
Berganti hari Syabil terus memperhatikan Alfa yang banyak diamnya, baik itu dirumah maupun di sekolah, ketika ditanya jawabannya cuma ‘tidak apa-apa’. Hal itu membuat syabil sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
suatu ketika sepulang sekolah Alfa langsung rebahan di shofa depan tv, syabil langsung menghampirinya dan duduk di sebelahnya,
“Mas belakangan ini banyak diem aja, ada apa sih sebenarnya ? cerita dong..” tanya Syabil.
“Nggak ada apa-apa kok Bil..” jawab Alfa.
“Bohong nih, aku tau kamu lagi mikirin sesuatu kan ? masak aku nggak boleh tau ?” bujuk Syabil lagi.
Alfa menghela nafas, dalam hatinya dia bimbang ingin memberitahu istrinya tentang tawaran ayahnya, tapi kalau tidak segera diberitahu akan jadi masalah nantinya. setelah diam cukup lama akhirnya Alfa mengambil keputusan untuk menceritakan hal itu pada Syabil.
Alfa mengubah posisinya menjadi duduk, dia menatap Syabil dengan lekat yang membuat Syabil salah tingkah sendiri.
“Ayo mas, cerita…” rengek Syabil lagi, dia malu dipandang terus-terusan oleh suaminya.
“aku mau bicara serius sayang, tolong kamu dengerin aku ngomong sampai selesai dulu ya..” pinta Alfa.
Syabil mengangguk, dia deg-deg an sendiri menunggu Alfa bicara.
“jadi Papa kemarin pengen bicara sama aku terkait kuliahku nanti..”
alfa berhenti bicara sejenak mengamati ekspresi Syabil, terlihat sedikit kaget tapi dia belum buka suara, melihat hal tersebut Alfa melanjutkan bicaranya,
“Papa ingin aku lanjut kuliah di luar negeri yaitu di Jepang, dengan harapan aku bisa lebih siap dan matang lagi nanti untuk menggantikan Papa memimpin perusahaan.”
mendengar ucapan Alfa, Syabil langsung syok, suaminya mau kuliah di luar negeri lalu bagaimana dengan dirinya ? dia ingin protes tapi ditahan karena Alfa belum selesai berbicara.
“Nanti kamu tetap disini ya, kuliah disini aja sementara jangan ikut..” ucap Alfa lagi dengan pandangan lurus ke Syabil. dari tadi dia berbicara dengan nada lembut, dia takut kalau Syabil marah padanya.
“Mas.. ini beneran ? kamu mau kuliah ke luar negeri ? trus aku kamu tinggal disini sendirian gitu ?” Syabil mulai buka suara, dia berkaca-kaca ingin menahan air matanya.
seketika Alfa langsung memeluk Syabil, di usap-usap punggung istrinya itu, mencoba menenangkan.
“Sayang.. aku tau ini berat buat kita, aku ingin ajak kamu juga tapi masih belum memungkinkan.. aku mau ambil beasiswa, dan kamu tau sendiri kan kalau beasiswa itu harus bagaimana ?”
Syabil masih sesenggukan di pelukan Alfa, dia mengangguk faham maksud suaminya, tidak mungkin juga dia bisa kuliah di luar negeri sementara nilai-nilainya selama ini tidak ada yang menonjol.
“Tapi mas.. aku nanti sama siapa disini sendirian, kalau kamu tinggal ?”
“Kan bisa ajak Adi tinggal disini, atau kamu mau pulang ke rumah juga nggak apa-apa.. yang pasti kalau kamu disini harus ada temennya..” ucap Alfa.
“Huhuu.. kenapa sih disaat semuanya mulai berjalan lancar ada aja hambatan lagi..” kata Syabil sambil membenamkan wajahnya di dada Alfa.
Alfa tersenyum kecil, ditangkupkan tangannya pada kedua pipi Syabil lalu dipandangi wajah istrinya itu, Alfa menghapus air mata Syabil yang masih di pipi dengan kedua tangannya.
