
Nampak Warlen saat ini sudah tepat berada didepan gerbang batu tersebut, dan dapat dilihat dirinya sedang mendorong kedua sisi gerbang itu untuk membukanya.
Ketika gerbangnya terbuka seketika saja hawa mencekam yang sangat mengintimidasi datang dari dalam ruangan dibalik gerbang batu itu.
Terlihat Warlen terus berjalan kedalamnya sambil melihat sekeliling tempat itu, tiba-tiba saja banyak sekali obor yang tepat bergantung pada sisi dinding goa itu menyala dengan sendirinya.
Warlen nampak sedikit terkejut mendapati dirinya berada didalam sebuah ruangan tanpa pintu maupun jalan keluar, bahkan jalan masuk yang sebelumnya dia lalui seketika itu menghilang.
Namun Warlen nampaknya tak perduli dengan perubahan aneh yang terjadi disekitar dirinya, diapun mulai berjalan perlahan memasuki tempat itu.
"Aneh sekali, tak ada apapun didalam sini." Ucap Warlen sambil melirik kekiri dan kekanan sembari mencari jalan yang harus dia lalui selanjutnya.
Namun ditengah-tengah waktu saat Warlen sedang memeriksa ruangan itu, tiba-tiba saja dirinya melihat sebuah lubang dilangit-langit dengan ukuran sebesar piringan Pentagram Baphomet.
Warlen pun memandang keatas sambil menebak-nebak hal yang selanjutnya harus dilakukan, dirinya mengangkat piringan batu itu seraya mengukurnya.
Singkat cerita seusai Warlen meletakkan Pentagram itu tepat dilangit-langit, tiba-tiba saja muncul sebuah portal sihir besar berwarna ungu tepat diatas kepalanya.
Warlen yang merasa harus memasuki portal itupun langsung melompat dan seketika itu juga tubuhnya terhisap kedalamnya.
...•••...
Terlihat tempat itu nampak cukup besar dan ada beberapa tulisan-tulisan kuno seperti rapalan mantra sihir dan obor-obor yang tersebar diseluruh dinding ruangan itu.
Muncul sebuah portal gerbang sihir yang sebelumnya dimasuki Warlen, bersamaan juga dengan tubuhnya yang terjatuh dari langit-langit kelantai ruangan itu.
BRUK!
Terdengar suara Warlen yang terjatuh menyentuh tanah dengan punggungnya terlebih dulu, terlihat juga ditempat itu ada seorang pria yang sedang duduk ditempat itu.
"Sialan, dimana aku sekarang?" Gumam Warlen yang melihat kekiri dan kekanan sambil beranjak berdiri.
"Siapa kau?" Tanya pria yang sedang berada diruangan itu sambil mendekati Warlen dengan berjalan perlahan-lahan curiga.
Sontak suara pria itu membuat Warlen terkejut bukan main, sebab dirinya dapat merasakan aura kuat yang sangat mengerikan tiba-tiba muncul tepat dibelakang dirinya.
Dirinya langsung menoleh kebelakang dan langsung menatap pria itu dengan mata yang terbuka lebar-lebar seakan sangat mengenal sosoknya.
"Ah... Tak kusangka kita bertemu disituasi yang buruk." Ucap Pria itu sambil menatap Warlen sambil mengeluarkan aura ancaman yang sangat kuat.
"Yo~ Warlen, lama tak jumpa. Kurasa kau benar-benar mengingat janji kita." Lanjut Oliver sambil menyeringai kearahnya dan kemudian memukul wajah Warlen dengan sekuat tenaga.
BUAK!
"Oliver, berhentilah bercanda!" Ucap Warlen yang langsung melesat memukul wajah Oliver dengan sangat kuat.
BUAK!
Nampak Oliver tetap berdiri tegap setelah menerima pukulan keras yang menghantam wajahnya, bersamaan dengan itu juga dirinya menarik sisi mulutnya sampai terlihat gigi taringnya.
"Oh ayolah! Aku hanya bercanda!" Ucap Oliver sambil tersenyum menatap kearah Warlen.
"Kita bukan anak kecil lagi, bodoh." Ejek Warlen yang menatap Oliver dengan mata tajam mengancam, dan kemudian tersenyum.
"Ngghh!" Balas Oliver.
...•••...
Ditemani oleh cahaya obor yang berada diseluruh dinding itu, nampak keduanya kini terlihat sudah duduk bersila saling berhadapan satu sama lain.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Warlen dengan perasaan bingungnya.
"Sembunyi." Balas Oliver singkat sambil menatap senyum wajah temannya.
"Sembunyi? Jangan bercanda Oliver." Ucap Warlen yang semakin heran dengan jawabannya.
"Ya, bukankah kau bisa menebaknya." Balas Oliver sambil meregangkan badannya.
"Jelaskanlah secara detail padaku bodoh, aku tak mengerti." Jawab Warlen dengan wajah yang cukup serius.
