
setelah berbincang dengan Mas Danu, Alfa dan Andi kembali menemui Syabil.
"gimana Fa? " tanya Intan.
Alfa meraih tangan Syabil dan menggenggam erat,
"Rin tukeran tempat duduk sama aku ya, kamu di bis kelasku sama Andi dulu.. " kata Alfa.
"hmm yaudah deh kalau gitu, demi Syabil.. " jawab Ririn.
"enak kamu dong Di.. awas ya jangan apa-apain Ririn! " ancam Intan pada Andi.
"yaelah kayak sama siapa aja, aku kan pacarnya pasti aku jaga lah.. " sahut Andi.
Ririn tersenyum mendengar perkataan Andi. Syabil masih diam meskipun sudah tidak menangis lagi. Karena kapal sudah sampai di pelabuhan Ketapang, semua siswa berbondonh-bondong masuk ke bis lagi karena perjalanan akan dilanjutkan.
Alfa, Syabil dan Intan berpisah dengan Andi dan Ririn, sebelumnya Ririn mengambil barang-barangnya di bis kelasnya sebelum ikut Andi.
ketika Alfa menggandeng Syabil masuk ke bis sontak membuat teman satu kelasnya heboh bersorak.
"ciee.. yang minta ditemenin sama ayangnyaa.. " sahut salah satu teman syabil.
Alfa tidak menggubris, dia langsung menyuruh Syabil untuk duduk di pinggir jendela, dan dia disebelahnya.
mas Danu dan pak Aryo sudah masuk bis, mas Danu selalu duduk disamping pak Aryo dan tidak membiarkan guru itu berbuat macam-macam lagi, dia juga tidak membiarkannya menengok ke belakang.
"udah jangan diliat guru itu, besok itu orang pasti akan dikeluarkan dari sekolah.. " ucap Alfa pada Syabil.
"semoga aja mas.. jangan sampai beliau tetap disekolah.. "
Alfa merangkul badan Syabil, tidak ada yang melihat karena memang lampu bis dimatikan supaya para siswa bisa istirahat.
"udah kamu tidur Bil, biar nggak pusing.. aku jagain kamu kok.. " ucap Alfa.
syabil mengangguk dan tersenyum, dipandangi nya wajah suaminya itu, manis!
"makasih yaa udah ada di setiap aku ada masalah.. " ucap syabil sambil tersenyum manis.
Alfa ikut tersenyum, dia mengecup sekilas kening istrinya, membuat syabil kaget karena takut ada yang melihat.
"tenang aja, udah pada tidur.. " kata Alfa setengah berbisik.
syabil menyandarkan kepalanya dibahu Alfa lalu memejamkan mata untuk tidur, tak lama disusul juga oleh Alfa. keduanya terlelap dan sangat pulas.
bis melaju di gelapnya malam, dan ketika memasuki kota Sidoarjo, mas Danu yang sudah bangun duluan mulai membangunkan siswanya, saat sampai di deret kursi Alfa dan Syabil dia geleng-geleng sendiri,
"dasar kayak di rumah sendiri aja" gumamnya
"Fa bangun! lampunya mau aku nyalain cepat rubah posisi kamu.. " perintah mas Danu pada Alfa.
Alfa kemudian membangunkan Syabil dan melepas pelukannya sebelum yang lain melihat.
"Ayo anak-anak kita sudah mau sampai kota, cek barang-barang kalian dan jangan sampai ada yang ketinggalan! " perintah mas Danu.
terlihat semuanya mulai mencari barang masing-masing, ada yang mencari sandal yang entah sudah geser kemana letaknya, ada yang masih santai tidur, dan kebanyakan membereskan barang-barang.
syabil dibantu Alfa membereskan tasnya, tidak banyak sebenarnya tapi yang banyak oleh-oleh mereka, tapi sudah diamankan di bagasi bis.
"Tan, barang-barang kamu udah beres semua? " tanya Syabil pada Intan yang sudah nyantai dengan HP nya.
"udah Bil, barang aku nggak banyak kok.. " jawab Intan
"oke deh kalau gitu. "
sekitar 15 menit kemudian bis rombongan ke Bali sudah sampai di halaman sekolah, semua siswa berhamburan keluar dan mencari keluarganya yang sudah menjemput.
