
Perjalanan pulang Alfa dan Syabil membahas kepindahan Vilia dari Jogja, Alfa langsung bisa menebak kalau dia pindah sekolah karena ingin mendekati Adi.dan rupanya Syabil juga beranggapan hal yang sama.
“Adi harus hati-hati tuh.. katanya nggak mau pacaran dulu...” kata Alfa.
“Iya mas, aku percaya kok sama dia..”
Syabil membayangkan lagi ketika tadi di kantin pandangan mata Adi sesekali kearah Ana, jangan-jangan adiknya itu mulai suka dengan cewek yang pernah nembak dia.
Malam harinya Ana mengirim pesan Whatsapp ke Adi,
“Adi maaf ya tadi di sekolah Vilia gangguin kamu mulu..” tulis Ana.
Adi yang kebetulan sedang rebahan di kamarnya langsung membaca pesan Ana.
“Nggak apa-apa kok Na, btw kamu nggak apa-apa ? aku liat tadi di sekolah nggak ceria gitu..”
Ana jadi tersipu tiba-tiba Adi menanyakan hal itu, tumben perhatian ini cowok.
“Nggak ada apa-apa kok Di..” diakhiri dengan emoticon senyum.
“Oh yaudah kalau gitu..” jawab Adi singkat.
Percakapan mereka berhenti seketika, Ana tidak mau mengganggu Adi karena sudah malam juga.
“Na Ayo makan, udah ditunggu mama sama papa kamu tuh!” panggil Vilia dari pintu kamarnya.
Ana mengangguk, dia mengikuti Vilia menuju meja makan dimana sudah ada orang tuanya yang sudah menunggu. Ana adalah anak bungsu dia mempunyai kakak perempuan dan sudah menikah jadi tidak tinggal bersama. Orang tua Ana selalu sibuk dengan pekerjaan mereka, jadi jarang ada di rumah. Kedatangan vilia membuat mama Ana senang karena entah kenapa dia lebih sayang dengan Vilia daripada Ana.
“Ana kamu kok lama sekali ngapain aja di kamar ?” tanya mama Ana.
Ana diam dan hanya tersenyum sekilas. Mama Ana sibuk berbincang dengan Vilia membahas sekolahnya tadi dan Ana hanya diam sambil terus makan.
“Ha ? jadi kamu udah ketemu sama cowok yang kamu suka ?” Mama Ana terkejut.
“Iya tante.. pokoknya ganteng banget deh dia itu!” puji Vilia.
“Tante dukung kamu, kamu harus bisa dapatin hati dia ya Vilia..”
“Makasih tante..”
Vilia sangat senang mendapat dukungan dari tantenya, Papa Ana dari tadi hanya ikut nimbrung sesekali, dia dari tadi memperhatikan Anaknya yang hanya diam saja.
“Ana gimana tadi di sekolah ?” Papa Ana membuka percakapan.
“Aman kok Pah.. tadi bisa ketemu temen-temen lagi..” jawab Ana dengan tersenyum kecil.
Papa Ana tersenyum, dia mengajak Ana ngobrol tapi Mamanya tidak terlalu ikut nimbrung dan malah asik ngobrol sendiri dengan Vilia. Sungguh pemandangan yang bikin canggung. Selama di Surabaya Vilia tinggal di rumah keluarga Ana tapi dia tidak tidur sekamar dengan Ana melainkan di kamar sendiri.
Kehidupan semester baru dimulai, Adi mulai terkenal di kalangan siswa baru dan fansnya bertambah sampai dia pusing menolak ajakan pacaran dari adik kelasnya. Vilia juga sering mencari perhatian pada Adi tapi hanya ditanggapi biasa. Lain dengan Ana yang sudah tidak terlalu mengejar Adi karena takut patah hati lagi.
Suatu ketika di kelasnya Adi, pada pelajaran kewirausahaan diberi tugas untuk memasarkan produk dan dibentuklah beberapa kelompok, satu kelompok 2 orang, dan secara tidak sengaja Adi satu kelompok dengan Ana. Ada rasa kecewa pada Vilia karena tidak bisa satu kelompok dengan Adi.
“Na.. emm.. tukeran kelompok yuk ?” ajak Vilia.
__ADS_1
“Nggak deh Vil, kan udah ditentuin sama pak guru tadi, nanti dimarahin..” jawab Ana.
“Yaah..”
Dalam hati Ana dia senang bisa satu kelompok dengan Adi, untuk kali ini dia ingin tidak mengalah dengan Vilia.
“Ana nanti pulang sekolah bahas produk yang mau kita jual ya!” ajak Adi.
“Iya Di..”
Ana kemudian memberitahu Vilia supaya pulang duluan aja, takutnya nanti Vilia menunggu lama. Awalnya vilia menolak, dia ingin ikut Ana tapi mengingat dia sudah ada janji dengan mamanya Ana, mau tidak mau dia setuju.
Sepulang sekolah Adi mengajak Ana untuk diskusi di kantin, karena dia sudah janjian juga dengan kakaknya supaya mau menemani. Mereka berdua jalan ke kantin bersama, banyak mata memandang kearah Ana dengan tatapan tidak suka, Ana hanya bisa menundukkan kepala karena malu.sampai di kantin sudah ada Syabil yang sibuk makan siang, segera mereka berdua menghampirinya, Ana duduk didepan Syabil sedangkan Adi duduk disamping kakaknya.
