
...Gerbang Kota Timur Duskford...
2 jam sebelum penyerangan.
Sinar rembulan masih menyinari bumi. Hawa dingin tengah malam semakin terasa dan suasana kota sudah terlihat sepi.
Terlihat keadaan diluar kota pun terasa tenang hanya ada beberapa binatang liar, rumput hijau yang tumbuh setinggi pinggang manusia sambil tertiup angin dari arah timur ke barat.
Nampak seorang pria berambut hitam logam berkulit sawo matang dengan bajunya yang terbasahi keringat dan celana panjang kuning tua yang terlihat lusuh serta dengan sepatu boots bergespernya.
Sedang berlari-lari sekuat tenaga dan mantra sihirnya melewati rumput-rumput hijau itu kearah gerbang Kota Duskford yang berada di bagian timur dengan ekspresi wajah yang panik sambil berteriak. "PERHATIAN!!! PERHATIAAN!!!"
Para penjaga gerbang yang sedang bertugas untuk mengintai keadaan sekitar dari ketinggian, dikejutkan dengan melihat pria yang berlari itu menggunakan teropong.
Penjaga pengintaipun mulai membunyikan lonceng yang berada disebelahnya sebanyak satu kali BONG! sebagai penanda jika ada orang yang datang dari luar kerajaan.
Para penjaga yang mendengar sinyal itu langsung bersiaga, bersenjatakan tombak lengkap dengan pakaian besi mereka sebagai pelindung menuju keluar gerbang timur.
Terlihat ada lima sub-kelompok yang terdiri dari tiga orang mulai mendekati pria yang berlari-larian itu.
Pria dengan baju lusuh itupun mulai berteriak kepada para penjaga. "PERHATIAN!!! PERHATIAN!!"
Salah satu kapten kelompok yang curiga melihat pria ini mulai memberikan perintah untuk berhenti dengan mengangkat tangannya.
Kemudian terlihat kapten itu mulai berjalan sedikit mendekatinya dan berhenti sekitar 10 meter dari pria itu sambil beteriak. "SIAPA KAU? DARI MANA ASALMU?"
Pria itu tampak letih kehilangan tenaganya dengan nafasnya yang terengah-engah dia kemudian berlutut lalu berkata. "hah... hah.... hah.... namaku Alguero.... aku.. berasal dari Kota Birdiela.. aku seorang.. pengirim.. pesan..."
Birdiela adalah sebuah desa yang menjadi penghubung antara Kota Kerajaan Duskford dan Kota Kerajaan Vinziala. Karena letaknya yang berada ditengah-tengah mereka.
Vinziala adalah kota kerajaan tertua dan terkuat diantara semua kerjaan yang ada di Benua Elzia. Dikarenakan Pahlawan Pertama yang membuat Kota Kerajaan ini. Dijuluki juga sebagai Kerajaan Perang karena teknologinya yang sangat maju. Sebagian besar Manusia, Dwarf, Elf, Monster, dan beberapa Iblis lemah tinggal disana.
"Jika kau memang benar-benar pengirim pesan, seharusnya kau perlihatkan lambangmu sebelum kami yang kesini." Tegur sang kapten.
Pria itu kemudian memasukan tangannya kekantung saku celana kanannya untuk mengambil sebuah bukti, setelah dia menemukan apa yang dicari.
Dia memperlihatkan sebuah lambang berbentuk perisai yang terbuat dari emas dan kepala singa dengan mata menyala biru ruby terukir ditengahnya.
Dikejutkan dengan lambang yang diperlihatkan oleh pria itu. Kapten penjaga itu kemudian langsung memberikan pesan kepada prajurit yang lain untuk bergegas memberitahu Raja Alexander.
'Biasanya hanya ada 3 tingkatan dalam lambang pesan besi, perunggu, dan perak. Ini pertama kalinya bagiku melihat lambang ini. Aku pernah mendengar rumor bahwa lambang emas adalah status darurat. Ini benar-benar pesan yang buruk.' Ucap benak penjaga itu.
...Didalam Kota...
1 jam sebelum penyerangan.
Terlihat Alexander yang sedang berlari secepat tenaga dengan sihirnya menuju gerbang timur.
'Ini gawat! Lambang emas. Ini benar-benar pertanda buruk!' Pikir Alex sambil menambah kecepatan berlarinya.
