Our Secret Marriage

Our Secret Marriage
Ch 21 - Kelompok


__ADS_3

Suatu hari saat Syabil berangkat sekolah dia bertemu Adi di halaman sekolah, adiknya terlihat begitu semangat membawa bola basket di tangannya,


“Pagi Mbak..” sapa Adi.


“Pagi, kamu kenapa keliatan semangat banget ?” tanya Syabil.Mereka berdua jalan sambil mengobrol.


“Hehe nanti mau ada sparring sama tim basket sekolah sebelah..” jawab Adi.


“Oh gitu.. semoga menang deh..”


“Mbak nggak nonton pertandingan tim basket kita nanti ?” tanya Adi.


“Liat nanti deh, pulang sekolah kan ?”


“Iya lah masak pas jam pelajaran..”


“Hm.. dasar kamu ini..”


“Oh iya Mas Iparku mana kok nggak bareng ?” tanya Adi yang dari tadi celingukan mencari Alfa.


“Lagi di parkiran, lagian nanti pada curiga kan kalau berangkat barengan..” jawab Syabil.


“Oh iya deh, yaudah deh mbak aku duluan..”


“Oke..”


Adi segera berjalan menuju kelasnya begitu juga dengan Syabil. Ruang kelas mereka berbeda jalur, dari pintu masuk utama ruang kelas Syabil kearah Kanan sedangkan kelas Adi kearah kiri.


Adi tipe cowok yang periang, dia sangat populer di kalangan siswa kelas X, Syabil pernah mendengar jika banyak cewek yang mengungkapkan perasaannya pada Adi tapi selalu di tolak. Adi dari kecil sudah di didik oleh Irfan untuk berpegang teguh pada agama dan tidak menjalin hubungan pacaran.


Syabil dan Adi memang sering bertengkar tapi mereka tetap saling menyayangi sebagai saudara kandung. Alfa sendiri juga sangat akrab dengan Adi karena mereka sering bertemu di sekolah dan anggota basket juga sering ke ruang OSIS untuk mengurus perizinan dan anggaran klub basket.


Ketika dia sampai di kelas, ada seorang cewek yang memanggilnya dan mengajak ngobrol di tempat lain, Adi sudah punya firasat apa yang ingin disampaikan cewek itu,


“Ada apa Na ngajak aku ngobrol disini ?” tanya Adi pada Ana teman satu kelasnya.


“Adi sebenarnya aku punya perasaan sama kamu, kamu mau nggak jadi pacaraku ?” tanya Ana.


“Sebelumnya makasih ya Na atas ungkapan hati kamu tapi maaf ya Na, aku nggak inginpacaran dan aku belum begitu dekat dengan kamu..” tolak Adi dengan halus.


Ekspresi Ana berubah, dia terlihat sedih karena ditolak oleh Adi, Adi sendiri jadi tidak enak karena membuat cewek sedih.


“Maaf ya, kita temenan dulu aja seperti biasanya...” terang Adi.


Ana terlihat menghela nafas dan tersenyum tipis mengangguk faham, bohong kalau dia tidak sedih setelah ditolak oleh orang yang dicintainya. Keduanya kemudian kembali ke kelas. Ana cewek pendiam di kelas, dia tidak memakai jilbab, meskipun begitu dia punya banyak teman di kelasnya.


Ana kembali duduk di bangkunya, teman sebangkunya bernama Sisil yang juga teman dekatnya langsung bertanya mengenai pengakuannya barusan,

__ADS_1


“Gimana Na ?” tanya Sisil yang penasaran.


Ana hanya geleng-geleng, temannya hanya menghela nafas, dia tau jawaban yang diberikan oleh Adi dilihat dari ekspresi Ana.


“Yaudah kamu yang sabar ya.. jangan menyerah..” Sisil memberi semangat.


“Iya makasih Sil..” Ana sedikit merasa baikan setelah diberi semangat oleh sahabatnya.


Di kelas Syabil saat pelajaran IPA ada pembagian tugas kelompok, satu kelompok terdiri dari 4 orang, Syabil satu kelompok dengan Intan, Riri dan Indra. Tugas mereka adalah mengamati tumbuhan dan membuat jurnal laporannya.Mereka berempat duduk melingkar membahas tugas kelompok yang akan dikerjakan.


“Wah kita satu kelompok ya..” kata Indra membuka suara.


“Iya, gimana nih kerja kelompoknya ?” tanya Syabil langsung.


“Habis sekolah harus mulai dikerjakan kan.. dimana kita mulai nyusun bahan proyek kita?” tanya Intan.