Alfa, Syabil dan Intan masih di dalam bis, selain menunggu yang lain turun mereka juga menunggu pak Aryo keluar dari bis dulu.
setelah dirasa sepi mereka keluar dari bis bersama-sama, Intan yang sudah dijemput oleh ayahnya pamit duluan,
"Bil, Fa aku pulang duluan yaa.. kalian hati-hati di jalan! " pamit Intan.
"Iya kamu juga hati-hati Tan.. "
Alfa menarik tangan Syabil untuk jalan ke bis kelasnya, disana masih ada Andi yang mengambil tasnya.
“Gimana Fa, aman ?” canda Andi.
“Aman lah, emang aku mau ngapain coba..hmm..?”
“Hehe.. kirain mau ambil kesempatan buat bermesraan..”
Alfa yang sudah gregetan dengan sahabatnya itu langsung memukul punggungnya sampai yang punya punggung mengaduh sakit,
“Aduh ampun deh Fa..”
“Makanya jangan bercanda mulu..”
__ADS_1
Setelah mengambil tas nya, Alfa dan Syabil menuju parkiran motor karena mereka berangkat memang naik motor, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 5 shubuh, dijalan masih sepi hanya beberapa pedagang yang menuju pasar. Selama dijalan Alfa dan Syabil lebih banyak diam.
Sekitar 15 menit mereka sudah sampai apartemen, Alfa dan Syabil langsung bersih-bersih diri dan tidur karena masih sangat ngantuk. Posisi tidur mereka tetap sama berpelukan, posisi yang paling nyaman untuk keduanya.
Sekitar pukul 12 siang keduanya bangun, Syabil bangun duluan tapi dia tidak beranjak dari pelukan Alfa malah memandangi wajah suaminya dengan intens, dia lalu teringat kejadian di bis waktu gurunya meraba sekitar area pahanya, spontan dia menangis dan membenamkan wajahnya di dada bidang Alfa.
Alfa terbangun dan melihat istrinya menangis langsung memeluknya dengan erat,
“Udah.. jangan diinget lagi yang kemarin, sekarang kan udah ada aku sayang..” ucap Alfa dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Tidak kunjung diam, Alfa menangkup pipi istrinya dan dihadapkan pada wajahnya,
“Jangan nangis lagi dong, aku jadi sedih..” ucap Alfa.
Karena belum berhenti nangis, Alfa langsung mengecup bibir Syabil dan alhasil tangisan Syabil berhenti,
“Nah kan minta dicium dulu baru berhenti nangisnya..”
Syabil tersenyum kecil lalu memukul dada suaminya,
“Sengaja cari kesempatan kan kamu!”
Alfa tertawa dan menarik Syabil ke pelukannya lagi. Setelah beberapa menit mereka gantian mandi dan sholat. Syabil beranjak ke dapur untuk masak karena dari pagi mereka belum makan, tapi Alfa melarangnya dan dia langsung memesan makanan.
Sambil menunggu makanan mereka datang, Syabil mulai mengeluarkan pakaian kotor dari tasnya dan Alfa lalu dimasukkan ke mesin cuci untuk dicuci, Alfa kebagian menata oleh-oleh untuk keluarga mereka yang nantinya akan dititipkan ke Adi ketika di sekolah.
“Bil aku taruh di dekat tv ya, besok jangan lupa dibawa ini..” kata Alfa.
“Iya mas.. taruh aja disitu...”
Sesampainya makanan mereka langsung dilahap sampai habis dan kekenyangan, mereka menghabiskan hari itu dengan bersantai, nonton film dan tidur untuk memulihkan tenaga.
Keesokan harinya semua siswa kembali masuk seperti biasa, Alfa dan Syabil sekarang sudah kelas XII, akan ada banyak ujian yang akan mereka lalui menuju kelulusan.sampai disekolah Syabil langsung menuju kelas untuk bertemu teman-temannya, begitu juga dengan Alfa.
Di ruang guru pak Aryo dipanggil oleh kepala sekolah, di ruangan ada bapak kepala sekolah yaitu pak Setiawan dan mas Danu yang sudah menunggu. Pak Aryo dengan santai duduk tidak tau alasan dipanggilnya beliau.
“Pak Aryo bagaimana kabarnya ?” tanya pak Setiawan basa-basi.
“Baik pak.. ada apa ya pak kok saya dipanggil kesini ?” tanya pak Aryo.
