ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 28. ONE NIGHT with IPAR.


__ADS_3

Ferdi baru sampai di rumah, Mama Melli memintanya datang karena ada yang ingin dikatakan.


"Bajingan itu!" Ferdi mengepalkan tangan.


Pasalnya dia emosi sudah melihat foto perselingkuhan Papa-nya dengan wanita lain. Di sana tidak diperlihatkan wajah si selingkuhan, diburamkan hanya terlihat muka Reno. Ekspresi Reno di sana sangat nakal.


Ferdi menjadi geram. Melli sampai pingsan saat melihat foto ini, untung saja sedang ada Ferdi, jadi bisa menolong. Dengan cepat menelepon dokter untuk memeriksa. Kata dokter kondisi Melli baik-baik saja, cuma terkejut.


"Apa aku harus membunuhnya? Tidak, walau begitu dia masih tetap CEO perusahaan. Dia juga Papaku. Kalau terjadi sesuatu pasti akan ada penyelidikan dan kalau tahu aku tersangka ... pasti akan masuk penjara dan membuat hati Mama akan sakit untuk kedua kali.


Tidak, aku harus berpikir jernih. Apa Barra tahu soal ini? Dia bahkan tidak pernah mengunjungi rumah."


Di saat seperti ini adiknya yang bisa membuat keputusan. Dia lebih pintar dibanding Ferdi, bisa mengarahkan kepada hal benar bukan salah. Berbeda dengan Ferdi yang memang bukan anak genius. Dia hanya duduk diam dan menerima uang mengalir ke rekening. Tanpa melakukan apa pun.


Ferdi terbiasa mengandalkan orang lain dengan menggunakan uangnya.


Sosok malas Ferdi mana bisa bertindak saat begini. Salah sedikit saja akan berakibat fatal.


"Apa aku hubungi Barra, ya? Anak itu akan mengangkat atau tidak? Hah! Kenapa juga Papa selingkuh?! Dia ternyata sama saja dengan pria lain, brengsek!" Ferdi ragu-ragu menekan nomor Barra.


Takut ditolak. Selain jarang mengunjungi keluarga, Barra selalu menolak panggilan, entah dari Melli atau Ferdi. Dia memutus kontak dengan keluarga begitu saja. Saat bertemu secara tak sengaja juga, berpura-pura tidak kenal. Betapa sombong anak itu.


"Coba saja, kalau tidak diangkat aku harus memaksa pengawal menyeret dia ke sini. Anak itu sesekali harus dihajar, biar tahu rasa.


Tetapi, apa pengawal akan menang? Sedari kecil Barra jago bela diri mana mempunyai perusahaan alat berat. Ini membingungkan."


Tidak mau ambil pusing Ferdi segera menelepon Barra. Melupakan kemungkinan akan ditolak atau apa. Dia harus berani demi sang ibu.


"Barra, angkat! Anak ini kenapa lama sekali?! Apa sedang ada di toilet atau apa? Sabar ... pikirkan Mama maka langsung tenang."


Prrk!


Tidak bisa. Ferdi membanting handphone ke lantai membuat benda digital hancur. Bagi anak kaya raya seperti Ferdi tidak masalah handphone hancur, bisa dibeli lagi.


Masalahnya adalah Barra. Dia lama sekali tidak mengangkat membuat Ferdi emosi. Dia butuh seseorang seperti Barra, bisa memberi nasihat atau perintah.


"Hei, siapa pun ke sini. Beri aku handphone. Cepat!"

__ADS_1


Para pelayan yang sedang mengintip langsung saling mendorong. Mereka tidak mau maju untuk menjadi tumbal kekesalan tuan muda, apalagi sampai handphone dipecahkan. Butuh beberapa bulan agar mendapatkan handphone kembali. Mana bisa langsung dibanting begitu saja.


Mereka bukan anak kaya raya, tetapi anak yang bercita-cita menjadi kaya. Bisa sekaya Ferdi.


"Aku akan membayarnya, sialan!"


bentak Ferdi.


"I-ini, Mas Ferdi!"


Dasar. Mendengar kata akan dibayar membuat para pelayan langsung menyerahkan handphone. Berebutan agar terpilih. Mereka lupa kalau Ferdi selalu berbohong.


"Hei, Barra! Ada sesuatu yang gawat di rumah, kamu bisa ke sini? Tidak! Segera ke sini ... Mama, dia pingsaaaaan!" Ferdi langsung berbicara saat panggilan diterima oleh Barra.


Tanpa menunggu Barra berbicara lebih dahulu. Menyerang begitu saja.


"Kamu demam, ya? Kenapa menyuruh orang keluar rumah saat malam hari?! Aku sedang tidur, jangan main-main."


