
Malam tadi dia membuka lagi rekaman di hari pernikahan Ferdi. Itulah tanpa sengaja dia melihat tangkapan saat Barra masuk ke kamar Ferdi di mana Khayra telah masuk terlebih dahulu.
"Khayra memang tidak mengetahui apa-apa! Dia tidak bersalah!" ucap Barra. Dia harus bisa meyakinkan Papa jika Khayra hanyalah korban.
"Seperti katamu, tidak ada maling yang mengaku bersalah. Akan penuh penjara. Tapi kamu jangan takut, Papa tidak akan mengatakan apa-apa. Asal kamu juga bisa tutup mulutmu. Ingat kita sama-sama ba*ji*ngan. Jangan menunjuk pada Papa. Satu jari mengarah padaku, empat jari mengarah pada dirimu sendiri. Apakah kau sadar itu," ucap Papa Reno.
"Aku tidak sama dengan Papa. Yang jelas-jelas mengetahui jika wanita itu simpanan anaknya masih juga diembat."
Barra masih belum terima jika dirinya di samakan dengan Reno. Bagi Barra berbeda apa yang telah dia lakukan dengan Reno. Jika Reno memang sengaja, Barra sebenarnya tidak menginginkan itu. Rasa sakit hati membuatnya gelap mata.
"Apa pun yang Papa katakan tidak akan merubah tekad ku untuk mengatakan semuanya dengan Mama. Dia harus membuka matanya agar tahu siapa suami yang selalu dia puja dan banggakan!" ucap Barra dengan sedikit emosi.
"Katakan saja semuanya! Yang akan tersakiti Mama-mu. Jika dia memang tidak bisa menerima Papa lagi, tinggal pisah. Tapi kamu, nama baik kamu dan Khayra akan tercemar.
Barra mengepalkan tangannya dengan kuat. Menahan amarah. Papa nya terlalu licik. Jika cara begini tidak bisa membuat Papa mundur, jadi Barra harus cari lain. Mungkin melalui Ferdi. Abang-nya itu masih bisa diakali. Barra harus membuat Ferdi yang memergoki Papa saat berdua Naina.
Barra akhirnya menuruti apa kata Papa. Sementara menyusun renacana itu, Barra harus ikuti saja apa mau papa-nya. Ini semua demi kebaikan Khayra.
"Jadi Papa mau aku menutupi semua ini dari Mama? Kenapa Papa selingkuh? Jika papa memang tidak mencintai mama seharusnya jujur dan berpisah. Bukan main belakang begini. Hati mama pasti akan terasa lebih sakit jika tahu telah dibohongi sperti ini!"
"Aku masih suami Mama-mu yang terbaik. Apa pun yang mama kamu inginkan selalu papa kabulkan. Papa tidak pernah marah atau membentuknya. Apa lagi yang kurang? Jika Papa main dengan wanita lain, itu juga karena Papa merasa hubungan kami selama ini terlalu hambar."
"Bagiku itu bukan alasan Papa selingkuh. Seharusnya Papa berusaha membuat rumah tangga itu menjadi harmonis hingga akhir hayat."
"Apa alasan kamu mengkhianati abangmu sendiri?" tanya Papa dengan tersenyum licik.
Barra hanya tersenyum simpul. Tidak tahu harus berkata apa. Apa kejujurannya akan bisa diterima Papa nya nanti. Atau mungkin saja Papa mengira dia berbohong.
"Di sini yang menjadi korban itu Ferdi. Aku, dan kamu adiknya mengkhinati dirinya. Bagaimana perasaan Ferdi jika tahu semua ini?" tanya Papa sambil mengetuk meja dengan pena yang ada di tangannya.
"Khayra juga korban. Dan yang paling tersakiti."
__ADS_1
Barra akhirnya mengatakan semuanya. Tentang malam itu, di mana Barra memaksa nya berhubungan. Khayra yang mengira dirinya Ferdi. Mengenai Naina dan Ferdi yang sengaja mengkhianati Khayra.
Barra juga tidak lupa mengatakan tentang sikap Naina dan Ibunya pada Khayra. Mereka tidak pernah akur.
"Sekarang Papa mengerti'kan, jika Khayra lah yang paling tersakiti di sini."
