Our Secret Marriage

Our Secret Marriage
Ch 65 - Siswa Pindahan


__ADS_3

Kembali saat pagi hari Adi sedang berjalan kearah kelasnya, dia jalan sambil mendengarkan lagu dengan earphone kesayanganya.


“Adi!”


merasa ada yang memanggilnya, Adi sudah tau kalau itu suaranya Ana, saat menengok ke belakang, dia sangat terkejut karena Ana tidak sendirian tetapi bersama sepupunya yaitu Vilia.


“Hai Adi, apa kabar ?” sapa Vilia dengan sangat ramah.


“Hai Vil, kamu kok bisa ada disini ?” tanya Adi.


“Emm.. aku pindah sekolah disini Di hehe, kedepannya mohon bantuannya yaa…”


Adi menengok kearah Ana berharap mendapat jawaban alasan kepindahan Vilia kesekolah mereka, tapi Ana hanya tersenyum kecil.


“Oh iya Vil, sama-sama yaa..” jawab Adi dengan ramah.


“Adi aku duluan ya mau anter Vilia ke ruang guru..” pamit Ana.


“Oh iya Na..”


Ana melangkah pergi melewati Adi dan Vilia mengikuti Ana jalan kearah ruang guru, sesekali dia menengok ke belakang dan tersenyum pada Adi. Adi hanya tersenyum kecil lalu dia melanjutkan langkahnya ke kelas.


Jam masuk kelas, wali kelas Adi datang membagikan jadwal untuk semester 1 sekaligus memperkenalkan siswa pindahan yaitu Vilia.


“Hai teman-teman, salam kenal namaku Vilia..” sapa Vilia dengan ramah.


“Hai juga Vilia..” seru beberapa teman kelasnya.


Paras Vilia yang cantik menarik perhatian para siswa cowok di kelas, kecuali Adi yang dari tadi bersikap biasa malah sibuk dengan ponselnya, dia sedang chat whatsapp kakaknya untuk memberikan oleh-oleh dari Bali nanti.


Sesi perkenalan selesai Vilia diberi tempat duduk satu bangku dengan Ana, Wali kelas memberikan tempat duduk disitu karena tau mereka masih saudara sepupu. Setelah membagikan jadwal baru wali kelas kembali ke ruang guru.


Suasana kelas kembali ramai karena banyak siswa cowok menghampiri Vilia dan ingin berkenalan. Vilia menyambut dengan antusias dan senang, tapi tidak bagi Ana, dia terlihat risih ada banyak siswa cowok yang berkerumun di sekitar bangkunya.


“Na kamu kok bisa sih punya sepupu secantik gini!” seru salah satu cowok.


Ana hanya tersenyum kecut, dia merasa sekarang dibanding-bandingkan dengan Vilia yang cantik.


Adi yang dari tadi memperhatikan mereka berdua dengan tatapan datar, matanya fokus pada ekspresi Ana yang terlihat kurang nyaman. Tidak ambil pusing, dia jalan keluar kelas, melewati bangku Ana dan Vilia.


“Adi kamu mau kemana ?” tanya Vilia dengan sok akrab.


Adi menghentikan langkahnya sejenak,


“Mau ke lapangan basket..” jawab Adi dengan muka datar lalu melirik kearah Ana yang sedang memandang kearahnya, kemudian dia melanjutkan langkahnya.


“Eh Na, Adi pemain basket ya ?” tanya Vilia


“Iya Vil, dia anggota basket sekolah.. emang ada apa ?” tanya Ana.


“Oh gitu ya, wah keren dong!” Vilia tampak senang.


“Eh Vil kok kamu bisa kenal sama Adi ?” tanya salah satu cowok


“Aku ketemu dengannya waktu dia liburan ke Jogja..” jawab Vilia.


“Oh gitu ternyata, jangan-jangan alasan kamu pindah kesini karena ingin dekat sama Adi ya ?” celetuk salah satu teman cewek yang duduk dibelakang bangku Vilia.


“Apaan sih, nggak ah!” Vilia menjawab dengan tersenyum, seperti meng-iyakan pertanyaan itu.


Ana terdiam, rupanya yang dia duga kemarin-kemarin benar, Vilia ngotot ingin tinggal dan sekolah di Surabaya karena ingin mendekati Adi,


‘se-cinta itukah kamu Vil sampai belain pindah sekolah..’ batin Ana.


Vilia meminta Ana untuk menunjukkan tempat-tempat di sekitar sekolah, supaya dia lebih paham area sekolah barunya,


“Na, ajak aku keliling sekolah dong! Kamu mau kan ?” pinta Vilia.


“Boleh, yuk deh...” Ana menuruti permintaan sepupunya itu.