“Nyari yang deket sekolah aja, kalau dirumah kamu gimana Ri ?” tanya Syabil.


“Boleh deh, pulang sekoah nanti langsung aja ya ?” tanya Riri.


“Oke siap..” jawab Intan dan Syabil.


Indra hanya ngikut, dia sebenarnya malas kerja kelompok dan tidak pernah ikutan tapi kali ini berbeda karena ada Syabil dikelompoknya jadi dia bersemangat ikut.


Syabil tidak lupa memberi kabar pada Alfa jika dia akan pulang telat karena harus kerja kelompok di rumah Riri. Dia langsung mengirim pesan WA,


“Oke, hati-hati pulangnya..” jawab Alfa.


Izin Alfa


terselesaikan dia jadi tenang, sepulang sekolah mereka langsung menuju rumah


Riri, Syabil dibonceng Intan kesananya.


Sampai rumah Riri, mereka dipersilahkan duduk di ruang tamu dan mulai mengerjakan proyeknya. Syabil, Intan dan Riri tampak serius membahas proyek mereka sementara Indra tampak santai dan mengamati teman satu kelompoknya yang serius.


“Ndra kamu jangan diem aja, kasih ide juga dong tentang proyek kita…” kata Syabil.


“Hmm emang kita mau mengamati apa rencananya ?” tanya Indra.


“Nah itu belum kita tentuin, bantuin mikir dong..”


Indra seketika langsung berfikir, dia sebenarnya pintar tapi karena sikapnya seperti itu jadi malas untuk berfikir.


“Gimana kalau kita mengamati pertumbuhan tanaman kecambah ?” usul Indra.


“Itu bukannya udah biasa ya ?” tanya Intan.

__ADS_1


“Iya, yang lainnya coba..” tambah Syabil.


Syabil mengamati halaman Riri dari dalam rumah, disana ada banyak berbagai macam bunga, karena ayahnya punya usaha menjual tanaman hias. Syabil terfikir suatu ide,


“Bagaimana kalau tanaman anggrek ?” usul Syabil.


“Boleh juga tuh, tanaman anggrek kan susah gampang perawatannya..” imbuh Riri.


“Yaudah itu aja deh..” timpal Indra.


Akhirnya kelompok mereka memutuskan untuk mengamati tanaman anggrek, untungnya bahannya sudah ada jadi tidak repot lagi mencari. Mereka juga bisa bertanya pada ayah Riri kalau perlu info tambahan.


Kelompok Syabil segera menyiapkan bahan dan laporan bersama, mereka memilih tanaman anggrek yang akan mereka teliti, disana ada beberapa macam jadi mereka hanya memilih salah satu.


“Kalian tanya aja sama Bapak tidak usah sungkan..” ucap Ayah Riri.


“Makasih Pak.. kedepannya kita bakalan sering tanya-tanya hehe..” ucap Indra.


“Iya santai aja sama Bapak..” jawab Ayah Riri dengan sangat ramah.


Tidak hanya Ayah, Ibu Riri juga sangat baik beliau membuatkan camilan untuk mereka dan makan sore. Syabil yang termasuk golongan anak yang suka makan sangat bersemangat, Intan dan Riri sampai geleng-geleng dibuatnya karena kalau ada makanan Syabil pasti yang pertama mendekati.


“Dasar kamu Bil.. makan aja, heran sendiri aku padahal kamu suka makan tapi berat badan kamu segitu aja..” oceh Intan.


“Hehe entahlah Tan, dari sananya udah gini..” jawab Syabil dengan tersenyum.


“Ya bagus dong kamu nggak perlu diet..” timpal Indra.


“Apaan sih Ndra ngikut aja..” kata Riri.


“Habisnya kalian ngomongnya keras jadinya aku dengar..” kata Indra beralasan.


Tidak terasa jam menunjukkan pukul 6 sore, mereka segera sholat maghrib dan pulang ke rumah masing-masing.


“Bil mau aku anterin pulang ?” tawar Indra lagi.


“Eh nggak deh Ndra, makasih..” tolak Syabil dengan halus.


“Iya nanti Syabil aku anterin aja..” kata Riri.


“Oh yaudah deh kalau gitu.. Hati-hati di jalan kalian..”


“Iya kamu juga Ndra..”


Indra melajukan motornya meninggalkan rumah Riri, Intan juga sudah pergi takut kemalaman sampai rumah karena rumahnya paling jauh sendiri. Gawat juga kalau Indra sampai mengantar Syabil pulang, mereka bukan mahram dan kalau sampai Alfa tau bisa gawat, rahasia tentang pernikahan mereka bisa terbongkar.


** to be continue..

__ADS_1


__ADS_2