"Yah.. mau bagaimana lagi, kurasa kepalamu isinya hanyalah gadis bajak laut itu." Ejek Oliver dengan sedikit tawa dan senyum.
"Sudahlah jangan ungkit itu." Balas Warlen dengan wajah yang cemberut.
"Kaulah yang mengurungku disini." Jawab Oliver sambil menatap tajam, dan kemudian tiba-tiba saja dirinya langsung menumbangkan Warlen lalu menghajarnya.
"BAGAIMANA KAU BISA LUPA AKAN HAL ITU!" Teriak marah Oliver sambil menghajar wajah Warlen bertubi-tubi dengan tinjunya.
"Oliver." Ucap Warlen sambil menatap wajah temannya yang seakan benar-benar sangat marah pada dirinya.
"BRENGS*K!!!!" Teriak Oliver yang kemudian meninjukan pukulannya tepat tanah disebelah kanan Warlen.
...•••...
Beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada saat Warlen yang menghilang dari dataran Benua Elzia. Waktu itu sedang terjadi perang besar antara pasukan Aliansi Elzia dengan Tartarus.
Terlihat Oliver, dan Zarin juga beberapa orang prajurit berlambangkan Kerajaan Lilith sedang tergesa-gesa berlarian dibawah hujan lebat ke sebuah pedalaman hutan yang terletak tidak jauh dari Istana Kaisar Langit.
Kondisi dihutan itu cukup mencekam, tanahnya sangat basah, beberapa rawa-rawa, dan juga nampak terlihat akar-akar pepohonan yang menggantung-gantung dibatang maupun ranting.
Sementara itu nampak Warlen yang sedang terluka parah pada bagian kepala, perut, dan juga kakinya, hal itu juga membuat dirinya tak sadarkan diri.
"Sial! Kalau saja aku tiba tepat waktu!" Teriak Oliver yang berlari terseok-seok sekuat tenaga sambil menahan luka tusuk diperutnya dan juga merangkul Warlen.
"Sudahlah! Cepat! Kakakku tak akan selamat kalau begini!" Sahut Panik Zarin yang juga ikut membantu kakakknya melangkah sambil melihat-lihat sekitar untuk mencari tempat persembunyian.
"AKU JUGA TERLUKA HEI!" Balas Oliver yang jengkel.
"TUAN OLIVER, NONA ZARIN! DISANA ADA SEBUAH GUA! MUNGKIN KITA BISA BERLINDUNG DISANA!" Teriak salah satu prajurit yang sedang bersama mereka pada saat itu.
Zarin dan Oliver yang mendengarnya, nampak langsung menuju gua itu dengan cepat seraya membopong Warlen bersama-sama, mereka juga dibantu oleh beberapa prajurit.
Kondisi mereka sungguh buruk, Oliver yang mengalami luka tusuk diperutnya, Warlen yang tak sadarkan diri akibat terlalu banyak kehilangan darah, dan juga Zarin yang kelelahan setelah berlari.
Beberapa hari kemudian sorenya, nampak kondisi Warlen semakin memburuk, namun bereda dengan Oliver yang sudah sedikit membaik.
Disisi lain Zarin juga sempat memerintahkan beberapa prajurit untuk memeriksa kondisi diluar gua selama mereka memulihkan diri.
"Hei bodoh.. bagaimana bisa kau kehilangan segalanya setelah bertarung dengan Lucifer." Ucap Oliver sambil melihat cemas kearah Warlen dengan kondisi yang buruk.
"Kau.. berisik.. seperti biasa.. sialan.." Balas Warlen dengan suara lemah dan wajah pucatnya yang menggambarkan kondisi tubuhnya saat ini.
Nampak Zarin hanya terdiam mendengarkan obrolan mereka berdua dan hanya dapat menatap cemas kearah Warlen dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Nampak terlihat seorang prajurit sedang berbincang dengan rekan yang ditemuinya disekitar hutan itu, tak selang beberapa lama prajurit itu kembali kedalam gua.
"Nona Zarin! Lapor! Keadaan diluar sudah kondusif, tak ada tanda-tanda dari pasukan Lucifer. Dan ayah anda meminta kami untuk membawa kalian ketempatnya." Ucap salah satu prajurit yang baru saja datang ketempat itu setelah mengintai lingkungan itu.
Zarin nampak sedikit kebingungan dan curiga dengan perintah ayahnya yang meminta mereka semua untuk pergi dari tempat itu, sebab sebelumnya mereka diberikan misi untuk meminta bantuan dari Kerajaan Duskford.
Walaupun terlihat mencurigakan, dirinya sadar betul kalau kakaknya sudah dalam kondisi yang sangat buruk, dengan perasaan yang bimbang Zarin terus memikirkan resiko terkecilnya.
Namun tetap saja kakaknya sama sekali tidak dapat melanjutkan perjalanan karena terlalu jauh dari tempat pertemuannya dengan ayahnya.
