Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 12 (R) : Necromancer


__ADS_3

...•Malam Hari•...


...Di Kamar Istana Zealos....


Terlihat Daren dan Helena sedang berbicara mengenai sesuatu, nampak dari wajah Helena terlihat sangat marah dan mulai memancarkan kebencian yang sangat mendalam.


Daren pun mulai melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, tak disangka dia berucap sesuatu dengan senyumnya yang membuat Helena menangis.


Setelah Daren meninggalkan ruangan itu, Helena mulai menangis histeris sambil menyalahkan dirinya sendiri.


Terlihat ada seorang wanita yang berdiri dibalik bayangan lorong istana, sambil memperhatikan punggung Daren dengan perasaan dengki dan marah.


Malam itupun dilewati dengan suara isak tangis Helena dan suara hujan badai yang begitu lebat, kilatan petir juga ikut mewarnai kesedihan hatinya yang mendalam.


...Helena Crying Scene...



...Pict From Google...


...__________________________________________...


Sementara itu. . . Pagi harinya.


...Larden City...


Sudah hampir seminggu aku bersama dengan Orland, seperti biasanya aku malah berlarian kesana-kemari untuk menyelamatkan hidupku dari kejaran monster..... ya, monster...


MONSTER! Sengaja diulang biar makin tegang.


Bahkan sempat beberapa kali aku hampir mati akibat sengatannya, ugh... mengingatnya saja sudah membuat tubuhku merinding.


Namun latihan itu cukup efektif melatih tubuhku yang sudah jarang olahraga ini. Sebelumnya aku bertanya pada Valkyrie tentang tubuhku yang tidak menua, namun dia bilang umurku bertambah tapi penampilanku tidak.


Itu cukup menjawab pertanyaanku selama ini, saat berada di bumi orang-orang disekelilingku mulai memunculkan keriput sedikit demi sedikit, tapi aku tidak, dan semua ras manusia di Benua Elzia seperti ini.


Terlepas dari itu semua, ternyata umur kami bisa sangat panjang tanpa ada yang membatasi, kecuali kau mati karena terbunuh atau suatu penyakit, beda cerita kalo itu.


Kepergian Alexander benar-benar membuatku lebih tersadarkan betapa kecilnya diriku ini dibandingkan dengan mereka semua.


Tapi tetap saja ada hal yang sudah benar-benar mengganggu pikiranku sejak saat Alexander menyampaikan sesuatu tentang ibuku, Amber Lilith.


Seseorang yang berkhianat dan juga memilih untuk melindungi benua ini, aku tak mengerti kenapa ibuku mulai mengkhianati rasnya sendiri, ras iblis.


Yah, aku juga sudah menanyakan hal itu ke Orland, namun dia tidak ingin aku mengetahui kebenarannya saat ini, kurasa Orland berpikir bahwa aku belum cukup kuat.


Mungkin saja ibuku dalam bahaya atau kesulitan, namun Orland selalu bilang kalau ibuku itu sekuat Alexander bahkan lebih kuat darinya, jadi tidak ada yang harus dikhawatirkan.


Latihan fisik yang sudah kujalani sampai sekarang juga membuahkan hasil, gerakanku dan pertahananku jadi lebih cepat dari sebelumnya.


Aku teringat setiap hari seusai latihan, tubuhku pasti akan selalu dihajar sampi babak-belur, tak lain dan tak bukan semua pukulan itu berasal dari Orland.


Kami selalu berlatih tanding setiap kali selesai memanggang monster kelanjengking itu, entah kenapa aku sangat membenci monster itu.


Sampai-sampai setiap malam aku selalu bermimpi tentang dikejar-kejar oleh mereka, hal itu membantuku mendapat trauma yang baru, menyedihkan.....


Yah, terlepas dari itu semua, cara yang Orland berikan ini benar-benar efektif, tidak hanya meningkatkan staminaku, tapi juga memperkuat tubuh fisiku.


Valkyrie juga sering menolongku dalam kesulitan, contohnya ya seperti saat pertama kali aku datang kedunia ini dan bertemu Helena.


Mungkin saja aku tidak akan menuliskan ceritaku sampai saat ini jika aku tewas saat itu, tapi yang pasti hingga sekarang dia juga malaikat yang menyebalkan.


