
...Padang Gurun Pasir...
Bulan menyinari permukaan Padang Gurun Kota Larden, udara terasa sangat dingin saat malam hari. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disini, yang terlihat hanyalah beberapa pohon kaktus yang berwarna hijau.
Terlihat Warlen yang baru saja keluar dari Kota bawah tanah, dia memakai pakaian yang cukup minim, dibagian atas dia memakai baju hitam lengan pendek yang tidak menutupi bagian perutnya, dan celana pendek kuning selutut.
•Warlen/Kentaro POV
Ternyata suhu udara diluar ini benar-bear dingin, kurasa karena bebatuan dan pasir-pasir lebih cepat menyerap suhu panas pada siang hari dan lebih cepat melepaskan suhu dingin pada malam hari.
Aku malah keluar menggunakan pakaian yang minim, hm... sepertinya aku harus menggunakan 'Inti Sihir' milikku untuk melapisi kulit-kulitku dari suhu dingin ini.
Orland sempat mengajari dasarnya padaku, kalau tidak salah, salah satu cara mengendalikan aliran sihir hanya cukup dengan membayangkannya saja.
Akupun membayangkan cara untuk menggunakan inti sihir milikku dengan melapisinya ke seluruh permukaan tubuhku.
"Loh.. kenapa aku malah merasa udaranya semakin dingin ya?" Ucapku yang heran, kemudian aku melihat tubuhku sudah basah kuyup seperti kehujanan.
Sepertinya aku akan kembali kedalam kota untuk membeli beberapa baju. Sebaiknya aku tidak usah bertingkah sok keren, ditambah lagi rambut dan kepalaku benar-benar basah.
Terlihat Warlen berjalan memasuki kota untuk membeli beberapa baju.
Beberapa saat kemudian. . .
Terlihat Warlen sudah kembali kepermukaan dengan mengenakan baju kaos berwarna putih polos dan celana panjang berwarna hitam, bersamaan dengan jubah berwarna coklat tua yang menutupi seluruh tubuhnya, dan sebuah topi ushanka berwarna coklat.
Sepertinya Warlen sedang kesal, bisa terlihat dari ekspresi wajahnya, yang kemudian menyipitkan matanya serta bergumam akan sesuatu, dia juga menginjak-injak pasir yang diinjaknya berkali-kali dengan sepatu boots bergespernya.
Kenapa aku berpakaian seperti orang-orang pada musim dingin? Aku mengambil topi yang sedang kukenakan dikepalaku, aku menyesal benar-benar menyesal.
"Kenapa juga aku harus membeli TOPI INI!" kataku kesal sambi melempar topi itu ke padang pasir, kemudian menghilang ditelan pasir.
Aku benar-benar dibodohi oleh ibu-ibu penjual pakaian itu, total seluruh pakaianku senilai satu keping koin emas, ditambah lagi saat ini sisa koinku hanya dua keping koin emas saja.
"KENAPA PAKAIAN INI MAHAL SEKALI!?" Teriakku kesal.
Sesaat setelah aku berteriak, aku baru mengingat kalau topi yang kubuang itu bisa berguna saat siang hari.
"Ah.. baiklah.. Kusarankan kalian tidak termakan omongan ibu-ibu saat berbelanja." Saranku pada kalian yang membaca ini.
Tiba-tiba saja ada yang mengguncang pasir yang kuinjaki.
'Jangan bilang!?' Pikirku yang baru saja menambah koleksi trauma baruku selama latihan, dan benar.
Baru saja aku memikirkan hal itu, dan sekarang tepat dihadapanku, aku melihat sekumpulan kelajengking raksaksa yang mulai bermunculan dari balik pasir-pasir itu.
"APAKAH KAU GILA!? MEREKA TIDAK TIDUR YA!?" Teriakku sambil berlari kearah selatan, tempat Altares tinggal.
Aku berlari sekuat tenaga dengan kecepatan penuh menjauhi mereka, kemudian "Iron Body" Ucapku untuk menambah kecepatan lariku.
"APAKAH AKU HARUS BERLARI SAMPAI RERUNTUHAN KOTA LARDEN!? JARAKNYA KAN SEKITAR 20 KM! ARGH! SUDAHLAH LARI SAJA!" Teriakku yang depresi.
Lagipula memukulnya akan percuma cangkangnya lebih keras dari pasukan tulang milik Altares, tidak mungkin aku bisa menembusnya.
Malam itu diwarnai dengan teriakan seorang pahlawan yang berlari-lari dari kejaran trauma barunya, saya sebagai penulis sungguh bersimpati.
