Pahlawan Dunia / Heroes Of The World

Pahlawan Dunia / Heroes Of The World
BAB 49 : Sebagian Kekuatan Warlen!


__ADS_3

Sudah setengah jam berlalu sejak pertarungan kedua raja hewan buas itu yang sedang saling membunuh demi mempertaruhkan harga diri mereka masing-masing.


Diiringi dengan penampakan dari sang cahaya malam yang semakin membulat, bersama dengan kelipan sinar indah bintang yang berwarna-warni.


...•••...


...Tengah Malam....


...Pagar Gerbang Rumah Mewah Maurer....


Sementara itu, pada saat ini di Kerajaan Grizel, dapat dilihat ada seorang pria berambut hitam panjang dengan dua pedang dipinggangnya yang sedang berdiri menatap membaca sebuah kertas lusuh.


Dihadapan pria itu, terlihat seorang wanita cantik dengan rambut pirang ponytail, dia saat ini sedang menatap pria itu seraya mengangkat satu alisnya, dan bertolak pinggang dengan satu tangannya.


"Darimana kau mendapatkan ini, Jendral Jevanna?" Pria berambut panjang itu bertanya pada wanita dihadapannya, dengan tatapan yang tajam seraya mengeratkan eratan kedua jemarinya pada kertas itu.


"Yah.. Awalnya aku tak percaya pada laporan prajuritku... Intinya, aku mendapatkannya dari bintang merah berekor itu, Jendral Maurer." Balas Jevanna dengan nada ketus, sembari menatap heran Maurer yang terlihat geram.


"Baiklah.. Siapa saja dari anggota pahlawan kesepuluh yang mengetahui hal ini?" Tanya Maurer dengan lirikan matanya yang tajam kearah wanita pirang itu.


Jevanna hanya mengangkat kedua tangannya sambil menggelengkan kepala, dengan maksud bahwa belum ada yang mengetahuinya. Dia sendiri juga sedikit heran dengan pesan itu, ia bahkan belum membaca ataupun membukanya.


"Memangnya apa yang tertulis disana? Aku bahkan belum melihatnya, habisnya aku cuma membaca judul pesannya saja. Kupikir langsung saja aku berikan padamu, boleh aku lihat?" Tanya Jevanna yang penasaran sambil meminta pesan itu dengan satu tangannya.


Maurerpun memberikan pesan itu pada Jevanna, dan terlihat mimik wajahnya seusai membacanya. Dia sangat terkejut, keringatnya mulai turun dipipinya, dan matanya terbelalak seakan tak percaya dengan pesan yang dibacanya.


...•PESAN•...


...KIRIMKAN BANTUAN!!...


...KIRIMKAN BANTUAN!!...


...KIRIMKAN BANTUAN!!...


...KIRIMKAN BANTUAN!!...


...KIRIMKAN BANTUAN!!...


...NAGA!! NAGA!! NAGA!! NAGA!!...


^^^AUDELIA^^^


^^^HUTAN IVORY^^^


^^^PERTENGAHAN ZEALOS DAN DUSKFORD^^^


...•••...


"Ini gila! Tak--" Dengan cepat Maurer menutup mulut Jevanna yang terkejut. Dia tak ingin menimbulkan kegaduhan dirumahnya, dan kemudian dia memberikan tanda untuk diam dengan satu jemarinya pada wanita pirang itu.


"Aaah.. Maafkan aku.. Aku hanya tak percaya dengan isi pesan ini. Sekarang, apa yang akan kau lakukan, Maurer?" Tanya Jevanna dengan mata yang menatap tajam dan alis yang berkerut.


"Untuk sekarang, aku akan menyampaikan hal ini pada Warlen seorang. Aku tak ingin membuat teman-temannya yang lain khawatir, lagipula saat ini Yun-Yun dan Marie baru saja bertemu setelah sekian lama. Garm dan Nerine sedang bertugas untuk menjemput salah satu Jendral dari Kerajaan Griffith, dan Kerajaan Frell. Bahkan Zarin juga sedang kelelahan karena kehabisan tenaga, inti sihir milik gadis kecil itu belum stabil sepenuhnya." Jelas Maurer seraya menatap tajam kearah wanita pirang itu, seakan memintanya untuk ikut membantu.


