
Ini malam terakhir Khayra dan Barra berada di villa. Besok mereka harus kembali ke kota. Setelah malam kemarin gagal ke pasar malam, hari ini Khayra berpikir ini saatnya ke pasar malam sebelum pulang.
Malam harinya dipasar malam.
"Kak, beli in kembang gula," pinta Khayra pada Barra.
Kini mereka berdua sudah ada di pasar malam yang di adakan di desa tersebut.Mereka berdua memilih untuk ke Pasar malam saja untuk mengisi waktu.
Barra yang mendengar permintaan istrinya segera menghampiri pedagang kembang gula dan membeli satu untuk Khayra.
"Nih."
Khayra menerima kembang gula tersebut dengan senang hati dan melanjutkan melihat-lihat sekitar bersama suaminya. Khayra berjalan lambat dibelakang Barra sampai Barra berhenti mendadak yang membuat Khayra otomatis menabrak punggungnya.
Barra membalikkan badannya dan memakan Kembang gula yang ada ditangan Khayra membuat empunya cemberut karena kembang gulanya berkurang.
"Kita naik biang lala yuk!" ajak Barra pada Khayra.
"Aku takut ketinggian," jawab Khayra singkat hendak mencari tempat lain untuk mengalihkan permintaan Barra.
Namun, bukan Barra namanya kalau dia tidak keras kepala. Dia dengan sengaja membopong Khayra di depan umum yang membuat semua orang menatap cengir ke arah mereka berdua, sedangkan Khayra hanya menutup matanya karena dia yakin kini pipinya sudah memerah dibuat Barra.
Setelah memesan tiket di loket, Barra segera naik bersama Khayra ke biang lala tersebut. Khayra masih belum membuka matanya entah karena malu atau takut karena faktanya biang lala tersebut sudah bergerak.
"Sayang, buka matanya," pinta Barra yang membuat Khayra membuka matanya pelan.
"Ah!" teriak Khayra langsung memeluk lengan Barra karena takut.
"Gausah takut, ada kakak. Lagian kakak gak bakal bikin kamu jatuh kok," ujar Barra berusaha menangkan istrinya.
Barra juga beberapa kali menyodorkan kembang gula yang langsung di makan Khayra untuk mengurangi rasa takutnya.
Malam itu mereka habiskan dengan menikmati permainan biang lala yang entah sudah berapa kali putaran dan membuat Khayra tambah gemetar.
Dia sudah bersumpah bahwa ini pertama dan terakhir kalinya dia mencoba permainan ini, sedangkan Barra hanya tertawa melihat reaksi istrinya yang sangat ketakutan.
Cup!
Satu kecupan mendarat di puncak kepala Khayra yang membuat wanita itu menatap ke Barra yang masih mencoba menenangkannya, tapi tetap saja perasaan takut akan ketinggian menguasai dirinya sehingga dia hanya bisa diam sambil memeluk erat lengan suaminya.
"Ini masih lama yah?" tanya Khayra pada Barra.
"Tiga puluh enam putaran lagi soalnya aku pesan tiga durasi untuk berdua."
Khayra membulatkan mata sempurna menghadapi kenyataan dia harus menikmati permainan yang menurutnya menyeramkan itu sebanyak tiga puluh enam kali lagi.
***
Setelah pulang dari pasar malam kemarin Khayra dan Barra langsung tepar di tempat tidur. Mereka terbangun pukul sembilan pagi. Hari ini mereka ada agenda ke Pasar Tradisional di dekat sana sebelum packing karena ini adalah hari terakhir mereka di Villa ini.
"Kakak sih kemarin naik biang lala, aku jadi gak bisa tidur gini kan," gerutu Khayra ada lingkaran hitam dibawa bola matanya karena ia kesulitan tidur tadi malam.
"Gapapa, mau gimanapun kamu tetap cantik kok," puji Barra menyapukan colonge beraroma peach ke tengkuk Khayra kemudian menyemprotkan brown zicnws kebadannya sendiri.
"Awas aja kalau kakak sampai kepincut cewek lain." Khayra berdiri setelah merapikan rambutnya kemudian berjalan menyusul Barra yang sudah keluar dari kamar.
Mereka akan mendatangi pasar tradisional yang terkenal dengan cendramatanya. Jarak antara villa dan pasar tersebut lumayan dekat sehingga Barra memilih untuk mengendarai motor saja yang ia pinjam dari pengurus Villanya.
__ADS_1
"Nih, pakai." Barra menyodorkan helm kepada Khayra yang langsung dipakai istrinya itu.
"Kalau rambutku berantakan, tanggung jawab yah," jawab Khayra naik ke atas motor yang dimana Barra sudah sedia dari tadi.
"Pegangan!" pinta Barra mengambil tangan Khayra untuk memeluk erat tubuhnya.
Mengeratkan pegangannya yang lebih mengarah ke pelukan di perut Barra yang dibalut kaos serta jas kulit yang sedikit tebal.
"Kak, pelan-pelan aja yah." Khayra menyandarkan kepalanya dibahu Barra.
"Iya," jawab Barra mengurangi kecepatan motornya.
Tak lama di perjalanan yang menghabiskan waktu lima belas menit, Barra dan Khayra akhirnya sampai di pasar tradisional yang cukup ramai oleh pedagang makanan, produk kesehatan, kosmetik dan juga cenderamata yang Barra dan Khayra cari.
Barra turun dari motor menggandeng Khayra yang berjalan di sampingnya, mereka memasuki area pasar yang penuh oleh lalu lalang orang berbelanja.
"Kak, pengen itu." Khayra menarik tangan Barra ke arah stand yang menjual aneka gantungan kunci. "Lucu banget."
