ONE NIGHT With IPAR

ONE NIGHT With IPAR
Bab 26. ONE NIGHT with Ipar


__ADS_3

Cup!


"Jaga dirimu baik-baik, jangan lupa kabari aku kalau terjadi sesuatu," ucap Reno setelah mengecup kening Melli.


Kemarin malam tidak terjadi sesuatu. Semua berjalan lancar sesuai keinginan Reno. Semua anak dan istri makan dengan tenang, sesekali terkekeh karena candaan ringan. Walau Reno tahu ada satu orang yang terlihat tidak niat untuk hadir. Anak bungsu, Barra.


Tak sekali dua kali Barra mengacuhkan pertanyaan Reno. Baik penting atau candaan. Yah, untungnya Reno mempunyai stok kesabaran. Bisa tidak memerahi Barra, hanya tersenyum. Demi untuk ini, liburan bersama Naina.


"Kamu juga, kabari aku kalau terjadi sesuatu. Aku pasti merindukanmu~" Melli memeluk tubuh sang suami.


"Aku akan lebih merindukanmu. Ini tidak akan lama, tunggulah sebentar."


Reno membalas pelukan tanpa ekspresi. Datar karena tidak bisa dilihat oleh Melli. Sengaja karena mulai bosan harus tersenyum terus menerus. Lama-lama bisa menjadi patung senyuman.


"Aku akan terus menunggu, Sayang."


"Aku mencintaimu," kata Reno sambil melepaskan pelukan perlahan.


Melli sangat enggan mengizinkan, kalau bukan karena kerjaan sudah pasti tidak akan ada izin. Tidak ada kecurigaan hanya ingin berduaan dengan sang suami saja. Melli sangat mencintai Reno dengan tulus. Tanpa imbalan apa pun.


Murni cinta.


"Aku juga mencintaimu, Sayang." Melli tersenyum secara paksa.


Berat hati Melli melihat kepergian suaminya. Di depan rumah sambil melambaikan tangan, tentu dengan raut wajah dipenuhi senyum. Melli tidak mau membuat wajah penuh kesedihan. Nanti yang ada Reno tidak fokus bekerja.


"Bagaimana dengan Naina?"


tanya Reno begitu berada dalam mobil.


"Kita akan segera menjemputnya, Bos." si sopir menjawab tanpa menoleh ke belakang. Fokus menyetir.


Tidak ada percakapan lagi. Reno sibuk memainkan ponsel, saling mengirim pesan dengan selingkuhannya. Naina, gadis cantik yang nakal. Mereka bertemu secara tak sengaja lalu berakhir seperti sekarang. Berhubungan diam-diam.


Reno dari awal tidak berniat mempunyai simpanan. Cuma gadis secantik dan seksi seperti Naina susah ditolak. Hanya karena pertemuan pertama bisa membuat Reno terbayang. Betapa bibirnya bergerak, pipi tersipu malu, dan pakaian minim itu.


Mengingat masa lalu membuat Reno semakin merindukan Naina. Tidak sabar menemui gadis pujaan hatinya. Bisa libur di Paris sesuka hati. Walau Naina hanya teman ranjang, tapi Reno sangat menyayangi wanita itu karena mampu menghangatkan tubuhnya setiap dibutuhkan.


"Halo, Sayang! Aku merindukanmu!" tukas Naina langsung memasuki mobil.

__ADS_1


Kecupan dari Naina diterima oleh Reno. Dia sampai membalas dengan ******* kecil. Untuk saat ini berakhir sampai sana. Mereka terburu-buru ingin sampai ke bandara, tidak mau sampai terlambat.


"Bagaimana dengan istrimu? Apa dia mengizinkan begitu?"


"Dia pada dasarnya bodoh, pasti mengizinkan. Tenang saja," jawab Reno sambil merangkul pinggang Naina.


Sang sopir yang sudah biasa melihat kejadian tadi biasa saja. Tetap melihat depan, tidak menghiraukan perkataan atau tindakan dua insan berbeda gender. Niat dia bekerja, bukan mencari masalah. Selama gaji turun sesuai maka lakukan seperti biasa.


"Hmm, Melli bodoh! Kita akan ke mana Paris, kan?"


"Iya, kita bisa mengunjungi berbagai tempat contohnya menara Apple."


"Hoo, menara yang tinggi dan terkenal. Aku ingin segera ke sana."


Rasanya tidak sopan memaki istri di hadapan selingkuhan. Si sopir sampai syok beberapa saat. Namun, kembali tenang. Dia tidak boleh menunjukkan raut muka aneh, takut akan disiksa seperti terakhir kali. Disiksa hanya karena menatap datar Naina.