Namun, sekali lagi Jevanna hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Dia tak bisa pergi, dikarenakan saat ini perbatasan paling selatan Kerajaan Grizel sedang terus-menerus diserang oleh iblis. Bahkan ada salah satu Jendral Iblis yang saat ini sedang menunggu diluar perbatasan, Jendral itu sedang mencari celah untuk menembus kedalam Kerajaan Grizel.


"Baiklah.. Aku mengerti." Balas Maurer yang berbalik badan, dan kemudian pergi meninggalkan Jevanna seraya melambaikan tangannya.


Dapat dilihat Jevanna membungkukkan badannya kearah punggung pria kuping lancip itu, sebagai ungkapan permintaan maaf dirinya. Dia ingin membantu, namun saat ini keadaan Kerajaan Grizel juga sedang tegang. Bahkan sekarang, Maurer juga sedang ditugaskan untuk menjaga perbatasan gerbang timur yang dingin itu.


Jevanna Indgrid adalah seorang master dari bela diri petarung tangan kosong, gaya bertarungnya juga unik, dia memiliki banyak gaya teknik beladiri yang dikombinasi. Dia juga seorang pemilik inti sihir pink tingkat 3, dan termasuk seorang pengendali api. Dirinya berada dibawah komando dari Jendral Maurer Garm Efriot, sekaligus kakak dari Dielnor Garm Efriot.


...Jevanna Indgrid...



...Pict From Google...


...Final Fantasy XIV Lyse Hext...


..._________________________________...


...•••...


Tak selang beberapa lama, Maurer saat ini sudah berada dihalaman megah rumahnya, nampak dirinya ditemani oleh seorang pria berambut coklat kehitaman dihadapannya.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa memanggilku?" Tanya pria berambut coklat itu seraya melirik Maurer dengan alis dan bibir yang mengkerut. Dia heran dengan raut wajah pria kuping lancip itu yang murung.


Maurer tak menjawab pertanyaannya, dia hanya memberikan secarik kertas yang berisikan pesan itu. Akan tetapi sebelum dia menyerahkannya, dia sempat berbisik untuk tetap diam setelah melihat isinya.


Tak disangka-sangka, mata pria berambut coklat itu terlihat sangat terbuka lebar seusai membaca isi dari pesan itu. Sekujur tubuhnya merinding karena marah, tanpa meninggalkan sepatah katapun pada Maurer. Dia berbalik badan seraya meremas kertas pesan itu dengan kuat. Dia melesat dengan segala kemampuan yang dia miliki, dan berencana pergi sendirian ke Hutan Ivory.


Maurer tak tinggal diam, ia mengikutinya sampai ditempat terluar Gerbang Kerajaan Grizel bagian utara. Dia meneriaki dan memanggilnya, akan tetapi teriakan dirinya tidak mendapatkan jawaban. Namun Maurer yang cemas tidak menyerah, ia menggunakan segenap kekuatannya dengan melemparkan salah satu katana miliknya tepat kedepan langkah kaki pria itu. JLEB! Dapat dilihat katana milik Maurer berhasil menghentikan langkah kaki pria berambut coklat kehitaman itu.


"WARLEN! DENGARLAH!" Teriak Maurer dari kejauhan menatap punggung Warlen yang terlapisi zirah besi berwarna hitam. Nampak sekali Warlen hanya menoleh kebelakang melirik Maurer dengan tatapan mata seram yang merah menyala.


"SETIDAKNYA! BERPAMITANLAH!" Teriak Maurer sekali lagi, seraya menatap lirikan Warlen dengan mata yang tajam berwarna hijau kemerahan menyala, seperti semangka.


...Warlen Lilith Eirini...



...Pict From Pinterest...


...Sandalphon Granblue Fantasy...


...______________________________...


"Ya. Aku pergi.. Sampaikan salamku pada yang lain." Ucap Warlen yang kemudian melesat pergi dengan kecepatan tinggi, menggunakan seluruh element dan inti sihir miliknya. Dia meninggalkan Maurer dan katananya yang tertancap diatas tanah.


...•••...