“Boleh kan aku ambil beasiswa di luar negeri ?” tanya Alfa.
“Iya deh boleh..” kata Syabil setelah diam cukup lama.
Alfa tersenyum dan dicium kedua pipi istrinya itu yang membuat Syabil geli.
__ADS_1
“Udah ih ciumnya..nanti keterusan..” rengek Syabil.
Alfa tertawa kecil, benar juga yang dikatakan istrinya, kalau keterusan bisa panjang masalahnya.
“Tapi inget nanti harus sering kasih kabar, nggak boleh terlalu deket sama cewek disana, mas!” kata Syabil memberi peringatan.
“Iya iya, nggak bakalan deh..”
Alfa memeluk Syabil lagi dan mengecup keningnya, syabil tidak mau kalah dia melingkarkan tangannya di pinggang Alfa dan keduanya tersenyum lagi.
sejak hari itu Alfa mulai fokus belajar, dia juga sudah memberitahu Papa nya terkait kesediaannya ikut beasiswa ke luar negeri. selama itu Papanya tidak memberikan pekerjaan berat sampai pengumuman beasiswanya keluar, diminta Alfa untuk fokus belajar untuk persiapan pengajuan beasiswanya.
hari terus berlalu tes beasiswa sudah dilalui dan seminggu kemudian hasil sudah keluar, Alfa lolos beasiswa kuliah di Jepang. berita itu membuat semuanya senang, tapi untuk Syabil dia antara sedih dan senang karena akan ditinggal Alfa.
“Kamu nggak apa-apa kan sayang ?” tanya Alfa pada istrinya.
Syabil menggeleng pelan dan menghambur ke pelukan Alfa. Alfa membalas pelukan istrinya itu, dia tau istrinya pasti sedih.
berita diterimanya Alfa lolos beasiswa sudah sampai ke telinga para siswa dan guru di sekolah.Banyak siswa dan guru yang mengucapkan selamat pada Alfa, menjadi suatu kebanggaan sendiri bagi sekolah karena salah satu siswanya bisa melanjutkan pendidikan di universitas luar negeri.
Papa Alfa juga sangat senang sekali mendengar putranya bisa mendapatkan beasiswa luar negeri, menjadi suatu kebanggaan tersediri baginya, meskipun dia harus mendengarkan omelan istrinya karena kurang setuju mengingat Syabil akan ditinggal sendirian.
“Mas kok kamu tega sih nyuruh Alfa keluar negeri ? Syabil nanti gimana coba ?” protes Mama Fira.
“Tenang sayang, mereka pasti bisa melalui semua ini kok..” jawab Papa Rian dengan santai.
“Kamu ini.. kalau Alfa tertarik sama teman-temannya nanti diluar gimana ? kan kasihan Syabil….”
“Lho kamu nggak percaya sama Alfa ? kamu tau sendiri kan Alfa gimana sekarang sama Syabil..hm ?”
“Iya juga sih Mas.. tapi aku khawatir..” ucap mama Fira lagi.
“Udah kamu tenang aja.. kalau ada apa-apa kan kita juga nggak akan tinggal diam..” kata Papa Rian kemudian.
dan akhirnya Mama Fira pasrah mengikuti apa kata suaminya meskipun dalam benaknya masih khawatir akan kehidupan Syabil dan Alfa nanti.
persiapan untuk beasiswa Alfa sudah selesai, sekarang dirinya tinggal fokus dengan ujian akhirnya, begitu juga dengan Syabil. mereka berdua memanfaatkan waktu dengan belajar mempersiapkan ujian akhir dan persiapan masuk perguruan tinggi buat Syabil.
“Kamu jadinya ke universitas ini sayang ?” tanya Alfa pada Syabil sambil menunjuk layar laptop yang sedang membuka website universitas.
keduanya sedang duduk bersampingan di sofa dengan laptop ada di pangkuan Alfa, mereka sedang bersantai setelah makan malam.
“Iya.. boleh kan ?” tanya Syabil balik.
