ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 27. ONE NIGHT with IPAR


__ADS_3

"Makanlah, kamu seperti anak kucing yang kelaparan," ucap Barra sambil tersenyum. Dia sengaja menggoda Khayra.


"Mana ada? Aku tidak lapar tuh." Khayra membantah ucapan Barra dengan wajah masam.


Barra hanya terkekeh. Dia menunjuk lima mangkuk di lantai, samping kiri Khayra. Mereka tidak makan di meja, tetapi lantai. Alasan karena Khayra ingin makan di lantai.


Barra setuju, tanpa bertanya lebih lanjut. Dia sampai memesan banyak bubur agar bisa dimakan oleh Khayra. Setelah tangisan tadi membuat Khayra kelaparan.


"Diamlah! Aku tahu sudah memakan banyak makanan, akan diganti!"


"Aku tidak meminta uang sebagai gantinya. Kencan, cukup lakukan itu sebagai bayaran atas bantuan tadi, bagaimana?"


Khayra terdiam sejenak. Mengingat kembali masa lalu dengan Barra, betapa menyenangkan sekaligus menyakitkan. Barra yang ketahuan selingkuh dengan sahabat Khayra sendiri. Ini bukan sinetron atau novel, tetapi kenyataan.


Apa Khayra bisa menerima Barra kembali setelah drama perselingkuhan terjadi? Jawabannya tidak. Khayra tidak mau terulang lagi. Cukup satu kali dan tidak boleh ada kedua kali.


"Tidak, mau kamu memohon sekuat tenaga ... tetap tidak. Kamu lupa atas apa yang kamu lakukan padaku dulu?"


"Aku minta maaf untuk itu, kejadiannya begitu saja ... tahu-tahu sudah selingkuh."


"Jawaban macam apa itu?" Khayra menyipitkan mata. Tidak percaya dengan perkataan Barra.


Pria itu seolah berkata mengaku selingkuh, tetapi khilaf. Secara tidak langsung. Alasan yang selalu dikeluarkan oleh seorang laki-laki jika ketahuan selingkuh.


"Aku bukan khilaf, dia menggoda dan aku ...."


"Kamu tergoda. Ya, begitu seharusnya kamu meneruskan perkataan." Khayra membereskan piring sisa, menumpukkan di satu tempat.


"Tidak juga, aku hanya mempermainkannya. Aku sengaja seakan tergoda, nyatanya menjebak agar kamu tahu sifat asli dia bagaimana.


Aku melakukan itu agar kamu mempunyai teman yang tulus. Bukan busuk seperti dia."


Kalau ekspresi Barra serius. Khayra pasti percaya, tetapi pria itu mengeluarkan ekspresi lucu. Bisa dikatakan mirip wajah anak kucing yang murung, kehilangan induk dan tersesat. Tidak tahu arah tujuan, ingin meminta diarahkan.


Khayra jadi teringat akan anak kucing jalanan yang selalu ditemui. Betapa malangnya dia. Kalau bisa Khayra ingin merawat, tetapi dia tidak bisa selalu di rumah. Di mana dari siang sampai malam bekerja di luar, bisa-bisa anak kucing mati.

__ADS_1


"Ya, ya! Terserahmu, buang piring sisa ini lalu pergi, aku harus pergi bekerja."


"Siap, Kapten!" Barra segera mengambil semua piring sisa dan keluar dari apartemen. Membuang ke tempat sampah umum.


Memudahkan pekerja sampah. Kasihan kalau harus selalu mengetuk pintu untuk meminta sampah.


"Ah, aku lupa."


Barra baru ingat saat ingin mengetuk pintu apartemen Khayra. Dia meminta seseorang menyelidiki perihal Reno, Papa-nya yang tiba-tiba mengadakan makan malam dan meminta izin pergi. Jelas ada sesuatu. Entah apa, Barra rasa perlu tahu.


"Ada sesuatu yang terjadi? Beritahu aku." Barra menelepon seseorang di depan pintu.


Ponselnya langsung menyambung dengan seseorang. Bukan detektif, melainkan reporter freelancer. Dia bisa dipercaya karena sangat butuh uang, selama Barra membayar dengan nominal tinggi maka akan tetap tutup mulut.


"Dia menuju Paris dengan seorang gadis, setelah dicari tahu namanya adalah Naina. Anda ingin tahu fakta mengenai gadis itu, Pak?"


"Katakan." Barra ingin tahu tentang Papanya sejak Khayra mengatakan sikap Reno dengannya.


