
Papa Reno datang dengan pengacaranya dan mengurus semua. Ferdi diizinkan pulang setelah dua jam dengan syarat wajib lapor hingga kasus selesai atau ada pencabutan dari pihak terlapor. Pria itu hanya bebas bersyarat. itu juga karena Papa dan pengacara mengenal kepala polisinya.
Papa janji akan menemui Khayra untuk meminta wanita itu mencabut perkaranya. Karena saat ini Ferdi masih tahanan luar. Belum bisa bebas kemana-mana.
"Apa yang kamu lakukan memang keterlaluan. Kenapa kamu menampar istrimu hingga bibirnya berdarah begitu?" tanya Papa Reno.
"Dia masih saja menuduh aku selingkuh!"
"Kenapa kamu marah jika itu tidak benar. Papa tahu jika kamu marah hanya karena kamu merasa takut jika apa yang kamu lakukan itu di ketahui istrimu dan terutama Mama!" ucap Papa Reno.
"Apa maksud Papa? Aku tidak mengerti!" ucap Ferdinan.
Papa Reno tertawa mendengar pertanyaan Ferdi. Dia tahu anaknya itu hanya berpura-pura tidak paham dengan apa yang Reno katakan. Mungkin Ferdi pikir, papa-nya tidak tahu apa yang dia dan Naina lakukan.
"Papa tahu apa yang Khayra katakan itu benar. Kamu ada wanita lain. Bahkan kamu sampai detik ini belum menyentuh istrimu, Papa juga tahu."
Ferdi kaget mendengar penuturan Papa-nya itu. Bagaimana mungkin Papa bisa tahu? Dari siapa pria itu mengetahuinya. Satu-satunya orang yang mengetahui itu hanya Naina. Namun tidak mungkin wanita itu yang mengatakan pada Papa. Kapan mereka bertemu. Seingat Ferdi, Papanya itu hanya sekali bertemu dengan Naina.
"Jangan kamu pikirkan dari mana Papa tahu semua tentangmu. Ingat saja Papa ini orang tuamu. Tahu bagaimana kamu sebenarnya."
Ferdi diam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak mungkin membantah. Karena Papa nya itu akan tetap dengan pendiriannya.
"Papa akan menghubungi Khayra. Namun Papa harap kamu tetap tenang, jangan terbawa emosi. Biar Papa yang akan mengurusnya. Kamu tunggu di restoran itu. Papa akan menghubungi Khayra dan memintanya bertemu."
"Baiklah,Pa. Aku harap Khayra masih mau bertemu."
Papa meminta supir berhenti di restoran yang menyediakan sarapan pagi. Setelah Ferdi keluar dari mobil, Papa meminta supir melaju menuju apartemen putranya itu.
Di apartemen milik Ferdi, Khayra sedang menyusun pakaiannya. Dia berencana untuk mencari kos yang terdekat dengan tempat dirinya bekerja.
Saat akan memasukkan bajunya, Khayra mendengar ponselnya berdering. Khayra melihat nama mertuanya yang tercantum. Dengan berat hati wanita itu mengangkatnya.
__ADS_1
"Selamat Pagi, Pa!" ucap Khayra dengan sopan.
"Selamat Pagi, Khayra. Kamu sibuk?" tanya Papa Reno.
"Nggak, Pa. Aku hanya akan berangkat kerja jam sembilan nanti."
"Kalau begitu Papa tunggu sekarang kamu di parkiran apartemen. Papa ingin mengajak kau sarapan."
"Tapi aku belum siap, Pa. Aku belum mandi juga," ucap Khayra. Dia beralasan agar Papa mertuanya mengurungkan niat untuk mengajaknya sarapan.
"Papa tunggu. Lima menit lagi Papa telah berada di parkiran apartemen. Papa akan menunggu hingga kamu muncul. Sekarang kamu bisa bersiap-siap!"
Papa lalu mematikan sambungan ponselnya sebelum Khayra menjawab lagi. Khayra tampak menarik napas setelah sambungan ponsel dimatikan. Terpaksa wanita itu mandi dan berdandan dengan cepat.
Barra yang akan berangakat kerja melihat mobil Papanya terparkir. Dia akan mendekati mobil itu namun urung melihat Khayra yang datang menghampiri.
