ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 58. ONE NIGHT with IPAR.


__ADS_3

"Kayaknya mogok,"


Jawaban dari Barra membuat Khayra menatap malas pada suaminya, ia memilih keluar dari mobil tersebut dengan menggenggam handphonenya disusul Barra.


"Udah gak ada sinyal, mana daerah sini nggak ada orang yang bisa diminta in tolong," protes Khayra duduk di depan mobil dengan mengibaskan handphonenya berharap ada sinyal disana.


"Maaf, aku lupa ngecek mobilnya," ujar Barra ikut duduk disamping Khayra.


Barra tampak merasa bersalah, semua rencana bulan madunya harus lambat dijalan karena ini.


Khayra yang melihat itu hanya mengelus bahu suaminya dan masih berharap akan ada sinyal yang setidaknya nyasar ditempat itu bersama mereka.


"Kira-kira kalau kita jalan ke depan buat ke jalan raya, jauh nggak?" tanya Khayra pada suaminya.


"Dua jam jalan kaki? Kamu bisa? Kita coba aja telpon pihak bengkel terdekat kalau ada sinyal, atau nunggu mobil lain yang lewat untuk minta pertolongan," jawab Barra.


"Emang Kakak nggak bawa alat-alatnya?"


tanya Khayra. Barra menggeleng.


Melihat hal itu Khayra hanya menggeleng maklum kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu dan meletakkan handphonenya disamping sana.


Khayra sesekali mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan berharap ada sesuatu yang menarik sampai ia menemukan tanaman anggur di semak belukar.


Melihat itu Khayra menunjukkan mata berbinar kemudian masuk kedalam mobil mengambil antiseptik untuk makanan.


"Mau kemana?" tanya Barra pada Khayra


Khayra hanya menarik tangan Barra mengikutinya, sehingga mau tidak mau Barra harus mengikuti istrinya itu.


"Ambil in," pinta Khayra pada Barra karena memang dia tidak bisa menggapai buah anggur tersebut.


Barra yang melihat hal itu kemudian segera meraih buah anggur yang berwarna ungu dan menyerahkannya ke Khayra, Khayra semakin berbinar menatap buah anggur ditangannya dan menyemprotkan antiseptik yang dia bawa tadi.


Disaat sedang asyik memakan buah anggur, Barra tiba-tiba menarik Khayra sehingga wajah Khayra yang sedang memakan anggur tersebut menghadap ke Barra.


Khayra yang sibuk dengan anggurnya hanya menatap Barra sekilas kemudian menaikkan alisnya.


"Mau?" tawar Khayra hendak menyuapkan satu buah anggur kepada Barra.


Barra hanya menggeleng pelan kemudian memberi kode kepada Khayra yang membuat Khayra sedikit bingung, Barra yang sudah kehabisan akal memberi ide, langsung menyambar bibir istrinya untuk membagi anggur yang sedang dimakan Khayra.


Khayra yang mendapat perlakuan seperti itu tidak membalas ciuman Barra, ia memilih mengalungkan tangannya dileher sang suami kemudian memejamkan matanya sekilas.


"Mesum," hardik Khayra saat Barra melepas ciumannya.


"Biarin, Mesum sama istri sendiri, lagian disini gak ada siapapun," jawab Barra kembali merangkul Khayra.


Disaat mereka berdua melanjutkan romantisme ditengah pepohonan tersebut, tiba-tiba hujan turun dengan deras yang membuat Khayra dan Barra bergegas masuk kedalam mobil mereka.


"Huft!" Khayra meniup tangannya karena kedinginan akibat sedikit basah terkena hujan.


Barra yang melihat itu segera mengambil selimut kecil dsri dashboard atas dan menyelimuti tubuh istrinya itu.


"Dingin yah?" Barra beralih mengambil tangan istrinya kemudian menggosoknya perlahan.

__ADS_1


"Masih dingin?" tanya Barra pada Khayra.


Khayra hanya mengangguk sembari menatap Barra. Pria itu melepas jasnya dan kemejanya kemudian menempelkan telapak tangan Khayra di dadanya sebelum mendekap erat tubuh istrinya untuk memberikannya kehangatan.


"Masih dingin?" tanya Barra mengelus rambut Khayra.


Khayra hanya terdiam sembari membenamkan kepalanya di dada Barra yang bidang, merasakan kehangatan dari tubuh suaminya itu.


"Maafin aku, yah. Ini semua gara-gara aku." Barra menyesali permintaan bulan madu yang membuat mereka terjebak di situasi seperti ini.


"Aku gapapa kok, cuma pengen tidur aja di pelukan Kak Barra, boleh?" tanya Khayra mendongak menatap wajah suaminya.


Barra hanya tersenyum kemudian semakin erat memeluk tubuh istrinya yang perlahan mulai tertidur. Tidak dirasa Barra yang hening juga ikut tertidur ditengah suasana hujan seperti ini.