Sementara itu dilokasi pertarungan antara Raja Serigala dan Raja Naga, keduanya bertarung sangat sengit. Banyak terlihat bekas cakaran dan darah segar yang membekas diatas kawah itu. Ada juga seorang wanita bermahkota dan seorang pria bercodet, yang saat ini sedang membantu salah satu dari kedua raja tersebut, Raja Serigala.


Nampak wanita bermahkota itu saat ini menggunakan kemampuan miliknya, menembakkan banyak dari Blansta Hartanta-nya kearah Raja Naga itu. Tak berhenti sampai situ, ia juga kerap menyerang Raja Naga itu memakai Valkyrie's Fang-nya dibantu dengan langkah petir dikakinya, Giel.


Pria bercodet itu juga sedang menahan semburan demi semburan raja naga itu dengan perisai sihirnya yang berwarna kuning, memecah belah, lalu mengelilingi rekan-rekannya, Limbo Shield.


Lain ceritanya dengan Sang Raja Serigala, ia menahan leher dari sang naga dengan cakar tajamnya, membenturkannya ketanah dan menembakkan api dari mulutnya kekepala dari naga itu.


Kondisi kedua orang dan Raja Serigala itu tidak kelihatan buruk, ketiganya tampak cukup mampu untuk membuat Sang Raja Naga itu kesulitan. Akan tetapi ada hal yang buruk sedang menimpa wanita berambut hitam yang saat ini masih terbaring lemah, Mopelina.


Keadaannya benar-benar sangat kritis sekarang, ada juga tiga orang wanita cantik yang sedang bersama dirinya. Mereka bertiga saat ini sudah memberikan seluruh inti sihirnya pada Mopelina, dengan tujuan agar wanita berambut hitam itu siuman. Namun apa daya, inti sihir dari ketiga wanita itu masih belum cukup untuk membangunkannya.


...•••...


Tembakan-tembakan Blansta Hartanta dari wanita bermahkota itu kini tak dapat menjangkaunya lagi, langkah petirnya seketika melambat saat mendekati raja naga itu, menyebabkan dirinya terkena serangan dari ekor tajam Azen Gavarine.


CTAS!! Bunyi dari serangan ekor naga itu yang menghantam tubuh dari Freya dan Valkyrie. Membuat mereka berdua terhempas jauh kebelakang, beruntungnya Lark masih sempat menangkap tubuh dari wanita bermahkota itu.


Namun tak berhenti sampai sana, Sang Raja Naga melepaskan semburan emas bercampur kelipan berlian itu kearah keduanya, seusainya membebaskan diri dari cakar tajam Azgul yang besar itu.


GROAAAA!!!! Suara semburannya diikuti dengan banyak sekali berlian-berlian seukuran pasir yang bercampur angin tajam, seperti sebuah peluru seukuran pasir yang ditembakkan dengan serentak.


Serangan itu membuat Freya dan Lark mendapatkan luka yang serius pada seluruh tubuhnya, beruntungnya mereka berdua selamat berkat pertahanan super milik mereka masing-masing.


Jika tidak, mungkin saat ini keduanya akan menjadi mayat, berlian-berlian itu menembus kulit mereka hanya sampai kebagian terluarnya.


Namun sayangnya saat ini mereka sudah kehabisan tenaga, kekuatan keduanya terserap seiringan dengan berlian itu yang kian menghilang.


'Nona Freya.. Inti sihir kita terserap, mungkin sebentar lagi mode Guardian Goddess-nya akan menghilang. Kalau begini, kemungkinan kita mati.' Valkyrie berucap didalam pikiran Freya dengan perasaan yang khawatir, dia sadar kalau berlian kecil itu sudah menyerap hampir seluruh inti sihir mereka berdua.


'Menyerang menggunakan berlian seukuran pasir yang terlapisi angin tajam, lalu menyerap inti sihir seseorang.. Merepotkan sekali!' Balas Freya dalam benaknya seraya menatap kearah Raja Naga itu yang mengeluarkan hawa intimidasi lebih kuat dari sebelumnya.


"Hei.. Aku tak tau namamu, tapi.. Terima kasih." Ucap Freya dan Valkyrie, seraya melirik kearah pria bercodet itu yang sedang berada dibawah tubuhnya.


