
Tengah malam, hari pertama perjalanan Warlen seorang diri, dia berjalan kearah Pohon Besar yang saat ini berada ditengah-tengah Hutan Golbum.
Didalam perjalanannya Warlen juga sempat melihat-lihat sekelilingnya, dan mendapati adanya sarang lebah yang besar diatas pepohonan itu.
Warlen berencana untuk mengisi perutnya yang lapar, sebab dirinya kehilangan daging kering yang diberikan oleh rekan-rekannya seusai dirinya meninggalkan perkemahan Kerajaan Alphatheria.
"Kelihatannya enak.." Ucap Warlen sambil mendongak keatas memandang sarang lebah besar sebesar gedung bertingkat itu yang meneteskan madunya.
"Astaga.. Lebahnya gede amat!" Lanjut Warlen yang terkejut saat melihat beberapa lebah seukuran anak kecil manusia itu sambil mundur selangkah.
Nampak terlihat banyak sekali kerumunan lebah yang sedang terbang mengitari sarang itu, seluruh tubuhnya berwarna kuning dan hitam disertai sengatan tajam sebesar lengan manusia mengekor pada tubuhnya.
Warlen nampak sedikit merinding geli melihat kerumunan lebah besar, namun tetap saja perutnya sudah benar-benar keroncongan seusainya bertarung dengan Petra.
Walaupun perasaan didalam hatinya enggan dan geli, dirinya tetap memilih untuk meghajar kerumunan lebah yang ada dihadapannya.
"Diamond's Eye!" Ucap Warlen yang kemudian melompat melesat kearah kerumunan lebah itu, Warlen berharap perutnya akan terisi oleh rasa manis dari sarang lebah itu.
'Ya Tuha-' Belum selesai Warlen mengucapkan perasaannya. Warlen malah terjatuh dari lesatannya itu, dan kemudian membuat suara yang menarik kerumunan lebah itu kearah dirinya.
BRUK!!! Terdengar suara Warlen yang terjatuh dari udara menghantam kedaratan.
"Sialan.. Aku lupa kalau aku ini iblis." Gumam Warlen lirih sambil memegangi kepalanya yang sakit seperti ada kilat kuning menyambar saat dirinya ingin berharap pada Tuhan.
Terlihat kerumunan lebah besar itu langsung menyerang Warlen yang saat ini sedang bergumul dengan pikirannya sendiri, dia lupa kalau dirinya sudah menjadi iblis sepenuhnya.
Namun Warlen dengan sigap membuat sebuah perisai seperti penjara yang terbuat dari es, dan kemudian melindungi dirinya dari lebah-lebah itu.
"Ice Prison!" Rapalan mantra Warlen yang pertama, namun dirinya merasa hal itu belumlah cukup, dia juga menambahkan sebuah perisai yang terbuat dari lumpur, dan melapisi penjara es miliknya.
"Mud Wall!" Lanjut Warlen yang kemudian langsung beranjak berdiri menatap kearah lebah-lebah itu dengan wajah depresi, dia sedikit cemas kalau pelindungnya pecah.
BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! Terdengar suara dari tabrakan lebah-lebah besar itu yang terus-menerus menabrak ke perisai pelindung milik Warlen.
"Buset! Jarumnya aja sebesar lengan tanganku!" Ucap Warlen yang terkejut dengan nada meninggi, sambil menggenggam lengan tangannya sendiri dan kemudian membanding-bandingkannya.
"Oh... Baiklah.." Ucap Warlen yang kemudian mengambil pedangnya lalu mengarahkan ujung mata pedangnya kearah lebah-lebah itu satu persatu dan berucap. "Tolonglah. Aku hanya lapar."
Warlen melepaskan sihir pelindungnya kemudian melesat menyerang kerumunan lebah itu sambil mengucapkan rapalan mantranya. "Aqua Broadsword."
Warlen memperbesar jangkauan serangannya dan juga merubah bentuk pedangnya memakai element utamanya yaitu, air.
Element airnya saat ini sudah melapisi bagian-bagian tajam dari mata pedangnya, membuatnya melebar dan juga memanjang, seperti sebuah Broadsword.