Sepele, tetapi si sopir menanggung rasa sakit luar biasa.


\*\*\*\*


Tok!


Tok!


Niatnya mau tadi malam mengunjungi apartemen Khayra, cuma tidak sengaja ketiduran. Di kamar sendiri yang nyaman. Habis makan malam bersama membuat Barra kehabisan energi, susah payah menyetir sampai ke rumah.


Setelah tiba, bukan ganti baju malah berbaring di lantai. Bukan di kasur atau sofa.


Tok!


"Khayra! Aku membawa sarapan, kalau kamu tidak mau buka, aku akan menelepon polisi. Bilang kalau orang lantai sepuluh sedang sekarat dan pintu tidak bisa dibuka."


Masih tidak ada jawaban. Barra meregangkan tubuh, seharian tidur di lantai membuat sendi-sendi kaku. Untungnya, tidak terkena flu, tetapi terasa kaku. Mana belum olahraga pagi.


Saat bangun Barra bergegas mandi dan membeli sarapan. Dia teringat ingin menemui Khayra.


"Khayra? Kamu tidak apa-apa, kan? Kalau diam saja aku pikir perkataan barusan benar, setidaknya timbulkan suara sedikit saja."


Prang!

__ADS_1


Ya, benar sih. Ada suara dari dalam cuma kenapa harus suara pecah? Seolah ada yang tidak beres di dalam. Tunggu, apa benar-benar terjadi sesuatu?


"Khayra! Aku akan pergi," kata Barra berpura-pura. Dia meninggalkan pintu untuk menemui penjaga apartemen, meminta kunci cadangan.


Susah payah meyakinkan penjaga, tetapi hasilnya sama. Dia berhasil mengambil kunci cadangan karena jabatan yang dipegang. CEO perusahaan alat berat. Lagi, jabatan menentukan.


"Khay–"


"Mmhhh!"


Benar, tidak ada yang beres. Barra melihat sendiri Khayra tengah diikat di kursi dengan seseorang di samping. Memakai topeng wajah, sosok misterius.


Siapa dia dan mau apa?


"Kamu mau apa brengsek?!"


Barra langsung menyerang sosok itu. Tidak susah melawan karena Barra bisa bela diri, sedangkan sang lawan payah. Dia terlihat sebagai pencuri, bukan pencopet. Di mana tidak mempunyai kecepatan atau kekuatan unggul.


Apa dia mau mencuri? Khayra bukan orang kaya dan di apartemen tidak ada barang mahal.


"Bawa dia!"


"Baik!"


Para petugas membawa sosok pencuri. Mereka bahwa menyeret dengan kasar sesuai perintah Barra. Tidak mau mengasihani orang yang sudah berbuat jahat. Kalau perlu, hukum mati sekalian. Berani-beraninya mencuri di apartemen wanita yang dicintainya.


"Apa yang sudah terjadi? Bagaimana bisa kamu disekap? Apa dia ingin mencuri uang atau apa?" Barra bertanya setelah melepaskan ikatan pada tubuh Khayra.


"Tidak tahu, awalnya kami berpapasan di lift. Aku bertanya mau ke lantai mana, dia jawab sepuluh ... saat itu sedang kelelahan jadi tidak sadar, pas sedang berjalan menuju pintu apartemen baru sadar dia ingin menuju kamarku," ucap Khayra bercerita.


"Lalu beginilah. Aku disekap tanpa tahu alasannya." Khayra melanjutkan ucapannya.


Barra berlutut. Menggenggam tangan Khayra yang gemetar, berusaha menenangkan. Tidak mau membuat Khayra ketakutan.


"Tenang saja, aku akan menjagamu. Tenanglah," ucap Barra menarik kepala Khayra agar bisa bersandar di bahu.


Entah kenapa Khayra menangis. Dia meluapkan ketakutan di bahu Barra. Menangis sejadi-jadinya dan mendapat elusan hangat. Barra mengeluarkan kehangatan yang membuat Khayra nyaman.


"Tidak apa-apa, ada aku. Menangislah terus, setelah itu kita bisa sarapan bersama. Aku membawa bubur ayam tanpa kacang, kesukaanmu."

__ADS_1


Bisa-bisanya Barra menggoda Khayra saat sedang menangis. Dengan perasaan sedih pun Khayra bisa merasa kelaparan. Pun tubuh mengeluarkan suara. Menandakan butuh asupan makanan.


...****************...


__ADS_2