
...Reruntuhan Kota Larden...
Tengah Malam. . .
Sudah berapa lama sejak aku mulai berkelahi dengan pasukan tengkorak ini, mereka tidak ada habisnya, tanganku juga sudah mulai memar serta berdarah akibat memukul tulang yang sekeras permata ini.
Kabut ini benar-benar menghalangi pandanganku, sudah beberapa kali aku hampir mati karena 'Tengkorak Pemanah', mereka banyak sekali.
Dapat menghindari serangan anak panah yang ditembakan dari busurnya dibalik kabut ini sungguh seakan-akan hanya keberuntungan semata.
Namun, aku terkadang menangkap anak panah yang ditembakkan dan melemparnya kembali pada mereka seperti lempar lembing. Kemampuan fisikku benar-benar bertambah.
Ditambah lagi aku harus memukul hancur perisai yang digunakan 'Prajurit Penyerang', jika tidak kuhancurkan aku akan sulit menyerang mereka semua.
Altares juga sepertinya juga bukan orang yang bisa diremehkan, dia bisa menciptakan pasukan sebanyak ini dan juga menghindari seranganku yang secepat cahaya itu. Luar biasa sekali.
Walaupun daya serang mereka lemah namun tulang prajurit ini sangat keras, aku tidak mengerti kenapa orang seperti Altares mau menetap disini.
Lagipula aku juga tidak merasa kelelahan sampai saat ini, mungkin staminaku bertambah berkat latihan yang diberikan Orland beberapa waktu lalu. Yap.. benar kelajengking.
Kemampuan 'Iron Body' yang kudapat dari hasil latihan kelajengking itu juga menambah keras daya serangku sekaligus perlindunganku.
Walaupun saat ini aku menggunakan kemampuan ini, tidak ada perbedaan yang kurasakan. Tetap saja tulang mereka terasa keras sekaligus melukai kepalan tinjuku.
Beberapa jam kemudian. . .
Dini Hari. . .
Ini benar-benar melelahkan, sepertinya staminaku sudah sampai batasnya, aku bertarung dengan mereka tanpa istirahat sedikitpun. Rasa sakit ditanganku akibat memukul mereka juga semakin terasa.
Aku tidak kuat lagi, sudah berjam-jam aku berkelahi dengan mereka, dahiku terluka akibat goresan dari anak panah yang kuhindari.
Tanganku terasa sangat pedih akibat serpihan perisai kayu yang menancap sejak tadi, kepalaku juga terasa sangat pusing dan pandanganku mulai kabur sekarang.
Aku tidak bisa melihat dengan baik..... ah.. sepertinya aku akan pingsan.. tubuhku sudah benar-benar lelah... aku tidak kuat.. Bruk!
Terlihat Warlen akhirnya terjatuh tidak sadarkan diri.
" 'Boneyard.' dan 'Return' " Ucap Altares kemudian pasukan tengkoraknya berhenti menyerang dan menghilang, lalu muncul aliran sihir berwarna abu-abu menyelimuti tubuh Orland.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Orland sambil melirik tajam Altares.
"Aku hanya membuat dirinya berhutang padaku." Jawab Altares dingin sambil menatap Warlen.
"Kau mengejekku?" Tanya Orland sedikit marah.
"Lagipula sepertinya dia berhasil." Cetus Altares yang membuka bukunya.
Terlihat ditangan Warlen mulai mengeluarkan cahaya berwarna merah gelap berukuran sangat kecil, kemudian menghilang.
Orland yang melihat cahaya itu mulai tersenyum lebar kemudian berucap. "Jadi ini yang kau maksud berhutang itu??"
"Hmph..." Cetus Altares sambil tersenyum kecil lalu menghilang secara perlahan dibalik kabut.
"Aku mengerti." Balas Orland yang kemudian melompat turun dan berlari ke arah Warlen.
Sesampainya Orland ditempat Warlen, dia menatapnya sambil tersenyum lebar dan berkata. "Hei bocah.. ternyata kau cukup menarik..HAHAHAHA!"
...Larden City...
Beberapa hari setelahnya. . .
Malam Hari. . .
Terlihat Warlen sedang berbaring diatas ranjang kamarnya dengan tubuh badannya yang dipenuhi perban, serta ada beberapa bekas luka yang mulai sembuh.
Nampak Valkyrie yang saat ini menangis tersedu-sedu disamping badan Warlen dan juga Orland sedang berusaha menenangkan Valkyrie, serta Freya yang menatap tubuh Warlen dengan rasa khawatir.
"Tenanglah nona, sebaiknya kau berhenti menekan perutnya." Tegur Orlang #Sweatdrop.
"Tidak!" Bentak Valkyrie sambil menangis #Crying.
"Latihan seperti apa yang kau beri padanya, Orland?" Tanya Freya ketus.
__ADS_1
"Y-Y-Yaaah.. Bisa kau lihat..." Balas Orland yang panik.
"Ini semua gara-gara kamu!!" Bentak Valkyrie kemudian menunjuk Orland lalu menangis dan kembali merengek sambil memukul-mukul Orland seperti anak kecil.