"Barra, jadilah adik dan anak untuk terakhir kalinya. Cepat kemari, kita ada diskusi penting. Kalau kamu tidak ke sini, aku harus menyeret secara paksa," ujar Ferdi berusaha negosiasi.


"Aku bisa membuat mereka mati, loh."


Pertama kali Ferdi memanggil Barra dengan sebutan adik. Biasanya nama atau tidak sama sekali. Dia benar-benar di fase butuh Barra. Tidak berbohong atau ada niat lain.


"Hmm, oke. Aku akan ke sana, tunggu."


"Barra! Terima kasih, semoga kamu tiba dengan selamat. Adikku tersayang! Jangan lupa memakai pakaian tebal karena di luar dingin."


Ferdi tidak peduli dengan sambungan yang terputus. Dia sangat senang mendapat kabar bahwa Barra akan kemari, berarti masalah teratasi. Si pemberi nasihat andal pasti mengurus masalah dengan cepat dan benar.


Tidak akan terjadi masalah, benar bukan?


***


"APA?! MAKSUDMU DIAM SAJA SAMPAI PAPA DATANG KE RUMAH? SARAN APA ITU?! AKU MENYURUHMU KE SINI UNTUK MEMBERI NASIHAT SELAIN MENUNGGU."


Ferdi kesal dengan usulan Barra. Padahal Barra telah memiliki rencana lain yang akan membuat bukan saja Papa-nya yang malu tapi juga abang-nya Ferdi.

__ADS_1


Ferdi terlalu banyak berharap. Dia kira Barra akan memberi nasihat luar biasa bukan kata menunggu. Benar-benar mengecewakan.


Barra menggeleng, dia meneguk teh hangat. Butuh asupan hangat setelah merasakan dingin angin malam hari. Mana tidur terganggu gara-gara masalah kecil. Foto perselingkuhan Reno.


"Begini, melihat dari reaksi Mama bukankah lebih aneh? Dia sudah pingsan beberapa jam dan sadar, tetapi kenapa tidak menghubungi suami? Hanya satu alasan. Dia mau menunggu kedatangan Papa Reno," ujar Barra. Dia menjeda ucapannya. Barra tahu betapa Mama terlalu percaya pada suaminya itu.


"Mama pasti ingin mendengar penjelasan dari Papa langsung. Meski di dalam hati sangat sakit, dia rela melupakan sejenak karena rasa sayang. Kamu tahu sendiri bagaimana rasa cinta Mama kepada Papa."


Barra menjelaskan semuanya pada Ferdi.


"Mama sangat mencintai suaminya, aku tahu ... lalu kita juga harus menunggu?"


tanya Ferdi lagi.


"Kalau kamu tidak mau menghormati keputusan Mama, lakukan hal lain. Misalnya rencana penyiksaan atau pemaksaan agar cepat pulang."


Ferdi mengangguk mendengar penjelasan dari Barra. Dia terlihat seperti anak yang diajari oleh seorang guru. Betapa naif dan polos.


"Aku bisa membuat Papa cepat pulang, bagaimana dengan kabar Mama di rumah sakit? Aku akan mengatakan Mama terjatuh dari tangga dan banyak mengeluarkan darah. Dia butuh suami sebelum melakukan operasi. Mau tak mau Papa pasti datang, bagus bukan?"


"Aku sarankan jangan. Biarkan dia datang atas kemauan sendiri, kalau mau aku bisa membantu agar Papa cepat kembali. Namun, itu tidak gratis." Barra menyandarkan punggung ke sofa.


"Apa yang kamu inginkan? Harta, tahta, atau wanita? Aku bisa memberikan semuanya."


"Berikan aku jantung Mama."


Perkataan Barra membuat keheningan. Tidak ada suara yang terdengar baik dari bisik-bisik pembantu atau yang lain. Semuanya diam seakan takut setelah mendengar permintaan Barra.


"Kamu serius? Menginginkan kematian Mama kita sendiri, kamu sudah gila!" ucap Ferdi.


"Aku bercanda, dia Mama kamu. Tidak ada kata 'kita' hanya aku dan kamu. Jangan katakan itu sekali lagi atau ingin membuat suasana seperti ini hancur. Kalau sudah aku akan pergi, betapa lelah hari ini."


"Kamu bisa tidur di sini saja. Jangan pedulikan amarah Mama kalau tahu, aku akan menjelaskannya."


"Tidak perlu, aku pasti tidak bisa tidur di sini. Rumah ini membuatku sesak ...."


Barra beranjak pergi dari rumah itu. Entah mengapa Barra tidak pernah betah berada di rumah kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2