Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 47 : Kematian Cursed Hero Pertama


__ADS_3

Jorgan nampaknya tidak terlihat tertekan ketika menghalau serangan demi serangan yang terus menerus dilepaskan Helena, Mopelina dan juga Audelia.


Walaupun didalam benak Jorgan, dirinya memiliki perasaan yang benar-benar bertolak belakang, dia tak ingin menyerang mereka ataupun membunuh mereka semua.


Akan tetapi takdir berkata lain, dirinya ditugaskan oleh Pimpinan Tartarus tertinggi yang tak lain adalah Lucifer, misi utamanya ialah menghabisi seluruh orang yang berdekatan dengan Warlen.


Jorgan diberikan janji oleh Lucifer jika ini adalah tugas terakhirnya sebelum membangkitkan Althea melalui Bola Jiwa yang sudah Daren diberikan padanya.


Lucifer sempat berucap jika hanya dirinya atau seorang iblis asli tingkat tinggi yang mampu mengeluarkan seluruh potensi didalam Bola Jiwa tersebut hingga kemampuan maksimalnya.


Tak tanggung-tanggung Jorgan nampak terus menghindar kesana kemari ketika dihujani panah oleh Mopelina dan Helena, rentetan anak panah itu terus meledak-ledak disebelah kiri dan kanan dirinya.


Hujan anak panah itu benar-benar seperti sekumpulan granat yang turun dari langit, sebab anak panah petir milik Mopelina yang bercampur dengan anak panah api milik Helena menyebabkan ledakan dahsyat disekitar Jorgan.


Audelia yang merasa Jorgan sedang kesulitan untuk menghindari ledakan itu dengan cepat menemukan celah dan menyerangnya bertubi-tubi dengan lincah.


Jorgan masih terus menerus menahan kekuatan penuhnya, membuatnya sangat kesulitan untuk menahan serangan mereka secara bersamaan.


Dalam hatinya dia terus bertanya-tanya pada mendiang istrinya, meragukan perbuatan dan pilihannya serta kejahatan yang sudah dia lakukan selama ini.


Walaupun wajahnya menunjukkan senyum kejahatan dan mulutnya yang mengeluarkan kata-kata pedas. Dia masih memiliki perasaan kasih sayang pada keturunannya dan mahluk yang tertindas oleh Lucifer.


Pada saat ini ketiga gadis berpenampilan remaja itu sedang bertarung melawan seorang pria yang sendirian berbekal sebuah tombak panjang menghadapi mereka semua, pria itu bernama Jorgan Vinziala Eirini.


Dengan tombaknya yang keras terbentuk dari berlian putih, dia menerjang kearah ketiga wanita itu bersamaan. Dengan kecepatan pergerakan tombaknya, dia mulai mengahantam mereka semua satu persatu sambil berucap. "Oxiomus."


Oxiomus


Jurus andalan milik Jorgan dengan membuat sebuah putaran angin bertekanan tinggi, sekaligus membawa serpihan tajam berlian berukuran kecil difokuskan pada ujung sampai pangkal tombak. Dia menggunakannya dengan cara dilempar seperti lembing ataupun menendangnya. Daya serangnya dapat menembus bebatuan keras sampai puluhan kilometer.


Beruntung ketiganya sanggup menandingi kecepatan serangan dahsyat itu. Mereka semua menghindari Oxiomus Jorgan yang kemudian tombaknya melesat dan menghantam seluruh mayat prajurit Kerajaan Zealos sampai hancur berkeping-keping.


Tak berhenti sampai situ, Jorgan yang geram melesat sambil menyerang ketiganya dengan keahlian beladiri dan juga sebuah tombak lain ditangan kanannya.


Jorgan melancarkan tinju keras pada tubuh Helena yang berada tepat dihadapannya, mengarahkan kakinya kebelakang menendang Mopelina, dan menghunuskan ujung tombaknya tepat dileher Audelia.


Helena nampak berhasil menangkis serangan kuat itu dengan membiarkan tinju Jorgan masuk ketengah-tengah busurnya, dan kemudian memutarnya mengarahkan pukulan itu kearah kosong.


Mopelina menghindar dengan kecepatan tinggi mundur sejauh beberapa puluh langkah kebelakang seraya menembakkan anak panah petirnya yang membuat Jorgan terluka pada bagian mata kirinya.