"S-S-Setidaknya... MENYINGKIRLAH DARIKU! KAU ITU BERAT!" Balas Pria codet itu yang saat ini sedang menahan sakit dari berat tubuh Freya, sekaligus merasakan inti sihir miliknya yang terserap.


Nampak Freya dan Valkyrie hanya menatap sinis dengan mata yang tajam kearah pria codet itu, seraya mengencangkan tindihannya kearah pria itu.


...•••...


Saat ini kedua orang itu tak dapat bertarung lagi, mereka berdua hanya bisa menatap kearah Azgul dan Azgav yang saling beradu kekuatan.


Nampak raja serigala itu mengalami luka tusuk yang cukup dalam dibagian lehernya, akibat cengkraman cakar dari tangan naga itu yang sedang menerbangkannya keatas. Seperti mencubit dengan kuku yang tajam.


Azgul tak dapat bergerak, kulit dagingnya sobek tertusuk cakar itu akibat dari menahan beban tubuhnya yang ditarik keatas oleh naga itu.


Tak ingin kehilangan kesempatan, raja naga itu melempar tubuh serigala itu keatas langit, dirinya berencana untuk terbang melesat dengan cepat kearah Azgul, dia ingin menusuk dan menembus tubuh dari Raja Serigala itu dengan paruh tajamnya yang sekeras berlian.


JRASH!!!!!!!!

__ADS_1


Pandangan dari mata rekan-rekan Raja Serigala itu, hanya bisa menatap pilu kejadian itu.


Mereka tak dapat bergerak ataupun berbicara, hati mereka tersayat-sayat seiringan dengan hujan darah merah yang mulai membasahi tubuh mereka.


Mereka semua menggigit bibir bawahnya, airmata mereka mulai mengalir deras, tubuh mereka merinding dengan perasaan yang tak dapat diungkapkan.


Mereka sedang melihat tubuh dari seekor serigala raksaksa, yang saat ini tertusuk oleh paruh naga raksaksa hingga menembus kebagian yang lain dibawah bayangan sinar rembulan.


"KAKEEEEEEEK!!!!!!!!!!!!!!!!" Audelia berteriak menatap pilu kejadian itu. Hatinya sakit, matanya berderai air mata. Dia tak sanggup menahan perasaannya, tak percaya dengan pandangan matanya. Dia melihat tubuh dari Kakek angkatnya yang terjatuh ketanah dalam keadaan tak bergerak. Dia berlari kearah raja serigala itu bersama dengan Helena, meninggalkan Gerina seorang diri yang sedang merawat Mopelina.


Rekan-rekan dari Raja Serigala itu, berlarian menuju kearahnya dengan mata yang terbanjiri tangisan pilu. Raut wajah mereka menunjukkan perasaan yang sedih, marah, dendam dan yang paling mereka rasakan saat ini ialah, perasaan kehilangan seorang teman berharga yang sedang terbaring lemah dengan mata tertutup dan tubuh yang tak bergerak.


"KAKEK! KAKEK! " Teriak Audelia seraya mendorong-dorong moncong panjang besar Azgul yang saat ini tak bergerak. Dia menatap kearah mata dari serigala yang tak terbuka itu, bersamaan dengan beberapa rekannya yang lain, Helena dan juga Freya yang sudah tidak dalam mode Goddess-nya berdampingan dengan Valkyrie.


"Ah.. Ternyata.. kalian... maafkan aku.... Dan Nona Kecil... Jangan bersedih... Wajahmu jelek saat menangis...." Ucap Azgul dengan nada yang lirih pertanda dirinya saat ini sangat lemah. Dia menatap kearah rekan-rekannya dan tersenyum lebar saat melihat Audelia, ia merasa bersyukur ketika melihat nona kecilnya tidak mengalami luka yang serius.


Tiba-tiba saja terdengar suara dari raksaksa naga itu yang terjatuh menghantam daratan dengan kuat.


DUM!!!


"Heh.... Ternyata berhasil... ya... Ukh!" Ucap Azgul dengan suara yang lirih dan kemudian dia memuntahkan darah dari mulutnya seraya mengeluarkan tawa kecil, nafasnya terengah-engah.