“Dasar kamu in! kakaknya dijadikan obat nyamuk, untung Alfa masih ada keperluan sama temen-temen kelasnya, kalau nggak ya langsung pulang aku Di...” oceh Syabil setelah Adi duduk.
“Iya deh maaf, nanti aku traktir bakso deh..”
“Huh kamu ini!”
“Lho mbak Syabil kenapa harus nunggu mas Alfa ? kan bisa pulang sama Adi…” tanya Ana dengan polos.
“Eh.. ee..ee.. hehe aku udah biasa pulang sama Alfa Na,..” jawab Syabil gelagapan sambil tersenyum.
“Oh gitu..” Ana hanya manggut-manggut paham.
Syabil dan Adi saling pandang,
‘ya maaf, hampir keceplosan..’ balas Syabil dari dalam hati
Entah kenapa mereka meskipun saling pandang bisa paham satu sama lain.
Adi dan Ana mulai membahas produk sedangkan Syabil sibuk makan dan main hp, dia tidak mau ikut campur dalam diskusi adiknya.
Ana mempunyai ide untuk jualan roti cookies karena kebetulan dia bisa buat, Adi setuju saja karena mereka sepakat untuk menjual produk yang sekiranya bisa dijangkau oleh kalangan siswa sekolah.
“Besok gimana aku kasih tester dulu ke kamu buat cobain ?” tawar Ana dengan semangat.
“Boleh deh.. coba aku ingin rasain buatan kamu layak apa nggak buat dijual..” tantang Adi.
“Oke, siapa takut!” entah kenapa Ana sangat bersemangat kali ini, karena membuat kue hobby dia atau karena Adi mau mencicipi cookies buatannya.
“Wah aku mau juga dong Na.. “ timpal Syabil.
“Iya deh besok aku bawain buat mbak syabil juga, hehe..”
“Huh dasar ikutan aja!” kata Adi.
“Biarin, kan aku minta nya ke Ana bukan ke kamu!”
Adi hanya geleng-geleng melihat tingkah kakaknya itu, kalau masalah makanan kakaknya pasti antusias sekali, karena dia memang suka nyemil dan makan.
Sampai di rumah Ana mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat cookies dan langsung membuatnya. Vilia dan Mama Ana belum datang, jadi dia bisa leluasa.
__ADS_1
‘semoga aja Adi suka..’ batin Ana dalam hati sambil tersenyum.
Selesai membuat cookies, Ana segera menaruhnya dalam toples kecil dan langsung disimpan di tas sekolahnya biar tidak lupa.
Vilia sampai di rumah malam hari, dia langsung pamer pada Ana kalau dibelikan baju, Ana hanya diam dan tersenyum kecil,
“Wah beneran Mama kamu perhatian banget ya sama aku, nih lihat aku dibeliin banyak baju..” kata Vilia sambil tersenyum sumringah.
“Wah enak dong Vil..” balas Ana.
“Iya dong.. yaudah aku masuk ke kamar dulu yaa..” vilia bergegas ke kamarnya, dia ingin mencoba lagi bajunya.
Ana langsung termenung, selama ini Mamanya tidak pernah membelikan sesuatu untuknya, tapi kali ini malah membelikan baju untuk orang lain. Selama ini yang perhatian pada dirinya hanya Papanya.
Keesokan harinya pada jam istirahat Vilia bergegas ke kantin bersama teman-teman barunya di kelas, kali ini dia tidak mengajak Ana, sehingga Ana hanya di kelas saja. Mumpung Adi masih di kelas, Ana segera memberikan cookies yang dibuatnya kemarin,
“Adi ini kamu coba dulu..” kata Ana sambil menyodorkan toples kecil berisi cookies.
“Wah langsung buat kemarin Na ?”
“Iya.. aku nggak sabar pengen segera bikin..”
“Aku coba yaa..”
Adi langsung melahap beberapa cookies, Ana melihat wajah Adi dengan harap-harap cemas takut rasanya tidak enak.
“Hmmm wah enak ini Na, kamu beneran yang bikin ?” tanya Adi memastikan.
“Iya lah Di..”
“Wah hebat deh.. oke fix kita jualan ini aja ya..” Adi tampak bersemangat
Ana langsung tersenyum lebar, ternyata Adi suka cookies buatannya. Dia tidak menyadari Adi sedikit terkejut melihat Ana yang tersenyum lebar, baru kali ini dia melihatnya.
“Terus kita kapan jualannya ?” tanya Ana dengan semangat.
“Hm, kalau minggu depan aja bagaimana ?” Adi memberi usul.
“Oke aku setuju, nanti aku buat di hari minggu..”
“Tunggu tunggu, kita harus belanja dulu bahan-bahannya..kita belanja bareng-bareng aja ya..”
“Eh nggak usah Di, aku sendiri aja..”
“Nggak Na, ini kan tugas kita berdua, kalau kamu sendirian yang handle jadinya bukan tugas kelompok lagi dong..” papar Adi.
“Yaudah deh, hari minggu aja ya ?”
“Oke, nanti ketemuan aja di supermarket daerah rumah..”
“Oke kalau gitu Di..”
Keduanya tersenyum dan saling berpandangan, suara bel membuat mereka kaget, Ana bergegas kembali ke tempat duduknya. Pipinya langsung memerah setelah bertatapan dengan Adi. Adi sendiri langsung mengatur nafasnya dan mencoba bersikap tenang lagi.
__ADS_1