Barra turun dari mobil disusul Khayra yang langsung masuk kedalam indooktober tersebut, melihat itu Barra memilih mengikuti istrinya memilih barang yang dia ingin beli.


"Aku mau beli snack marsmellow," pinta Barra meraih bungkusan marsmellow.

__ADS_1


"Gak boleh, ini terlalu manis," jawab Khayra meraih kembali bungkusan marsmellow tersebut dari tangan Barra.


"Ayolah, please, sayang," rengek Barra yang membuat Khayra menggelengkan kepalanya.


"Udah ah, mending yang ini aja," ujar Dyra menyerahkan beberapa bungkusan keripik kentang rendah kolestrol ke keranjang yang dibawa Barra.


Melihat itu Barra hanya merungut cemberut dengan muka masam dibalik kacamata shamless-nya, yang membuat Khayra menatapnya gemas.


"Gemes deh," Khayra meraih kedua pipi suaminya dan memencetnya kemudian mengecup kilas bibir suaminya itu.


Barra yang mendapat perlakuan seperti itu hanya mematung dan tersenyum mengikuti Khayra yang mencari barang lainnya.


Khayra memasuki area minuman, mengambil beberapa botol air mineral dan teh kemasan siap minum serta beberapa teh kemasan low sugar untuk suaminya.


"Udah semua kan?" tanya Barra pada Khayra yang sedang berdiri didepan rak parfum.


"Okey, yuk kekasir," jawab Khayra berjalan ke kasir disusul Barra dibelakangnya.


"Mbak itu, belanjaan saya yah," ujar Khayra pada kasir tersebut sambil menunjuk Barra yang sedang kewalahan membawa belanjaannya.


Kasir tersebut mengangguk kemudian mulai menghitung jumlah barang dan harga tersebut sebelum memasukkannya ke dalam kantong.


Barra mengangguk kemudian mengeluarkan uang tiga ratus lima puluh ribu yang tidak ia ambil sisanya.


"Terima kasih, pengantin baru ya Pak?" tanya kasir tersebut menunjuk Khayra yang langsung menahan tawa disamping Barra.


Barra mengangkat alisnya dan menatap lekat kasir disana. "Pengantin Baru, kok berpikiran begitu?"


"Karena banyak yang berbulan madu ke arah villa sana,"ucap Kasir itu.


"Kami bukan mau bulan madu, tapi cuma mau pacaran. Apa Mbak mau nanti berbulan madu denganku?" ucap Barra sengaja menggoda kasir itu untuk membuat Khayra cemburu.


Mbak kasir tersebut kaget dengan pipi merona berusaha melepaskan tangannya dari Barra. Mendengar itu membuat Khayra melotot tajam dan menarik telinga Barra kesal.


"Istri saya jadi cemburu. Sebenarnya kami memang akan berbulan madu. Dia adalah wanita yang paling saya cintai," ucap Barra.


Kasir tersebut mengangguk yang disusul perginya Khayra dan Barra keluar dari indooktober tersebut

__ADS_1


"Genit!" keluh Khayra setelah masuk kedalam mobil.


"Kamu sih jahil, aku mau marsmellow gak kamu izin in," jawab Barra kembali melajukan mobilnya.


"Kan aku dah bilang Kak, itu bisa menyebabkan diabetes, makanannya yang low sugar aja, lagian kita mau liburan, gak lucu ditengah liburan Kakak dibawa ke rumah sakit," Khayra melipat kedua tangannya.


"Tapi kan cuma sekali," Barra merem mendadak yang membuat Khayra tersentak kedepan. Raut wajah Barra berubah sedih yang membuat Khayra tidak tega.


Khayra meraih kantong kresek dari belanjaannya tadi dan mengambil es krim coklat yang ia beli, ia menarik kepala Barra menghadap kepadanya dan mengecup bibir suaminya pelan dan dalam.


Disela ciuman tersebut Khayra menyuapi es krim tersebut kepada Barra yang membuat Barra menjadi kaku seketika.


"Enak?" tanya Khayra pada Barra yang belum sepenuhnya menelan es krimnya.


Barra yang tadi kaku tersenyum dan menarik kepala Khayra dan me*lu*mat bibir istrinya yang membuat es krim di mulut Barra belepotan dibibir Khayra dan bibirnya.


Setelah selesai mereka hanya saling berpandangan kemudian melanjutkan perjalanan mereka dengan Khayra yang bersandar di bahu Barra sambil sesekali menyuapi Barra es krim.


"Kak Barra, tahu emang jalannya? Katanya udah tiga tahun sejak di beli nggak kesana lagi?" tanya Khayra.


"Bismillah, tahu kok," jawab Barra fokus menyetir dan memasuki area yang di kanan kirinya adalah kebun milik penduduk sekitar.


"Kita telpon pengurus villanya aja yah, biar bisa dikasih tahu jalannya," usul Khayra meraih handphone yang ada di dashboard.


"Nggak usah," tahan Barra yang membuat Dyra mengurungkan niatnya. "Nanti kalau udah benar-benar nggak tau, baru kita telpon. Lagian suami kamu ini masih muda belum pikun,"


Khayra hanya memutar kedua bola matanya mendengar penuturan suaminya dan kembali bersandar di bahu suaminya.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang yang berarti sudah 3 jam mereka dalam perjalanan sementara itu Khayra mulai khawatir karena sedari tadi yang mereka lewati hanya pepohonan setelah melewati wilayah perkebunan.


"Yakin, Kak?" tanya Khayra memastikan.


Barra menggaruk tengkuknya. "Yakin,"


Khayra hanya menghela napas panjang kemudian mengambil handphonenya namun belum sempat dia menelepon, bar sinyal di sisi kanan atas layar handphonenya menunjukkan simbol bahwa di daerah tersebut sedang tidak ada sinyal.


Disaat Khayra yang menyerah dengan handphonenya tiba-tiba mobil mereka berdua berhenti ditengah jalan yang membuat Khayra menatap Barra bingung.

__ADS_1


"Kayaknya mogok," jawab Barra menjawab pertanyaan atas tatapan penuh tanya istrinya.


...****************...


__ADS_2