Papa Reno keluar dari mobil melihat Khayra yang berjalan mendekati mobilnya. Papa Reno memandangi Khayra dari ujung rambut hingga kaki.
Reno yang sedang asyik menatap Khayra menjadi kaget. Dia baru saja berpikir, seandainya Khayra ini mau dengannya, Reno akan bersedia menceraikan istrinya Melli.
Namun Reno sadar jika Khayra bukan seperti Naina. Itu bisa di lihat dari sikapnya. Wanita ini tidak akan mudah di rayu atau ditaklukkan. Bisa-bisa nanti dia yang akan dipermalukan jika mencoba mendekati.
Dalam hatinya Reno berpikir, bodoh sekali Ferdi. Melepaskan wanita secantik dan seanggun ini hanya demi wanita seperti Naina.
Reno saja sebagai pria tidak mau melangkah lebih lanjut dengan Naina bukan karena takut istrinya Melli sakit hati. Akan tetapi dia memang tidak menginginkan Naina untuk dijadikan pendamping. Naina hanyalah teman ranjang baginya. Tidak akan lebih.
"Selamat Pagi, Khayra. Kamu cantik sekali hari ini," puji Papa Reno.
Khayra memandangi Papa mertuanya itu dengan pandangan heran. Bagaimana mungkin mertuanya bisa memuji dirinya? Khayra merasa sedikit risi. Bukankah tidak pantas Papa mertua memuji dirinya begitu.
__ADS_1
Reno yang menyadari jika Khayra sedikit kaget dengan pujiannya. Langsung meralat ucapannya itu. Dia tidak ingin Khayra berpikir yang macam-macam.
"Jangan heran dan kaget begitu, Khayra. Apa salah jika Papa memuji menantunya. Itu hanya sebagai ekspresi rasa suka."
Khayra memberikan senyumnya. Dia malu pikirannya bisa di baca Papa mertua. Emang tadi dirinya sempat heran dan kaget mendengar pujian dari Papa mertuanya itu.
"Masuklah! Kita langsung sarapan biar kamu tidak telat. Papa nggak mau gara-gara mengajak kamu sarapan akhirnya kamu dimarahi atasan dan dipecat." Papa membukakan pintu belakang buat Khayra.
Khayra tersenyum sebagai ucapan terima kasih sebelum masuk ke mobil. Papa Reno langsung meminta supir menjalankan mobil menuju salah satu restoran.
Ferdi telah menunggu dengan gelisah. Apakah Papa bisa membujuk Khayra dapat membujuk wanita itu untuk ikut. Dia tahu istrinya itu tidak mudah digoyahkan.
Satu jam berlalu. Ferdi makin gelisah. Dia tidak mau masuk bui lagi. Cukup tadi malam. Dia akan meminta Papa melakukan apa saja agar dia bisa bebas.
Di dalam mobil mata Papa sering mencuri pandang ke kursi belakang di mana Khayra sedang duduk. Pria itu masih tidak habis pikir kenapa anaknya tidak bisa menyukai wanita secantik Khayra. Padahal Naina jauh kalah cantiknya dari wanita ini.
Khayra yang menyadari Papa mertuanya sering mencuri pandang dengannya menjadi sedikit risi. Kenapa Papa mertuanya itu dari tadi sering menatapnya.
Khayra memang tidak mengenal dekat kedua mertuanya. Dua hari setelah hari pernikahan, dia diajak Ferdi pindah ke apartemen miliknya.
Saat itu Khayra jarang bertemu mertuanya karena mereka berdua bekerja. Saat pernikahan itulah awal mula Khayra bertemu. Itu juga tidak begitu lama karena Papa mertuanya keburu menghilang.
Khayra menundukkan kepalanya agar tidak bertemu pandang dengan papa mertuanya itu. Wanita itu menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel.
Di belakang mobil Reno, ternyata Barra mengikuti mereka. Pria itu merasa heran atas kedatangan Papa nya yang menjemput Khayra. Akan kemana Papa membawa wanita yang dia cintai itu.
"Apakah Papa membawa Khayra untuk memintanya mencabut laporan?" gumam Barra dengan dirinya sendiri. Dia akan mengikuti kemana mobil itu melaju.
...****************...
Selamat siang semuanya. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.
__ADS_1