Our Secret Marriage

Our Secret Marriage
Ch 63 - Kejadian!


__ADS_3

Hari kedua di Bali semua siswa sangat senang karena mereka akan mengunjungi beberapa tempat diantaranya adalah ke tempat wisata dimana patung Garuda Kencana Wisnu (GWK) berada, pantai dan terakhir mengunjungi pusat oleh-oleh yang cukup terkenal di Bali.


Syabil dan Alfa selalu bersama tidak pernah berpisah waktu berkunjung di setiap wisata.Intan, Ririn dan Andi juga mengekori mereka, sampai-sampai siswa yang lain ketika ingin berfoto dengan Andi tidak bisa.


Mereka belum tau saja jika Andi dan Ririn sudah jadian.


Ketika berada di pusat oleh-oleh Syabil tampak asik memilih makanan dan pakaian untuk oleh-oleh keluarga dirumah, Alfa yang setia disampingnya sampai geleng-geleng sendiri, karena kali ini belanjaan mereka melebihi dari ketika di Yogyakarta.


“Mas aku boleh beli apa aja kan ?” tanya Syabil memastikan.


“Iya boleh.. buat kita juga jangan lupa..” tutur Alfa


setelah menghela nafas panjang.


“Siap bos!”


Dengan semangat dia mendatangi tiap rak atau tempat pakaian dan makanan satu persatu sampai tidak ada yang terlewat. Untungnya Alfa sigap memilih bawa keranjang troli karena tau istrinya kalau lagi belanja hebohnya minta ampun.


“Wih borong nih buuk...” canda Ririn.


“Iya dong, keluarga dirumah menanti Rin hehe..” Syabil


memberi tanggapan.


“Kasihan tuh Alfa bawa trolli doang..” giliran Andi yang


ikut meledek.


“Awas kamu Di, nanti kalau udah nikah kamu bakal ngerasain juga!” Alfa tidak mau kalah.


“Haha santai bro.. kita masih lama..” jawab Andi sambil


menggenggam tangan Ririn.


“Ih lepasin malu diliat banyak orang!” Ririn protes dan


akhirnya genggaman tangan Andi dilepaskan.


Seketika Alfa dan Syabil tertawa melihat tingkah Andi dan Ririn. Intan tidak keliatan batang hidungnya dari tadi karena dia asik muter sendiri mencari oleh-oleh.


Setelah dirasa cukup Syabil berhenti dan Alfa yang sudah tau langsung mengajaknya ke kasir,


“Udah ? yuk ke kasir..” ajak Alfa.


“Yaudah yuk.. aku udah capek..” rengek Syabil.


“Ya iyalah satu toko kamu puterin semua.. aku aja capek


apalagi kamu..” jawab Alfa.


“Hehe maaf deh..”


Hampir satu trolli full belanjaan, siswa lain yang tidak


sengaja melihat mereka sampai geleng-geleng sendiri, membicarakan belanjaan mereka.


“Fa itu belanjaan kalian semua ?” tanya salah satu teman OSIS Alfa.


“Kebanyakan titipan..” jawab Alfa asal..


“Oh kirain, tajir bener kalau sampai borong segitu


banyaknya..” celoteh temannya yang lain.


Alfa hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, mereka tidak tau saja kalau dirinya sudah kerja dan bisa menghidupi Syabil juga tanpa ragu mengeluarkan uang sebanyak apapun.


Sampai di kasir Alfa meminta Syabil untuk menunggu diluar, tapi Syabil menolak dia ingin menemaninya. Setelah dihitung oleh petugas kasirnya jumlahnya lumayan bahkan untuk seusianya itu tergolong banyak, tapi Alfa dengan percaya diri membayar dengan kartu debit dan membuat petugas kasirnya melongo tidak percaya,’anak orang kaya ini’ batin petugas kasir tersebut.


Selesai membayar Alfa langsung membawa barang belanjaan mereka ke bagasi bis nya, Syabil ingin membawa sebagian ke bis kelasnya tapi dilarang oleh Alfa. Akhirnya Alfa mengantar Syabil untuk kembali ke bis kelasnya dan mengantarnya sampai dalam karena masih belum banyak siswa yang kembali, hanya ada Ririn, Intan dan beberapa siswa di belakang.


Tempat duduk Syabil yang ada di deretan tengah membuatnya khawatir karena bisa saja Syabil muntah mabuk perjalanan,


“Kamu nggak apa-apa kan Bil ?” Alfa yang melihat istrinya tampak kelelahan menjadi khawatir.