Tidak punya pilihan lain Zarin seorang diri langsung mengambil keputusan untuk pergi sendiri dan membawa beberapa orang Arch Bishop demi kesembuhan kakaknya.
Oliver yang nampaknya sudah sedikit pulih juga menawarkan diri untuk ikut membantu Zarin pergi menuju ketempat ayahnya yang berada di Kerajaan Lilith.
Namun Zarin menolak keikutsertaan Oliver untuk membantunya, dan menyuruhnya untuk beristirahat juga memulihkan diri, hal itu jelas ditentang habis-habisan oleh Warlen.
Akan tetapi Zarin yang keras kepala akhirnya memenangkan perdebatan alot itu, sampai saatnya dia pergi meninggalkan gua pada malam harinya.
Singkatnya sudah beberapa jam sejak kepergian Zarin dan meninggalkan Warlen juga Oliver di gua itu bersama dengan beberapa prajurit Kerajaan Lilith yang lainnya.
"Aneh, kenapa bocah itu lama sekali." Gumam Oliver dengan perasaan cemas dan juga melirik kearah Warlen yang masih kelihatan tertidur.
...•••...
Sementara itu diluar gua nampak dari kejauhan terlihat seorang gadis remaja berambut hitam dan bermata merah dengan kondisi terluka berlari sekuat tenaga lalu berteriak sekuat tenaga.
"KAKAK!!! OLIVER!!!! LARI!!!!!"
Gadis itu berteriak berkali-kali, namun sayangnya suaranya sama sekali tak dapat terdengar karena lokasinya sendiri cukup jauh dari gua tempat Warlen dan Oliver berlindung.
JRASH!!!!
Terlihat gadis remaja itu mendapatkan tusukan dari seorang pria berambut merah bersenjatakan dua pedang ganda berwarna merah api menyala yang menembus tubuhnya.
"Diamlah.. kau sudah tak berguna.." Ucap Pria itu dengan mata kejam yang berapi-api, dan kemudian langsung menggenggam kepala gadis itu.
Namun tiba-tiba saja dari langit muncul seorang wanita dewasa berambut hitam dan bermata merah darah dengan sepasang sayap melesat cepat kearah pria itu.
DUM!!!!!!!!! BLAR!!!!!!!!
Terdengar suara ledakan nyaring bersamaan dengan beberapa teriakan prajurit sekaligus suhu udara yang kian memanas disekitar tempat itu.
"JASPER! BERANINYA KAU MENYENTUH ANAKKU!!" Teriak Wanita itu sambil menggendong Zarin yang terluka parah, bersamaan juga dengan sihirnya yang menyegel pergerakan Jasper untuk sementara.
"Oh.. ternyata kau.. bukankah mereka juga anakku, benarkan.. Amber?" Balas Jasper sambil menatap kearah istrinya dengan tatapan bengis.
...•••...
Dampak dari ledakan itu juga turut mempengaruhi kondisi didalam gua, nampak ada beberapa bebatuan besar yang tajam ikut terlempar masuk kedalamnya.
Kejadian tak terduga itu sontak membuat Oliver terkejut bukan main, sebab ada salah satu bebatuan dengan sisi tajam yang mengarah tepat kearah Warlen yang terbaring lemah.
__ADS_1
JRASH!!!!
Terlihat jelas tetesan demi tetesan darah yang keluar dan terjatuh tepat diwajah Warlen, bersamaan dengan bayangan seseorang yang menutupi dirinya.
"Oliv..er.." Ucap Warlen yang melemah dengan mata terbuka lebar dan perasaan terkejut.
"Bangun juga kau tukang tid-" Dapat terdengar jelas Oliver yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya, dia memuntahkan darah akibat menahan batu tajam yang hampir menusuk sahabatnya.
Melihat sahabatnya terluka parah, Warlen langsung beranjak bangkit dari posisinya dengan susah payah dan sontak berusaha menggunakan sisa sihir miliknya untuk menghentikan pendarahan Oliver.
"Ber..hentilah.. bertin..dak seper..ti pah..la..wan." Ucap Oliver yang menggenggam tangan Warlen berusaha menghentikan sihirnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja muncul sebuah lingkaran sihir yang mengelilingi mereka berdua, bersamaan dengan cahaya merah yang kemudian menyerap seluruh tubuh mereka kedalamnya.
...•••...
Ditempat lain dibagian terdalam hutan terlihat Amber sedang menggenggam sebuah Liontin dengan corak mata hewan buas berwarna biru sambil menatap dan mengatakan.
"Zarin, mulai saat ini kau akan bersama kakakmu sampai tubuhmu pulih." Ucapnya.
Kemudian nampak sebuah lingkaran sihir berwarna merah yang sebelumnya sudah menghisap Oliver dan juga Warlen tepat didekat Amber.
Sesampainya mereka disana Amber dengan cepat menyembuhkan luka Oliver walaupun tidak sepenuhnya, sebab tubuh sahabat anaknya itu sudah benar-benar parah dan membutuhkan tempat untuk beristirahat panjang.
