
Masih dihari pertama, malam hari, Hutan Golbum. Suasana semakin mencekam, Warlen tak menyangka dirinya akan bertemu dengan seekor raksaksa yang saat ini berada dihadapan pandangan matanya.
Raksaksa itu menatap Warlen dengan bola mata hitam logam, senyum lebarnya diiringi gigi tajam, rambut lebatnya menutupi wajah, dan cakarnya yang tajam meninggalkan bekas goresan dipepohonan tinggi itu.
Warlen hanya terdiam membisu menatap tajam kearah raksaksa itu, dengan cepat Warlen langsung membentuk segel memakai kedua tangannya tepat didepan dada, seperti lambang rasi bintang PISCES.
Tangan kirinya membentuk huruf O dengan telunjuk dan jempolnya, jari manis, tengah, dan kelingkingnya lurus vertikal. Tangan kanannya juga melakukan hal yang sama namun terbalik, dan kemudian memposisikan tangan kirinya diatas tangan kanannya yang berjarak sekitar 10cm.
"Bisakah kita berteman??" Tanya Warlen yang kemudian terdiam sambil tersenyum tipis diwajahnya pada raksaksa itu. "Lihat, sepertinya kita sama-sama terjebak disini, jadi yah.. seharusnya kita berdua melakukan yang terbaik untuk keluar dari sini." Lanjut Warlen.
"Aku benci jika harus melawan dirimu, aku tak punya banyak waktu... atau?? Jangan mendekatiku jika kau tak ingin terlahir kembali, mengerti?" Tegas Warlen yang kemudian melepaskan segel ditangannya lalu mulai berjalan dengan santainya melewati raksaksa itu.
Raksaksa itu hanya menatap Warlen dengan tajam yang saat ini sedang berjalan melewatinya perlahan-lahan, sampai kemudian raksaka itu membuka telapak tangannya yang lebar, dan langsung ingin menampar punggung Warlen dengan seluruh kekuatannya.
WUZH! Suara dari ayunan tangan raksaka itu yang terdengar kuat, namun anehnya mendadak saja Warlen menghilang dari pandangan raksaksa itu, layaknya angin yang tak kelihatan.
"Sudah kubilang.. Waaaah~ Tadi itu berbahaya tahu!" Tegur Warlen dengan usilnya yang sontak sudah berpindah tempat dan berjongkok dipundak raksaka itu, sambil melihat kearah tangan raksaka itu yang menghempaskan pepohonan didepannya.
"Kau sedang menari ya?" Tanya Warlen yang berlagak tengil sambil berpindah-pindah kesana-kemari dalam sekejap mata, nampak raksaksa itu marah dan terus mengayunkan kedua tangannya untuk menghantam Warlen dengan sekuat tenaganya.
"Sudah kubilang aku tak ingin melawanmu... Aku tak tahu kau bisa mengerti kata-kataku atau tidak... Tapi.." Ejek Warlen yang tengil, dan kemudian dirinya berpindah tempat lagi tepat didepan pipi raksaksa itu, kemudian dia mengayunkan pukulan keras tepat kearahnya.
BUAGH!!!!! Pukulan itu membuat gigi gusi dari raksaksa itu patah hingga keluar bersamaan dengan darah yang muncrat dari mulutnya, sampai-sampai raksaksa itu terjatuh ketanah yang menimbulkan guncangan didalam Hutan Golbum.
__ADS_1
"Sudah kuperingatkan bukan? Kau kira aku takut kepadamu? Aku mau tanya.. Bagaimana caraku keluar dari sini? Aku ingin pergi ke Kota Larden." Tanya Warlen yang pada saat ini sedang berdiri tepat diatas kepala raksaksa itu.
Nampak raksaksa itu hanya memandang Warlen dengan raut wajah yang takut sambil menahan rasa sakit pada gusinya, dia diam tanpa kata, tak berbicara sedikitpun.
"Baiklah kalau begitu... Aku pergi dulu.. Jangan menakut-nakuti ataupun menyakiti orang lagi.." Tegur Warlen yang kemudian berjalan meninggalkan raksaka itu dalam keadaan tergeletak lemas.
