
Hari ini Barra sengaja meliburkan diri. Mengajak Khayra ke suatu tempat.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Khayra dalam perjalanan.
"Udah kakak katakan, lihat saja. Ini kejutan. Jika dikatakan bukan lagi kejutan namanya!" ucap Barra yang menyetir hanya dengan satu tangan kanan dan tangan kirinya terus menggenggam tangan Khayra.
"Sayang, kita sebenarnya kemana. Aku nggak suka rahasia-rahasiaan?" tanya Khayra lagi dengan manja sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Bara. Tangannya tak lepas menggamit tangan Bara.
Bara mengerling lalu menoleh ke arah wanita yang ia cintai. Lelaki itu tersenyum lebar tanpa mengatakan apa-apa kepada Khayra. Membuat wanita itu gemas dibuatnya, lalu cubitan kecil di hidung mancung Bara membuat keduanya tertawa bahagia.
"Kita akan menuju ke suatu tempat, Sayang," ucap Bara pada akhirnya.
"Tempat? Tempat apa?" tanya Khayra makin penasaran.
"Ya tempat nyaman untuk kita," sahut Bara.
"Maksudmu rumah?" Kali ini Khayra menatap Bara dengan sorot mata berbinar. Dengan gemas Bara mencubit kecil pipi wanita terkasihnya.
"Heem, nanti kamu juga akan tahu," ucap Bara sengaja menggoda istrinya. Khayra mengerling manja dan kembali merebahkan kepalasa di bahu Bara.
Mobil yang Barra kendarai berhenti di depan gedung tinggi yang tampak megah. Khayra menatap bangunan pencakar langit itu dengan takjub. Kemudian Bara membukakan pintu mobil dan mengajak Khayra keluar. Dengan wajah senang bercampur bingung Khayra mengikuti langkah Bara memasuki gedung tinggi itu.
Mereka melewati lobi lantas menuju lift, Khayra masih mengekor pada Bara saat pintu lift terbuka. Di dalam ruangan sempit itu Bara mencoba menggoda istrinya. Dengan tatapan nakal Bara mulai melaksanakan aksinya. Perlahan ia menyudutkan Khayra hingga punggung wanita itu menabrak dinding lift.
Wajah Khayra semakin bersemu merah dengan detak di dada yang menguat, saat Bara mulai mendekatkan wajahnya ke arah Khayra. Deru napas Bara yang hangat dapat dirasakan oleh Khayra mengempas wajahnya. Tatapan mereka bertemu, saat Bara akan mendekatkan bibirnya ke bibir Khayra, wanita itu mendorong lelaki yang kini berstatus suaminya itu.
__ADS_1
Tubuh Bara mundur satu langkah dengan sebelah alisnya terangkat. Kemudian tawa menyembur dari mulut Bara, membuat Khayra hanya berkedip cepat karena bingung. Lantas Khayra memukul dada Bara beberapa kali karena baru sadar jika ia dikerjai oleh suaminya.
"Kamu apa-apaan, sih, Sayang," ucap Khayra sambil memukul mukul lengan Bara.
"Maaf, abis kamu ngegemesin," ucap Bara terkekeh.
Tiba di lantai yang dituju, pintu lift terbuka dan Bara menggandeng Khayra keluar. Mereka menyusuri lorong dan berhenti pada unit paling ujung. Bara mengeluarkan sebuah kartu lalu menempelkannya pada gagang pintu. Dengan lembut lelaki itu menarik istrinya memasuki sebuah ruangan mewah yang sangat menakjubkan di mata Khayra.
"Taraa! Inilah tempat tinggal kita, Sayang. Nanti aku, kamu, dan anak-anak kita akan hidup bahagia di sini."
Khayra membekap mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Bara tahu istrinya berhati lembut, ia lekas mendekap Khayra dalam pelukannya.
"Kita akan memulainya dari sini. Keluarga kecil kita, impian kita akan tercipta di sini," bisik Bara.
"Kamu suka?" tanya Bara sambil menangkup wajah cantik istrinya.
"Suka sekali, Sayang. Semua ini kamu yang mendesainnya?"
"Heem, kamu suka tatanan apartemen kita?"
"Suka sekali. Warna sofa dan interiornya kamu banget, sangat berkelas." Dikata terakhir sengaja Khayra berbisik di telinga Bara dan membuat lelaki itu menggeliat geli. Tangan kekar Bara dengan cepat menggamit pinggul Khayra dan mendekapnya dalam pelukan.
"Mau menggodaku?" ucap Bara jahil. Khayra lekas mendorong dada Bara dengan terkekeh.
"Ah, iya. Akan kutunjukan kamar di mana letak kamar kita," ujar Bara yang ditanggapi anggukan oleh Khayra.
__ADS_1
Bara yang melihat itu langsung membawa Khayra menuju sebuah kamar.
Tubuh Khayra dituntun oleh Bara dengan dorongan lembut menuju daun pintu berwarna hitam dengan garis gold di setiap sisinya. Bara membuka pintu itu dan seketika mata Khayra membola melihat isi kamar itu.
"Wow, ini sungguh nyata?" Khayra berucap lirih sambil membekap mulutnya sendiri. Kristal bening meluncur dari kelopak mata Khayra, dia sangat terharu dengan perlakuan Barra.
"Kamu sedang tidak bermimpi, Sayang. Ini kamar yang akan kita tempati nanti. Kamu suka?" tanya Barra.
"Sangat suka, Sayang.Terima kasih."
"Ah, jangan ucapkan terima kasih. Tapi ucapkan i love you."
Pipi Khayra kembali merona, ia mengusap air matanya yang tadi sempat jatuh dengan punggung tangan. Kemudian Bara mengajak Khayra untuk melihat kamar untuk anak mereka nanti. Tak kalah menakjubkan, Khayra dibuatnya tak bisa berkata-kata hanya bibirnya terus mengulas senyum bahagia.
Tanpa aba-aba Bara menggendong Khayra dan membawanya ke tempat tidur. Mereka saling pandang sejenak lalu memagut kebahagiaan yang sah dan diridhoi Sang Pencipta.
***
Sejak pulang dari berbulan madu, antara Khayra dan Bara semakin tampak hangat. Panggilan sayang selalu menjadi kata wajib untuk saling menyapa.
Dari kamarnya, Khayra bisa melihat kerlip bintang yang seakan cemburu pada Khayra yang tengah bahagia. Memiliki unit di lantai 12 membuat Khayra seperti di atas awan, ia bisa melihat mobil-mobil yang tampak seperti mainan dari tempatnya memandang. Juga beberapa rumah dan perkantoran, semuanya seperti mainan lego.
Di tempat lain, Naina sedang bersiap-siap akan pergi menemui Melli. Apa pun hasilnya, dia telah berusaha. Naina sadar ini konsekuensi atas semua yang dia lakukan. Harus siap menerima resikonya.
...****************...
__ADS_1