Serta Audelia yang memutar tubuhnya bersamaan dengan tombak Jorgan yang dipeluk oleh cakar tajamnya, membuat Jorgan terbanting berputar ketanah dengan sangat keras.


BUM!


Emosi Jorgan semakin meninggi karena merasa diremehkan dengan kepercayaan diri musuhnya, dirinya pun langsung menaikkan tensi tekanan kekuatan miliknya seraya mempercepat pergerakannya.


Namun sekali lagi mereka bertiga berhasil menyulitkan Jorgan dengan cerdiknya.


Helena kembali menangkis serangan Jorgan dan memutar tubuhnya bersamaan dengan tali busurnya yang tersangkut dileher Jorgan, membuat Jorgan kembali terbanting ketanah.


BUM!


Mopelina menggunakan segel khusus agar Jorgan tak bisa memakai element miliknya, sekaligus menembakkan panah petir kearah Jorgan dan berhasil melukai tangan kanannya.


Audelia yang menggunakan tombak Jorgan, menusuk bagian pergelangan kaki kanan Jorgan hingga menembus kedalam tanah. Tak berhenti sampai situ Audelia juga bersiap menggunakan cakar tajamnya untuk menyerang pergelangan kaki kiri Jorgan.


"Hundo." Ucapnya yang seraya berpindah tempat kearah belakang Audelia dalam sekejap tombak yang menancap dikakinya juga tiba-tiba saja menghilang.


Situasi memburuk karena cakar tajam dari gadis serigala itu sedang menancap ditanah tempat Jorgan terbaring sebelumnya, serta saat ini Jorgan sedang berada tepat dibelakang Audelia bersiap untuk menyerangnya.


Beruntung Helena dengan cepat langsung membalikkan badannya, menarik tali busurnya, membuat anak panah yang terbentuk dari api yang diperbesar dengan angin dan kemudian menembaknya kearah Jorgan.


Tak selesai sampai sana Mopelina juga ikut menembak panah petir miliknya kearah Jorgan dengan kecepatan yang sama seperti Helena.


"Hundo!" Ucap Jorgan sekali lagi yang berpindah tempat tepat dibelakang Helena. Tak kalah cepat dengan perpindahan Jorgan, gadis serigala itu melesat kearah Jorgan seusai melepas cakarnya itu.


Audelia hampir berhasil mengenai tubuh Jorgan dengan cakarnya, namun sesaat sebelum gadis serigala itu menyentuh Jorgan, tiba-tiba saja dia menggunakan sihir Dragon's Armor miliknya yang membuat tubuhnya mengenakan zirah hitam sekeras berlian.


Siapa sangka cakar milik Audelia ternyata mampu menembus pertahanan Jorgan walaupun hanya meninggalkan bekas goresan yang cukup dalam di baju zirahnya.


Jorgan terlihat sedikit terkejut dengan ketajaman dan kekerasan dari cakar gadis serigala itu yang mampu menembus pertahanan terkuatnya.


Seketika itu juga Jorgan langsung mencari celah untuk menyerang dan kemudian menemukan bagian perut Audelia yang sedang tak terlindungi, sekaligus juga dengan Helena pada bagian kakinya.


Tak ingin kehilangan kesempatan, dengan cepat Jorgan menarik tombak miliknya dari dalam sakunya. Dia menyerang Audelia dengan bagian terbawah tombaknya dan juga Helena dengan bagian teratasnya.


Namun sekali lagi serangan Jorgan kembali dihalau oleh Mopelina, terlihat ada anak panah petir yang sudah melesat dari kejauhan melaju dengan tepat mengarah tubuh musuhnya.


Nampak dengan jelas serangan Mopelina berhasil menghantam baju zirah hitam yang melindungi tubuh Jorgan dengan sangat kuat, bahkan sampai-sampai membuat Jorgan terdorong terhempas sejauh beberapa puluh meter.


Ketiga gadis itu nampaknya menyadari sebuah celah untuk mengakhiri hidup Jorgan dengan sekali serang, mulai menggunakan teknik serangan terkuat yang mereka miliki.


Helena menggunakan mantra sihir yang bertujuan untuk menggabungkan separuh kekuatan Dewi Artemis pada serangannya, dirinya menamainya Fiery Arrow of Artemis.