"Atau aku akan memburumu!" Lanjut Warlen sambil menoleh kebelakang diikuti kegelapan lalu melirik kearah raksaksa itu dengan mata merah yang menyala mengerikan.
Nampak raksaksa itu hanya menatap Warlen dengan sinis, kemudian dapat terdengar dia berteriak sekuat tenaganya sambil mengangkat sebuah batang pohon besar, dan kemudian melemparnya kearah Warlen.
Warlen yang menyadari hal itu langsung dengan sekejap mata berpindah tempat tepat dihadapan wajah dari raksaksa itu, dan membentuk segel PISCES pada tangannya.
"Water Canon." Ucap Warlen yang merapalkan sihirnya, kemudian diantara tengah-tengah kedua segel tangannya muncul sebuah bola air sebesar bola baseball yang didalamnya terdapat putaran pusaran air bertekanan tinggi.
Dengan reflek cepatnya raksaksa itu langsung melindungi wajahnya memakai kedua tangannya layaknya seorang petinju, dia terus menahan serangan kuat itu sampai terseret kebelakang.
Hal yang tak pernah disangka oleh raksaksa itu terjadi, tembakan Water Canon biru itu mulai berwarna merah seperti bercampur darah diikuti dengan kulit, daging, sekaligus jaringan otot lainnya yang mulai terkelupas akibat menahan serangan Warlen, sampai akhirnya kedua tangan raksaksa itu hanya menyisakan tulang.
"GRAAAAAAAAAOOO!!!!!!!" Teriak kesakitan raksaksa itu, dia merintih kesakitan, dia terjatuh memakai punggung, dia berguling kekanan dan kekiri, dia merasakan sakit luar biasa pada kedua tangannya yang sudah menjadi tulang.
BUAGH!!
"Diamlah... Mulutmu bau.." Tegur Warlen sambil tersenyum lebar diikuti dengan pukulan keras yang melayang tepat ditulang pipi raksaksa itu, sampai membuatnya terseret cukup jauh dan menabrak pepohonan lalu berhenti.
__ADS_1
"GRAO-" Belum sempat raksaksa itu berteriak tiba-tiba saja Warlen sudah berada tepat didepan kedua bola matanya, membuat dirinya terdiam tak jadi berteriak karena takut.
"Kukira kau itu bisu.." Ucap Warlen yang mendekatkan kepalanya tepat kedepan bola mata raksaksa itu, Warlen menatapnya dengan tajam, matanya menyala berwarna merah ruby, dan wajahnya tertutupi kegelapan.
"Kau tahu? Sepertinya kau tidak tau siapa diriku.. Yah, lagipula itu tak penting." Ucap Warlen sambil mengangkat dan membuka telapak tangan kirinya keatas, kemudian muncul percikan api berwarna biru yang mulai membakar telapak tangannya.
"Kurasa kau sudah bosan hidup.." Ucap Warlen yang kemudian merapalkan mantra sihirnya sekali lagi. "Blue Flame Fist" Lanjutnya lalu Warlen mengepalkan telapak tangannya, dan langsung mengantam wajah raksaksa itu sekuat tenaga, sampai hancur hingga meledakkan kepala dari raksaksa itu.
BUM!!!! Terdengar suara ledakan diiringi dengan kilatan sinar biru yang membesar hingga kelangit-langit malam hutan itu, dan membuat banyak dari raksaksa bahkan monster-monster penghuni hutan itu tertarik sampai datang kearah Warlen.
Warlen hanya melihat seluruh monster dan penghuni hutan itu dengan wajah sombongnya, kemudian dia mulai mengambil pedang dipinggangnya lalu mulai merapalkan beberapa mantra.
"Death Guardian.." Ucap Warlen dan kemudian dia melihat kesekelilingnya dengan wajah yang mengejek para penghuni hutan itu. "Setidaknya kalian harus tahu siapa lawanmu.. cecunguk kecil." Lanjut Warlen yang pada saat itu menatap mereka semua dengan mata yang merah menyala.
...Warlen Lilith Eirini...
...Death Guardian Magic...
...•••••••••••••...
Lanjut di BAB SELANJUTNYA YAH!!!
__ADS_1