Dia merasa bahwa ini adalah akhir dari perjalanannya, kepergiannya kali ini diikuti dengan perasaannya yang berterima kasih pada dewa, yang telah menjaga kehidupan dari nona kecilnya dan rekan-rekannya.


Dia menatap rekan-rekannya yang khawatir pada dirinya, tersenyum lebar pada mereka semua, dan kemudian ia menutup matanya dengan air mata yang mengalir membasahi bulu lebatnya.


Saat ini Sang Raja Serigala, Azamante Gulag, telah tidur didalam keabadian diiringi dengan tangisan pilu dari rekan-rekan yang dilindungi oleh dirinya.


...Azamante Gulag...



...Pict From Pinterest...


...•••...


Nampak Raja Naga itu mendapatkan luka cakar yang cukup dalam pada bagian sayapnya hingga robek, dan kemudian berangsur-angsur kembali kebentuk manusianya. Dia menatap tajam kearah mereka semua, bersamaan dengan perasaan bangga dan bahagia yang terlukiskan disenyum lebarnya.


"Sekarang kalian akan mati menjadi santapanku.." Ucap Raja Naga itu yang kemudian melesat kearah mereka semua. Dia melihat satu persatu mangsanya yang akan menjadi santapannya, namun tak ada satupun dari mereka yang membalas tatapan ganasnya dengan rasa takut. Mereka semua menatap dirinya dengan rasa dendam dan amarah.


Tiba-tiba saja ada seorang pria berambut coklat datang dengan kecepatan tinggi melesat kearah raja naga itu. Pria itu melesat diikuti dengan hembusan angin kencang disekeliling dirinya, yang membuat pepohonan ikut tertiup hingga memiring.


Matanya merah menyala, nafasnya seperti hewan buas, tangannya mengepal dengan kuat, dia melompat kearah Raja Naga itu dan kemudian.


BUAGH!!!!!!!!


Pukulan keras dari tangan pria berambut coklat itu disertai dengan amarah yang tak terbendung lagi, melayang kearah wajah dari raja naga itu hingga terhempas jauh kebelakang membentur pepohonan sampai jauh.


"Maaf.. Lagi-lagi aku terlambat..." Ucap Pria berambut coklat itu seraya melirik kearah serigala raksaksa itu, Helena, Audelia, Freya, dan Valkyrie serta kedua mantan Jendral Zealos itu yang saat ini sedang menatap dirinya.


Dia juga sempat melirik kearah wanita berambut hitam yang terbaring itu dan kemudian melesat kearahnya seperti kilat.


Tak disangka, pria itu menyembuhkan kedua mata dari wanita itu sekaligus kedua tangannya.


"Terima kasih.. Aku Warlen.. Mantan Pahlawan Kesepuluh." Ucapnya seraya melihat rekan-rekannya yang menatapnya dengan penuh air mata.


Dia tahu, Sang Raja Serigala itu sudah tiada, namun dia masih memiliki Bola Jiwa, ia melesat kearah rekan-rekannya merapalkan beberapa mantra dan kemudian memasukkan Bola Jiwa itu kedalam mulut serigala itu.


"Dengan ini, kalian tak usah khawatir. Dia akan hidup." Ucapnya seraya melesat kembali kearah Raja Naga itu yang saat ini sudah bersiap untuk menyerang dirinya. Warlen menangkap kedua tangan dari Raja Naga itu seraya menatapnya ngeri dan kemudian melemparnya.


"Jangan kau pikir aku akan memaafkanmu.. Berteriaklah selagi bisa, menangislah selagi masih memiliki mata, rasakanlah sakit dari penderitaan teman-temanku yang sudah kau perbuat. Aku Warlen Lilith Eirini, seorang anak dari Amber Lilith Illusia dan Jasper Viuz Eirini, akan membunuhmu dengan kejam." Ucap Warlen menatap kearah Raja Naga itu seraya mengeluarkan sebagian tekanan kekuatan miliknya yang selama ini sudah tersegel oleh Altares.


...Warlen Lilith Eirini Half Power...



...Pict From Pinterest...


END. . .


..._____________________________________________...


Pesan Penulis :


Terima Kasih sudah membaca hingga saat ini, update akan dipercepat!

__ADS_1


__ADS_2