“Boleh aja sih, deket juga dari sini..” kata Alfa sambil manggut-manggut.
syabil tersenyum, rencananya dia ingin satu kampus dengan Ririn dan Intan, mereka bertiga juga sudah berdiskusi.
“Tapi ini kamu beneran mau ambil jurusan sistem informasi ?” tanya Alfa memastikan lagi.
sekali lagi Syabil mengangguk menandakan kalau dia sudah mantap.
__ADS_1
“Kenapa ?” tanya Alfa yang masih belum percaya.
“Karena aku ingin bantu kamu nanti kalau udah kerja, kamu yang bikin programnya aku yang menganalisa dan merancang programnya” jawab Syabil sambil memeluk lengan Alfa sambil menatapnya dengan tersenyum,
Alfa kaget mendengar jawaban istrinya, dia pun ikut tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, dahi mereka saling berbenturan membuat mereka tertawa renyah.
“Kamu ini yaa… kamu ambil aja jurusan yang kamu sukai..” tutur Alfa.
“Aku beneran kok..lihat aja nanti aku pasti bisa masuk jurusan itu..” ucap Syabil.dengan percaya diri.
Alfa tertawa mendengar perkataan istrinya,
“Ih kok diketawain sih..” Syabil yang merasa diremehkan langsung protes.
“Enggak kok sayang.. siapa juga yang remehin kamu..” Alfa masih tertawa.
“Hiiih mas Alfa ini…”
belum sempat Syabil melanjutkan kalimatnya Alfa sudah menutup mulut Syabil dengan bibirnya, yang otomatis membuat Syabil berhenti bicara.
“Udah protesnya ? hm ? mau lagi ?” goda Alfa
Syabil masih diam melongo dan membuat Alfa gemas. Diletakkannya laptop di meja depan shofa, dan selanjutnya Alfa kembali menautkan bibirnya pada bibir istrinya dan membuat Syabil pelan-pelan sadar, spontan lengannya menggapai pundak Alfa dan ingin menjauhkannya tapi tidak berhasil, dia kalah dengan Alfa yang langsung dengan sigap menangkap tangannya.
lama-lama Syabil terbuai juga, Alfa masih meneruskan aksinya dan dengan sigap dia menggendong istrinya sampai ke kamar tanpa melepaskan ciumannya. mereka sekarang ada di ranjang dan masih berciuman, cukup lama dan Syabil kemudian tersadar langsung meminta Alfa untuk berhenti.
“M..Mas…” ucap Syabil sambil mengatur nafasnya.
“Hmm ?”
“Udah ih.. belum waktunya…”
Alfa langsung membuka mata dan menghentikan aksinya yang dari tadi menciumi bibir dan pipi Syabil. ditatapnya wajah istrinya itu yang membuatnya masih dalam mode bucin ON.
“Udah mas.. nanti keblabasan..” kata Syabil lagi sambil merapikan rambut Alfa dengan tangan. Alfa masih ada di atasnya.
Alfa dengan lemas memeluk Syabil dan mengecup kening istrinya.
“Untung kamu ingetin sayang..” ucap Alfa sambil membenamkan wajahnya pada leher Syabil.
syabil tersenyum, “Sabar..”
“Aaah.. kapan sih kita lulusnya ?” tiba-tiba Alfa menggerutu.
“Kenapa emangnya ?” tanya Syabil penasaran.
“Aku ingin melakukan itu…” kata Alfa lirih dengan masih dengan posisi yang sama.
Syabil sejenak menerka-nerka, setelah mulai paham dengan maksud suaminya dia langsung tersenyum dan menepuk pundak suaminya pelan.
“Dasar kamu ini mas.. udah ah tidur yuk udah malam..” ajak Syabil
__ADS_1
“hmmmm…”
Alfa dengan malas merubah posisinya, dia meraih tubuh Syabil dan dibenamkan tubuh istrinya itu di dadanya. Syabil pun membalas dengan membalas pelukan suaminya itu dan mereka pun tidur.