
Barra berdiri di depan mobilnya sambil menunggu Khayra keluar dari toko tempatnya bekerja. Barra telah bertekad akan mengatakan semuanya pada wanita itu.
Dari kejauhan Barra melihat Khayra yang berjalan mendekati dirinya. Wanita itu tersenyum semringah.
"Maaf, aku sedikit telat. Ada selisih pemasukan dari catatan di komputer."
"Terus bagaimana? Apakah kamu diberhentikan?" tanya Barra. Pria itu berharap jika itu benar. Dia ingin meminta Khayra bekerja dengannya saja.
"Nggaklah! Aku makan apa jika berhenti kerja. Aku ingat jika tadi ada seorang pria yang tidak mau mengambil uang kembalian, dia memberikan buat aku. Tapi uangnya aku masuk ke kotak uang. Jadi ada selisih."
Barra menjadi cemberut mendengar cerita dari Khayra. Dalam pikiran Barra pasti banyak pria-pria yang mendekati Khayra dengan cara itu. Pura-pura beli sesuatu dan tidak menerima uang kembalian.
"Apakah sering pembeli pria melakukan hal seperti itu?" tanya Barra saat mereka telah berada di dalam mobil. Barra mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
"Melakukan apa?" tanya Khayra tidak mengerti.
"Pria-pria itu! Yang sengaja membeli suatu barang hanya untuk bertemu atau berkenalan denganmu. Dan memberikan sisa uang kembalian agar kamu simpati dan mengganggapnya baik!" ucap Barra dengan sedikit ketus.
Khayra membalikan badannya dan menatap Barra yang sedang menyetir dengan senyum simpul. Kenapa pria ini menjadi ketus. Bukankah itu tidak ada masalah dengannya.
"Kenapa Bapak Barra menjadi sewot? Apakah masalah bagi Bapak?" tanya Khayra dengan candaan.
"Aku cemburu! Puas kamu mendengar jawaban dariku!" ucap Barra masih sewot. Khayra tertawa mendengar ucapan pria itu.
Sampai di salah satu restoran. Barra mengajak Khayra duduk di dekat jendela. Pria itu memesan makanan yang Khayra suka.
Sambil menyantap makanan, Barra ingin memulai pembicaraan mengenai Naina. Dia menarik napas dalam sebelum bicara.
"Khay, aku harap kamu jangan kecewa atau marah setelah mendengar apa yang aku katakan saat ini!" ujar Barra dengan berhati-hati.
__ADS_1
"Emang kamu ingin mengatakan apa?" tanya Khayra. Dari tadi pagi wanita itu telah penasaran dengan apa yang akan Barra utarakan.
"Aku meminta seseorang mengawasi Papa-ku. Aku curiga dia memiliki wanita simpanan. Kecurigaan ternyata benar. Papa memiliki wanita selain mama. Yang aku tidak habis pikir, kenapa Papa berselingkuh dengan wanita itu? Kamu tahu siapa selingkuhan Papa-ku?" tanya Barra.
Khayra menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau mengutarakan isi kepalanya. Takut jika itu salah. Khayra menduga selingkuhan Papa Barra adalah Naina karena pria itu dari pagi banyak bertanya tentang Naina.
"Selingkuhan Papa aku adalah Naina adik tirimu!" ucap Barra penuh penekanan.
Walau pun Khayra telah memikirkan jika Naina adik tirinya selingkuhan papa Barra. Tetap saja Khayra kaget.Badannya lemas. Dia langsung bersandar di kursi.
"Apa kamu tidak salah, Bar?" tanya Khayra. Barra lalu memberikan sejumlah foto yang dia dapatkan dari orang suruhannya. Khayra mengambil foto itu. Dia merasakan dadanya sesak melihat kenyataan itu.
"Kamu pasti lebih kaget lagi jika aku mengatakan kenyataan yang lainnya!" ujar Barra.
Khayra merubah duduknya dan mencondongkan tubuhnya mendekati Barra. Dia ingin mendengar lebih banyak lagi mengenai adik tirinya itu.
"Apa kenyataan lainnya? Katakan saja, Bar! Aku siap mendengarnya. Kamu telah berjanji akan jujur denganku."
"Naina bukan saja menjadi selingkuhan Papaku, tapi dia juga selingkuhan Ferdi abangku, mantan suamimu!" ucap Barra dengan nada geram.
Khayra tampak makin syok. Wanita itu merasakan sesak di dada mendengar ucapan Barra. Khayra teringat saat dia menghubungi Ferdi, suara wanita yang menjawab telepon itu memang mirip suara Naina.
"Aku nggak habis pikir dengan adik tirimu itu. Kenapa dia mau selingkuh dengan dua pria yang berstatus Papa dan anak. Apa yang ada dalam pikirannya?"
"Aku nggak tahu harus bicara apa? Apa kamu tahu sejak kapan Naina berhubungan dengan Ferdi?" tanya Khayra lagi.
"Telah lama. Hampir dua tahun."
"Jika memang mereka telah lama berhubungan, kenapa Ferdi mau menikahi aku? Kenapa bukan Naina saja yang dinikahinya?" Suara Khayra bergetar menahan tangis. Dia tidak mengira jika adik tirinya itu mengkhianati dirinya.
__ADS_1
"Jangan kamu pikirkan mereka lagi. Sekarang kamu telah lepas dari pria seperti Ferdi."
"Aku harus tahu alasan Naina membiarkan aku menikahi Ferdi, padahal kekasihnya."
"Aku akan bongkar kebusukan Naina dan Papa. Karena di sini mereka berdua jauh lebih bersalah dari Ferdi!" ujar Barra.
"Maksud kamu?"
"Papa tahu jika Naina adalah kekasih Ferdi. Namun, dia masih saja berhubungan dengan wanita itu. Aku harus tahu alasan Papa."
Khayra bersandar di kursi. Tidak pernah berpikir jika adiknya itu bisa mempermainkan perasaannya begini. Khayra akan pulang dan meminta penjelasan dari adiknya. Apakah ayah dan ibu-nya tahu semua ini? Khayra bertanya dalam hatinya.
Jika kedua orang tuanya tahu tentang hubungan Naina dengan Ferdi tapi masih membiarkan dia menikah dengan pria itu, berarti mereka memang tidak punya hati. Khayra tidak tahu harus berkata apa lagi jika itu benar.
"Aku harap kamu bertanya dengan hati-hati. Karena aku ingin membuka kedok Naina di depan mama. Biar mama tahu jika kedua pria yang disayanginya menyukai wanita yang sama."
Barra sebenarnya tidak tega mengatakan semua ini pada Mama. Namun, wanita yang telah melahirkan dirinya itu harus tahu siapa suami dan anak yang dia banggakan selama ini.
Bukannya Barra ingin membalas dendam atas perlakuan ibunya selama ini. Namun dia hanya ingin membuka hati mama nya.
"Baiklah, Bar. Kamu bisa tanyakan alasan ini pada Papa mu dan aku akan bertanya dengan Naina langsung. Jika perlu kami bertiga. Aku, Naina dan Ferdi. Aku ingin tahu alasan mereka mempermainkan perasaan aku selama ini."
Barra mengantar Naina sampai ke pintu apartemen dan memintanya jangan membukakan pintu siapapun yang mengetuk atau bunyikan bel. Jika dia yang akan bertamu, pasti akan menghubungi dulu.
Khayra masuk ke apartemen dengan perasaan campur aduk. Masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru didengarnya.
...****************...
Selamat siang semuanya. Terima kasih karena masih setia menanti kelanjutan novel ini. Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.
__ADS_1