Sedikit berbeda dengan kondisi Warlen yang pada saat itu nampak masih sedikit mampu untuk bergerak setelah diberikan beberapa inti sihir sejati milik ibunya.
Setelah penjelasan panjang mereka, Warlen saat ini sudah mengetahui dua hal, dan yang pertama adalah bahwa adiknya Zarin telah disegel didalam liontin milik ibunya untuk memulihkan diri.
Untuk hal yang kedua nampak terlihat jelas Warlen merasa sangat kecewa, marah, dan juga bingung sebab orang yang menyerang melukai adiknya adalah ayahnya sendiri.
Amber yang dapat merasakan segel pengekang miliknya sudah pecah langsung memberikan perintah pada mereka berdua untuk berlindung didalam gua dekat Pohon Drassilius.
Namun sayangnya Jasper nampak sudah melesat dengan kecepatan penuh dan tiba ditempat mereka sekarang lalu menyerang Amber menggunakan seluruh tenaganya.
Amber yang kelihatan tak siap dengan serangan kejutan itupun langsung terluka parah, membuatnya terhempas dan menabrak pepohonan didalam hutan.
Sontak hal itu membuat Warlen sangat marah kepada ayahnya dan langsung menyerangnya membabi buta dengan sisa kekuatan miliknya yang sebelumnya diberikan ibunya.
Sementara itu disisilainnya Oliver yang sekarat nampak mencari-cari lokasi gua didekat Pohon Drassilius untuk mereka berdua, sampai pada akhirnya dirinya menemukan gua yang dimaksud oleh Amber.
Seusainya mencari, nampak terlihat Warlen yang terhempas dengan kuat kearah batang batang Pohon Drassilius tepat disebelah Oliver.
BLAR!!!!!!
"WARLEN!" Teriak panik Oliver yang langsung menghampirinya dengan cepat.
"Pergilah, darah kotor." Ucap Jasper yang seketika itu juga tiba-tiba berdiri tepat didepan Oliver, lalu menusuknya dengan kedua pedang ganda tepat diperutnya.
JRASH!!!!
Oliver yang tak sempat bereaksi-pun langsung tertusuk menembus tubuhnya sampai kebelakang, bersamaan dengan muntahan darah yang sudah memenuhi mulutnya.
Namun tiba-tiba saja dari sebelah kanan pelipis Jasper terlihat tendangan cepat yang sudah hampir mendarat tepat kearah wajahnya.
BUM!!!!
Serangan mendadak itu membuat Jasper terpental cukup jauh dari tempatnya berdiri, menghantam dan menumbangkan banyak pepohonan yang ditabrak tubuhnya.
"Kau tak apa-apa? Oliver?" Ucap Warlen dengan kepala berlumuran darah akibat serangan Jasper dan juga hantaman tubuhnya yang menabrak bebatuan.
Nampak Oliver yang tak dapat berbicara sebab banyak sekali darah memenuhi tenggorokan serta mulutnya, membuat Warlen harus mengambil keputusan fatal.
Dikala Jasper sedang bangkit, Warlen merasa harus membawa Oliver kedalam gua yang dimaksudkan oleh Amber sebelumnya, dirinyapun membopong sahabatnya itu sampai tepat didepan gua.
Warlen sempat memberikan beberapa herbal dan obat-obatan kepada Oliver, semua barang itu sudah dipersiapkan oleh Zarin sebelum dia meninggalkan gua untuk bertemu ayahnya.
Keputusan fatal ini membuat Oliver harus berlindung sendirian, sebab pada kala itu Warlen menyegel gua tempat yang seharusnya digunakan untuk mereka berdua bersembunyi dari luar.
...•••...
Sementara itu ditempat Warlen dan Oliver, nampak saat ini kondisi keduanya sedang terbaring bersebelahan terkulai lemas dengan wajah dan tangan yang lebam.
"Kau sudah berjanji padaku kan brengsek? Aku ingat kau bilang untuk kembali setelah itu." Ucap Oliver setelah menceritakan hal yang dialaminya.
"Yah, kurasa kau memang tak berbohong. Lagipula keberadaanmu didunia ini telah dihapuskan sejak saat itu." Lanjut Oliver setelah mendengar seluruh cerita perjalanan panjang Warlen sebelumnya.
"Apakah kau benar-benar percaya?" Tanya Warlen sambil melihat Oliver dengan tajam.
"Kenapa memanyakan hal bodoh seperti itu, yang paling penting kau masih hidup." Balas Oliver dengan senyuman tipis diwajahnya.
Warlen hanya tersenyum tipis membalas perkataan Oliver sambil memandang kearah langit-langit ruangan itu, terlihat ada sesuatu yang membuatnya tak tenang sedang mengusik pikirannya.
"Hei.. Bagaimana caranya kita pergi dari sini dan menyelamatkan Dryad?" Tanya Warlen dengan perasaan yang sedikit cemas.