JRASH! JRASH! JRASH! JRASH! JRASH! Suara beruntun dari ayunan pedang Warlen yang terus menerus memotong kerumunan lebah didekatnya.
Tebasan demi tebasan diayunkan olehnya, menghabisi seluruh kerumunan lebah disekitar dirinya dengan kecepatan yang bahkan tak dapat dilihat oleh manusia normal.
Jika dilihat dengan mata manusia normal, Warlen hanya terlihat diam ditempat seakan tidak bergerak, namun ada satu titik yang tak bisa disaksikan yaitu, pedangnya seperti bayangan sinar biru bahkan meninggalkan sebuah Afterimage.
...•••...
...Afterimage....
...Gambaran objek yang seakan menetap atau diam dalam beberapa saat, walaupun sebenarnya objek tersebut sudah bergerak ataupun menghilang....
...•••...
__ADS_1
Terlihat juga masih banyak kerumunan lebah-lebah yang sedikit jauh dari tempat Warlen. "Merepotkan saja.." Gumamnya sambil menyiapkan beberapa rapalan sihir.
"Aqua Blade Dance!" Ucap Warlen yang kemudian melompat keudara, lalu menyerang musuh-musuhnya menggunakan sayatan energi element air yang dilemparkan oleh ayunan pedangnya.
Warlen mengayunkan pedangnya dari atas kebawah lalu dari bawah keatas secara lurus, dan muncul dua buah sayatan energi element air kemudian memotong lebah-lebah yang berjarak cukup jauh darinya.
Setelahnya dia melanjutkan ayunan pedangnya dari atas-kiri ke bawah-kanan, dan dari atas-kanan kebawah-kiri seperti huruf X.
Muncul juga dua buah sayatan energi air yang kemudian langsung memotong lebah-lebah itu menjadi empat bagian.
Belum selesai sampai disana, Warlen mengakhiri serangan beruntunnya dengan cara melemparkan energi air yang besar kearah lebah-lebah itu.
Warlen berputar diudara seperti kincir angin, dan kemudian membuat element air yang berada dipedangnya ikut berputar terlempar lalu meluas memotong menghabisi lebah-lebah itu dalam radius satu kilometer.
JRASH!!!!!!!!!! BYUR!!!!! DRRRRSSSSSS!!! Terdengar suara dari lemparan energi air yang memotong kerumunan lebah-lebah itu diiringi dengan suara air, dan turunnya hujan dari langit.
DRAP! "Fyuh... Selesai juga.." Ucap Warlen yang baru saja mendarat ke daratan. Dia melihat sekelilingnya sambil melirik kearah sarang lebah itu dengan perut yang berbunyi.
Kruyuuuk~ "Maafkan aku.. Teman-teman lebah." Ucap Warlen sambil memegangi perutnya, dan lalu berjalan kearah sarang lebah yang seukuran rumah itu.
Singkat cerita, hari pertama perjalanan Warlen diiringi oleh pertemuannya dengan rekan-rekannya dari Kerajaan Alphatheria, Jendral Iblis Petra, dan juga sekumpulan Lebah seukuran manusia.
•••
Pagi Harinya, dihari kedua Perjalanan Warlen.
Matahari pagi sudah mulai bersinar diatas Benua Elzia membuat pepohonan tandus di Hutan Golbum semakin terlihat, dan kabut gelap disana mulai menghilang.
Nampak juga ada beberapa dedaunan hijau yang mulai bertumbuh diranting-ranting pohon, akan tetapi anehnya daun-daun itu langsung mengering dan gugur begitu saja.
Angin ditempat itu bertiup sepoi-sepoi sekaligus membawa aroma air hujan yang meresap kedalam hidung, diikuti juga beberapa dedaunan kering berterbangan kesana kemari.
Pada saat itu sungai-sungai deras di Hutan Golbum sedikit tenang, hanya terdengar beberapa suara serangga dan sedikit suara dari langkah kaki hewan-hewan yang menginjak dedaunan kering.