"Kau Guardiannya kan, Valkyrie?" Ucap Freya menatap Valkyrie dingin.
Terlihat Valkyrie cukup takut dengan Freya karena auranya yang dingin, kemudian Valkyrie hanya mengangguk sambil melihat Freya, lalu menunduk seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.
"Aku tau kamu khawatir! Lebih baik kita biarkan dia beristirahat dulu!" Tegur Freya sambil menatap Valkyrie tajam.
"Dan untuk Orland, ada yang ingin kubicarakan denganmu." Lanjut Freya sambil menatap Orland tajam.
beberapa saat kemudian. . .
...Kedai Makanan...
Suasana tidak begitu ramai, hanya terlihat beberapa pengunjung yang datang, terdapat beberapa meja bulat seperti yang ada dipantai dan kursi panjang tanpa sandaran yang terbuat dari tanah liat.
Terlihat Valkyrie sedang menikmati Parfait Buah Beri disebelah Freya yang sedang menatap curiga orang dihadapanya, Orland.
"Jadi latihan seperti apa yang kau berikan, Orland?" Tanya Freya dingin sambil menatap tajam Orland.
"H-H-Hanya latihan biasa. Hahahaha!" Jawab Orland dengan mencurigakan sambil membuang pandangannya dari Freya.
Tiba-tiba ada seorang 'pria' berambut hitam ponytail berponi, datang menyapa mereka.
"Yo.. Aku sudah mencari kalian kemana-mana, kukira kalian berada di kamar Warlen." Sapa 'pria' itu.
"Suaramu masih saja seperti wanita.. Hahahahaa!!!" Ucap Orland padanya sambil tersenyum mengejek.
"Apakah kau tau latihan apa yang diberikan oleh pria tua ini, Garm?" Tanya Freya sambil melihat Garm.
Terlihat Orland buru-buru bangun dari tempat duduknya ingin pergi, beruntung Freya menyadarinya dan langsung menarik baju yang dikenakan oleh Orland, sehingga tidak pergi.
"Ah... Jadi begitu ya!" Balas Garm sambil tersenyum jahat dan akhirnya dia menjelaskan latihan yang diberikan oleh Orland kepada Freya.
"APAA!? Kau membawanya ke reruntuhan Kota Larden!?" Tanya Freya sambil menggebrak meja. BRAK!
"Reruntuhan kota Larden? Apa itu?" Tanya Valkyrie dengan polosnya sambil meratapi Parfait Buah Berinya yang tumpah akibat gebrakan meja itu.
Terlihat Valkyrie memesan Parfait Buah Beri yang baru.
Setelahnya disegel dibawah batu besar, namun saat ini tempat itu dijaga oleh Altares Larden yang juga suami dari Marie itu sendiri." Lanjut Freya dengan wajah tegang pada mereka semua.
...Marie Larden Eirini...
...Second Coming Of Gluttony...
...Pict From Google...
"He..? Kedengarannya tidak berbahaya." Cetus Valkyrie sambil memakan parfait buah berinya yang baru dipesannya.
"Tidak! Itu adalah tempat yang sangat berbahaya, banyak sekali orang-orang yang serakah menjelajahi tempat itu namun semuanya menghilang." Balas Freya sambil memandang Orland dengan marah.
"Kenapa kau membawanya ketempat seperti itu, Orland!?" Tanya Freya yang marah.
"Y-Y-Yah.. Bisa dibilang Altares itu kenalan lamaku." Jawab Orland dengan gugup.
"OMONG KOSONG!" Ucap Freya yang semakin marah dan menggebrakan meja sekali lagi. BRAK!
"Sudahlah Freya, lebih baik kita dengarkan penjelasan Orland terlebih dahulu." Tegur Garm sambil melerai mereka.
Terlihat Valkyrie meratapi Parfaitnya yang tumpah sekali lagi akibat gebrakan meja.
Beberapa saat kemudian. . .
Terlihat Garm sudah duduk disebelah Orland sedang meminum Susu Almond dingin. "Fuah! Memang paling enak minum susu setelah perjalanan panjang." Ucapnya dengan ekspresi yang puas.
"Baiklah! Jelaskan apa maksudmu Orland." Ucap Freya dengan nada kesal.
"Dulu sekali aku sering pergi kesana untuk mengambil harta yang ditinggalkan oleh Marie dan sebenarnya orang-orang yang saat ini tinggal dibawah tanah dulunya berasal dari sana. Tidak ada orang tua yang selamat sama sekali saat itu." Ucap Orland yang kemudian meminum Bir ditangannya.
__ADS_1
"Aku hanya seorang anak kecil yang tidak punya uang setelah orang tuaku mati saat penyerangan oleh iblis. Kabar burung tentang harta itu benar-benar sangat menggiurkan bagi diriku." Lanjut Orland sambil melihat gelas birnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Orland." Balas Freya menatap Orland tajam.
"Biar kujelaskan semuanya dulu." Ucap Orland yang berusaha menenangkan Freya.