Melihat Valkyrie yang sedang bermabuk-mabukkan


"Kenapa wajahmu me-urgh.. HOEK!.." Ucap Valkyrie kemudian muntah.


"JANGAN MUNTAH DIKASURKU!!!!!" Teriakku kepadanya.


Terlihat kasurku dipenuhi oleh muntahan dan makanan sisa semalamnya, wajah nya juga dibasahi oleh isi perutnya sendiri. 'Apakah dia benar-benar seorang malaikat....' Pikirku menatapnya kesal.


"Warlen, jangan cepat-cepat mati ya na-urgh... Huek!!" Ucap Valkyrie melantur.


"ARGH!!!! SUDAH KUBILANG BERHENTI MUNTAH DIKASURKU!!!!" Teriakku sambil menarik Valkyrie.


Beberapa saat kemudian. . .

__ADS_1


Setelah membersihkan kasurku, aku meninggalkan Valkyrie dikamar dan mulai pergi ke permukaan untuk memulai latihan terakhirku.


Ada hal lain yang benar-benar sangat menggangguku, Sejak aku tinggal bersama-sama di kota Dwarf ini. Aku sadar ada sesuatu yang sangat janggal.


Kenapa satu-satunya yang pendek hanya dia, Orland!? Tapi yang lain tidak!? Apakah dia kelainan!? Bukankah seharusnya para Dwarf itu pendek? Aku tidak mengerti.


Aku benar-benar ingin bertanya padanya, tapi aku mengurungkan niatku. Aku tidak berani bertanya padanya tentang hal itu... benar, aku takut dibunuh olehnya. Begitulah......


Akhirnya aku tiba di padang tandus ini, suasananya masih sama seperti sebelumnya, yang berbeda hanya saat ini aku akan ditemani Orland pergi kesuatu tempat yang jauh.


Kami berjalan cukup lama mungkin sekitar satu jam setengah, dalam perjalanan aku sempat bertanya padanya, tempat macam apa yang akan kita datangi.


Namun dia hanya tersenyum lebar sambil berkata. "KAU TAKUT BOCAH?" Tentu saja aku takut kau dasar otak otot, aku ingin mengatakannya.. ugh..


Dalam perjalanan kami juga sempat berhenti beberapa saat untuk beristirahat, aku juga melihat matahari sudah terbenam.


Aku tidak tau sejauh apa aku dari Kota Larden, yang kulihat disepanjang perjalanan hanyalah padang pasir saja.


Untungnya aku sudah meminta tolong pada Garm, sebenarnya aku ingin bilang langsung ke Freya bahwa aku tidak bisa datang untuk menemui mereka selama beberapa hari ini.


Hari Berganti Malam.


...Reruntuhan Kota Larden...


Akhirnya aku dan Orland tiba disuatu reruntuhan, entah kenapa tempatnya terlihat sangat jauh dari kata indah, tidak ada cahaya yang menyinari tempat ini sedikitpun, suasananya sungguh suram.


Bukit-bukit yang menjulang tinggi berada tepat dibelakang reruntuhan ini, serta menjadi penghalang bagi cahaya untuk masuk.


Namun ada yang lebih menarik perhatianku sejak pertama kali aku menapakkan kaki ditempat ini. Aku melihat sebongkah batu besar mungkin sebesar bukit, berada tepat ditengah reruntuhan ini. Tapi itu hanyalah sebongkah batu. Iya batu....


Batu itu seakan sedang menutupi lokasi rahasia atau melindungi sesuatu dari jangkauan kami. Orland juga bilang kalau dia punya kenalan ditempat ini, orang macam apa yang ada disini???


Reruntuhan ini dulunya adalah lokasi Kerajaan Larden yang dulu berada dipermukaan dan dipimpin oleh seorang wanita Marie Larden Eirini.


Dia seorang pahlawan ketiga yang terbangkitkan dari bangsa Dwarf, konon katanya dia adalah seseorang yang sangat penyayang tapi setelah kerajaannya dihancurkan oleh iblis dia mulai menggila kemudian menghilang.


