ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 24. ONE NIGHT with IPAR


__ADS_3

Telah dua hari berlalu sejak penanda tangani surat perceraian itu. Hidup Khayra terasa lebih tenang. Tidak ada lagi Ferdi yang mengganggu dirinya.Hanya menunggu keputusan dari pengadilan agama. Tapi yang pasti Ferdi telah menanda tangani persetujuan perceraian.


Barra juga telah mengetahui tentang surat cerai itu dari Papa nya. Semua baju dan barang Ferdi telah di susun. Pria itu akan menjemputnya siang ini. Khayra memang mengambil jatah cutinya enam hari.


Khayra yang sedang membersihkan tempat tinggalnya dikagetkan dengan bunyi bel. Dia berjalan membukakan pintu.


Khayra membuka pintu dan melihat Ferdi yang berdiri di depan pintu. Khayra mempersilakan Ferdi masuk. Pria itu menatap Khayra dengan mata menyala.


"Enak kamu sekarang. Dengan hanya menikah dua bulan kamu mendapatkan apartemen. Kenapa Papa begitu mudahnya memberikan semua permintaan kamu. Apa yang kamu berikan dengan Papa? Tubuhmu?" ucap Ferdi. Pria itu menatap Khayra tanpa kedip.


"Jangan sembarangan kamu bicara, Mas. Aku tidak pernah meminta apapun. Papa saja yang memberikan. Jika memang tidak rela aku bisa mengembalikan semua ini!" ucap Khayra.


Khayra tidak ingin dikatakan Menikahi Ferdi hanya untuk mengharapkan harta keluarganya. Tanpa bantuan dari mereka pun, Khayra akan bisa makan asal saja dia mau berusaha.


Ferdi masih memandangi Khayra. Dalam hatinya cantik juga wanita ini. Lebih cantik dari Naina. Namun, dia terlanjur membenci Khayra karena mendengar cerita dari Naina.


Ferdi berjalan mendekati Khayra. Wanita itu berjalan mundur untuk menjauhi. Perasaannya tidak enak melihat tatapan Ferdi. Khayra mundur dan menekan angka 1. Nomor Barra memang dimasukan ke nomor darurat di ponselnya.


Barra yang menerima panggilan segera mengangkatnya. Namun dia hanya mendengar suara Khayra pelan.


"Mau apa kamu, Mas? Jangan mendekat!" ucap Khayra ketakutan.


"Kenapa? Kita masih suami istri'kan? Aku ingin sebelum surat dari pengadilan agama keluar kita bersenang-senang dulu," ucap Ferdi makin mendekati Khayra.


"Jangan mendekat! Aku akan laporkan kamu jika berani macam-macam!" ucap Khayra gugup.

__ADS_1


Barra yang mendengar suara Khayra begitu langsung keluar dari apartemen miliknya. Beruntung tadi Khayra tidak menutup rapat pintu. Karena wanita itu takut Ferdi menyakitinya.


Khayra tidak dapat menjauh dari Ferdi lagi. Tubuhnya telah menabrak dinding di belakangnya. Ferdi semakin dekat dan mengukung tubuh Khayra.


Ferdi mendekatkan wajahnya ke bibir Khayra. Wanita itu langsung mendorong tubuh pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu keras hingga Ferdi tersungkur.


Bukannya menyerah pria itu kembali berdiri, namun seseorang menendangnya keras hingga kali ini tubuhnya cukup keras tersungkur kelantai.


Ferdi memandangi siapa yang berani melakukan itu dengan dirinya. Pria itu melihat ke arah asal tendangan. Melihat Barra yang berdiri di depan Khayra melindungi wanita itu, Ferdi makin tampak emosi.


"Jangan ikut campur. Ini urusanku dengan Khayra istriku!" ucap Ferdi.


"Apa abang lupa jika telah menandatangani surat perceraian!" tanya Barra.


"Harus berapa kali aku katakan, Mas. Kami telah putus. Aku bertemu kembali dengan Barra setelah kita menikah!"


"Setelah bertemu kembali, kau dan Barra menjalin hubungan lagi. Dasar wanita murahan. Sekarang kau mencoba mendekati Papa agar merestui hubungan kalian berdua?" tanya Ferdi dengan tersenyum sinis.


"Aku nggak mau mendengar omong kosong kamu lagi, Mas. Silakan Mas pergi dari tempat ini. Semua barang Mas telah aku susun. Jika Mas masih nekat melakukan kekerasan, aku pastikan akan melapornya kembali. Apa Mas lupa jika ada dalam surat perjanjian jika Mas masih melakukan kekerasan, Mas bersedia mendekam di penjara!" ucap Khayra.


"Kau pasti akan membayar mahal atas semua ini. Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bahagia!" ucap Ferdi.


Ferdi lalu meninggalkan apartemen yang dulu miliknya itu dengan dua tas koper berisi pakaian dan barang miliknya.


Setelah kepergian Ferdi, barulah Khayra dapat bernapas lega.Dia berjalan menuju kursi makan dan mengambil minum. Khayra tidak dapat membayangkan jika Ferdi tadi benar-benar melecehkannya. Cukup hanya Barra yang pernah lakukan itu.

__ADS_1


Barra duduk di kursi sebelah Khayra. "Mulai hari ini kamu harus hati-hati kemanapun pergi. Kak Ferdi itu pendendam. Dia bisa nekat melakukan apa saja."


"Iya, Bar. Terima kasih atas bantuannya."


"Jangan lupa tanyakan terus tentang akta ceraimu. Jangan sampai ketipu. Satu lagi coba kamu pastikan di pengadilan agama apakah benar perceraian kamu telah didaftarkan."


"Baiklah besok aku akan kesana untuk memastikan."


Barra meminta izin kembali dan mengingatkan Khayra untuk tidak membuka pintu sembarangan.


***


Dua minggu telah berlalu, ternyata Papa Reno tidak berbohong dengan apa yang dia janjikan. Hari ini Papa Reno mengajak Khayra makan malam dan memberikan surat perceraian itu.


"Terima kasih, Pa. Aku nggak akan melupakan semua kebaikan Papa ini," ucap Khayra.


"Papa juga nggak akan melupakan kamu. Walau kamu telah berpisah dengan Ferdi, Papa harap kamu jangan sungkan jika membutuhkan bantuan dari Papa," ucap Reno tersenyum. Matanya tidak berkedip memandangi Khayra membuat wanita itu menjadi salah tingkah.


Khayra pamit setelah makan malam. Dia tidak mau berlama-lama berada di dekat Reno. Matanya Reno yang memandangi tajam seolah menelanjangi dirinya.


"Sekali lagi terima kasih, Pa. Aku pamit." Khayra menyalami tangan Papa Reno dan meninggalkan ruangan itu. Reno memandangi hingga wanita itu menghilang dari pandangannya.


Seandainya wanita seperti Khayra menjadi pendamping hidupku, pasti akan betah di rumah dan tidak akan bertualang lagi mencari kehangatan wanita.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2