Jam menunjukkan pukul delapan malam. Khayra baru terbangun dari tidurnya. Dia menatap suaminya yang masih tertidur. Khayra tersenyum kemudian menoel kecil hidung suaminya itu sehingga membuat Barra terbangun dari tidurnya.


"Iseng," keluh Barra membuka sebelah matanya.


Khayra terkekeh kemudian memperbaiki duduknya.


"Kak?"


"Hamm?"


"Laper," rengek Khayra pada Barra.


"Okey mau apa? Burger? Pizza? Atau jus jeruk? Kita bisa memesan online saja dan memberi alamat untuk mengantarnya ditengah hutan seperti ini," jawab Barra mengecek handphonenya yang masih saja belum ada sinyal.


Barra beralih menyalakan lampu mobilnya agar memberi sedikit penerangan, karena handphonenya yang mulai kehabisan baterai.


Barra kemudian mengambil buah semangka yang mereka beli di indooktober tadi siang dari bagasinya kemudian membawanya ke jok depan.


"Kita makan semangka aja yah," ujar Barra pada Khayra yang menunggunya.


Khayra hanya mengangguk kemudian menyuruh Barra memotong semangka yang masih utuh itu.


"Pisaunya mana?" tanya Barra pada Khayra.


Khayra hanya mengangkat bahunya. "Gak ada!"


"Terus potongnya gimana?"


tanya Barra.


"Nggak tau," jawab Khayra pasrah.


Melihat hal itu Barra hanya menghela napas panjang kemudian memilih membelah semangka itu dengan tangannya.


Barra langsung meringis mengibaskan tangannya kesakitan karena mencoba memotong semangka tersebut dengan tangannya.


Khayra yang melihat itu hanya tertawa geli kemudian mengambil tangan suaminya untuk ditiup. "Sakit yah?"


"Ehmmm," gumam Barra yang sudah tidak meringis lagi.


"Lagian sih, udah tahu semangkanya keras, malah nekat," ujar Khayra berhenti meniup tangan suaminya.

__ADS_1


"Bukan nekat, tapi emang bisa kok," jawab Barra yang membuat Khayra menatap remeh ke arahnya.


"Udah, makan snack aja kalau gitu," saran Khayra hendak mengambil kantong snack di jok belakang namun segera ditahan oleh Barra.


Barra kembali memotong semangka tersebut dengan tangannya sehingga semangka tersebut terbelah dua dan menimbulkan sedikit bercak merah semangka di dashboard tempat Barra membelah.


"Nah udah ke belah," ujar Barra menyerahkan semangka tersebut kepada Khayra.


Khayra yang disodorkan semangka hanya tersenyum senang mengambil semangka tersebut dan memakannya. Sedangkan Barra hanya menatap istrinya yang memakan semangka tersebut. Wanita itu lebih menggemaskan yang dia pernah liat disaat kondisi seperti ini.


"Mau?" tawar Khayra menatap dengan mata poppy eyes suaminya.


Barra tersenyum dan menggusak acak rambut istrinya. "Gak,"


Mendapat penolakan Khayra lebih memilih melanjutkan memakan semangkanya sampai habis yang membuat Barra bertambah gemas dibuat istrinya itu.


"Makannya sampai belepotan," Barra mengelap pinggir bibir Khayra dengan tangannya yang langsung turun mengelus dagu istrinya. "Kadang aku bingung, kenapa kamu bisa jatuh cinta denganku. Aku bahagia banget bisa jadi suamimu,"


"Aku juga!"


"Serius?"


"Gak,"


"Ya,"


Khayra tertawa dan memajukan kepalanya ke depan kepala Barra dan menyatukan kening mereka.


"Definisi bahagia aku itu adalah, Kakak," bisik Khayra sensual yang membuat Barra menatapnya tanpa terpejam.


"Seriuosly? I am ...."


"Maybe?" ucap Khayra. Barra menatap wajah Khayra dengan seksama.


Hampir lama mereka dalam posisi seperti ini. Sebelum akhirnya Khayra kembali membuka suara untuk memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Kak," panggil Khayra.


"Iya!"


"Ngantuk," ujar Khayra.


Barra tersenyum dan melepaskan posisi mereka kemudian beralih ke jok belakang yang ia luruskan ke belakang sehingga membentuk tempat tidur.


"Sini," ajak Barra melepas kemejanya yang menyisakan kaos putih sebagai dalaman.


Khayra mengangguk kemudian beranjak menyusul suaminya yang sudah menyiapkan lengannya untuk dijadikan bantal.


"Hangat?" tanya Barra menghadap Khayra yang sudah tidur dalam ringkuhannya.


"Iya," jawab Khayra memainkan jari-jarinya di perut sixpack suaminya.


"Selamat tidur, Kesayangan," bisik Barra dan mengecup dahi Khayra.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2