Our Secret Marriage

Our Secret Marriage
Ch 20 - Tidak Ketahuan


__ADS_3

Sampai di kelas Indra terus memperhatikan Syabil, Intan dan Riri yang melihatnya langsung saling berpandangan dan mereka bisa menyimpulkan kalau Indra punya perasaan pada Syabil. Untungnya Syabil sendiri tidak begitu peka jadi dia bisa bersikap biasa padanya.


“Ri kelihatannya Indra punya rasa sama Syabil, gimana menurut kamu ?” tanya Intan dengan nada pelan.


“Iya Tan, gimana nih ?”


“Kok tanya aku sih, semoga aja Indra nggak macam-macam..”


“Apa kita coba ngomong ke Syabil ya ?” tanya Intan.


“Hmm.. jangan deh, kita awasin dari belakang aja.. jangan sampai Indra ngelakuin seenaknya sendiri, lagian Syabil kan udah punya suami..” terang Riri.


“Oke deh gitu aja..”


Alfa yang kebetulan melintas di depan kelas Syabil melihat dari jendela Indra yang terus memandang ke arah Syabil dengan tatapan yang sulit diartikan, dia merasa sedikit tidak nyaman melihatnya kemudian berlalu begitu saja.Andi yang disebelahnya berniat menggodanya,


“Kenapa Fa ? cemburu ya ?” goda Andi.


“Ha? Ngapain cemburu, bisa aja..” jawab Alfa cuek.


“Hmm.. bilang aja kalau cemburu liat Indra tadi..”


“Nggak lah Di..”


Alfa malas menjawab lagi dan memilih berlalu menuju kelas, Andi hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.


Jam pulang sekolah banyak siswa berhamburan pulang, termasuk Syabil dan kedua sahabatnya. Sampai di depan kelas tiba-tiba Indra mencegatnya,


“Bil katanya kamu sekarang udah nggak naik motor lagi ya, kenapa ?” tanya Indra.


“Ee.. nggak apa-apa Ndra, ada apa ?” tanya Syabil. Dia bingung menjawabnya, tidak mungkin juga kalau dia mengatakan bersama Alfa.


“Daripada kamu naik angkutan umum, bareng aku aja gimana ?” kata Indra memberi tawaran.


“Eh Indra, kamu gimana sih!” sahut Intan.


“Kenapa ?” tanya Indra dengan santai.


“Kamu ini, cewek sama cowok nggak boleh boncengan kan bukan mahram nya..” terang Intan.


“Alah, gitu aja dipermasalahkan.. gimana Bil ?”


“Nggak deh Ndra, aku bareng mereka aja..” jawab Syabil sambil menggandeng lengan Intan dan Riri.


“Hmm.. yaudah deh lain kali aja ya..” Indra masih tidak mau menyerah, entah apa yang ada dipikirannya saat itu.


“Nggak ada lain kali! Yuk Bil..” ajak Riri dan mereka segera pergi meninggalkan Indra.


Indra sebenarnya sudah tau kalau Syabil akan menolak ajakannya, dan dia tau Syabil orang seperti apa, itu tadi dia hanya ingin menggodanya. Kali ini Indra ingin mendekati Syabil dengan serius.


Selama di jalan menuju parkiran Intan memberi nasehat pada Syabil supaya berhati-hati pada Indra,


“Untung aja kamu tolak Bil ajakannya tadi..” Intan buka suara.


“Ya kali Tan, masak aku Iya in, bisa dimarahin Alfa aku nanti..” jawab Syabil


“Hehe iya sih ya.. dasar si Indra itu ada-ada aja..”


Setibanya di parkiran, Syabil hendak melanjutkan langkahnya keluar gerbang sekolah menuju tempat biasa dia janjian sama Alfa,

__ADS_1


“Eh Bil, bareng aku aja tak anter sampai tempat kamu janjian sama Alfa..” tawar Riri.


“Nggak usah deh Ri..” tolak Syabil.


“Udah yuk, nanti kalau ketemu sama Indra biar dia nggak curiga..”


Setelah berpikir panjang akhirnya Syabil mau. Betul prediksi Riri, mereka bertemu di depan gerbang sekolah. Indra melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Syabil, sementara Syabil sendiri hanya tersenyum kecil.


“Nah apa aku bilang..” kata Riri setelah mereka sampai tempat biasa.


“Hehe iya untung aja kamu ada ide gitu Ri.. makasih ya..”


“Iya sama-sama.. yaudah aku tinggal ya..Assalamu’alaikum..” pamit Riri.


“Wa’alaikum salam..”


Tidak lama kemudian Alfa datang dengan sepeda motornya dan mereka pulang ke rumah.


Malam harinya Syabil dan Alfa sedang belajar di depan tv, masing-masing mengerjakan tugas yang diberikan tadi di sekolah. Alfa yang penasaran dengan kedekatan Syabil dengan Indra mencoba bertanya,


“Bil kamu deket sama Indra ?” tanya Alfa.


“Cuman temen biasa aja kok Mas, kenapa emang ?” tanya Syabil balik.


“Nggak ada apa-apa, kok keliatannya kalian akrab gitu tadi..” jawab Alfa dengan malas.