"Naina adalah wanita simpanan Papa Anda dari dulu, dia juga simpanan Ferdi. Kakak pertama Anda, penerus perusahaan."


"Plot twist sekali, apa Pak Reno sedang di pesawat? Terus laporkan apa yang terjadi," kata Barra dengan suara datar.


"Baik," jawab pria itu.


Sambungan terputus membuat Barra berbalik. Dia hampir terjatuh ke lantai saat melihat Khayra sudah ada di belakang. Dengan memicingkan mata, membuat Barra kaget.


"Se-sejak kapan kamu ada di sini? Ini hantu atau manusia?"


"Matamu bisa melihat nggak! Memangnya hantu mempunyai kaki seperti ini?! Emang hantu ada secantik aku?" Khayra menunjuk kedua kaki menapak lantai.


Susah payah Khayra menahan tawa. Ekspresi Barra begitu lucu. Dimulai terkejut sampai tersungkur ke lantai, mimik wajah syok, dan terakhir, Barra menutup mulut saking terkejut lagi. Barra cocok menjadi pelawak.


***


Naina mengerjap mata. Melihat sekitar dan menemukan wajah Reno yang tengah tertidur pulas. Betapa tampan wajah itu membuat Naina tersenyum. Namun, bukan itu tujuan gadis itu bangun lebih awal.

__ADS_1


Setelah kegiatan panas semalaman Naina sempat merekam diam-diam. Tanpa Reno tahu. Naina sengaja melakukan untuk dikirim ke Melli. Istri sah Reno sendiri. Naina ingin membuat keluarga itu hancur, atau setidaknya menjadi nyonya asli bukan simpanan.


Tidak enak menjadi simpanan terus menerus. Dia ingin mendapatkan lebih dari yang sekarang diterima.


"Di mana rekaman itu?" tanya Naina tanpa mengeluarkan suara.


Naina ingin beranjak menjauh dari kasur, tetapi pelukan Reno begitu kuat. Naina kesusahan melepaskan dan menyerah. Menunggu Reno bangun saja. Tidak rugi juga harus tidur lagi.Lumayan bisa istirahat.


"Se-sejak kapan kamu sudah bangun?" Naina gelagapan karena terkejut Reno menarik untuk memeluk lebih erat.


Wajah mereka sangat dekat sampai tinggal seinci lagi bisa berciuman. Tatapan mata Reno begitu lembut membuat Naina terpesona seketika. Tidak sadar sudah mencium pria itu duluan.


Mereka yang sama-sama merasa nafsu segera melakukan hubungan intim lagi. Di Pagi hari yang cerah tanpa memedulikan waktu atau perasaan orang sekitar. Di mana Melli yang merindu dan Ferdi terus menelepon. Keduanya hanya mementing kepuasan nafsu semata.


***


Di Tempat lain, dikediaman Reno.


Melli tidak sengaja menjatuhkan gelas. Niatnya ingin minum segelas air dingin untuk menghilangkan dahaga lalu malah menjatuhkan gelas. Mana suaranya nyaring. Di rumah besar hanya ada Melli dan pembantu. Kedua anak sudah tinggal di rumah berbeda.


Mereka sama-sama ingin mandiri. Tidak mau tidur di atap yang sama.


"Perasaanku tidak enak, apa terjadi sesuatu pada Ferdi atau Reno? Tuhan, tolong jaga mereka berdua. Jangan sakiti mereka, tolong kabulkan permintaanku." Doa Melli.


"Kalau perlu sakiti saja anak keduaku. Barra, dia adalah anak yang tidak berguna. Selalu membantah omongan orang tua dan suka bertindak sendiri. Membuat suamiku kesusahan. Jadi, tolong jaga kedua pria yang disayangi," gumam Melli pada diri sendiri.


Melli berdoa baik untuk Ferdi dan Reno, doa buruk untuk Barra. Di mana memang tidak suka dengan anak kedua. Sedari di lahirkan sampai sekarang. Melli tidak merasa kasihan atau sayang dengan Barra, entah kenapa padahal lahir dari rahim sendiri.


Apa mungkin anak tertukar? Bisa jadi. Melli tidak tahu apa bayi ditukar atau tidak, setelah melahirkan Melli koma beberapa minggu. Kondisi tidak stabil.


"Aku harus menelepon Ferdi dan Reno, mereka pasti baik-baik saja, kan?"


Melli bergegas menuju kamar. Ingin menelepon Ferdi terlebih dahulu baru sang suami. Dia sangat khawatir terhadap sesuatu, tidak tahu penyebab. Mungkin dari dua pria tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2