"Kamu mau?" tanya Barra melihat Khayra mengambil sebuah gantungan kunci couple dengan bentuk buah pisang.
"Pengen, kita ambil dua yah? Yang couple nanti aku jadi in gantungan kunci buat di motor aku dan di mobil Kakak, walaupun motor aku dirumah jarang di pake sih," ucap Khayra memperlihatkan gantungan kunci yang dia pilih.
"Okey. Pak, bungkus yang itu yah," pinta Barra kepada bapak penjual tersebut.
Bapak penjual tersebut langsung membungkus gantungan kunci yang mereka beli dengan harga sepuluh ribu satu gantungan.
Setelah selesai berkeliling di pasar tersebut dan merasa apa yang mereka ingin beli sudah ada semua, Barra dan Khayra segera kembali ke parkiran dan melanjutkan perjalanan ke Rumah.
"Kak, Lapar." Khayra kembali menyandarkan kepalanya di punggung Barra.
"Makan pecel aja?" tanya Barra pada Khayra.
"Boleh, aku suka," jawab Khayra.
"Aku juga suka. Ini makanan favoritku," ucap Barra
"Enak aja, ini tuh makanan kesukaan aku tau," jawab Khayra turun dari motor.
Sesampainya didalam sana mereka segera memesan menu pecel ayam untuk mereka berdua. Didalam warung tersebut cukup ramai dengan pengunjung, tapi untungnya masih banyak meja senggang di warung yang terlihat minimalis tersebut.
"Habis ini mau kemana lagi?" tanya Barra pada Khayra.
"Mau pulang aja, capek keliling pasar," jawab Khayra.
Mendengar jawaban istrinya Barra hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya hingga tak lama kemudian pesanan mereka berdua sudah datang.
Khayra yang sudah lapar segera memakan makanannya sedangkan Barra tampak sibuk dengan handphonenya.
"Kak?"
"Hmm?"
"Makan dulu, main hpnya nanti aja," ucap Khayra meraih handphone Barra dan menaruh di tas yang ia bawa.
"Iya, Sayang." Barra mengambil sendok dan mencicipi makanan yang ada didepannya.
"Enak?" tanya Khayra yang membuat Barra menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Lumayan," jawab Barra kembali menyuap makanannya.
"Kak belepotan ih." Khayra mengambil tissu dan mengelap pinggir bibir Barra yang penuh dengan bumbu kacang.
Barra yang mendapat perlakuan seperti itu langsung menyosor bibir istrinya yang terpaut jarak dekat dengan wajahnya. Pengunjung warung yang melihat itu hanya terdiam dan menatap pasangan suami istri tersebut.
Wajah Khayra seketika memerah menjadi tontonan gratis para pengunjung lainnya sehingga ia segera mendorong tubuh Barra agar ciumannya terlepas.
"Gatau tempat banget," bisik Khayra menginjak kaki Barra.
"Lagian kenapa kamu godain aku?" tanya Barra sedikit meringis karena kakinya diinjak.
"Siapa juga yang godain, geer banget." Khayra kembali menyuap makanannya dan membelakangi Barra karena kesal.
"Sini lihat aku.” Barra membalikkan tubuh Khayra agar melihat wajahnya.Barra segera menangkup wajah istrinya dan menatap dalam mata istrinya itu.
"Maafin, aku ya?"
"Gak."
"Loh kok?"
"Nanti pasti diulang lagi."
"Janji gak."
"Yaudah kalau gitu, Aku maaf in," jawab Khayra tersenyum kepada Barra.
Barra membalas senyuman istrinya kemudian melanjutkan melahap makanan mereka, setelah selesai Makan dan membayar, Barra dan Khayra melanjutkan perjalanan mereka di Villa.
Suasana yang adem, membuat Khayra dan Barra tidak gerah walaupun sinar matahari siang itu sangat cerah. Sesampainya di Villa, jam sudah menunjukkan pukul dua siang, yang berarti hampir empat jam mereka di pasar itu.
Barra membantu Khayra menenteng belanjaannya masuk kedalam Villa, setelahnya Barra memilih mengembalikan motor yang mereka pinjam kepada pengurus Villa.
"Kakak mau berenang dulu, mau ikut gak?" tanya Barra yang sekarang sedang bertelanjang dada dan hanya menggunakan speedo untuk berenang.
"Gak ah, Kakak jahil," tolak Khayra sibuk mengutak atik handphonenya.
"Janji gak jahil lagi, yuk temenin kakak! Kamu duduk aja di pinggir kolam, biar kakak yang berenang." Barra berjalan mendekati Khayra dan mengambil ponsel yang sedang dimainkan istrinya.
"Iya." Khayra berjalan berdampingan dengan suaminya di kolam berenang.
Khayra mengambil tempat di kursi malas sampai kolam sedangkan Barra langsung menyeburkan dirinya di kolam sehingga terdengar cipratan air.
Cukup lama ia berenang, Barra memilih naik ke atas kolam untuk mengeringkan tubuhnya.
"Nih handuknya." Khayra menyodorkan handuk kepada Barra yang langsung di ambil pria itu.
"Makasih, Sayang," jawab Barra memakai handuk tersebut.
Khayra mengangguk hendak meninggalkan Barra sebelum Barra menarik tangannya dan mencium bibir istrinya itu.
Barra meraih tengkuk istrinya dan mendorongnya pelan agar ciuman mereka semakin dalam. Khayra tidak menolak hal ini, karena dia tahu sifat suaminya memang begitu.
Akhirnya mereka hanya menghabiskan waktu dengan ciuman yang berlanjut ke urusan ranjang sebelum pulang besok harinya.
...****************...
__ADS_1