...Kamar Freya...
Terlihat Freya sedang duduk ditepi kasur kayunya bersebelahan dengan Valkyrie, Orland dan Garm juga duduk ditempat tidur satunya milik Valkyrie.
•Freya
"Apa yang kalian lihat?" Tanyaku dengan nada tegas, kuperhatikan dari tadi mereka berdua selalu menatapku.
•Garm
"Aku hanya ingin kau jujur~" Balasku dengan nada menggoda, sambil berpikir 'Sepertinya cukup sulit mengajaknya berbicara seperti ini.'
•Orland
"Sebaiknya cepat beritahu kami, Freya." Balasku yang berharap Freya mengerti maksud kami.
•Valkyrie
"I-I-itu..." Aku terlalu takut untuk mengatakannya.... huft~ menghela nafas.
•Freya
Nampaknya aku mengerti maksud mereka untuk berkumpul dikamarku. "Tunggu! Kalian semua salah paham."
•Garm
"Akui saja, Freya. Lirikan matanya sama dengan milik Alexander bukan?" Celotehku ke Freya sambil tersenyum menduga-duga.
__ADS_1
•Freya
"Kalau memang matanya sama dengan Alexander, lalu kenapa?" Aku menatap Garm dengan tajam.
•Orland
"Baiklah. Aku tidak akan berlama-lama disini, semoga berhasil.. no-na ma-lai-kat." Ucapku sambil berkedip kearah Valkyrie.
'Masalah antar wanita ya.. Sebaiknya aku pergi.' Pikirku sambil berjalan keluar dari kamar Freya.
•Freya
"Baiklah biar aku luruskan semua ini." Kemudian.
"Pertama, aku hanya ingin melihat jalan yang akan ditempuhnya."
"Kedua, aku hanya ingin percaya dengan keputusan Alexander.
"Terakhir, aku hanya ingin melihat sejauh mana tekadnya itu." Jelasku pada mereka bertiga.
Sepertinya Garm tidak mempercayai kata-kataku, dia malah tersenyum mengejekku.
•Garm
"Lalu?" Tanyaku dengan rasa ingin tahu.
•Freya
"itu sudah semuanya" Jawabku tegas.
•Valkyrie
"A-Apa-Apakah nona Fre-Freya menyukai Wa-Warlen..?" Tanyaku gugup sambil memikirkan suara hatiku yang panik.
'Aku mengatakannya, aku mengatakannya!'
Aku melihat Garm dengan santainya bersiul mendengar pertanyaanku sambil berpikir sesuatu dan tersenyum.
...•••...
•Freya
"Berhentilah menduga yang tidak-tidak!" Balasku marah.
Aku melihat Valkyrie bangun dari tempat tidurnya, dan membungkuk kearahku seakan meminta maaf, lalu meninggalkan aku dan Garm.
Aku juga melihat Garm yang terkejut melihat itu, namun sepertinya dia mengerti sikap Valkyrie, dan membiarkannya untuk menyendiri.
Beberapa saat kemudian. . .
Aku menatap Garm dengan penuh amarah.
"Kau sudah keterlaluan, Garm!" Tegurku sambil memukul tempat tidurku, BRUGH!
...•••...
•Garm
"Yah... Maafkan aku. Mungkin aku keterlaluan padamu, namun ini yang terbaik untuknya."
"Dia merasa kalau Warlen menyukaimu, oleh karena itu aku dan Orland berencana untuk meluruskan perasaanya."
"Tapi tidak menutup kemungkinan jika Warlen menyukaimu. Yah... Aku berkata seperti ini, karena tidak ada yang ingin kukatakan lagi."
...•••...
•Freya
"Jangan bercanda padaku, Garm! Aku tidak akan segan-segan memotong kepalanya. Meskipun Warlen mengatakan perasaanya dihadapanku!" Balasku.
•Garm
"Memperhatikannya secara diam-diam saat berkelahi dengan Orland, menolongnya, memberikan perawatan sebisamu, memesan ruang tidur dengan dua ranjang."
"Seorang Ratu yang bersedia tinggal di bawah tanah Kota Larden dan aku bisa melihat wajah terkejutmu kemarin saat dia berkata 'itu benar-benar menyadarkan diriku! ' "
"Yah.... Saat ini itu hanya rasa berasalahmu saja. Pemikiranmu yang keras kepala pasti akan terus menolaknya."
Lagipula dia baru saja kehilangan Alexander. Dirinya memang merasa kehilangan, namun bagaimana jika ada Alexander yang lain?
...•••...