“Begini pak saya mendapat laporan dari mas Danu kalau waktu perjalanan pulang dari Bali kemarin bapak melakukan tindakan yang tidak pantas pada salah satu siswi kita, apakah itu benar pak ?” tanya pak Setiawan.
Pak Aryo diam, dia tampak kaget dan memandang kearah mas Danu dengan tatapan tidak percaya, sementara mas Danu masih dengan posisi diam dan melipat kedua tangannya di dada.
“Apa mas Danu punya bukti ? kok bisa menuduh saya seperti itu..” tanya pak Aryo.
Sejenak pak Aryo kaget, tapi dia berusaha menutupi kegugupannya. Karena tidak ada jawaban mas Danu meminta izin pada pak Setiawan untuk memanggil orang yang bersangkutan. Dia menghubungi Alfa untuk membawa Syabil ke ruangan kepala sekolah.
“Halo Fa, tolong kamu bawa Syabil ke ruangan kelapa sekolah ya.. aku tunggu..” kata mas Danu yang langsung menutup telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Alfa.
“Ada apa Fa ?” tanya Andi yang sedang duduk disamping Alfa.
“Kakak kamu, main perintah aja nggak nunggu jawaban dari aku!” jawab Alfa dengan nada ketus.
“Soal kemarin mungkin..”
“Iya, aku mau ke syabil dulu lalu ke ruang kepsek!” Alfa beranjak dari bangkunya.
“Aku ikut deh..” Andi langsung mengekori Alfa.
“Alah kamu mau ketemua Ririn kan ?”
“hehe iya lah..” Andi hanya bisa cengengesan karena niatnya terbongkar oleh Alfa.
Keduanya beranjak pergi menuju kelas Syabil, tanpa basa-basi Alfa langsung masuk dan menemui Syabil yang sedang bercengkrama dengan kedua sahabatnya.
“Syabil ikut aku!” ajak Alfa langsung.
“Kemana ?”
“Udah ikut aja!”
Alfa pergi keluar kelas bersama Syabil, sementara Andi malah duduk dibangku Syabil untuk berbincang dengan Ririn.
“Di, mereka mau kemana ?” tanya Intan.
“Ada urusan tentang masalah waktu kita di Bali..” jawab Andi.
“Ha ? Ayo kita ikuti mereka!” ajak Ririn.
“Nggak usah, mereka ke ruang kepala sekolah, kita nggak bisa masuk juga..” jawab Andi.
Dalam perjalanan menuju ruang kepala sekolah Alfa menjelaskan pada Syabil kalau nanti akan berhadapan dengan pak Aryo, syabil seketika kaget dan menghentikan langkahnya,
“Tenang aja ada aku.. kamu jangan takut ya.. “ kata Alfa meyakinkan istrinya.
Syabil yang masih sedikit trauma dengan kejadian sebelumnya ragu mau masuk ruangan, tapi Alfa meyakinkan lagi dan akhirnya Syabil mau masuk.
__ADS_1
Alfa mengetuk pintu dua kali setelah mendapat jawaban dari dalam ruangan dia langsung membuka pintu, dilihatnya da 3 orang yang sedang duduk saling berhadapan. Pak Aryo melihat kearah Syabil dan ekspresinya berubah jadi kaget dan tegang.
Syabil terus ada dibelakang Alfa, dia masih takut untuk menatap wajah pak Aryo. Alfa dari tadi bersusah payah mengatur nafasnya, melihat guru olahraganya itu dia ingin sekali menghajarnya.
“Alfa dan Syabil silahkan duduk..” perintah pak setiawan.
Keduanya duduk berhadapan dengan pak setiawan, sesekali Alfa melirik dengan tatapan tajam kearah pak Aryo, membuat yang bersangkutan mati kutu.
“Syabil, bapak ingin tanya, apakah benar waktu perjalanan pulang dari Bali kemarin kamu disentuh oleh pak Aryo ?” tanya pak Setiwan pada Syabil.
Dengan tatapan menunduk Syabil menganggukkan kepalanya, Alfa masih memilih untuk diam.
“bagaimana pak Aryo, bapak sudah tidak bisa menyangkal lagi karena Syabil sudah bicara sendiri..” tambah mas Danu.
