ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 36. ONE NIGHT With IPAR


__ADS_3

Sesuai rencana Barra ingin bertemu Reno dan menginterogaisnya, pada jam makan siang hari ini, dia sengaja mendatangi kantor Reno. Begitu masuk, dia mendapati papanya itu masih duduk di kursi kerjanya sambil terus membaca laporan keuangan perusahaan dengan serius.


Bara melangkah yakin mendekati Reno yang kini mengalihkan pandangan padanya. Barra hanya menyunggingkan senyum sinis ketika tatapannya bertemu. 


"Papa bisa luangkan waktu sebentar?" pinta Barra seraya memutar kakinya ke arah kanan. Ada sofa di sana yang menjadi tujuannya untuk duduk. 


Reno segera menutup map di depannya, lalu mengangguk. Lewat isyarat tangan, mempersilakan Barra untuk duduk dengan nyaman. 


"Apa yang kau kamu bicarakan sama Papa, Barra?" tanya Reno membuka pembicaraan. 


Melihat putranya itu menatap serius, mendadak membuatnya merasa gerah sampai melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Padahal ada pendingin, tetapi tak cukup mendinginkan tubuhnya. 


"Pa, apa Papa tidak merasa bersalah sama Mama karena sudah bermain di belakang?" tanya Barra mengawali interogasinya.


Tangannya sengaja dilipat di depan dada ketika menunggu jawaban atas pertanyaannya itu. 


Namun tak diduga. Papanya tak terkejut, malah terkekeh pelan sembari mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di meja kerja. 


"Bermain di belakang bagaimana maksudmu, Barra? Papa berbuat salah apa sama mama kamu?" tanya Reno, masih berusaha tenang dan mengontrol dirinya sendiri agar tidak terlihat mencurigakan walaupun di dalam hati sudah merasa was-was. Tatapan Barra kini berubah mengintimidasinya. 


"Papa jangan pura-pura di depanku, Pa," tegas Barra seraya menyilangkan kaki kanannya, lalu ditumpuk di atas kaki kiri. "Aku tahu semuanya. Masih baik aku tidak mengatakan semuanya pada Mama. Masih baik Mama tidak percaya sama sekali dan menganggap kalau foto itu hanya editan belakang. Tapi, Papa? Malah mengkhianati Mama hanya demi perempuan itu." Nada bicara Barra mulai meninggi. Kesabaran yang dia kira akan seluas samudera seperti sang mama, nyatanya terasa setipis kertas. 


 


"Barra! Papa tidak berselingkuh sama sekali. Ngaco kamu," elak Reno sembari membuang muka, pura-pura bertindak tidak peduli.  


Barra menyunggingkan senyum sinisnya lagi. Kini, dia mencondongkan badannya dan menatap tajam Reno yang sesekali melirik, mulai gelagapan.  


"Aku tanya sekali lagi sama Papa. Sudah sejauh mana hubungan Papa sama Naina?" tanya Barra dengan suara dingin, pun wajahnya semakin serius.  


Tak bisa dipungkiri. Reno kini mulai berkeringat dingin. Ujung kakinya mulai mengetuk-ngetuk lantai karena perasaan yang dirundung gelisah. Perselingkuhannya sudah tercium oleh Barra. Namun bagaimanapun juga, dia harus tetap mengelak sampai akhir.  

__ADS_1


"Kamu mabuk atau bagaimana, Barra? Papa mana ada selingkuh sama Naina. Jangan beromong kosong seperti ini, Barra." Reno masih mengelak. Tak berani menghadap ke arah Barra secara langsung. "Lebih baik, kamu pulang saja. Buang-buang waktu Papa saja." usir Reno.


 


Merasa diremehkan, Barra justru kian tertantang. Dia pun bangkit dan mendekati meja Reno agar bisa berhadapan. Namun, papanya itu justru menggerak-gerakkan bola matanya, tak berani menatap langsung. 


"Apa Papa tidak lelah berbohong, hah? Tidak kasihan sama Mama? Dia dengan sangat mempercayai suaminya di saat ada bukti berupa foto yang memperlihatkan perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya itu. Malah menganggap editan," ungkap Barra.


Dia mendesih, mendesah frutrasi, lalu mengusap wajahnya kasar. Masih tak percaya kalau Reno, sang papa bisa melakukan tindakan perselingkuhan seperti ini. "Apa Papa sebodoh ini sampai bertindak serakah? Sudah memiliki berlian, tetapi memungut batu di jalanan juga? Apa berlian itu tidak cukup bagi Papa?"  


Barra menatap sekeliling. Kepalanya dia pijat pelan ketika Reno malah menunduk dan menatap berkas laporan keuangan lagi. Bertindak sok tak acuh di depannya dan tak memedulikan obrolan mereka ini.  