•Freya
__ADS_1
"KAU!? KELUAR! AKU BENAR-BENAR TIDAK MENGERTI APA YANG ADA DIOTAKMU!"
•Garm
"Jangan remehkan mantan anggota Helbinez~"
Beberapa saat kemudian. . .
Terlihat Freya berbaring dikamarnya dengan menyentuh kepalanya sambil bekata dengan dirinya sendiri.
"Kepalaku sakit. Lebih baik aku tidur saja." Ucap Freya yang kemudian menutup matanya.
...Padang Gurun Pasir...
Terlihat Valkyrie keluar kepermukaan sambil menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang dengan perasaan hatinya yang dipenuhi rasa lega setelah mendengar jawaban Freya.
Pada saat yang sama Orland keluar kepermukaan lengkap dengan baju prajuritnya, lalu menyapa Valkyrie dan berpamitan untuk pergi ke Lembah Logam.
Valkyrie yang tidak menegerti bertanya tentang Lembah Logam padanya, namun Orland hanya menjawab tempatnya berada di paling timur Benua Elzia, dekat dengan Kerajaan Vinziala.
Orland ingin menempa zirah besi dan senjata untuk tangan kiri Warlen, dikarenakan suatu saat nanti Valkyrie pasti menjadi senjata ditangan kanannya, dia juga berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Warlen.
Pada akhirnya Orland melambai-lambaikan tangannya pada Valkyrie, dan begitupun sebaliknya, Valkyrie kelihatannya sedikit sedih dengan kepergian Orland, namun.
"TERIMA KASIH!" Teriak Valkyrie dengan sangat keras kearah Orland.
Tiba-tiba saja pasir-pasir mulai bergucang dan kemudian banyak monster-monster kelajengking yang bermunculan akibat suara teriakan Valkyrie.
•Orland
'Yang benar saja........' Ucap hatinya melihat kumpulan monster yang muncul kepermukaan.
Valkyrie yang terkejut tanpa tau apa yang terjadi dengan cepat masuk kembali ke Kota Larden, dan pada saat yang sama Orland berlari-lari kearah timur dari kejaran kelajengking, dengan tubuh pendeknya itu sekuat tenaga.
Guru dan Murid sama aja ya, saya sebagai penulis semakin prihatin..
...Padang Gurun Pasir Selatan...
Terlihat Warlen yang kelelahan sedang bersandar di bebatuan bawah bukit batu, pakaiannya sudah sangat kotor, banyak sekali butiran pasir yang menempel diwajah. Dia berhasil pergi menjauh dari kejaran monster-monster kelajengking.
•Sakamichi/Warlen
Benar-benar.. jika aku haus, walaupun aku bisa menciptakan air lalu meminumnya, itu sama sekali tidak berefek, omong-omong sudah sejauh mana aku berlari? Ah.. aku lupa mengunjungi Makam Alexander, nanti saat pulang pasti aku akan berkunjung.
Aku harus menjadi lebih kuat.. Aku mulai bangkit berdiri dan menggunakan 'Iron Body.'
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan sesosok wanita yang berambut panjang hitam.
Kulit pucat dan kupingnya runcing, kelopak matanya berwarna hitam, seperti tidak tidur berhari hari, dan yang paling mengerikan adalah pakaiannya yang hitam dengan hiasan tengkorak di leher dan lengannya.
...The Girl...
...Pict From Google...
Aku tidak merasakan tanda-tanda bahaya dari dirinya sama sekali, bahkan tekanan inti sihir miliknya juga tidak terasa, namun tetap saja aku harus waspada terhadapnya.
"Siapa kau?" Tanyaku pada dirinya dengan harapan jangan jadikan aku musuhmu..
"Ka..." Jawab gadis ini sambil melihat wajahku dengan tatapan polos.
Akupun mengikuti ucapannya.. "Ka?"
"Ka..kak.." Ucap gadis ini lagi dengan menggunakan seluruh tenaganya untuk berbicara.
Mendengarnya aku terkejut dan mungkin dia salah orang, kupikir begitu.. namun kemudian dia berusaha memanggil nama seseorang dengan terbata-bata.
"Kak..kak, Am...ber..i...bu.." Ucap gadis ini terbata-bata, kemudian pingsan dihadapanku.
Aku yang melihatnya terjatuh seperti itu langsung mencoba menolongnya. sambil berpikir didalam benakku.
'Apa yang terjadi, kenapa dia memanggil nama Ibuku, tapi dia tidak terlihat seperti manusia, ada apa ini?'
END. .
______________________________________
Pesan Penullis :
Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.
Terima Kasih
__ADS_1