Nampak terlihat ada seberkas sinar api hijau yang terlapisi oleh putaran angin kecil bertekanan tinggi, tepat pada bagian tajam mata anak panahnya.


Kini daya serang dari Helena meningkat signifikan, busurnya yang dulu hanyalah sebuah replika tak lengkap senjata suci, namun saat ini berkat busurnya yang baru, dirinya mampu mengeluarkan potensi serangannya sampai maksimal.

__ADS_1


Senjata Suci milik Audelia bernama Fenrir's Fang, sebuah rapier yang dapat berubah bentuk menjadi cakar panjang dan tajam ketika seluruh inti sihir pemakainya dipusatkan kedalam materinya.


Audelia menamainya perubahan senjatanya itu dengan nama Purple Holy Claw of Fenrir, walaupun saat ini dirinya mempunyai kekuatan yang luar biasa.


Namun dikarenakan dirinya dulu sama sekali tidak pernah memiliki kekuatan besar, bisa dikatakan kemampuannya tidak sebanding dengan kekuatannya sebab kurangnya pengalaman.


Mopelina memiliki Lightning Arrow of Death, sebuah anak panah yang terbentuk dari petir, bersamaan dengan senjata busur hitam panjang miliknya yang terbuat dari inti sihirnya.


Mopelina memiliki kekuatan yang sangat unik, dia dapat menyegel kemampuan elemen milik orang lain secara permanen, semua itu berkat kekuatan garis keturunan keluarganya.


Namun sayang, Mopelina hanya mampu menggunakan kekuatan uniknya itu sebanyak satu kali seumur hidupnya, sebab dirinya adalah keturunan terakhir dari keluarganya.


Pada saat ini kemampuan Mopelina sudah tak dapat digunakan lagi, sebab dirinya sudah menyegel kekuatan Elemen Jorgan saat menyelamatkan Audelia, dan Helena.


Nampak dari kejauhan Jorgan menghantamkan dan menguburkan kakinya ketanah, demi untuk menahan tubuhnya yang terdorong kebelakang oleh serangan Mopelina.


Disisi lain, Audelia terlihat sudah lebih dulu selesai mempersiapkan dirinya dan juga senjatanya, gadis itu langsung melesat kearah Jorgan dengan kecepatan tinggi.


Jorgan yang baru saja berhasil menahan dorongan anak panah itu tiba-tiba saja dikejutkan dengan datangnya serangan Audelia yang mengarah langsung kelehernya.


Akan tetapi Audelia yang masih kurang dalam pengalaman bertempurnya mendapat masalah, beban ditubuhnya sudah tak mampu bertoleransi dengan kekuatan besar miliknya.


Beruntung serangan mendadak Audelia tidak meleset jauh dari target area utamanya, dirinya yang tidak ingin kehilangan kesempatan langsung menarik diri seusainya mencakar dan mengoyak baju zirah Jorgan tepat pada bagian dadanya.


'Apa ini? Aku tak dapat menggunakan kekuatanku?' Besit tanya Jorgan dalam hatinya sambil melirik-lirik kearah musuhnya, matanya nampak terkejut saat menatap Helena yang sudah membidiknya.


Jorgan juga sempat menyadari orang yang sudah menyegel kekuatan bawaannya adalah Mopelina, akan tetapi tak ada lagi waktu baginya untuk berpikir sebab dirinya sadar jika Helena sudah bersiap menembaknya.


Terlihat dari kejauhan, Helena sudah membidik dan menargetkan target serangannya pada bagian dada Jorgan yang sudah tidak tertutupi baju zirahnya itu.


Helena menembakan serangan terkuatnya bersamaan dengan ucapan mantra khasnya Arrow of Artemis, namun kali ini penampilan anak panah itu sedikit berbeda.


Terlihat jelas sekali ada sebuah pusaran angin topan yang mengekor pada anak panah Helena ketika dilepaskan, bersamaan dengan itu juga seluruh pepohonan disekitarnya-pun ikut berayun-ayun tertiup.


Nampak serangan Helena seakan tertahan tepat pada bagian dada Jorgan, namun terlihat juga anak panah itu terus-menerus berputar dikulit targetnya dengan kecepatan tinggi bersamaan dengan api hijau yang mulai menyala.


Mopelina menyadari bahwa kekuatan petir dan api akan menghasilkan ledakan yang dahsyat saat bersatu mulai melepaskan panah petir miliknya dengan sisa kekuatannya.