"Kau masih memiliki Liontin milik ibumu kan?" Jawan Oliver sambil menunjuk kearah lubang kecil berbentuk cetakan liontin milik Warlen.
...•••...
Kamp pasukan militer itu dipisahkan oleh jenis kelamin yang berjarak sekitar dua puluh pohon antara perkumpulan tenda milik pria dan wanita.
Terlihat ada tiga orang gadis remaja, salah satu dari gadis itu berambut hitam, dan dua lainnya berambut putih, ketiganya kini sedang berjalan menyusuri sungai itu sambil berbincang-bincang.
"Sepertinya benar, kalian berdua sangatlah mirip." Ucap gadis berambut hitam sambil memeriksa dan membandingkan kedua temannya itu.
"Sudahlah Zarin, aku sudah bosan mendengar hal itu." Sahut gadis berambut putih dengan pakaian bangsawan yang bercorak hitam.
"Bagaimana denganmu? Audelia?" Tanya Zarin sambil melihat kearah gadis berambut putih yang membawa senjata rapier dipinggangnya.
"Entahlah, aku tidak setuju dengan Valkyrie." Jawab Audelia sambil memperhatikan Boing milik rekannya itu.
"Omong-omong apakah kakakmu akan baik-baik saja?" Tanya Audelia dengan mata yang menatap kearah aliran sungai.
"Kenapa? Kau khawatir?" Jawab Valkyrie sambil menyombong membusungkan Boing nya, dan melirik mengejek kearah Audelia.
"Tak ada yang perlu di khawatirkan, aku percaya padanya." Balas Zarin yang berjalan perlahan menghampiri keduanya sambil menggenggam liontin dilehernya.
Nampak terlihat dari kejauhan ada seorang wanita mengenakan pakaian hijau dengan tattoo putih diwajahnya memanggil-manggil nama mereka bertiga.
"IYA! KAMI DATANG!" Teriak Valkyrie sambil melambaikan tangannya keatas.
"Haaah.. Tak bisakah dia memanggil namaku dengan pelan-pelan." Gumam Audelia sambil menghela nafas panjang dan kemudian berjalan perlahan-lahan.
"Apa yang kau lakukan? Helena bisa-bisa menghukum kita kalau terlambat." Sahut Valkyrie sambil melirik kearah Zarin yang terdiam melihat kearah langit luas.
"Hei.. Siapa yang akan memasak hari ini?" Tanya Audelia sambil menatap curiga kearah Valkyrie yang terlihat mengeluarkan keringat dingin.
"Bukankah Helena bilang dia akan memasak untuk kita?" Sahut tanya Zarin sambil memandang kearah Valkyrie dan Audelia yang pada saat itu tiba-tiba saja sudah menghilang entah kemana bagai ditelan bumi.
Nampak Helena langsung berlari menggunakan kekuatannya dan seketika itu juga tiba ditempat Zarin yang ditinggalkan oleh Valkyrie juga Audelia.
"Dasar mereka! Bisa-bisanya membolos pelatihan yang kuberikan." Gumam Helena yang sudah memegang pundak Zarin, dan juga melihat sekelilingnya dengan perasaan jengkel.
"Berlatih?" Tanya Zarin dengan perasaan curiga pada sikap kedua rekannya yang meninggalkannya sendirian.
"Yap~ Kau harus berlatih untuk menyembunyikan auramu sendiri." Balas Helena sambil melihat sekelilingnya mencari keberadaan Audelia dan Valkyrie.
"Haruskah?" Tanya Zarin yang semakin kebingungan sambil menatap Helena dengan mata murung seakan meminta untuk menundanya.
"Aku tau kau baru saja pulang setelah perjalanan jauh, tapi kita tetap harus berlatih." Ucap Helena yang kemudian menggunakan kekuatan matanya Eagle's Eyes untuk mencari dua murid bolos lainnya.
Namun nampak Helena tak dapat melihat dengan jelas keberadaan dua orang lainnya dan langsung menyudahi sihir matanya, lalu kemudian berjalan meninggalkan tempat itu sambil menggenggam tangan Zarin.
Dikejauhan terlihat Valkyrie dan Audelia yang sedang mengintip Helena dari belakang semak-semak sambil menerka keamanan situasi mereka berdua.
"Maafkan aku Zarin, kuharap bisa bertemu denganmu lagi besok." Ucap Valkyrie sambil berdoa dan menangis dengan tampang yang lucu.
"Aku sama sekali tak ingin makan masakan miliknya lagi." Ucap Audelia yang membalikkan tubuhnya dan mengambil nafas lega sambil menutup mata.
"K-K-Kau memakannya!?" Balas Valkyrie yang terkejut mendengar pernyataan Audelia.
Belum selesai sampai situ Valkryie juga memberikan tanpa SIP! dengan jempolnya dan juga menatap mantap kearah Audelia sambil berucap. "Kau benar-benar hebat."