Terlihat juga seorang wanita berkulit putih susu dengan rambut seputih salju dan mata berwarna biru muda. Lengkap dengan baju zirah peraknya ikut menyusul Alexander.
...Gerbang Kota Timur Duskford...
Terlihat Daren dengan rambut peraknya. Bersenjatakan halberd bermata dua dengan motif emas dan biru muda dikedua ujung tombaknya, sedang berbicara dengan Alguero disisi sebelah kanan pintu gerbang.
...Daren...
...Ragnarok Online Royal Guard...
...Pict From Google...
__ADS_1
Disekeliling mereka ada juga beberapa prajurit yang mulai berdatangan ditempat itu. Lalu Drap! Bunyi kaki Alexander yang baru saja tiba didepan gerbang timur.
Para penjaga dan Daren termasuk Alguero yang menyadari kedatangan Alexander dan Freya. Membungkuk dan memberi sambutan hormat. "Hormat terhadap yang Mulia Raja dan Ratu!"
Alexander terkejut mendengar nama 'Ratu', kemudian menoleh kebelakang dan melihat istrinya juga tiba dibelakangnya. "A-Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Alexander.
Freya hanya menjawab Alexander dengan wajah yang cemberut. "Apa!?" Ucap Freya ketus.
"T-Tidak jadi... S-Silakan." Jawab Alexander yang takut akan Freya.
Beberapa saat kemudian. . .
Terlihat Alexander dan Freya sedang bersama dengan Alguero ditempat yang sedikit jauh dari penjaga dan lokasi gerbang, sementara Daren sedang memberikan instruksi kepada para penjaga.
"Pertam--" Ucap Alguero yang belum menyelesaikan kata-katanya. Freya memotong perkataan Alguero.
"Tidak usah formal. Aku minta maaf karena tidak menyambutmu dengan baik. Ada apa sebenarnya?" Potong celoteh Freya dengan tegas.
"Maaf atas kelancangan saya." Jawab Alguero.
Seusai Alguero menyampaikan pesannya. Alexander dan Freya menunjukan ekspresi yang terkejut.
"I-Ini tidak... mungkin." Ucap Freya sedih.
"Benarkah, kau tidak salah dengan informasinya?" Tanya Alexander tegas pada Alguero.
"Atas nama Dewa dan Dewi, dan nyawaku, semua perkataanku adalah kebenarannya yang Mulia Raja." Balas Alguero seraya membungkukkan badannya.
Kemudian Freya berpamitan dengan Alexander dan Daren untuk lebih awal pulang ke istana, sementara Alguero mendapatkan perawatan akibat menggunakan sihir yang berlebihan.
Alexander mengeratkan kepalan tangannya, menggetarkan giginya dan membuat keputusan dalam hatinya. Dia menyampaikan pesan itu kepada seluruh prajuritnya.
Para prajurit yang mendengar semua hal itu merasa terpukul, takut, cemas, shock, berduka, dan patah semangat. Daren pun terlihat sangat kaget dengan apa yang diberitakan Alexander.
"SELURUH PRAJURIT! DENGARKAN AKU!" Teriak Alexander memanggil seluruh prajurit yang berada disana, nampak mereka semua memperhatikan Alexander termasuk Daren dan Alguero.
...-------------------------------------------...
...Isi Pidato Alexander...
Selama ini kita sudah hidup didalam kesengsaraan! Banyak dari keluarga, sahabat, bahkan orang yang paling kita cintai menjadi korban! Mereka dibunuh! Mereka disiksa! Mereka diperlakukan dengan kejam!
Apakah kita ingin hidup selamanya seperti ini!? Kita adalah bagian dari korban yang masih hidup dibawah kekejian, kebengisan, dan kejahatan Iblis! Sekarang adalah saatnya bagi kita untuk membalas mereka!
Kita adalah seorang pejuang! Kita dapat memilih hidup karena sebuah pilihan atau sebuah kesempatan! Motivasi atau manipulasi! Perasaan takut dan menyerah atau takut dan menerimanya lalu terus berjuang!
Aku Alexander! Memilih untuk hidup karena sebuah pilihan! Motivasi! Serta menerima rasa takutku! Angkat pedangmu pejuang-pejuang pemberani! Angkat perisaimu! Angkat kepalamu! Berjuanglah demi keyakinanmu sendiri! Kalahkan mushmu!