Anak panah petir milik Mopelina-pun dilepaskan, terlihat jelas kecepatan serangannya bagaikan petir yang menyambar dengan cepat.


Dapat terlihat dengan sangat jelas, Jorgan tersenyum pilu ketika dirinya melihat kearah ketiga wajah dari gadis-gadis itu ,dan kemudian menutup matanya bersamaan dengan air matanya yang mengalir.


BLAAAAAAAAAR!!


Seiring dengan munculnya suara dari ledakan itu, membuat tempat itu bergetar diikuti angin yang berhembus amat kencang, bahkan seluruh pepohonan berakar besar juga berterbangan terhempas keudara sampai terlempar ketempat yang jauh.


Dari sisi sebelah kiri muncul dua orang wanita yang sangat cantik dan salah satu dari mereka mengenakan mahkota perak mirip sepasang sayap menghiasi kepalanya yang membuat rambut putihnya terlihat semakin cantik. Dia berdampingan bersama seorang wanita cantik berbando hitam terpasang menghiasi rambut birunya dan memakai kimono ala jepang bercorak indah.


Dari sisi sebelah kanan muncul dua orang pria dengan ciri khas yang sangat berbeda. Pria yang satu berasal dari ras serigala dan yang kedua berasal dari ras manusia.


Raut wajah mereka tercengang memandang kesegala sudut yang ada ditempat ini, seluruh pepohonan menghilang, tak adalagi tempat berteduh ataupun mahluk hidup yang tertinggal diseluruh tempat ini.


Sekarang yang tertangkap jelas dipandangan mereka semua bukanlah sebuah hutan belantara nan hijau melainkan kawah besar nan luas.


Bersamaan dengan hadirnya asap putih tebal ditengah-tengah kawah itu yang sedang menyelimuti tubuh dari sang Cursed Hero, Jorgan Vinziala Eirini.


•••


Nampak saat ini Jorgan terluka parah. Bagian bawah tubuhnya terkoyak, tangan kanan dan kirinya hilang, mulutnya mengeluarkan darah, dan kedua matanya yang saat ini tak bisa melihat lagi.


Namun disisi lain dia merasa bersyukur karena dirinya tak mengeluarkan seluruh kekuatan miliknya, dia hanya tak ingin Lucifer tahu kalau dirinya memang berusaha untuk mati.


Lucifer selalu memperhatikan pertarungannya dari balik Tartarus, sebab itu dia harus merasa marah dan memiliki hawa membunuh, akan tetapi itu semua hanyalah kepalsuan hatinya saja.


Semua itu dia lakukan agar Lucifer tak curiga kalau dirinya sudah bertemu dengan Warlen, Zarin dan juga Marie sebelum menuju ketempat ini. Dia memberikan Diamond's Eye miliknya dan Bola Jiwanya pada Warlen.


Dia sudah menyadari kesalahannya, pilihannya yang selama ini berjalan dijalan kegelapan dan dirinya yang sudah menyesal saat mengkhianati perasaannya selama ini.


Dia tak menyalahkan orang lain melainkan dirinya, Dia tak mengutuk orang lain namun dirinya sendiri.


Namun tiba-tiba saja ada suara seseorang dari dalam pikirannya. Dia benar-benar kenal dengan suara ini sekaligus mengetahui kalau suara itu bukan suara Lucifer.


Tiba-tina saja muncul sebuah bebatuan berwarna emas disekitarnya yang semakin menutupi dirinya, Jorgan tahu betul bahwa ini adalah akhir hidupnya.


Terdengar sebuah ucapan terakhir milik Pria yang sebenarnya mempunyai perasaan penuh kasih sayang. Pria yang mencintai istrinya sekaligus keluarganya sampai akhir hayatnya dan juga seorang pria yang sangat lembut kepada orang-orang disekitarnya saat dirinya menjadi pahlawan pertama.


...Jorgan Vinziala Eirini...


...•••...


...The First Heroes of Elzia...


...The Strongest One...



...Pict From Pinterest...

__ADS_1


...Art By : @Ares_9979...


...Genshin Impact Zhongli...


"Maaf...kan.. Aku.. Althea.. Putriku.. Gisella.. dan.. teman.. temanku.. saat.. ini.. aku.. akan.... pergi.. ke ner...a----------." Jorgan yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya, kini menghembuskan nafas terakhirnya.