Terlihat Warlen masih tertidur lelap diatas ranting lebar salah satu pepohohonan, nampak juga sebuah aliran inti sihir yang berwarna merah ruby melapisi tubuhnya saat beristirahat.
Tepat didasar pohon tempat Warlen tertidur, dapat dilihat adanya sisa-sisa makanan dari sarang lebah yang malamnya sudah dia santap untuk mengisi perutnya.
Entah apa yang sedang dipikirkan Warlen, tiba-tiba saja dia terbangun seperti orang terkejut dan kemudian melompat kebawah lalu memasuki semak-semak.
"Fuah! Leganya.." Ucap Warlen sambil mengangkat bagian celana depannya yang menurun, dia juga sempat menggunakan element airnya untuk membersihkan tangannya dan YOU KNOW LAH.
Seusainya buang air kecil, dirinya sedikit merasa aneh dengan sekitarnya, mendadak saja dirinya merasa adanya seseorang yang saat ini sedang memperhatikan dirinya.
Warlenpun mulai mencari-cari dengan mata yang melihat sekelilingnya, tidak butuh waktu lama baginya untuk mencari keberadaan mereka menggunakan Diamond's Eye.
Tatapan mata Warlen terhenti disebuah portal sihir kecil berbentuk lingkaran tepat dibelakang punggungnya, dan mendapati adanya dua wajah wanita yang mengintipnya dari dalam portal itu.
"IBU!? NONA GREMORY!?" Teriak Warlen yang terkejut sambil menutupi bagian sensitifnya dengan kedua tangannya karena malu. Sontak juga saat itu mata Warlen terlihat melebar, badannya sedikit kebelakang, mulutnya menganga, dan pipinya memerah.
"Sepertinya kita ketahuan yah.." Ucap Gremory sambil tersenyum lebar lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bersamaan juga dengan munculnya keringat diwajahnya.
"Anakku sudah besar~" Ucap Amber bernada menggoda sambil menutup mulutnya memakai jari-jemarinya, dan kemudian tersenyum lembut seakan tak berdosa dengan kepala yang sedikit miring.
"S-S-S-SEJAK KAPAN KALIAN MENGINTIPKU!!!???" Suara teriakan Warlen yang menggelegarkan seluruh Hutan Golbum, diikuti juga dengan adanya beberapa kicauan burung terbang kelangit biru.
•••
__ADS_1
Singkat saja, sebelumnya Amber mengkhawatirkan Warlen yang merupakan anak laki-lakinya itu. Akan tetapi disaat Amber menghubungi Zarin (Adik Warlen). Amber mendapati kalau ternyata Warlen memilih untuk berpisah dari mereka.
Oleh sebab itu Gremory membantu Amber untuk membukakan portal demi mengintip aktifias Warlen dari kejauhan. Sebab Amber terus saja merengek pada Gremory untuk membantunya.
Pada saat ini Amber dan Gremory juga sudah mengetahui rencana Warlen yang ingin melepaskan segel Dryad di Hutan Golbum, dengan alasan itu Warlenpun akhirnya menerima perlakuan mereka berdua dengan mengelus dada.
"Aku paham.. Tapi kalian tidak sopan, mengintipku disaat aku sedang buang air." Tegur Warlen pada mereka berdua sambil menepuk jidat dan menggelengkan kepalanya, dia juga menghela nafas panjang seusainya menegur mereka.
"Ya ampun~ Aku juga sudah sering melihatnya saat dirimu kecil dulu, jadi tidak usah malu~" Goda Amber yang tersenyum sambil menutup mulutnya memakai tangan kirinya, dan melambaikan tangan kanannya seperti sudahlah tidak apa-apa.
"Itu benar~ Lagipula kami sudah lebih dewasa darimu~" Ucap Gremory yang bernada dan berpose sama dengan Amber, bermkasud membenarkan perkataan dari sahabatnya itu.
"Haaaah~ Terserah kalian deh. Yang pasti, jangan diulangi lagi. Itu tidak sopan." Tegur Warlen sekali lagi yang mengambil nafas panjang sambil bersilang tangan, dan menatap mereka berdua dengan jengkel.