"Papa nggak mau tahu mengenai Khayra. Itu urusan kamu. Hanya Papa harap, kamu tutupi semua ini dari Mama. Papa rasa pembicaraan kita selesai. Papa ada rapat. Kamu mau tetap di sini atau kembali terserah." Papa menjeda ucapannya. Berdiri di samping Barra dan menepuk bahu putranya itu.
"Salut untukmu! Kau masih saja peduli mengenai Mama kamu. Padahal dia tidak pernah peduli dan perhatian denganmu. Semoga suatu saat Mama kamu bisa menyayangi kamu seperti Ferdi. Satu yang perlu kamu tahu, wlaaupun Papa main wanita tapi tidak ada niat menikahi mereka. Satu-satunya istriku Mama-mu!"
Papa berjalan perlahan keluar dari ruangan itu tanpa pedulikan Barra lagi. Hanya tinggal Barra yang termenung.
Sementara itu, di tempat kerjanya Khayra sedang meminta izin dengan atasannya. Seorang pria muda yang umurnya sekitar 30-an.
Semua karyawan tahu jika Ko Andi ada perasaan dengan Khayra.Namun, wanita itu pura-pura tidak tahu. Khayra bukanlah tipe wanita yang mau memanfaatkan aji mumpung.
Wanita itu tetap kerja secara profesional walaupun tahu jika dia tidak akan pernah diperbaiki jika menginginkan sesuatu.
"Selamat siang, Ko!" ucap Khayra.
"Selamat siang. Ada apa, Ra?" tanya Ko Andi.
"Aku mau minta izin dua hari, Ko. Aku harus pulang ke rumah. Ada yang harus aku selesaikan. Maaf Ko, karena akhir-akhir ini aku sering minta izin. Ko Andi bisa potong gajiku!" ucap Khayra.
"Nggak apa, Ra. Kerjamu selama ini bagus. Jika tidak perlu, kamu pasti tidak minta izin."
"Potong aja gajiku, Ko. Aku tak mau nanti jadi bahan gosip. Yang lain jika libur selalu pasti potong gaji!"
"Terserah aku, Ra. Apa yang ingin aku lakukan. mengapa yang lain sewot. Aku ini pemiliknya. Apapun keputusan yang aku buat tidak ada yang berhak memprotes!"
"Koko enak ngomongnya. Aku yang digosipkan!"
__ADS_1
"Ra, kamu pasti mengira aku lakukan semua ini karena aku suka kamu. Itu salah, Ra. Ini semua karena kamu itu karyawan yang baik dan jujur. Susah mencari karyawan seperti kamu lagi jika aku memecat kamu."
"Terima kasih, Ko. Kalau begitu aku pamit!"
Khayra menyalami Ko Andi sebelum meninggalkan ruang kerja Ko Andi. Pria itu walau pun menyukai Khayra, dia bisa menjaga jarak dan juga sikap. Apa lagi sejak tahu Khayra telah menikah.
Perjalanan menuju ke rumah orang tuanya di tempuh dengan waktu dua jam menggunakan angkutan umum.
Khayra sampai dirumah pada pukul empat sore. Saat itu hanya ada ibu tirinya di rumah. Ayah masih bekerja. Wanita itu masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Tampak ibunya sedang menonton televisi di ruang keluarga sambil mengemil.
Melihat kedatangan Khayra ibunya langsung membalikkan badannya menghadap Khayra.
"Apa benar kamu telah pisah dengan Ferdi?" tanya ibu tirinya.
"Benar, Bu!"
"Hebat benar. Berpisah tidak mengabarkan pada orang tua. Apa kamu tidak butuh kami lagi? Terus kamu mau apa datang?"
"Apa aku tidak boleh lagi menginjak rumah ini,Bu?" tanya Khayra.
"Jawab dulu pertanyaan aku, baru bertanya!" ucap Ibu dengan suara keras.
Baru Khayra akan menjawab ucapan ibunya, namun diurungkan mendengar suara mesin mobil yang tidak asing ditelinganya.
Tanpa pedulikan ibu tirinya Khayra berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Khayra kaget melihat mobil siapa yang terparkir di halaman. Walau dia hanya sekali naik ke mobil itu, dia yakin benar jika itu mobil milik mantan suaminya, Khayra tidak mungkin salah.
Dari dalam mobil keluar Naina adik tirinya. Khayra menarik napasnya melihat semua itu. Jadi benar jika Naina dan Ferdi memiliki hubungan.
...****************...
Selamat pagi semuanya. Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.
__ADS_1