Dia meninggal dalam keadaan yang sendirian, kesepian, bahkan tak ada yang menangisinya, beban yang sudah mengakar pada dirinya selama ratusan tahun, kini telah sirna.


Dia terbebas dari rasa bersalah yang selama ini menghantuinya, dia mati dengan perasaan yang lega diiringi dengan tetesan air mata dan senyum diwajahnya yang menyertai kepergian sang pahlawan pertama benua elzia, Jorgan Vinziala Eirini.


Namanya kini akan terus terukir sebagai Cursed Hero terkuat sekaligus Pahlawan Pertama yang sudah membawa Kejayaan Benua Elzia saat dirinya masih menjadi orang yang lembut.


Akan tetapi batu emas itu terus mengelilingi jasadnya yang saat ini sudah tak bernyawa itu, seakan dikendalikan oleh seseorang yang bersemayan ditubuhnya.


•••


"Apakah kalian yang melakukan ini?" Ucap Freya yang bertanya-tanya heran akan kehadiran kawah lapang ditengah-tengah tempat yang sebelumnya adalah hutan rindung.


Dapat dilihat anggukan kepala pertama dimulai dari wanita berambut hitam ponytail bersama dengan anggukan kedua yang datang dari wanita berambut oranye dan anggukan kepala yang terakhir diakhiri oleh wanita berambut putih, ketiganya bermaksud untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Freya sembari menatap kearah asap putih dengan posisi yang bersiap siaga.


Tak disangka-sangka terdengar suara raungan yang mengerikan bahkan sampai membuat mata dan tubuh mereka semua tertegun merinding memandang kearah asap putih itu bersamaan.


Mata mereka terus berkeliling mencari-cari hawa keberadaan dari suara mahluk buas yang baru saja meraung keras dari balik bayangan asap ditengah kawah itu.


Kabut itu semakin menipis dan mulai menghilang karena tertiup angin seiringan dengan tampilan sesosok mahluk yang sedang mereka cari, namun seketika itu juga.


Jantung mereka semua berdetak semakin cepat diiringi keringat yang mulai membasahi wajah, dan hati mereka belum siap untuk mempercayai pandangan yang sedang diperlihatkan oleh indra pengelihatnya.


Mereka semua terkejut dengan rasa takut yang teramat sangat hingga membuat mereka semua terdiam tanpa mengeluarkan suara.


"Aku tak percaya.. Ini pertama kalinya bagiku untuk melihatnya dalam keadaan utuh dan masih hidup. Dewa mana yang lebih kuat. Aku penasaran." Ucap Azgul dengan suasana batin yang takut sekaligus bersemangat dan bercampur menjadi satu. Dia berencana untuk bertanding dengan Jorgan dalam wujud Dewa Fenrir miliknya.


"Ya.. Dari yang kudengar dulu hal itu sudah dikalahkan oleh Hans De Brofed." Freya benar-benar mengetahui kenyataan tentang orang yang sudah pernah bertarung dengan kakeknya sekaligus membunuh peliharaannya. Namun saat ini dirinya tak bisa berkata banyak melihat kenyataan yang dihadapinya.


'Aku tak yakin kita semua bisa menang melawan dirinya, bahkan kami yang seorang Dewa ataupun Malaikat akan sangat sulit menandinginya.' Valkyrie menegur Freya dengan perasaan yang sangat cemas. Dia sendiri bahkan tak yakin akan menang melawan Jorgan setelah mengetahui kenyataan tak terduga ini.


'Tenanglah kita menang dalam jumlah.' Freya membalas Valkyrie bermaksud untuk menenangkannya, namun Valkyrie mengetahui perasaan Freya yang terkubur ditempat terdalam hatinya. Freya merasakan takut yang luar biasa.


"Tuan Putri Helena.. Bisakah aku pinjam kekuatanmu?" Tanya Jendral Mopelina dengan tatapan kuat, namun busur ditangannya bergetar melukiskan perasaan takutnya.


"Ya.." Helena menyadari rasa takut dari Jendral Mopelina, karena dia juga merasakan perasaan yang sama dengannya. Dia sadar tak mungkin tak takut jika berhadapan dengan mahluk yang berada didepan mereka.