"Kau tau rasanya itu benar-benar...." Ucap Audelia yang terus menerus menceritakan pengalaman pertamanya saat menyantap masakan Helena.
Disebelahnya juga terlihat Valkyrie terus saja mengangguk dan kerap membumbui pernyataan-demi-pernyataan yang dilontarkan Audelia padanya.
"Hei! Hei! Hei! Dimana dia!?" Ucap Valkyrie panik sambil melihat kearah Zarin yang sedang berdiri seorang diri sambil menatap semak-semak tempat mereka berdua sembunyi.
"Hallo~" Sahut seseorang yang sedang berjongkok menatap kearah Audelia dan kemudian melirik kearah Valkyrie dengan senyuman mengancam.
Nampak kedua gadis remaja itu mengeluarkan keringat dingin dan saling memeluk satu sama lain sambil menatap Helena dengan perasaan yang bercampur aduk.
Kretek~ Kretek~ Kretek~
"Apakah kalian mau berlomba denganku?" Ucap Helena yang memasang wajah mengerikan sambil meregangkan dan merileks-kan ototnya dengan membunyikan tulang-tulangnya.
Nampak kedua gadis itu keluar dari semak-semak dalam keadaan yang panik dan langsung berlari menjauh secepat mungkin dengan kecepatan penuh.
Terlihat Valkyrie dan Audelia yang berlari menuju ketempat Zarin, lalu kemudian menarik tangannya agar ikut berlari bersama mereka sambil berucap dengan wajah lucu. "Hidup dan mati kita bersama."
"SEJAK KAPAN ITU DITENTUKAAAN!!!" Teriak Zarin yang terpaksa harus ikut berlari bersama mereka berdua.
"Baru saja!" Balas Valkyrie dan Audelia sambil tersenyum dan memberikan jempol pada Zarin.
Nampak dari kejauhan Helena juga sudah berlari mengejar mereka dengan wajah yang seram namun lucu.
...•••...
__ADS_1
Sementara itu disisi lain, nampak seorang wanita berambut hitam lurus dan mengenakan penutup mata kanan sedang berdiri memandang kearah Helena yang mengejar ketiga gadis remaja itu.
"Haaah~ Andai saja ada alkohol." Ucapnya yang kemudian beranjak duduk sambil berbaring memandang kearah langit sore dengan penuh arti.
"Tak bagus berbaring dengan pakaian terbuka seperti itu." Ucap seorang pria berambut biru dan menggunakan penutup mata disebelah kirinya.
"Kau mau??" Ucap Pria itu sambil memberikan sebotol minuman alkohol pada wanita itu.
"Ah! Ternyata kau, Pangeran Tukang Omel." Sahut wanita itu sambil menerima alkohol yang diberikannya.
"Apakah aku seburuk itu? Nerine." Gumam Enzo dengan wajah yang sedikit kecewa sambil memandang kearah langit.
"Glup! Glup! Glup! Puah!!! Ada perlu apa kau menemuiku?" Tanya Nerine sambil menenggak alkohol yang diberikan Enzo.
"Pertanyaanku mungkin agak sedikit tak sopan, jika kau tidak ingin menjawabnya. Aku juga tak akan memaksa." Balas Enzo sambil melihat segelas alkohol yang berada ditangannya.
"Ne~ Aku sudah tau apa yang ingin kau tanyakan." Jawab Nerine sambil melihat kearah langit sore dan kemudian menatap Enzo bersamaan dengan tangannya yang menunjuk kearah penutup matanya.
"Tak masalah, akan kuceritakan... Itupun jika kau menceritakan kisahmu lebih dulu." Lanjut Nerine yang kemudian menenggak alkoholnya lagi.
Nampak terlihat Enzo tersenyum mendengar jawaban Nerine dan kemudian dirinya pun mulai menceritakan kisah sekaligus pengalaman yang sudah pernah dilaluinya.
Tak lama berselang, nampak Enzo dan juga Nerine sudah menceritakan seluruh kisahnya satu sama lain, tak terasa sebotol alkohol yang menemani mereka berdua-pun habis.
"Jadi... Apakah kau sudah berbicara dengan dirinya?" Tanya Nerine sambil melihat kearah matahari yang berangsur-angsur mulai terbenam.
"Belum..." Jawab Enzo dengan helaan nafas panjang dan juga tatapan penuh arti kearah aliran sungai itu.
"Begitu ya." Balas Nerine sambil beranjak berdiri dan kemudian berjalan seraya menepuk pundak Enzo.
"Jangan merasa bersalah setidaknya kau sudah melakukan hal yang benar, namun perasaan seorang wanita itu sangatlah sensitif, oleh karena itu hadapilah layaknya seorang pria." Lanjut Nerine sambil tersenyum dan kemudian melanjutkan langkahnya dengan perlahan meninggalkan Enzo.
"Heh~ Kau juga bertindaklah layaknya seorang wanita sebelum memberikanku nasehat." Balas Enzo sambil menatap kearah punggung Nerine.