“Nggak apa-apa kok, nanti aku langsung tidur aja biar badan fit lagi sampai pelabuhan..”


Alfa menghela nafas panjang,


“Yaudah kalau gitu, Rin.. Tan.. titip dia yaa..”


“Siap pak ketos, tenang aja deh, aman sama kita..” jawab Intan.


“Awas kalau ada apa-apa..”


Alfa akhirnya keluar dari bis kelas Syabil dan kembali ke bisnya. Syabil yang sudah kelelahan memutuskan untuk tidur. Bis sedang menuju pelabuhan untuk pulang, kebanyakan siswa tidur karena sudah kelelahan. Sampai tengah perjalanan Syabil merasa pusing dan mual karena goncangan bis, dia langsung mengambil tas plastik yang ada di depannya dan muntah disitu, Ririn yang ada disampingnya masih tidur, Syabil muntah terus menerus, akhirnya dia


membangunkan Ririn.


“Rin bangun Rin..”


“Hmm.. ada apa Bil ?” tanya Ririn yang masih mengucek matanya.


“Aku nggak kuat Rin, mual..” Syabil terlihat sangat lemas dan membuat Ririn khawatir.

__ADS_1


“Aduh Bil, bentar aku bilang ke mas Danu yaa..” Ririn segera beranjak ke mas Danu yang duduk di deretan kursi paling depan.


Mas Danu yang mendengar Syabil sakit langsung menemuinya,


“Gimana Bil masih mual ?” tanya mas Danu.


Syabil hanya mengangguk pelan, mas Danu tampak berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk Syabil duduk dikursi depan gantian dengan dirinya.


“Yaudah Bil kamu duduk di depan aja ya di kursi saya.. biar kamu bisa liat jalanan dan nggak pusing lagi..” perintah mas Danu.


“Tapi Mas.. nggak deh..” Syabil ragu.


“Udah nggak apa-apa..”


Syabil ragu karena dirinya nanti akan duduk disamping guru olahraga yaitu pak Aryo. Dia sungkan untuk duduk disebelahnya, tapi mas Danu meyakinkan kalau tidak akan ada apa-apa, karena pak Aryo orangnya baik.


Dengan terpaksa Syabil menerima, dia akhirnya bangkit dari tempat duduknya dibantu Ririn dan jalan ke depan.


“Pak Aryo, Syabil biar disini ya.. dia lagi nggak enak badan,” kata mas Danu.


“Oh oke mas..” jawab pak Aryo dengan santai, dia


memperhatikan Syabil dari atas sampai bawah lalu cuek menghadap ke depan lagi.


Syabil segera duduk dan menyenderkan kepalanya ingin tidur supaya tidak mual lagi, sementara mas Danu akhirnya ke deret kursi paling belakang mencari tempat duduk lain, dia tidak ingin duduk disamping Ririn


karena takut adiknya akan marah padanya.


Hari mulai petang, tidak ada suara canda tawa dari siswa karena pada terlelap, begitu juga dengan Syabil yang dari tadi terus tidur untuk menghindari mual. Syabil setengah sadar merasakan ada yang menyentuh


pahanya, terasa tangan sedang mengelus pahanya, dia ingin membuka mata tapi takut, dia bisa mengetahui siapa orangnya karena yang disebelahnya tidak ada


orang lain selain pak Aryo,


Syabil mulai deg-degan, dan tidak tau harus ngapain karena takut.semakin lama tangan pak Aryo mulai menjadi, setelah di paha syabil merasakan tangannya mulai naik ke pinggul, syabil tidak bisa diam dia memutuskan untuk bangun dan seketika pak Aryo tampak kaget, beliau langsung menghentikan aksinya dan menarik tangannya kembali lalu menghadap ke depan.


Syabil diam dan terus memandang kearah pak Aryo, karena tidak ada respon Syabil kembali memejamkan matanya karena dia masih merasa pusing. Setelah beberapa saat dia merasakan lagi gerakan tangan gurunya di pinggul dan bergerak ke tengah, syabil ingin menangis karena dia sangat takut sekarang, berharap ada yang menolongnya.


Akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka mata, dan lagi-lagi pak Aryo langsung menarik tangannya,


“Bapak tadi ngapain ?” tanya Syabil dengan suara bergetar.