“Tapi apakah ada bukti yang bisa membuktikan kalau saya meraba-raba Syabil ? jangan-jangan cuman akal-akalan dia saja untuk mencari perhatian!” pak Aryo masih membela diri
“Apa maksud bapak? Bapak jangan cari alasan ya!!” Alfa langsung berdiri dan angkat bicara mendengar pernyataan pak Aryo yang membuatnya kesal.
“Alfa duduk dulu!” perintah mas Danu.
Melihat suaminya yang mulai emosi, Syabil langsung menariknya untuk duduk kembali.
“Baiklah, kalau pak Aryo perlu bukti, saya ada buktinya..” mas Danu mengeluarkan ponsel dan memutar video yang dikirimkan kernet bus.
Ekspresi pak Aryo yang awalnya santai dan angkuh langsung berubah menjadi gugup. Kini kelakuannya sudah terbongkar dan tidak bisa mengelak lagi.
“Jadi.. bagaimana pak ? bapak mau mengakuinya ?” tanya pak Setiawan lagi.
“.... iya pak saya mengaku salah..” pak Aryo menundukkan wajahnya.
“Pak saya minta orang ini dikeluarkan saja dari sekolah!” kata Alfa tiba-tiba.
“Alfa jangan seenaknya ngomong!” kata mas Danu.
“Bagaimanapun saya was-was kalau orang seperti beliau tetap disekolah kita, takut akan kejadian serupa terjadi lagi!”
Pak Setiawan tampak berfikir dan mengangguk mendengar penjelasan dari Alfa.
“Pak saya mohon, jangan pecat saya, saya sudah lama kerja disini!” pinta pak Aryo.
“Saya perlu berfikir, Syabil dan Alfa silahkan kembali ke kelas!” perintah pak Setiawan.
Ketika Alfa dan Syabil beranjak pergi, pak Aryo memegang tangan Syabil bermaksud menghentikan langkahnya.
"Syabil, maafin bapak.. kamu mau kan maafin ?"
“Bapak jangan pegang-pegang tangan dia!” Alfa langsung melepaskan tangan pak Aryo dengan kasar.
“Alfa! Jaga sikap kamu, bagaimanapun dia guru kamu!” mas Danu berusaha memberi pengertian pada Alfa.
“Saya tidak ingin mengakui dia sebagai guru setelah apa yang sudah dia perbuat!” tegas Alfa.
Keduanya lalu keluar dari ruangan, sementara pak Aryo, mas Danu dan Pak Setiawan tetap tinggal.
“Makasih ya mas udah belain aku..” ucap Syabil.
“Hadeh kamu ini Bil, aku pasti belain kamu lah!” Alfa masih belum hilang kekesalannya.
Syabil tersenyum mendengar jawaban suaminya,
“Yaudah yuk kita balik ke kelas..” ajak Syabil
Keduanya kembali ke kelas Syabil, sebenarnya saat itu sedang tidak ada pelajaran hanya pembagian jadwal, tapi semua siswa belum dibolehkan pulang jadinya mereka bebas mau ngapain aja.
“Gimana Bil ?” tanya Ririn.
“Nunggu keputusan dari pak Kepsek, aku minta orang itu dikeluarkan aja!” Alfa langsung menjawab.
“Iya, ngeri juga sih kalau orang itu tetap ngajar disini, bisa-bisa korbannya bertambah!” timpal Intan.
“Bil kamu udah nggak apa-apa kan ?” tanya Ririn.
“Iya aku udah nggak apa-apa, berkat kalian juga yang semangatin aku.. makasih yaa..” Syabil tersenyum.
“Nah gitu dong,kalau kamu sedih gitu nggak asik, Alfa jadi susah diajak ngobrol!” Andi menimpali.
“Hehe iya iyaa.. maaf deh..”
Alfa melototi Andi karena ucapannya, ada-ada aja memang sahabatnya itu. Alfa mengajak Andi untuk kembali ke kelas mereka, tidak enak juga jika lama-lama disana,
“Bil aku kembali ke kelas dulu ya.. oh iya aku habis ini mau rapat OSIS bentar..” ucap Alfa.
“Iya, aku tungguin..”
Alfa penepuk pelan kepala istrinya lalu menarik Andi untuk keluar dari kelas, Andi yang masih ingin bersama Ririn tidak bisa melawan karena kalah kekuatan.
Dilain sisi ada murid pindahan baru di kelas Adi, yang membuat semuanya terkejut, kira-kira siapakah dia ?
__ADS_1