Barra berbalik kembali menghadap Reno. Dengan sangat berani, dia menggebrak meja kerja Reno sampai papanya itu melotot tajam padanya. 


"Jaga sopan santun kamu, Barra!" sentak Reno sampai berdiri. 


Bara tersenyum sinis. Dia malah terangan-terangan menatap Reno, menantang papanya. Kedua tangannya yang mengepal bertumpu di meja. 


Seketika, tatapan Reno melunak dan kembali duduk, tak berani mengangkat kepalanya lagi. 


"Papa lelah, Barra. Ditambah sekarang malah harus mendengarkan semua omong kosong kamu ini," jawab Reno, lalu mendesah panjang. "Jawaban Papa tetap sama. Papa tidak mengkhianati mama kamu. Satu aja buat Papa sudah cukup." 


Teko masih berusaha mengelak.


"Stop, Pa!" sentak Barra. Dia menarik dirinya kembali, lalu berbalik badan. Deru napasnya kini mulai tak beraturan seiring dengan naiknya emosi yang kini terasa berkumpul di kepala dan rasanya ingin meledak saat itu juga. "Aku sudah bosan mendengar Papa terus mengelak. Mau sampai kapan, sih, Papa berbohong di depan aku?" 


"Terserah kamu, Barra. Papa masih banyak pekerjaan. Kamu puas-puaskan saja dengan karangan konyol itu," lanjut Reno sembari menggerak-gerakkan mouse berwarna putih.  


"Padahal, percuma aja Papa terus-menerus berbohong seperti ini depan aku. Aku tahu semuanya, Pa, tapi aku masih berbaik hati tidak mengatakan apa yang aku tahu, tidak memperlihatkan apa yang aku miliki ke Mama. Semalam, Mama mengatakan percaya sama Papa dan dengan sangat yakin kalau Papa tidak akan selingkuh. Jadi, lebih baik Papa sudahi sandiwara ini di depan aku. Aku muak melihatnya." 


"Kalau begitu ...." Barra menjeda sejenak kalimatnya ketika merogoh saku jas dalam, lalu mengeluarkan beberapa lembar foto yang langsung dia sodorkan ke hadapan wajah Reno. "Ini apa? Apa, Pa? Hah? Masih mau mengelak di depan aku?" 

__ADS_1


"Sekarang, Papa masih mau mengelak apa lagi? Mau mengatakan kalau foto ini editan seperti kata Mama?" tanya Barra seraya melemparkan foto itu di meja sampai berserakan.  


Reno terlihat terkejut. Rahangnya mengatup rapat seketika. Matanya yang terbelalak menatap satu per satu foto itu. Tampak wajahnya dari depan tengah memeluk perempuan bernama Naina.  


Kini, otaknya sibuk mencari alasan untuk mengelak lagi. Tetapi, mendadak semuanya buntu. Tak satu pun alasan berhasil Reno temukan. 


"Ayo, mau alasan apa lagi di depan aku?" tanya Barra membuat Reno menatap wajahnya dengan perasaan takut. "Sejauh apa Papa sama Naina?" 


Pada akhirnya, Reno tak bisa menjawab. Malah bungkam, menutup mulut rapat-rapat ketika menyandarkan tubuhnya ke kursi. 


Kedua tangannya yang saling bertautan, mulai bergerak-gerak tak menentu seiring dengan perasaannya yang merasa terancam di depan Barra.   


"Ke mana Papa yang tadi mengelak dengan percaya dirinya? Ke mana, Pa? Jawab, ayo. Sejak kapan kalian berhubungan? Sejak kapan berselingkuh di belakang Mama?" 


"Ba-Barra," panggil Reno dengan terbata-bata dan tatapan mata yang gelisah. "Papa ... Papa ...." 


"Apa?" sela Barra cepat. Dia memutar tubuhnya dan kembali berjalan menuju sofa.  


Begitu mendaratkan bokongnya lagi, Barra bertanya kembali, "Ayo, jawab. Aku masih penasaran, sekarang Papa mau memberikan kebohongan apalagi untuk menutupi kebusukan Papa di belakang Mama."


 


"Sejauh mana Papa hubungan sama Naina?" Barra tak henti-hentinya menyudutkan Reno. Dia baru akan berhenti kalau mendengarkan jawaban yang diinginkan. 


Namun, melihat Reno yang malah diam, semakin membuat Barra untuk membuka mata Reno tentang perempuan bernama Naina itu.  


Kembali Barra melipat kedua tangannya di depan dada, sudah siap menodong Reno dengan pertanyannya lagi. "Apa Papa tahu tentang Naina memiliki hubungan lain selain dengan Papa? Apa Papa tahu bahwa laki-laki lain itu adalah anak Papa sendiri? Apa Papa tahu bahwa selingkuhan dari Ferdi adalah Naina?" 


...****************...


Selamat Siang. Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.

__ADS_1



__ADS_2