Pak Aryo tidak menjawab malah diam cuek, merasa tidak ada respon Syabil langsung beranjak dari bangku dan pindah ke tempat duduknya samping Ririn.Ririn yang mendapati Syabil mendekat langsung kaget,


“Ada apa Bil ?” tanyanya setelah Syabil duduk.


Syabil masih diam dan geleng-geleng, dia langsung memejamkan matanya, rasanya ingin menangis dan bercerita tapi dia simpan dulu, takut bikin heboh satu bis. Tidak lama bis memasuki area pelabuhan, mas Danu bangkit dari duduknya dan kedepan sambil membangunkan para siswa, saat lewat kursi Ririn dia


Setelah bis masuk kapal, semua siswa diminta turun, Syabil menahan Ririn supaya mereka keluar belakangan saja, nunggu yang lainnya turun.


“Kamu kenapa Bil kok balik ke sini ?” tanya Intan yang


penasaran juga.


“Nanti aja aku cerita..” jawab Syabil dengan tersenyum


kecil.


Setelah siswa yang lain pada turun dan mas Danu, Pak Aryo juga turun baru Syabil mengajak dua sahabatnya turun dari bis dan mencari tempat duduk yang nyaman di kapal.


Waktu mereka jalan ke ruang tunggu, syabil melihat pak aryo ada disana dengan para guru, dia langsung mengurungkan niatnya dan berbalik arah. Intan dan Ririn yang curiga langsung menariknya ke tempat yang sepi,


“Bil cerita deh sama kita, kamu kenapa ?” desak Intan.


Syabil tidak kuasa menahan air matanya, dia akhirnya


bercerita kejadian yang terjadi saat dia duduk di kursi deret depan sambil menangis sesenggukan, Intan dan Ririn yang mendengarnya langsung kaget tidak percaya guru olahraga mereka bisa begitu kelakuannya, spontan Intan langsung memeluk Syabil,


“Kamu yang tenang ya Bil, kamu harus cerita pada Alfa dan mas Danu yang jadi pembimbing kita di bis biar pak Aryo dapat pelajaran!” ucap Intan sambil menepuk pelan pundak Syabil pelan.


“Huhuhu.. iya Tan..”


“Rin kamu temenin Syabil dulu, aku mau cari Alfa..” perintah Intan.


Ririn mengangguk lalu menenangkan Syabil supaya tidak menangis lagi, Intan bergegas ke ruang tunggu mencari Alfa. Tidak susah mencari Alfa karena pasti dia akan sliweran mencari istrinya, saat ketemu dia langsung menemuinya,


“Fa ikut aku yuk!” ajak Intan.


“Kemana ? Syabil mana ?” tanya Alfa yang sedang bersama Andi.


“Udah ikut aja! Bawel amat..” Intan sudah tidak sabar.


Akhirnya Alfa mengikuti Intan, tidak lama dia melihat Syabil sedanng bersama Ririn, melihat istrinya yang habis menangis dia langsung mempercepat langkahnya, syabil yang melihat Alfa mendekat langsung menangis lagi, ingin rasanya dia menghambur ke pelukan Alfa tapi disampingnya ada


sahabatnya jadi dia urungkan.


“Kamu kenapa Bil ?” tanya Alfa yang panik.


Syabil menangis lagi, Alfa mengusap air mata yang jatuh di pipi Syabil dengan panik, akhirnya Intan yang bercerita, Ekspresi Alfa seketika berubah,


“APA ? Kurang Ajar! Dimana orangnya?” Alfa langsung emosi.


Andi yang dari tadi disamping Ririn langsung menghentikan Alfa yang ingin beranjak pergi mencari pak Aryo.

__ADS_1


“Tenang Fa, jangan gegabah dulu...!” ucap Andi.


Syabil masih menangis sesenggukan,


“Aku nggak terima Di istriku digituin, itu pelecehan namanya! Aku harus buat perhitungan pada orangnya!” emosi Alfa meluap.


“Tenang Fa, jangan gegabah, kita harus cari cara supaya ketika mengintrogasi beliau siswa yang lain tidak curiga! Kalau kamu main kasar gini yang ada siswa lain pada heboh nantinya! Kasihan syabil juga!” cerocos Ririn.


Alfa memandang lagi kearah istrinya yang masih menangis, dia sudah tidak tahan dan langsung mendekap Syabil, berusahan menenangkannya,


“Udah sayang kamu tenang ya.. udah ada aku disini kamu aman, nggak akan ada siapapun yang akan ganggu kamu lagi..” ucap Alfa.