“Aku sih jarang ngobrol lagian dia juga jarang masuk kelas..” kata Syabil.


“Oh gitu..”


Melihaat jawaban dari Alfa, Syabil berniat menggodanya sekalian dia memastikan bagaimana tanggapan Alfa tentang Indra.


“Kamu cemburu ?” tanya Syabil.


“Hmm… gitu ya..”


Syabil sedikit kecewa, dia berharap Alfa cemburu melihatnya dengan Indra tapi ternyata tidak. Syabil teringat kalau bahan makanan mereka habis, dia mengajak Alfa belanja ke supermarket.


“Mas bahan makanannya habis, belanja yuk ?” ajak Syabil.


“Boleh deh.. udah selesai belajarnya ?” tanya Alfa.


“Udah..”


“Yaudah beresin dulu..”


Mereka segera membereskan buku dan segera pergi ke supermarket terdekat mumpung belum terlalu malam. Mereka jalan kaki ke supermarket karena dekat, sekalian jalan-jalan juga.


Mereka membeli bahan-bahan makanan seperti susu, sosis, sayuran segar, roti dan lain-lain. Saat mengantri di kasir otomatis Alfa yang membayar, dia menyuruh Syabil untuk menunggu diluar sementara dia membayar di kasir.


Syabil duduk manis diluar kasir menunggu Alfa, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang, ketika menoleh Syabil cukup terkejut ternyata itu Indra.


“Hai Bil.. kamu ngapain disini ?” tanya Indra.


“Em.. lagi belanja, kamu kok bisa ada disini ?” tanya Syabil balik.


“Aku nganterin ibu ku.. kebetulan banget ya bisa ketemu disini..”


“Rumah kamu dekat sini ya Ndra ?” tanya Syabil

__ADS_1


“Lumayan sih, Ibuku suka belanja disini karena lengkap..” jawab Indra.


Syabil langsung gelisah dia takut Indra melihatnya dengan Alfa, bisa ketahuan nanti kalau dia dan Alfa bersama.


“Oh iya kamu sama siapa disini ?” selidik Indra.


“Em sama saudara..” jawab Syabil dengan asal.


Dari kasir Alfa melihat ada Indra yang mengajak ngobrol istrinya, dia berharap Indra tidak tau keberadaannya dan tidak curiga. Setelah membayar di kasir Alfa mencoba menghindari Indra dan keluar duluan sekalian memberi kode pada Syabil untuk mengikutinya, Syabil melihat Alfa berjalan keluar dan ingin segera menyusul, tapi dia harus buat alasan dulu supaya Indra tidak curiga dan mengikutinya.


“Ndra aku duluan ya.. sampai ketemu besok..” ucap Syabil sambil beranjak pergi.


“Lho saudarakamu mana Bil ?” tanya Indra.


“Udah keluar duluan barusan Ndra.. Bye..”


Syabil buru-buru keluar, sesekali dia menengok kebelakang takutnya Indra mengikutinya tapi untungnyatidak, diluar Alfa sudah menunggu dengan barang belanjaannya.


“Hmm.. enak ya suaminya disuruh bayar eh istrinya ketemu cowok lain..” sindir Alfa.


“Hehe maaf, nggak sengaja ketemu tadi..”


Alfa diam dan melangkah pergi disusul Syabil. Mereka jalan cepat karena takut Indra tau jika mereka bersama,


“Sini aku bantu bawain satu..” Syabil menawarkan diri membawakan satu kantong belanjaan.


“Nggak usah, emang aku nggak kuat apa..”jawab Alfa dengan santai.


Syabil tersenyum senang, ternyata suaminya bisa diandalkan juga. Mereka tidak menyadari Indra ternyata mengamati dari belakang, tapi dia tidak begitu jelas melihat Alfa karena hanya terlihat dari sisi belakang dan kondisinya juga gelap.


“Katanya sama saudara, itu kok sama cowok ?” gumam Indra.


Alfa dan Syabil sudah sampai rumah, mereka segera menata belanjaan dan segera sholat Isya’. Alfa sibuk dengan hpnya sambil berbaring di tempat tidur, sedangkan Syabil sibuk dengan laptopnya.


“Bil, Indra nggak tau kan tadi ?” tanya Alfa memastikan.


“Nggak pastinya.. kita kan segera pergi tadi..”


“Kamu ditanya apa aja tadi ?”


“Cuman tanya kenapa aku kok bisa disitu trus sama siapa aku disitu..”


“Terus kamu jawab gimana ?” tanya Alfa sekali lagi.


“Aku buat alasan aja sama orang tua, hehe..”


“Hmm bagus deh, semoga dia nggak tau..”


Syabil memandang kearah Alfa, memperhatikan bagaimana ekspresi Alfa setelah mendengar jawabannya barusan, ternyata masih biasa saja tidak terlihat marah atau cemburu sama sekali. Syabil kecewa sekali lagi.


 


****


Halo Readers semua, terimakasih sudah baca novel aku sampai saat ini, jangan lupa like, dan share ke teman-teman kalian ya biar yang baca jadi banyak hehe.. ^^


jangan lupa baca novel aku yang lain, ada :


- Fira & Rian

__ADS_1


- M.A.A.P


Terimakasih ~ ^^


__ADS_2