Tebas musuhmu! Bunuh mereka semua! Jangan biarkan sedikit-pun mereka menyentuh orang yang kita sayangi! Mungkin banyak dari kita yang tidak akan selamat! Tapi, lebih baik kita mati dalam pertempuran dari pada kita mati karena lari ketakutan!
Seluruh Prajurit!!! Bunyikan Genderang Perang didalam hati KALIAN!!!
...-------------------------------------------...
Tampak seluruh prajurit menyerukan semangat mereka setelah mendengar perkataan Alexander, Alguero juga merasa tersanjung dengan sikapnya.
Namun berbeda dengan Daren, entah apa yang dipikirkannya dia menggenggam kepalan tangannya dengan erat dan meninggalkan tempat itu setelah berpamitan dengan Alexander.
...Jalanan Kota...
Terlihat seorang perempuan dengan rambut oranye, dengan senjata busur dan anak panah ditangannya sedang berlarian kesana-sini mencari seseorang.
...Helena Duskford...
__ADS_1
...Dota 2 Windranger (Art By : Leonhart)...
...Pict From Google...
'KEMANA SIH DAREN ITU!?' Ucap Helena dalam benaknya sambil berlari kesana-kesini, lalu tiba-tiba ada seorang prajurit wanita yang memanggilnya.
"Putri! Tuan Putri Helena!" Ucap prajurit itu sambil berlari memanggilnya.
"Loh, Visca? Ada apa? Aku tidak akan keluar kota tanpa seizin ayahku lagi kok." Balasnya kesal.
"Buk...Bukan itu Putri." Balas Visca sambil mengatur nafasnya seusai berlari.
"Lalu? Aku akan dikenai hukum? Karena menggunakan sihirku didalam kota? Atau karna aku mengum---" Belum sempat Helena selesai berbicara, Visca memotong kata-katanya.
"Cursed Hero sedang menuju kesini." Potong Visca yang cemas.
"Semacam lelucon?" Jawab Helena santai sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak! Tuan Putri. Aku baru saja mendengarnya dari pengumuman ayah anda sebelumnya, dan saat ini Kerajaan Vinziala sudah binasa." Balas Visca dengan raut wajah cemas.
"Tidak.. Tidak... Itu tidak mungkin.. Orang sekuat apa yang bisa menyerang kerajaan itu.. MUSTAHIL APAKAH KAU MENGEJEKKU!!!" Teriak Helena yang seakan tidak percaya.
"Cur-Cur-Cursed Hero Pertama.... Jor-Jor-Jorgan Eiri." Jawab Visca gugup.
"Sekarang... dimanakah ayahku?" Tanya Helena dengan tekanan amarah yang meluap-luap.
"Ger-Gerbang.. Tim-Tim-Timur." Jawab Visca yang ketakutan.
Mendengar itu seketika Helena mengucap mantra, kemudian. "Speed of Wind! Rocket!" Muncul pusaran angin dan terdapat api berwarna biru seperti pelontar roket dikaki Helena. Lalu BLAR! Suara dari lesatan Helena kearah gerbang timur.
'Kuharap ibu belum mendengar pengumuman ini, dan Nenek kuharap kau baik-baik saja' Ucap Helena dengan wajah cemas dan sedih.
Beberapa saat setelah Helena pergi.
Terlihat tubuh Visca dengan beberapa penjaga yang sudah tak bernyawa. Visca yang baru saja bertemu dengan Helena pun merubah suara dan penampilannya diruang gelap.
"Ini terlalu mudah." Ucapnya sambil menyeringai.
...Dibalkon Istana...
30 menit sebelum penyerangan.
Terlihat Freya sedang duduk di tepian bagian tengah balkon istananya sambil menyentuh liontinnya. 'Maafkan aku... Ibu...' Ucapnya dalam hati sambil meneteskan air mata.
Cahaya bulan yang saat itu seperti mendengarkan kesedihannya mulai menyinari Freya dan bintang-bintang yang pun ikut menampilkan sinarnya.
...Freya POV...
...Pict From Google...
END
_____________________________________
Pesan Penullis :
Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.
Terima Kasih
__ADS_1