"Hmph.. Teruskan." Balas Freya dan kemudian meminum Es Jeruk dingin didepannya.
"Sudah berkali-kali aku pergi ketempat itu, namun usahaku selalu gagal sampai akhirnya aku bertemu dengan Altares." Jelas Orland sambil menatap Freya tajam.
"Bagaimana caramu kembali dengan hidup-hidup? Orang yang kesana pasti mati, Orland. Jangan membodohiku." Balas Freya sambil memainkan es batu digelas kosongnya.
"Altares adalah seorang Necromancer, dia mengambil umur dari jiwa-jiwa yang hidup untuk menambah panjang umurnya sendiri." Lanjut Freya menatap Orland curiga.
"Lihatlah sekelilingmu Freya." Ucap Orland yang kemudian memesan segelas Bir.
Terlihat di sekeliling Freya hanya ada beberapa bangsa Dwarf yang sedang berjalan-jalan.
"Kau membodohiku?" Tanya Freya kesal.
"Tidak-tidak, apakah tidak ada yang aneh?? Mengapa hanya diriku saja yang menua dan pendek diantara para Dwarf ini?" Tanya Orland sambil menenggak Birnya.
Terlihat Freya terkejut dengan kata-kata Orland dan sekali lagi melihat sekelilingnya, kemudian bertanya dengan nada sedikit marah. "Apa maksudmu? Cukup omong kosongnya, Orland."
"Umumnya umur manusia di benua ini bisa sampai dua ratus lima puluh tahun. Tapi pada umur mereka yang sudah memasuki dua ratus empat puluh tahun. Kulit dan rambut mereka akan menua, lalu meninggal karena penyakit atau apapun." Jelas Orland sambil melihat sekelilingnya.
"Jadi maksudmu, Altares sudah mengambil banyak umurmu? Itu alasanmu kalau kau adalah orang yang satu-satunya menua?" Tanya Freya sambil mengerutkan keningnya.
"Tepat sekali, umurku sudah berkali-kali diambil oleh Altares hingga jadi seperti ini dan batas usiaku juga tinggal sedikit lagi. HAHAHAHA!" Jawab Orland sambil tertawa.
"Namun dengan hal itu, aku jadi mengetahui tujuan Altares menjaga segel Marie. Dia ingin mencari seseorang yang bisa melepaskan segel Marie. Kulihat sepertinya Warlen menarik perhatian Altares. Sebelumnya dia sempat mengambil sisa umurku yang sudah sedikit ini, namun pada akhirnya dia mengembalikannya agar kami berhutang budi padanya." Jelas Orland menatap Freya tajam.
"Melepaskan segel? Bukankah iblis yang menghancurkan kota itu adalah seorang Ratu Iblis?" Tanya Freya tajam.
"Rupanya Alexander tidak pernah memberitahumu soal ini ya..." Balas Orland sambil menghela nafas panjang.
"Ratu Iblis itu adalah ibu dari Warlen, Amber Lilith Illusia." Lanjut Orland dan kemudian bangun dari bangkunya.
Terlihat Freya mulai mengeratkan giginya, dan menggebrak meja lalu pergi meninggalkan mereka.
"Haaaaah~ Kau melakukannya lagi, Orland.." Cetus Garm menggelengkan kepalanya.
"Mau bagaimana lagi, tidak ada yang harus ditutupi." Balas Orland yang pergi meninggalkan mereka.
"Kenapa semuanya menjadi runyam sih? Dulu sekali aku ingat penyerangan membabi buta yang hampir meratakan Kerajaan Vinziala, Amber Lilith." Gumam Garm.
"Namun sekarang dia berubah dan melindungi benua Elzia dari serangan Iblis." Lanjutnya sambil melihat Valkyrie.
"Eh.. apa..?" Tanya Valkyrie melihat Garm sambil menikmati birnya.
"Kau santai sekali, nona malaikat." Ucap Garm melihat Valkyrie yang tersenyum.
"Aku percaya pada Warlen, dia memang bodoh dan naif, sebenarnya dia sangat tersiksa dengan kenyataan pahit keluarganya. Terlebih lagi nanti dia akan melawan ayahnya." Jelas Valkyrie.
"Aku menangis karna dia berjuang terlalu keras, tapi. Disisi lain aku merasa lega melihatnya berjuang." Lanjutnya sambil memesan Parfait.
Terlihat Valkyrie yang membawa Parfaitnya berpamitan dengan Garm untuk kembali kekamar Warlen, tak lama setelah itu ada salah satu pelayan toko menghampiri Garm.
"Permisi nona, silakan tagihannya." Sapanya sambil memberikan tagihan makanan, kemudian Garm mengambil tagihannya.
'A-a-apaaa!!!? 9 PERAK!!' Kata hati Garm yang kaget melihat tagihan itu, terlihat juga arwah Garm keluar dari tubuhnya.
9 koin perak \= Rp 900.000
"EH? NONA-NONA!?" ucap pelayan itu yang keliatan panik.
END..
_______________________________________
Pesan Penullis :
Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.
__ADS_1
Terima Kasih