ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 69. ONE NIGHT with IPAR.


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, hari ini Naina dan Ibu Eti telah memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Apartemen akan di jual Naina untuk modal hidup di kampung.


Naina dan Ibu Eti sadar jika semua ini adalah konsekuensi dari semua yang pernah dia lakukan. Naina pergi ke salah satu super market untuk membeli bahan makanan. Ibu Eti akan masak buat bekal di jalan.


Saat sedang memilih bahan makanan, Naina bertemu Barra dan Khayra yang juga sedang berbelanja buat isi kulkasnya.


"Selamat siang, Kak Khay!" sapa Naina begitu sampai di hadapan wanita itu.


Khayra dan Barra serempak membalikan badan dan melihat Naina. Khayra dan Barra saling pandang.


"Selamat Siang, Nai! Apa kabar? Udah lama tidak bertemu," ucap Khayra basa basi.


"Kak Khay, aku mau bicara. Apa Kakak ada waktu?" tanya Naina.


Khayra memandangi wajah Barra meminta persetujuan, suaminya itu mengangguk tanda setuju. Khayra memgajak Naina untuk ke kafe yang ada di samping supermarket itu.


Setelah duduk dan memesan makanan, Barra yang berinisiatif membuka obrolan. Dia penasaran, apa yang ingin Naina katakan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Barra.

__ADS_1


"Aku hanya ingin minta maaf dengan Kak Khayra atas semua yang pernah aku lakukan, yang mungkin melukai hati Kakak. Aku dan Ibu mungkin akan pindah ke kampung lusa," ucap Naina langsung tanpa basa basi.


Khayra mendengar dengan heran. Kenapa tiba-tiba Naina minta maaf dan mengapa dia dan ibunya pindah ke kampung.


Khayra masih ingat saat Ibu Eti pernah mengajak Naina untuk pindah ke kampung, adik tirinya itu langsung menjawab tidak mau. Karena di desa dia pasti tidak akan betah. Hiburan hanya ada televisi, berbeda di kota. Banyak hiburan yang bisa dia dapat.


"Pindah ke kampung apa hanya sekadar berlibur?" tanya Khayra.


"Aku akan tinggal di kampung dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Mungkin satu, dua atau tiga tahun, bahkan mungkin selamanya," ucap Naina.


"Oh, lama juga. Semua salahmu telah aku maafkan. Mungkin aku juga banyak salah. Aku juga minta maaf. Semoga betah di kampung!" ucap Khayra.


Khayra dan Barra kaget mendengar ucapan Naina. Keduanya saling pandang. Tidak percaya dengan apa yang di dengar.


"Kamu sedang hamil? Kenapa harus di bawa ke kampung? Apa suami kamu tinggal di kampung?" tanya Khayra dengan lugunya


Naina tersenyum mendengar pertanyaan Khayra. Dia mengajak Khayra dan Barra bicara agar pria itu tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.


"Ya aku hamil anaknya Ferdi. Tapi dia tidak mau bertanggung jawab. Aku tahu semua ini juga salaku, kenapa mau berhubungan tanpa ikatan pernikahan."

__ADS_1


"Apa kamu yakin itu anaknya Bang Ferdi?" tanya Barra.


"Tentu saja aku yakin."


"Bagaimana dengan Papa Reno, bukankah kamu juga berhubungan badan dengannya. Masih ada kemungkinan jika itu juga anak Papa!" ujar Barra.


"Aku tahu kejujuran kali ini, mungkin akan membuat kamu jijik dan makin membenciku. Tapi kamu juga harus tahu, karena kamu adalah saudara Ferdi dan anaknya Om Reno!" ucap Naina. Dia sengaja menjeda ucapannya dulu. Menarik napas untuk dapat bicara sejujurnya.


"Baik Reno dan Ferdi tidak ada yang mau bertanggung jawab. Mereka saling melempar tanggung jawab. Om Reno ngomong, mungkin saja ini anak Ferdi, begitu juga sebaliknya. Ferdi juga mengatakan mungkin itu anak Om Reno. Aku bisa apa karena mereka saling melempar tanggung jawab!" ucap Naina. Dia kembali menjeda ucapannya.


Tampak Naina menahan airmata agar tidak tumpah membasahi pipinya. Barra dan Khayra hanya diam memberikan waktu untuk Naina bicara mencurahkan semuanya.


"Aku bersumpah Barra, jika aku hanya berhubungan dengan dua pria itu. Jadi pasti ayah dari anakku antara mereka berdua. Tapi aku lebih yakin Ferdi. Karena jika aku berhubungan dengan Om Reno lebih sering menggunakan pengaman!"


Khayra dan Barra kembali saling pandang, Barra tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Jika memang itu anak dari Reno atau Ferdi berarti masih satu keturunan dengan dirinya.


"Kak Khayra, aku hanya ingin minta maaf dan pamit. Jadi kakak dan Barra jangan berpikir yang macam-macam. Aku sudah ikhlas menerima semua ini. Mungkin ini adalah balasan atas apa yang pernah aku perbuat. Aku pamit Kak."


Naina berdiri dari duduknya dan menyalami Barra dan Khayra. Berjalan perlahan meninggalkan keduanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2