"Sudah kulakukan.." Sahut Nerine sambil melambaikan tangannya.
"Jangan beritahu Caspian." Balas Enzo yang beranjak berdiri dan berjalan kearah tenda tempatnya beristirahat.
Nerine nampak hanya memberikan isyarat "OK" ditangannya, kemudian terus berjalan kearah tenda miliknya yang berada tak jauh dari perkemahan para pria.
Tak jauh dari sana nampak terlihat Caspian dan juga Jevanna sedang bersembungi dibalik semak sembari mengintip kearah Enzo yang sebelumnya berbincang-bincang dengan Nerine.
"Hmm~" Gumam Caspian sambil mengusap-usap dagunya seraya mengintip kearah sepasang pria dan wanita itu layaknya detektif.
"Apakah ini!?!?" Sahut Jevanna dengan perasaan semangat dan malu-malu, sambil mengepalkan kedua tangan lalu menggoyangnya keatas kebawah layaknya seseorang yang bahagia.
Tiba-tiba saja dari kejauhan nampak sebuah anak panah yang melesat tepat kearah tengah-tengah Caspian dan Jevanna.
"Te..pat.. Sa..sa..ran.." Ucap lemah lembut Mopelina dari seberang sungai yang sebelumnya membidik hewan perburuan untuk dijadikan makan malam.
SRAK!!!
"KAU MAU MEMBUNUHKU YA!" Teriak Jevanna yang seketika itu langung menongolkan kepalanya dari semak-semak.
"Ah~ Ya ampun." Ucap Caspian yang masih bersembunyi disemak-semak sambil menggelengkan kepalanya.
Nampak ada dua orang wanita yang baru saja datang ketempat itu dari dalam hutan sambil membawa beberapa keranjang berisikan banyak bahan makanan.
"Oh.. Mopelina.. Kenapa kau masih berada disini?" Tanya wanita berambut biru dengan bando hitam yang terpasang diatas kepalanya.
"Gerina, coba lihat apa yang aku temukan!" Ucap salah satu wanita berambut hitam ponytail berpony dengan kuping lancip dan corak mata seperti semangka.
"Garm! Berikan padaku!" Ucap Gerina yang seketika itu juga langsung memaksa Garm untuk memberikan hasil buruannya.
"Bukankah itu Kelinci Uhyun?" Tanya Jevanna yang langsung menghampiri Garm dengan perasaan semangat sambil meneteskan air liur.
"Oh iya.. Mopelina.. dimana hasil buruanmu?" Tanya Garm yang menatap kearahnya dengan perasaan bingung.
Mopelina mematap datar kemudian dirinya menunjuk kearah tempat Jevanna dan juga Caspian yang sebelumnya bersembunyi.
SRAK!!!
"Aku sudah membawa hasil buruan miliknya.." Ucap Caspian dengan senyuman sambil menggendong dua ekor rusa tertembus panah yang berada dipundaknya.
...•••...
Haripun berganti menjadi gelap, di sebuah kota besar yang besar dan ramai penduduk, terdapat sebuah Istana Megah tepat berasa ditengah-tengahnya.
Dari kejauhan jendela istana itu terlihat ada seorang wanita berambut putih sedang menatap kearah sebuah peta yang bergambarkan Benua Elzia diatas meja kerjanya.
Perlahan-lahan dirinya memperhatikan, memikirkan, dan sesekali dia mengambil alat tulisnya lalu menggoreskan beberapa tempat sekaligus jalur-jalur yang tepat dipeta itu.
TOK! TOK! TOK!
"Freya.. Aku masuk ya.." Ucap seorang wanita dari luar ruangan itu.
"Ternyata kau Marie, masuklah." Balas Freya yang masih melihat-lihat kearah peta itu diatas meja kerjanya.
Nampak Marie memasuki ruangan itu dengan baju tidurnya sambil membawa sebuah nampan dengan teko teh hangat dan dua buah gelas diatasnya.
"Hei, mau minum teh bersamaku?" Ucap Marie sambil meletakkan nampan itu diatas meja yang biasanya digunakan Freya untuk melihat kearah Kota Alphatheria ketika bersantai.
Terlihat Freya menatap Marie dengan tatapan lelah dan juga terdapat kantung mata yang sudah menghintam seperti panda terlukiskan tepat dibawah matanya.
"Sebaiknya kau beristirahat Freya.." Saran Marie sambil memperhatikan wajah rekannya yang sudah terlihat lesu itu.
"Tak usah mengkhawatirkanku, Marie. Aku tak apa." Balas Freya sambil berjalan dan duduk disofa tepat berhadapan dengan Marie.
"Pernahkah kau berpikir.. Kenapa kita harus melindungi mereka semua?" Ucap Marie sambil memandang kearah penduduk yang berlalu lalang dijalanan kota.
"Bisakah kau menanyakan pertanyaan yang masuk akal?" Ujar Freya sambil menuangkan teh kesecangkir gelas.