Ana mengajak Vilia pergi ke beberapa tempat seperti Kantin, Aula, perpustakaan, dan terakhir saat mereka melintasi lapangan Ana melihat ada Adi dan teman-teman basketnya sedang main basket.

__ADS_1


“Eh Na aku capek nih, kita duduk disitu dulu yuk!” ajak Vilia sambil menunjuk ke arah bangku yang ada di dekat lapangan basket.


“Iya, yaudah yuk istirahat dulu..” jawab Ana.


Keduanya duduk di bangku yang dimaksud, Vilia tampak senang karena tujuan dia sebenarnya yaitu ingin melihat Adi yang sedang bermain basket. Ana yang sudah tau tujuan Vilia hanya menghela nafas.


“Adi! Semangat main basketnyaa...!” teriak Vilia.


Spontan Adi dan teman-temannya menengok ke sumber suara, dia melihat Vilia yang tampak kegirangan dan disampingnya ada Ana yang hanya diam sambil tersenyum kecil kearahnya.


“Eh siapa itu Di ?” tanya salah satu teman Adi.


“Sepupunya Ana dari Jogja..” jawab Adi singkat.


“Wah cantik bener itu cewek.. dia suka sama kamu ya Di ?”


“Nggak tau aku, nggak peduli juga!” jawab Adi dengan datar lalu melanjutkan permainan.


“Vil jangan teriak-teriak ih, malu tau...” kata Ana.


“Nggak apa-apa Na, nggak banyak orang juga kan..” jawab Vilia dengan santai.


“Hadeh.. yaudah aku balik ke kelas dulu ya.. bentar lagi keliatannya boleh pulang, kamu ikut nggak ?”


“Hmm, yaudah deh yuk...” Vilia menurut dan ikut dengan Ana ke kelas.


Ana sebenarnya mengajak pergi dari situ karena malu dilihat banyak orang, dia bukan tipe orang yang suka jadi perhatian banyak orang, bertolak belakang dengan Vilia yang suka cari perhatian.


Sesampainya di kelas Ana diam saja, sedangkan Vilia antusias berkenalan dengan teman-temannya. Pukul 10.00 semua siswa diperbolehkan pulang, kebanyakan siswa langsung pulang kecuali anggota OSIS yang rapat terlebih dahulu. Syabil pergi ke kantin bersama Intan dan Ririn, dia harus menunggu suaminya selesai rapat, sekalian menunggu adiknya yaitu Adi.


Adi setelah bermain basket langsung menuju kelas untuk mengambil tas lalu bergegas ke kantin karena sudah janji dengan kakaknya.


“Adi kamu udah mau pulang ?” tanya Vilia.


“Enggak, mau ke kantin dulu..” jawab Adi.


“Oh gitu.. Em.. Na kita ke kantin yuk, aku laper..” ajak Vilia pada Ana.


“Enggak deh, kita langsung pulang aja yuk!” Ana menolak, dia tau apa maksud dari Vilia mengajak ke kantin.


Ana memandang sekilas Adi yang masih berdiri di dekat mereka, tatapan mereka bertemu, Ana langsung menunduk.


“Hmm.. yaudah deh yuk..” akhirnya Ana mengalah.


Adi lalu pergi meninggalkan mereka berdua, vilia tidak tinggal diam dia langsung menarik tangan Ana dan jalan menuju kantin.


Sesampainya di kantin Adi celingukan mencari kakaknya, setelah mengedarkan pandangannya akhirnya ketemu, kakaknya sedang makan bakso bersama kedua sahabatnya.


“Mbak!”


“Nah akhirnya datang juga kamu.. udah makan belum ?” tanya Syabil.


“Belum..” Adi duduk di bangku depan kakaknya dengan menghela nafas panjang.


Syabil yang melihat ekspresi adiknya jadi penasaran,


“Kenapa kamu Di ?”


“Nggak apa-apa.. aku mau beli bakso dulu..” Adi akhirnya bangkit menuju penjual bakso.


“Kenapa itu anak Bil tumben lesu gitu..” celutuk Intan.


Syabil hanya mengangkat bahu tidak tahu. Tidak berselang lama Vilia dan Ana menghampiri Syabil.


“Halo kak Syabil.. apa kabar ?” sapa Vilia.


Syabil sontak kaget,dia agak gelagapan ketika mau membalas sapaan Vilia.


“Halo Vil.. kamu.. kok bisa ada disini ?”


“Hehe iya kak, mulai sekarang aku sekolah disini..” jawab Vilia.

__ADS_1


Syabil gantian menatap kearah Ana, Ana sendiri hanya bisa tersenyum mengangguk dengan wajah sungkannya.


“Ooh gitu.. semoga betah ya disini..” kata Syabil dengan ramah.


“Iya kak, makasih..”