"Omong-omong.. Bagaimana kondisimu bu?" Tanya Warlen masih dalam pose yang sama, namun alisnya sedikit menurun karena cemas. Didalam lubuk hatinya, Warlen sedikit senang karena ibunya benar-benar mengkhawatirkan dirinya.
"Tidak baik, dan juga tidak buruk." Jawab Amber dengan raut wajah yang sontak langsung berubah menjadi sedih, dirinya sangat mencemaskan perasaan Warlen. Amber tidak ingin Warlen terlalu mencemaskan keadaan dirinya.
"Bu.. Tenang saja. Aku ini kuat, jadi ibu tak usah khawatir. Lagipula, beberapa hari lagi aku akan mengunjungimu." Jawab Warlen sambil tersenyum lebar dan menaruh kedua telapak tangannya dibelakang kepalanya, seperti sedang orang yang sedang bersantai.
"Aku akan menunggunya." Balas Amber sambil tersenyum lembut kearah Warlen, diikuti dengan tatapan Gremory yang menatap tajam kearah Warlen.
"Ada apa?" Tanya Warlen yang merasa aneh dengan tatapan tajam Gremory.
"Amber.. Kau tidak lupa kan?" Tanya Gremory yang melihat kearah Amber memakai raut wajah serius, terlihat juga pertanyaan dari Gremory dijawab Amber dengan anggukkan kepalanya.
"Kau ingin melepaskan segel Dryad kan?" Tanya Gremory dengan satu alis yang meninggi, dan kemudian bertolak pinggang memakai satu tangannya.
"Iya lalu?" Tanya Warlen sambil mengerutkan alisnya, dan menatap kearah Gremory.
Gremory menjelaskan kalau pohon besar yang berada di tengah Hutan Golbum ini merupakan bijih kecil dari Pohon Yggdrasil, Amber juga menyampaikan kalau bijih kecil itu dinamakan Drasilius.
"Lokasi tersegelnya Dryad itu ada dipaling atas Pohon Drasillius, dan bukan dipaling bawah." Ucap Gremory sambil bersilang tangan menatap tajam kearah Warlen.
"Aku tak mengerti.. Pada intinya, Dryad itu ada diatas pohon yang bernama Drasilius ini kan? Aku hanya perlu memanjatnya saja." Ucap Warlen sambil bertolak pinggang menatap mereka berdua dengan mata yang sedikit menyipit.
Amber hanya tertawa-tawa melihat respon dari Warlen, nampak juga disebelah Amber terlihat Gremory yang menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa? Itu tak penting. Sekarang aku harus kesana." Ucap Warlen jengkel sambil berbalik badan dan bersiap untuk pergi.
"Tidak-tidak.. Kau harus masuk kedalam Pohon Drasilius jika ingin membebaskan Dryad itu." Cetus Amber sambil menahan perutnya dan mengusap airmatanya karena tertawa, Amber tak menyangka anak laki-lakinya akan sepolos ini.
"Hah?" Tanya Warlen dengan nada yang sedikit meninggi sambil menoleh kebelakang, dan melirik jengkel kearah mereka berdua.
"Tepat didasar Pohon Drasilius terdapat goa yang besar, masuklah dari sana. Terlebih lagi kau tidak akan bisa memanjatnya dari luar." Balas Gremory dengan nada yang sedikit meninggi karena kesal.
"Aku jadi semakin penasaran.." Ucap Warlen yang kemudian melesat cepat kearah Pohon Drasilius, diikuti juga dengan teriakan pamitnya kepada mereka berdua. "AKU PERGI DULU!!"
•••
"Hei, Amber. Sifatnya mirip sekali dengan dirimu." Ucap Gremory sambil menunjuk Warlen, dan melirik kearah Amber dengan tatapan yang Ibu sama anak sama aja.
"Hahahaha~ Masa sih?" Balas Amber dengan nada yang menggoda sambil menyentuh pipinya, dan memiringkan kepalanya.
•••
NEXT DI BAB SELANJUTNYA!!!
__ADS_1