Yang lainnya bisa memaklumi tingkah Alfa dan Syabil, seperti sudah kebal akan sikap mereka berdua jadi mereka bersikap biasa saja.


“huhuhu... aku takut Fa...” Syabil mengeratkan pelukannya.


“Udah tenang, kamu sudah aman.. kamu tenang dulu ya.. aku bakal cari cara supaya orang itu dapat balasannya!”


Syabil akhirnya mengangguk, Alfa melepas pelukannya dan mengusap air mata Syabil.


“Udah jangan nangis lagi, kamu sekarang sama Intan dan Ririn dulu ya.. aku mau cari mas Danu dulu..” ucap Alfa.


“Tapi...”


“Tenang Bil kita selalu sama kamu, kita nggak akan ninggalin kamu kok..” ucap Intan.


Syabil akhirnya mengangguk, Alfa dan Andi pergi meninggalkan mereka bertiga dan mencari mas Danu, Alfa meminta Andi menelfon mas Danu dan memintanya untuk berbicara sebentar,


“Ada apa Di ?”tanya mas Danu ketika datang. Mereka sekarang ada di tempat yang sepi.


“Mas kamu gimana sih, aku kan udah titip Syabil ke kamu kok kamu teledor!” protes Andi.


“emang ada apa sih sama Syabil ?”


Alfa menghela nafas panjang kemudian dia bercerita apa yang sudah diceritakan oleh Syabil padanya,


“Apa ? kok bisa ? nggak mungkin ah! Dia kan orang


baik-baik..”


“Buktinya syabil ngomong sendiri, tidak mungkin dia


berbohong mas!” ucap Andi.


“tapi nggak ada buktinya juga kalau beliau melakukannya!”


Mereka bertiga hening tampak berpikir, tiba-tiba ada


seseorang datang dan ternyata itu adalah mas-mas kernet bis tersebut.


“saya ada bukti pak..”


“Lho mas kok tau kita ada disini ?” tanya mas Danu.


“Iya tadi saya liat bapak pergi dari ruang tunggu, dan saya kira saya bisa memberitahukan akan hal ini ke bapak ketika tidak ada siapa-siapa.” Jawab mas kernet tersebut.


“Mana mas buktinya ?” Alfa sudah tidak sabar.


Mas-mas kernet lalu memutar video singkat ke Alfa, setelah melihat beberapa detik Alfa menghentikannya,


“Udah mas cukup.. boleh minta mas kirimkan video itu ke hp saya ?” tanya Alfa,


“Boleh Mas..”


Akhirnya Alfa mendapatkan bukti kuat yang mana pak Aryo


tidak bisa mengelak lagi. Dia juga berterimakasih pada mas kernet bisnya, lalu beliau kembali ke ruang tunggu.


“sekarang bagaimana mas ?” tanya Andi pada Mas Danu.


“Gini aja, besok disekolah langsung saya laporkan ke kepala sekolah tentang ini biar pak Aryo dapat sanksi.


“Sanksi aja nggak cukup mas, aku maunya beliau dikeluarkan!” sahut Alfa.


“Iya Fa aku tau perasaan kamu, tapi keputusan itu kita kembalikan ke kepala sekolah aja, beliau yang berhak menentukan..”


“terus ini nanti gimana ? aku nggak mau Syabil deket dengan pak Aryo lagi..” tanya Alfa.


“Haduh gimana yaa..” mas Danu bingung sendiri.


“Gini aja, aku ikut bisnya Syabil tukeran sama Ririn biar


dia sama Andi di bis aku..” Alfa mengusulkan ide.


“Lho kok gitu.. hmmm.. yaudah deh biar aku yang urus, nanti kamu masuk bis kelas ku..” mas Danu akhirnya mengalah, dia tau Alfa sangat ngotot sekarang.


“Asik, makasih ya Fa..” kata Andi cengengesan, dia senang bisa satu bis dengan Ririn.


“Makasih makasih pala kamu! ini karena aku khawatir sama Syabil, kalau nggak ya nggak bakalan kamu bisa satu bis sama Ririn!” kata Alfa dengan sewot.


“Hehe iya iya bos!”


apa yang akan terjadi pada pak Aryo dan bagaimana keadaan Syabil? tunggu chapter selanjutnya yaa 😊,

__ADS_1


__ADS_2