"Pembunuhan, pelecehan peksual, penculikan, penganiayaan, penyelundupan, dan masih banyak hal yang lainnya." Ucap Marie sambil memberikan selembar kertas berisikan laporan tentang kasus kriminalitas yang belakangan ini sudah terjadi.
"Bukankah kita sama saja dengan iblis?" Lanjut Marie sambil menyeruput tehnya sedikit-demi-sedikit.
"Lantas.. apa yang kau ingin aku lakukan, Marie?" Tanya Freya dengan tatapan tajam seteah melihat isi dari laporan itu.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu, jangan kau tanggung dosa mereka sepenuhnya." Balas Marie.
"Jangan mempermainkanku, langsung pada intinya saja." Ucap Freya dengan rasa marah yang tergambarkan dari wajah dan tekanan udara berat disekitarnya.
"Mereka tak layak untuk kau perjuangkan." Jawab Marie dengan tekanan kuat disekitarnya yang membuat udara seisi ruangan itu terasa berat.
"Kau!" Ucap Freya marah dan langsung menarik kerah baju Marie bersamaan dengan kepalan tangannya yang sudah bersiap-siap.
"Kau menyedihkan Freya, sifat keras kepalamulah yang aku benci." Balas Marie sambil menatap kearah Freya dengan tatapan tajamnya.
"Kau pikir Alexander akan senang melihatmu seperti ini? Kau pikir Warlen, Helena, dan rekan-rekanmu yang lain bahagia ketika kau tak memperdulikan dirimu sendiri?" Lanjut Marie dengan perasaan marah mengisi hatinya.
"Freya... Beristirahatlah, sudah beberapa hari kau tidak tidur. Aku sama sekali tidak bahagia saat mendengarmu berkata Aku tak apa." Ucap Marie yang kemudian menepis tangan Freya dan meninggalkan ruangan itu.
...•••...
Ditempat lain, dihalaman belakang Istana Kerajaan Alphatheria. Nampak terlihat ada dua gadis kecil ditemani oleh beberapa prajurit sedang bermain kembang api disekitar kolam berisikan ikan.
"HEI! HO! Dimasa depan kau harus menjadi seorang prajurit yang hebat! " Ucap salah satu gadis kecil berambut pirang dengan pakaian merahnya sambil mengangkat kembang api itu keatas.
"OOOH!!" Ujar kagum semangat seorang gadis kecil berambut ungu dengan pakaian biru yang memberi hormat layaknya prajurit.
"BENAR! SEMANGAT KALIAN AKU APRESIASI! CELIE! YUN-YUN!" Ucap seorang pria berkepala serigala sambil membusungkan dadanya.
"Berhentilah bertingkah konyol, Azgul." Ucap Pria bercodet yang berjalan menghampiri mereka sambil menghela nafas panjang.
"HAHAHAHAHA! KAU JUGA HARUS SEPERTIKU, LARK!" Balas Azgul sambil merangkul Lark dengan senyuman penuh percaya diri.
"Hei.. Apakah Freya akan baik-baik saja?" Lanjut Azgul yang berbisik dikuping Lark.
"Entahlah, kuharap Nona Marie berhasil membujuknya." Balas Lark sambil menatap kearah kamar Freya yang pada saat itu sudah terlihat gelap.
...•••...
Sementara itu ditempat Warlen dan Oliver, nampak sekali saat ini mereka berdua sudah berada tepat dibagian puncak Pohon Drassilius dalam keadaan yang cukup buruk.
Dihadapan mereka berdua nampak seorang wanita dengan pedang merah besar dan duduk disebuah kursi yang terbuat dari bagian pohon itu sambil memandang tajam kearah mereka.
"Kita bertemu lagi, mantan pahlawan kesepuluh. Warlen Lilith Illusia." Ucap Wanita itu yang menyeringai seram sambil mengeluarkan tekanan kekuatan besar disekitarnya.
"Cursed Hero, Rize..." Ucap Warlen yang menatap kearah wanita itu dalam-dalam dengan penuh rasa waspada.
Tepat disebelah Warlen nampak Oliver yang menatap kearah Rize dengan penuh kecemasan, dan sedikit takut saat merasakan tekanan kuat yang berasal dari Cursed Hero ini.
...Rize Griffith Eirini...
...•••••••••...
Kepada para pembaca Heroes of The World.
Maaf Author updatenya agak lama, dikarenakan ada hal-hal lain di RL yang harus dikerjakan.
Sekarang HOTW akan terus dilanjutkan sampai tamat.
Jangan copas ide orang yah, karena sebelum saya lanjutin cerita ini, saya sempet baca-baca novel lain dan nemuin ada beberapa plot cerita yang sama kayak HOTW.
Dan yang menyedihkannya adalah, novel dia lebih populer dari punya saya.. (T_T)
__ADS_1
Terima Kasih.
By. Aehehehuhe