Ana menggandeng tangan Vilia untuk duduk di tempat duduk sebelah. Dia tidak enak kalau sampai mengganggu kak Syabil makan. Ririn dan Intan yang dari tadi diam langsung bertanya ke Syabil dengan nada pelan,


“Siapa Bil ?” tanya Ririn.


“Sepupunya Ana dari jogja, dulu kita pernah ketemua disana..” terang Syabil.


Keduanya mengangguk paham, yang ada dipikiran Intan dan Ririn sekarang adalah Vilia anaknya heboh sekali. Adi sudah kembali ke tempat duduk menghadap kakaknya, dia masih terlihat lesu.


Syabil terus memperhatikan tingkah adiknya, sesekali dilihatnya Adi sambil makan melirik kearah Ana dan Vilia dengan tatapan datar, sedangkan yang diliriknya sedang sibuk makan, dengan Vilia yang curi pandang juga ke Adi.


Intan pamit pulang duluan karena sudah ada janji dengan orang tuanya, Ririn yang tadi nebeng Intan akhirnya juga ikutan pamit pulang.


“Bil udah ada Adi kan, kita tinggal pulang duluan yaa..” kata Intan.


“Iya, kalian hati-hati di jalan..”


Setelah kepergian Intan dan Ririn, Adi langsung memalak kakaknya,


“Mbak mana oleh-olehku ?”


“Nih oleh-olehnya, buat yang dirumah sekalian ya!” Syabil memberikan satu tas besar yang dari tadi dibawanya ke Adi.


“yes.. makasih ya kakakku..” Adi langsung berubah ekspresinya ketika melihat oleh-oleh dari kakaknya.


“Iyaa.. sama-sama.. Eh Di, itu kenapa vilia kok bisa pindah kesini ?” tanya Syabil penasaran.


“Ya mana aku tau mbak, kok tanya aku sih…” jawab Adi dengan datar.


“Hmm.. ya mungkin kamu tau dari perkenalan di kelas tadi..”


Adi hanya geleng-geleng. Vilia yang dari tadi memperhatikan percakapan Syabil dan Adi jadi makin penasaran,


“Na gabung sama Adi dan kakaknya yuk ?”


“Nggak deh Vil, nggak enak ah!”


“Udah nggak apa-apa..”


Vilia bergegas menghampiri Syabil dan Adi yang masih asik ngobrol, sampai kedatangannya membuat keduanya memandang kearahnya,


“Adi boleh gabung duduk disini nggak ?” tanya Vilia.


Adi mau nggak mau mengangguk, meskipun sebenarnya dia agak risih kalau ada yang duduk di sebelahnya apalagi ini Vilia. Ana sangat merasa sungkan sekarang melihat sepupunya yang asal nyelonong aja. Syabil yang melihat Ana masih terdiam di tempat duduknya langsung mengajaknya ikut gabung duduk di sebelahnya.


Ketika Ana duduk, Adi memandang kearahnya dengan tatapan datar, hal itu membuat Ana semakin tidak enak hati karena dia yakin Adi sekarang kesal karena dari tadi Vilia nempel terus ke dia, karena dia sudah memahami karakter Adi.


“Maaf ya mbak, kami jadi ikutan gabung duduk disini..” kata Ana.


“Nggak apa-apa kok Na, santai aja..” jawab Syabil dengan ramah.


“Oh iya Vilia aku jadi penasaran deh alasan kamu kok pindah sekolah disini kenapa ?” Syabil yang penasaran langsung bertanya.


“Emm.. cuman pengen ganti suasana aja mbak hehehe..”


“Ah masak sih, kamu ini ada-ada aja..” timpal Syabil.


Syabil sibuk tanya-tanya dengan Vilia, sedangkan Adi tidak terlalu ikut nimbrung malah dia sibuk dengan hp nya, Vilia sesekali juga mengajak ngobrol Adi dan ditanggapi seperlunya aja.


Tidak lama Alfa datang, dan langsung duduk di sebelah Syabil. Dia ikut terkejut melihat ada Vilia disitu.


“Halo kak Alfa.. apa kabar ?” sapa Vilia dengan ramah.


“Halo, baik.. kamu sekolah disini sekarang ?” tanya Alfa.


“Iya kak..”

__ADS_1


Alfa mengangguk, lalu dia memandang kearah Adi dan Syabil secara gantian, dan keduanya tidak merespon. Adi mengajak kakaknya pulang karena sudah siang dan sekolah mulai sepi.


Sampai di parkiran mereka berpisah, Ana berboncengan dengan Vilia, Adi pulang naik motor sementara Alfa dan Syabil boncengan naik motor pulang. Ana ketika mau meninggalkan parkiran melirik seklias ke arah Adi yang masih sibuk memakai jaket, dia ingin meminta maaf tapi belum bisa. ‘nanti malem aja aku WA dia..”


__ADS_2