
Ayah dan ibu tirinya Khayra akhirnya berdamai tapi ayah akhirnya memutuskan menceraikan Ibu Eti dan meminta wanita itu dan Naina meninggalkan kediamannya. Lagi pula pernikahan mereka hanya lah siri.
Barra hari ini mendatangi Mama-nya, ingin meminta restu atas pernikahannya dengan Khayra. Papa Reno saat ini tidak lagi tinggal di rumah kediaman mereka.
Sudah beberapa kali Papa Reno datang menemui Mama, ingin meminta maaf atas kesalahan yang telah dia lakukan. Namun Mama belum bisa memberikan maafnya.
Saat makan malam, bersama Mama dan Ferdi, Barra mengutarakan niatnya yang akan menikahi Khayra. Menurut pendapat, Khayra tidak perlu menunggu masa Idah karena tidak pernah berhubungan badan dengan Ferdi.
Perpisahan Khayra dan Ferdi sendiri telah terjalin selama 2 bulan. Barra tidak mau menunda pernikahan mereka.
Ayah Khaira juga telah mengetahui niat putrinya buat menikah dengan Barra. Ayah langsung merestui pilihan putrinya. Mungkin ini jodoh terbaik buat Khayra.
"Ma, ada yang ingin aku katakan. Mungkin ini juga menyangkut Bang Ferdi," ucap Barra pelan.
"Jika itu mengenai Papa kamu dan wanita ja*lang itu, maaf mama lagi tidak ingin membahas itu!"
"Bukan masalah Papa. Tapi ini tentang aku dan Khayra," ucap Barra.
Mendengar nama Khayra di sebut, Ferdi langsung menoleh ke arah Barra. Dia begitu antusias jika mengenai wanita itu. Beberapa hari ini, Ferdi telah berpikir akan mencoba mendekati wanita itu dan memulai lembaran baru lagi.
__ADS_1
"Kenapa Khayra?" tanya Ferdi akhirnya.
"Ada apa lagi dengan wanita itu? Keluarga tak becus!" ujar Mama Melli. Dia masih mengaitkan antara Khayra dan Naina.
"Ma, harus berapa kali aku katakan, semua yang terjadi saat ini tidak ada hubungan dengan Khayra. Dia tidak tahu semua ini. Jangankan hubungan Naina dengan Papa, Naina ada hubungan dengan Bang Ferdi aja dia nggak tahu!"
"Tapi tidak bisa dipungkiri, jika dia saudara Naina!" ucap Mama ketus.
"Mama, Khayra dan Naina hanya saudara tiri. Tidak ada hubungan darah adapun antara mereka!" ucap Barra.
"Terserah kamu saja! Mau melakukan apa. Mama tak peduli. Mengurus diri sendiri aja Mama belum tuntas," ujar Mama.
"Ada apa dengan Khayra, Bar?" Tanya Ferdi untuk kesekian kali. Rasa penasarannya makin menjadi.
Ucapan Barra membuat Ferdi tersedak. Dia mengambil air minum yang ada dihadapkannya dan meneguk hingga tak tersisa.
Ferdi benar-benar kaget mendengar ucapan Barra. Baru saja dia ingin mengulang kembali langkah yang pernah terlewati dan mengulangi langkah bersama.
"Menikah?" tanya Ferdi kaget Barra hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan, Barra. Ini makin menguatkan asumsi mama jika kalian berdua memang menjalin hubungan di belakang Ferdi. Kamu selingkuh dengan Khayra sejak Ferdi dan wanita itu masih terikat pernikahan?" tanya Mama.
"Maaf Ma, Bang ... aku akan berterus terang. Tidak ada gunanya menutup semuanya. Aku dan Khayra, dulunya pernah menjalin hubungan. Namun putus satu tahun yang lalu. Dan kami bertemu lagi saat pesta pernikahan abang." Barra menjeda ucapannya melihat reaksi Ferdi dan Mama nya.
Tampak wajah Ferdi seperti menyimpan sesuatu. Sebenarnya Barra takut untuk berterus terang. Hubungannya dengan Mama dan Ferdi baru saja membaik sejak dia membongkar perselingkuhan Papa dan Naina. Apakah mungkin pernikahannya dengan Khayra akan membuat hubungan mereka kembali renggang.
"Aku memang masih menyimpan rasa cintaku pada Khayra, namun dia tidak menanggapi karana telah terikat pernikahan dengan Bang Ferdi. Dia ingin setia dengan pernikahannya. Namun, abang mengkhianatinya. Dan kami kembali dekat sejak proses perceraian Abang dan Khayra," ucap Barra.
"Jadi kamu mengakui jika memang tetap mencintai Khayra walau dia telah menikah denganku."
Barra menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Dia memang harus jujur walau itu akan menyakiti hati Ferdi.
"Khayra dan Naina sama saja. Pengkhianat!" ucap Mama.
"Ma, Khayra telah mencoba setia dengan bang Ferdi. Dia tidak pernah menanggapi cintaku. Kami kembali menjalin hubungan setelah Bang Ferdi dan Khayra bercerai. Maaf, yang mengkhianati pernikahan mereka Bang Ferdi!"
Ferdi hanya diam tanpa membantah ucapan dari Barra. Dia sadar apa yang dikatakan Barra benar adanya. Ferdi tidak tahu harus bagaimana bersikap saat ini. Semua telah terlambat. Tidak boleh menyesali apa yang terjadi.
Sekeras apa pun aku berlari dari kenyataan. Sekeras apa pun aku berlari dari takdir. Sekeras apa pun aku mencari jawaban dari semua pertanyaan, jawaban dari semua itu cuma ada satu yaitu kau hanya aku yang terlambat tahu. Terlambat menyadari jika kau begitu berharga.
__ADS_1
Menangisi penyesalanku, aku tahu ini mungkin karma, ya aku terima karma ini, kenyataan jika waktu nggak akan bisa kembali lagi. Kepergianmu membuatku belajar tentang mana yang benar-benar harus diperjuangkan dan mana yang tidak pantas untuk diperjuangkan. Seharusnya aku duku memperjuangkan kamu bukan Naina. Kukira melihatmu pergi adalah hal berat. Tetapi, mengetahui bahwa kau takkan pernah kembali adalah yang terberat.
...****************...