
Khayra terbangun dan membuka matanya. Melihat kamar yang bersinar karena cahaya matahari yang masuk dari celah jendela. Melihat jam dinding telah menunjukkan pukul satu siang.
Khayra merasakan perutnya yang lapar. Wanita itu bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setengah jam berada di kamar mandi, Khayra keluar dengan wajah yang kembali cerah.
Setelah berpakaian rapi, Khayra berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju kantin di lantai dasar.
Khayra memesan nasi Padang dengan lauk rendang sapi. Sedang asyik makan, ketenangannya terganggu saat ada seseorang yang menarik kursi tepat dihadapannya.
Dalam hatinya wanita itu berpikir, apakah tidak ada meja lain yang kosong sehingga pengunjung itu duduk dekat mejanya.
"Sudah berapa hari kamu nggak makan?" tanya orang itu. Khayra yang merasa suara itu tidak asing, mengangkat wajahnya. Ternyata Ferdi orang yang menarik kursi dihadapkannya tadi.
"Apa pedulimu? Aku makan atau tidak, mana ada orang yang peduli. Malang benar nasibku ini," ucap Khayra sambil tertawa.
Sebenarnya memang dari kemarin Khayra belum makan. Dia berencana makan di rumah bersama keluarganya namun, apa yang terjadi. Kehadiran dirinya tidak diharapkan.
"Mungkin itu hanya perasaan kamu aja. Setiap orang tua pasti menyayangi anaknya!" ucap Ferdi.
Khayra heran melihat Ferdi yang bicara lembut. Sejak kapan dia berubah begini. Kemarin malam saja saat di rumah ayahnya, Ferdi dan Naina masih menghinanya.
Khayra mengira, pastilah ada sesuatu yang membuat mantan suaminya ini berubah sikap. Apa mungkin dia sedang menyelidiki sesuatu darinya, pikir Khayra. Wanita itu menatap Ferdi dengan intens.
"Kenapa kamu ada di sini? Apa yang diperintahkan keluargaku padamu sehingga kau membuntuti aku? Aku tidak membawa apa pun dari rumah."
"Kamu pikir aku ini bodoh? Mau saja diperintahkan keluargamu yang tidak jelas itu."
__ADS_1
"Keluarga tak jelas!" gumam Ferdi namun masih dapat Khayra dengar.Walau kehadirannya tidak pernah di anggap tentu saja dia tidak bisa menerima jika keluarganya dibilang tidak jelas.
"Atas dasar apa Mas mengatakan keluargaku tidak jelas?" tanya Khayra. Dia menepikan piring makannya. Tidak ada sebutir nasipun di piring tempatnya makan tadi. Semua ludes tanpa sisa.
"Tentu saja keluargamu itu tidak jelas. Dari yang aku dengar kemarin, kau merasa diabaikan. Ayahmu tidak pernah memperhatikan kamu, lebih menyayangi Naina. Namun yang aku ketahui sebaliknya!"
"Mas tau apa tentang keluargaku? Kenapa bisa menyimpulkan demikian?" tanya Khayra lagi.
"Dari yang aku dengar Naina lah yang dapat perlakuan tidak adil." Ferdi menyandarkan tubuhnya ke kursi menatap Khayra intens.
"Terserah mau percaya yang mana. Percuma aku membela diri. Ayah kandungku saja tidak percaya dengan apa yang aku katakan, apa lagi orang lain. Namun, jangan salah. Aku telah terbiasa diperlakukan begini. Aku telah kebal. Hatiku ini buatan Tuhan jadi tidak mudah rapuh, jika buatan cina mungkin telah patah berkeping-keping."
Ferdi menatap Khayra yang menyeruput minumannya. Baru kalu ini dia berada sedekat ini dengan mantan istrinya Khayra. Dan juga baru sekali ini dia bisa mengobrol begini.
Dua bulan pernikahan, tidak pernah dia dan Khayra duduk berhadapan begini. Lagi pula diakui Ferdi dia telah termakan omongan Naina sehingga tidak pernah mau mendengarkan mantan istrinya bicara.
Ya Tuhan, wanita ini memiliki mata yang jernih dan pandangan yang tajam. Dia memiliki wajah yang manis, tidak membuat mata bosan memandanginya. Kenapa aku selama ini tidak pernah menyadari kecantikannya Khayra.
(Khayra)
(Ferdi)
__ADS_1
Khayra membuang pandangannya. Dia merasa risi dipandangi secara intens begitu dengan Ferdi. Menarik napas panjang akhirnya Khayra kembali bicara.
"Katakan apa yang Mas inginkan. Tidak pernah sekalipun kamu ingin bicara selama kita menikah."
"Apa kamu pernah menggunakan uang dari Naina? Dan buat apa?" tanya Ferdi. Dia harus tahu kebenaran semuanya. Walau telat tapi bagaimanapun itu lebih baik dari pada tidak tahu sama sekali.
"Kamu telah mendengar apa yang aku debatkan dengan Ayah kemarin. Jangankan aku menggunakan uangnya Naina, melihat uangnya saja aku tidak pernah. Aku telah terbiasa mencari nafkah sendiri. Tidak pernah mengharapkan dari siapa pun?"
"Motor yang sering kamu gunakan itu bukan pemberian Naina?" tanya Ferdi lagi.
"Astaga! Omong kosong apa ini. Jangan kan buat beli motor, buat bensin aja aku tidak pernah memintanya. Aku telah terbiasa hidup dengan uang hasil keringatku sendiri.Jangankan untuk itu, untuk makan saja aku harus membanting tulang mencari uang demi sesuap nasi." Khayra menjeda ucapannya. Dadanya terasa sesak mengingat semua itu.
Masa kecil yang seharusnya diisi dengan kegembiraan dan bermain harus dihabiskan dengan mencari nafkah. Dan itupun terkadang harus dia beri buat adiknya Naina.
Hati Khayra terlalu sakit mengingat semua itu. Dia selalu berusaha ikhlas dan tegar menghadapi semua ini. Namun, bayangan tentang pahitnya hidup yang harus dia jalani membuat Khayra tetap tidak bisa menahan air matanya.
Khayra bangun dari duduknya. "Maaf, Mas. Aku harus pergi. Lagi pula seperti kata-kata yang sering Mas ucapkan, kita ini tidak ada hubungan apa pun, jadi janganlah ingin tahu kehidupanku lagi jika hanya untuk sekadar membandingkan ucapanku atau Naina yang benar. Seharusnya kamu lebih mengenal siapa orang yang kamu cintai Itu. Jangan mau dibodohi dan menutup mata hanya karena kita terlalu cinta," ucap Khayra meninggalkan Ferdi sendirian.
Jangan pernah menyerah saat hidup memberi kita seratus alasan untuk bersedih dan menangis, jangan pula menyerah ataupun berkeluh kesah dengan keadaan hidup kita sekarang. Sebab apa yang sekarang kita anggap kurang bisa jadi sangat berlebih bagi orang lain yang nasibnya kurang beruntung dibandingkan dengan kita. Aku mencoba ikhlas dari suatu kehilangan dan tersenyum dari suatu kesakitan yang sedang menimpa
Masalah hidup datang silih berganti terkadang memang terasa berat. Meski begitu, dengan sabar dan ikhlas semuanya akan menjadi lebih ringan. Dengan sabar dan ikhlas, setiap masalah akan lebih mudah dilalui. Kesabaran juga akan membuat kita lebih tegar dalam menjalani hidup.
...****************...
Selamat sore, selamat bermalam minggu. Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.
__ADS_1