"Jadi.. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Audelia dengan perasaan yang berharap-harap cemas, mengetahui kalau musuhnya bukanlah orang sembarangan yang bisa dikalahkan dengan cara bekerja sama.


"Tuan Putri Audelia, apakah anda bisa menuliskan sebuah pesan?" Tanya Mopelina seraya memberikan secarik kertas dan berbisik ketelinga Audelia lalu setelahnya selesai menulis, Mopelina mengikatkan pesan itu pada anak panahnya.


Jendral Mopelina meminta Helena untuk meminjamkan kekuatan Eagle's Eye pada dirinya dengan cara menyentuh pundaknya, diikuti perubahan pandangan mata milik Mopelina yang semakin memerah.


"Blood's.. Moon.. Eyes." Mopelina mengucapnya dengan perlahan diikuti sebuah nada yang lembut.


Dia tahu betul jika sihir matanya terpakai maka dia akan menjadi buta, namun karena tak punya pilihan lain dirinya merasa harus mengambil resiko tersebut.


Kedua matanya berdenyut diikuti dengan rasa sakit yang luar biasa seakan mau pecah, akan tetapi dia tetap memaksakan dirinya. Dia menambah jarak pandangnya sejauh ratusan kilometer bahkan ribuan kilometer.


"Ma-Ma-Matamu!? Matamu bedarah!!" Tegur Lark yang terkejut panik melihat mata dari rekannya itu mengeluarkan darah membasahi pipi hingga dagunya diikuti dengan tetesan darah yang mulai terjatuh ketanah.


Lark sangatlah khawatir namun tak bisa melarang Mopelina dengan keputusannya, dirinya-pun juha ikut memberikan salah satu mantra penguat otot miliknya pada Mopelina.


"Maafkan aku yang tak bisa berbuat banyak, Jendral Mopelina. Tapi setidaknya ini akan mengurangi rasa sakitmu." Gerina menyadari rekannya saat ini sedang mengarahkan anak panahnya ke Kerajaan Grizel.


Gerina turut ikut membantunya dengan mantra sihir penyembuh tingkat tinggi, menyerupai air yang kemudian melapisi mata Mopelina seraya mengurangi rasa sakitnya dan menjernihkan pengelihatannya.


"Baiklah.. Terima kasih, Blood's.. Moon.. Arrow.. of.. Amaterasu.." Sekali lagi Mopelina mengucapnya dengan nada lembut dan perlahan-lahan, kali ini dia benar-benar sadar tangannya tak akan bisa digunakan lagi setelah melepas tembakannya.


Jika dilihat dari dekat anak panah Mopelina akan terlihat seperti darah, namun jika dilihat dari kejauhan maka akan seperti sebuah bintang merah berekor yang sedang jatuh kebumi.


Mopelina melepaskan tembakan anak panahnya dan kemudian melesat tinggi menuju kearah Kerajaan Grizel dengan kecepatan tinggi.


Seusai dirinya melepas tembakannya, dia langsung terjatuh tak sadarkan diri dengan mata tertutup yang mengeluarkan darah, bersamaan dengan dirinya yang tak lagi bisa merasakan keberadaan kedua tangannya.


Terlihat dari kejauhan Audelia, Helena, Lark, dan Gerina sudah menahan tubuh Mopelina yang tak sadarkan diri itu agar tak jatuh membentur tanah.


Disisi lain Azgul dan Freya sedang menatap waspada kearah musuh yang ada dihadapan mereka.


Nampak terlihat jasad dari tubuh Jorgan tak banyak berubah, namun kini dirinya bukanlah Jorgan yang kita kenal. Melainkan seekor naga peliharaannya yang selalu dia simpan didalam tubuhnya selama ratusan tahun, Azgav.


"Terima kasih pada kalian bertiga yang sudah membunuhnya, aku sangat kesulitan sejak dia menahan kekuatanku. Satu hal lagi! Maaf saja.. tapi aku tak akan menahan diri seperti si brengsek itu. Aku Azgav! Raja naga pertama Benua Elzia! BERSIAPLAH MENJADI MAKANAN PERTAMAKU SEJAK RATUSAN TAHUN YANG LALU!"


...Azgav The First Dragon King...



...Pict From Pinterest...


...___________________________________...


Pesan Penulis : Update akan dipercepat kembali. Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2