Sekelilingku hanya dipenuhi oleh bebatuan dan beberapa kayu yang sudah lapuk termakan waktu, ada juga sisa noda darah yang masih samar-samar terlihat disini.


Setelahnya Orland menyuruhku agar selalu menjaga kesadaranku. Tapi tiba-tiba saja Orland berhenti, aku yang jalan sambil melamun pun tidak sengaja menabrak punggungnya.


Tiba-tiba Orland berteriak sambil menghadap keatas. "OIIII!! ALTARES INI AKU ORLAND!!!"


Kenapa orang ini berteriak sih, lagipula mana ada orang yang ting--- ya, ada orang yang tinggal disini, tiba-tiba saja aku melihat ada seorang pria diatas batu itu.. (•_•)


...Altares Larden...



...Pict From Google...


"Kau lagi.." Balas Altares yang melirik Orland, lalu membaca buku ditangannya lagi.


"HAHAHA!! LAMA TAK BERJUMPA" Teriak Orland sambil menggaruk kepalanya dan tertawa-tawa.


'Kenapa orang itu terlihat jengkel?' Ucap benakku sambil menatapnya.


Aku bisa melihat pria itu menutup bukunya dan mulai berdiri, kemudian menatap kami dengan ekspresi wajah 'merepotkan saja' mungkin itu pikirnya.


"Jadi.... Ada apa, bocah?" Tanya Altares itu sambil bersilang tangan.


'A-A-APA!? Dia memanggil Orland bocah?? Bukankah orang itu terlihat lebih muda dari pria berjenggot ini!' Ucap benakku yang melongo.


"Gyahahahaaha!! Jangan dingin begitu Altares. Aku hanya ingin kau melatihnya." Jawab Orland sambil tersenyum dan menunjukku.


"Melatih...? Maaf.... Aku lelah." Balas Altares singkat, kemudian kembali duduk dan mulai membaca bukunya.


Aku melihat Orland sedikit kesal dengan keadaan itu, namun hal yang paling tidak bisa kupercaya adalah guruku saat ini tiba-tiba bersujud memohon kepada Altares.


"Sudah kubilang..... aku sedang lelah...." Tegur Altares sambil melihat Orland dan menatap mataku.


Dengan keadaan seperti itu, aku benar-benar marah terhadap Orland "LEBIH BAIK TIDAK USAH SAJA ORLAND!" Bentakku menarik Orland dari sujudnya.


Aku sudah berkali-kali menariknya untuk bangkit, bahkan aku sampai menggunakan kekuatanku yang baru, Iron Body kemampuan ini terbangkit setelah aku berlarian kesana-kemari dikejar kelajengking.


^^^Iron Body kemampuan memanipulasi sihir yang menguatkan otot dan perlindungan dua kali lipat.^^^

__ADS_1


Aku terus berteriak-teriak padanya selama kurang lebih setengah jam, terlihat Altares mulai kesal kepada kami, lalu menatapku.


"Siapa namamu?" Tanya Altares sambil menutup bukunya.


"Warlen Eirini." Jawabku yang terkejut.


"Orland, sudah cukup. Aku menyerah.... Tak kusangka kau akan bersujud padaku begitu lama." Ucap Altares sambil melihat Orland.


"Kuharap kau tepati janjimu..." Ucap Orland kemudian mendadak dia terjatuh Brug!


Aku benar-benar terkejut melihat Orland yang tiba-tiba terjatuh, emosiku terbakar secara singkat, tatapan mataku yang terlihat hanya kemarahan.


"HEI APA YANG KAU LAKUKAN!?" Teriakku sambil bersiap untuk melakukan serangan.


Terlihat Altares turun dengan melompat, lalu menghampiri tubuh Orland yang lemas, Altares mengeluarkan semacam sihir penyembuh berwarna abu-abu yang mengelilingi tubuh Orland.


"Jangan khawatir. Dia hanya berbagi umurnya kepadaku... Dia tidak akan mati.." Balas Altares.


"JANGAN BERCANDA!?" Teriakku yang kemudian menyerangnya. "TIME DILATION!" Kemudian hanya dalam sekali kedipan mata, aku sudah berada didepan Altares lalu mencarkan seranganku. CRACK! Suara pukulan.


