
Tiga bulan Kemudian.
Sejak Khayra dinyatakan hamil, Barra yang mengalami ngidam. Dia sering merasa mual dan muntah. Barra juga lebih suka makanan pedas dan asam.
"Kak, seminggu ini sepertinya keadaan Kakak udah mulai membaik. Aku nggak ada melihat Kakak mual dan muntah lagi," ucap Khayra melihat suaminya yang lebih cerah.
"Kamu tahu kenapa?" tanya Barra dengan senyum mencurigakan.
"Mana aku tahu! Yang merasakan mual dan pusing Kak Barra. Berarti Kakak yang tahu kenapa saat ini tidak lagi merasakan itu."
"Itu semua karena aku sudah mendapat jatah malam lagi dari kamu," ucap Barra sambil berbisik.
Khayra langsung mencubit lengan Barra begitu mendengar ucapan suaminya itu. Memang sejak kembali dari rumah sakit, Barra diharuskan puasa hingga kandungan istrinya kuat.
Tiga bulan Barra harus menahan keinginan untuk berhubungan badan. Semua demi bayi yang ada dalam kandungannya.
"Kakak pikirannya mesum aja," ucap Khayra cemberut.
"Namanya juga pria normal, Sayang. Dari pada suamimu ini tidak ada gairah dan hanya diam tanpa semangat. Nanti kamu kalau pengin gimana?"
"Udah, ah. Pagi-pagi ngomong itu!"
"Kamu jadi pengin ya? Ayo kita olah raga pagi!" ajak Barra.
"Kakak ...!" teriak Khayra. Barra hanya tersenyum melihat Khayra yang kesal.
***
Saat ini kandungan Khayra sudah mulai memasuki bulan keempat. Barra berencana akan mengadakan syukuran empat bulan kehamilan istrinya itu. Sekaligus untuk syukuran atas rumah baru mereka.
Barra ingin tinggal di rumah saja, mengingat kandungan Khayra yang makin membesar.
Mama Melli saat ini sudah mulai bisa menerima kenyataan. Dia telah pisah secara resmi dari Papa Reno. Ferdi juga Udah lebih baik lagi. Pria itu tidak pernah ke klub malam lagi.
__ADS_1
Barra akan mengundang semua rekan kerjanya, untuk mengenalkan Khayra sebagai istrinya. Teman-teman Khayra juga tidak lupa masuk daftar undangan.
Pagi hari seperti biasanya Khayra di dapur membuatkan sarapan buat Barra. Saat ini Barra udah tidak mengidam lagi. Walau ada dua orang yang membantu tapi buat sarapan dan makan malam suaminya, Khayra mengusahakan masak sendiri.
Sejak kehamilan Khayra, Barra suaminya yang mengalami ngidam. Setiap pagi selalu merasakan pusing dan mual. Barra juga merasa mudah lelah.
Satu minggu ini, Barra sudah mulai jarang mengeluhkan pusing dan mual. Selera makannya jadi bertambah. Semua ingin disantap.
Barra bangun dan langsung menuju dapur. Mencium bau wangi dari dapur. Barra melihat istrinya Khayra sedang memasak di depan kompor.
"Sayang, kamu masak apa," ucap Barra memeluk pinggang istrinya dan mengecup pipinya.
"Aku buat nasi lemak," ucap Khayra.
"Itu kamu masak apa?" ucap Barra menunjuk dengan mulutnya ke arah kuali.
"Oseng tempe dan teri. Buat lauknya."
Khayra membalikkan badannya dan menghadap suaminya itu. Istrinya itu mengecup bibir Barra. Sejak kehamilannya Khayra merasa sangat bahagia.
Barra setiap hari selalu menunjukan rasa cintanya. Khayra merasa wanita yang sangat beruntung.
Khayra juga setiap hari berusaha merebut hati suaminya itu dengan memberikan semua perhatian, dan membuat semua makanan kesukaan suaminya itu.
"Aku udah masak balado telur, dan ayam bumbu. Kak Barra jangan takut. Perut Kak Barra ini akan aku buat penuh terisi setiap hari, biar nggak jajan di luar lagi," ucap Khayra.
"Terima kasih, Sayang. Percayalah, aku nggak akan mencari jajan di luar lagi, kalau di rumah semuanya udah tersedia."
Barra dan Khayra duduk di meja makan. Istrinya itu mengambilkan nasi lemak beserta semua lauk yang dibuatnya ke piring, untuk Barra.
"Enak banget keliatannya," ucap Barra. Pria itu langsung melahap dengan semangat. Khayra tersenyum melihat suaminya yang dengan lahap menghabiskan satu piring nasi dengan cepat.
"Jangan terburu-buru makannya, Kak. Tidak ada yang mau merebutnya. Lagi pula masih banyak kok aku buatnya."
__ADS_1
"Habis enak banget. Kalau setiap hari kamu masak enak begini, bulan depan aku yakin perutku juga ikut membuncit karena gemuk. Kalau kamu buncitnya karena ada bayi, dan aku karena terisi makanan terus."
"Kak Barra bisa imbangi dengan berolah raga. Jangan tidur aja. Setiap malam usahakan olah raga setengah jam, Kak. Alat-alat olah raga lengkap, tapi tidak digunakan."
"Kamu'kan tahu sayang. Tiga bulan ini badanku lemas, kepala pusing. Katanya aku yang ngidam."
"Kata dokter kemarin Kak Barra itu mengalami kehamilan simpatik. Kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom Couvade terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung," ucap Khayra menjelaskan.
"Berarti itu karena aku simpati dan sangat sayang denganmu." Khayra tersenyum menanggapi ucapan Barra.
"Kak, apa nggak berlebihan kak, kita ngadain syukuran empat bulanan di rumah baru dengan mengundang banyak tamu. Acaranya juga dari pagi hingga malam hari!" ucap Khayra.
Barra berencana mengundang seribu tamu undangan, acara di mulai dari pagi hingga malam harinya.
"Aku belum pernah adain pesta pernikahan kita'kan? Kita kemarin hanya sukuran di panti. Rekan kerja belum banyak yang tau jika aku telah menikah. Jadi saat syukuran kehamilan nanti, aku akan mengundang semua rekan kerja, sekalian mengumumkan tentang pernikahan kita. Biar semua tau, jika kamu istriku."
"Tapi aku malu. Perutku udah membesar. Masa harus bersanding dengan perut buncit."
Barra merubah duduknya menghadap Khayra . Dipegangnya perut istrinya itu dan mengecupnya.
"Kamu itu tambah cantik dan seksi sejak hamil. Apa lagi dengan perut yang makin membuncit. Aku mau kerja. Mulai hari ini aku pulang makan siang. Atau sesekali kamu yang antar ke kantor. Kamu nggak keberatan, Sayang?" tanya Barra.
"Nggak, Kak. Aku akan antar kapan aja Kak Barra mau. Bosan juga kalau di rumah terus. Aku udah terbiasa kerja."
"Kalau gitu, kamu ikut aku ke kantor aja setiap hari."
"Malu, Kak. Sesekali aja,"ucap Khayra.
"Tapi ingat, kalau ke kantor harus di antar supir. Aku mandi dulu." Barra mengecup pucuk kepala istrinya sebelum berdiri.
Barra memang yang meminta Khayra untuk berhenti kerja sejak pernikahan mereka. Barra tidak ingin istrinya itu kecapean, apa lagi saat ini istrinya sedang hamil. Barra hanya ingin Khayra menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
...****************...
__ADS_1