Aku benar-benar terkejut dengan keberadaan Altares yang mendadak menghilang. Lalu terlihat tengkorak manusia utuh yang mengeluarkan aura biru diseluruh tubuhnya sedang berdiri dihadapanku, menggantikan tempat Altares sebelumnya.


Entah kenapa tulang ini rasanya keras sekali seperti permata, aku bisa merasakan ada pembengkakan di bagian depan kepalan tanganku.


"Anak ini cukup tidak sabaran......" Ucap Altares kecil sambil melihat Warlen.


"Perfect Vision!" Ucapku dan kemudian bersiap untuk serangan balasan darinya. Aku menggunakan kekuatan mataku yang sudah berkembang, lalu "Eagle's Eye!" Ucapku.


^^^Eagle's Eye adalah fase kedua dari Perfect Vision. Jarak pandang bertambah sejauh satu kilometer.^^^


Tapi ternyata dia berada cukup jauh dari tempatku berdiri sambil membawa Orland disampingnya, mungkin sekitar delapan ratus meter dari tempatku berdiri sekarang.


"Time Dilation!" Ucapku yang kemudian melesat kearah Altares, namun hasilnya tetap sama dia bertukar tempat dengan tengkoraknya lagi.


Kemudian kabut tebal menyelimuti reruntuhan ini, semua pandanganku terhalangi oleh kabut sampai-sampai jarak pandangku hanya sekitar satu setengah meter.


'Bahkan Eagle's Eye juga terhalangi?! Sialan! Apa yang harus kulakukan!?' Ucap benakku sambil mencari keberadaannya.


Tiba-tiba Aku mendengar suara Altares dari balik kabut tebal itu. "Bone's Army". Kemudian, "Cobalah untuk tidak mati.." Ucapnya lalu menghilang dan kabut tebal itu juga turut menghilang sedikit demi sedikit.


"Kembalikan ORLAND!!!!" Teriakku sekuat tenaga, kemudian mendadak aku mendengar suara besi yang ramai-ramai sedang terseret di lantai bebatuan ini. Cting! Tring! Cting!


Aku sangat terkejut seusai melihat sekitarku, banyak sekali tengkorak-tengkorak hidup bertulang biru, bersenjatakan pedang dan busur sudah berada disekitarku kemudian mengepungku ditengah-tengah mereka.


'Ini buruk! Andai saja aku membawa Valkyrie! Tanganku juga sudah mati rasa!' Ucap benakku sambil memperhatikan sekelilingku.


Terlihat Altares dan Orland sudah berada dipuncak batu sambil menatap Warlen. "Kau masih terlalu naif. Tak ada sesuatu yang bisa kau capai, jika kau terus bergantung pada orang lain. Angkat tanganmu gunakan tinjumu, Warlen." Gumam Altares.


Beberapa saat kemudian. . .


Nampak Orland sudah sadar dari kelelahannya dan duduk disebelah Altares sambil melihat Warlen, kemudian berkata. "Maaf.. Aku merepotkan dirimu." Ucapnya.


"Apa ada alasan lain bagimu?" Tanya Altares yang membaca bukunya sambil melirik curiga ke Orland.


Mendengarnya Orland menduga Altares sudah mengetahui berita tentang adanya pahlawan kesepuluh dan menjawab. "Sudah kuduga! Seorang Necromancer seperti dirimu memiliki informasi yang sangat luas."


Terlihat Warlen masih berusaha menghindar dari serangan brutal tengkorak-tengkorak itu.


"Dia adalah anak dari Amber Lilith." Lanjut Orland yang tersenyum lebar sambil menatap kearah Warlen.


Terlihat ekspresi wajah Altares sedikit terkejut mendengarnya dan kemudian terdiam sambil menatap kearah Warlen.


"Sepertinya kau mulai menikmati ini ya, Altares Larden" Ucap Orland yang melirik kearah Altares sambil tersenyum kecil.


'Marie, sebentar lagi.. Kuharap ini berhasil..' Ucap hati Altares sambil memperhatikan Warlen yang sedang menghajar tengkorak itu satu demi satu dengan tinjunya.


END. .


_______________________________________


Pesan Penullis :


Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.


Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2