
...Padang Gurun Pasir Selatan...
Pada saat itu suasana terasa sunyi senyap, beberapa bintang dilangit bersinar biru, hanya dengan beralaskan pasir dan kain yang dia bawa, Warlen yang kelelahan akhirnya tertidur disebelah wanita itu.
Dia memberikan jubahnya sebagai selimut, dan menyalakan api unggun untuk menghangat kan badan dengan membakar beberapa kayu yang dia ambil dari pohon berbentuk payung disekitar tempat itu.
Pagi harinya, terlihat banyak hewan-hewan kecil yang sudah bergerak, cahaya matahari terbit sudah mulai terlihat diujung langit, dan wanita yang sebelumnya bersama dengan Warlen juga sudah menghilang.
•Warlen/Kentaro
Hoaaaaah~ tidurku nyenyak sekali, aku mulai mengusap-usap mataku dan duduk.
disekelilingku ada beberapa arang sisa api unggun semalam dan aku juga dikejutkan dengan menghilangnya wanita itu.
Saat ini yang kulihat hanya jubahku dan alas kain yang kuberikan padanya. 'Mungkin saja dia salah mengira kalau aku ini kakaknya.' Pikirku saat itu.
Aku juga sempat melihat ada beberapa potong daging kering dikantung jubahku, sepertinya wanita itu mengucapkan rasa terima kasihnya dengan meninggalkan daging ini.
Tak lama kemudian aku akhirnya pergi meninggalkan tempat ini.
Aku juga menggunakan element air milikku untuk membersihkan tubuh, mulut, dan pakaianku. "Tapi siapa gadis itu? Dia terlihat seperti bukan manusia." Tanyaku sendiri.
Aku yang merasa tidak akan menemukan jawabannya, akhirnya mengubur pertanyaan itu dalam-dalam dipikiranku.
Aku mulai melanjutkan perjalananku, seiring waktu berjalan matahari pagi yang menyinari padang gurun ini semakin lama semakin membuat tempat ini semakin panas.
"Andai saja aku membawa topi yang kubeli semalam." Gumam Warlen dengan perasaan jengkel.
Sekitar tiga jam perjalanan, aku mulai memandang ke bukit-bukit yang tak jauh dari pandanganku.
'Kalau bukit itu ada, artinya Reruntuhan Kota Larden sudah dekat.' Ucap benakku.
Aku juga mulai mengukur sebongkah batu yang ada ditengah-tengah kota itu, ukurannya besar sekali seperti gunung.
Mungkin saja dulunya Larden adalah kota yang sangat besar, namun saat ini mungkin bisa dibandingkan seperti Peta Pulau Bali dan Indonesia.
Aku terus berjalan dan berjalan, namun entah kenapa perasaanku bilang kalau batu itu sudah sangat dekat, namun aku masih belum juga sampai kesana, sebenarnya sebesar apa sih batu itu?
Sekitar tiga puluh menit pun berlalu. "PADAHAL BATU ITU BENAR-BENAR TERLIHAT DEKAT! KENAPA!?" Ucapku yang marah dengan keadaan ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba merubah suhu element airku menjadi dingin seperti batu es untuk pijakan kakiku.
'Bisa dibilang seperti ice skating, namun bedanya aku menggunakan sepatu boots.' Pikirku.
"Bayangkan sebuah jalur lurus yang dilapisi dengan air kemudian turunkan suhu air tersebut." Ucapku kecil sambil membayangkannya.
Aku mencoba sekuat tenaga untuk membayangkannya, namun pada akhirnya aku emosi lagi.
"BAYANGKAN BRENGSEK!" Teriakku kesal sambil menginjak-injak pasir berkali-kali.
__ADS_1
Sesaat setelah itu tiba-tiba saja, aku merasa dingin ditelapak kakiku, dan setelah aku merasakannya lagi, benar saja element airku keluar dari telapak kakiku dan membasahi sepatu bootsku.
Aku malah semakin kesal karena air yang keluar malah berada didalam sepatu bootsku.
"KENAPA AKU MALAH MEMBASAHI KAKIKU SENDIRI!? BODOHNYA AKU! ARGH!!!!!! SIALAN!" Teriakku jengkel sambil melihat airnya meluap keluar.
Akupun menarik kembali element air yang keluar kedalam tubuhku dan mencobanya sekali lagi dengan membayangkannya.
"Ice Bridge!" Ucapku yang kemudian aku melihat ada banyak sekali air yang menggenangi jalurku disepanjang jalan dengan posisi yang lurus.
Tak lama kemudian air itu mengeras seperti es, bisa dibayangkan seperti jalur 'Fashion Show' yang lurus.
Sepertinya aku bisa merubah bentuk dan polanya sesuai keinginanku. Entah bagaimana aku sedikit mengerti cara yang efektif untuk mengendalikan element.
Bisa saja ini hanya suatu keberuntungan atau berbekal dari diriku yang memang jenius.
"Aku memang jenius! Ya! Aku jen.... Tidak! Itu terdengar menyedihkan." Ucapku murung.
Pada akhirnya aku meluncur kearah batu itu dengan kurang baik, dikarenakan aku menggunakan sepatu boots, sampai akhirnya aku memutuskan untuk meluncur dengan tubuhku, walaupun terlihat konyol.
Untungnya aku juga menambahkan penghalang dikedua sisi jalurku seperti perosotan, dengan memanfaatkan gaya dorong air dibelakang kakiku. Aku bisa meluncur diatas jalur es ini dengan kecepatan tinggi.
Terlihat Warlen yang meluncur menggunakan badannya kearah Reruntuhan Kota Larden, dari ekspresi wajahnya yang kesal, mungkin kita bisa mengerti dia sedang berbicara 'BADANKU DINGIN SEKALI SIALAN' kira-kira seperti itu.
...Reruntuhan Kota Larden...
Terlihat Altares sedang membaca bukunya diatas batu besar itu, saat itu suasananya cukup sunyi, semilir angin, dan ruang teduh dibalik bukit itu menambah ketenangan ditempat itu.
•Altares Larden
Sepertinya ada yang datang, aku penasaran orang seper...... apa yang dilakukan olehnya? Aku melihat Warlen sedang meluncur kearah sini dengan tampang wajah yang tidak bisa dijelaskan.
Aku melihatnya menabrak reruntuhan dan berakhir dengan selamat, aku menyadari dia menggunakan element airnya sebagai bantalan, dan berusaha mendorong kearah yang berlawanan untuk meminimalisir tabrakan yang terjadi.
Element air yang berevolusi, bisa menciptakan jalur es sepanjang ini, sungguh orang yang menarik, mungkin saja dia sedikit jenius, umumnya butuh waktu lama untuk memahami inti dasar dari sebuah element.
Mungkin sekitar sepuluh tahun itu pun hanya bisa merubahnya menjadi sebongkah es batu berukuran bola meriam, namunndia bisa membuatnya sepanjang ini, benar-benar seorang jenius.
Tidak-tidak, kau salah paham Tuan Altares.
Aku sedikit heran dengan pah... tunggu, tattoo ditangannya menghilang? Apa yang terjadi?
ini aneh.
Aku tidak merasakan pancaran aura pahlawan miliknya lagi, apakah dia tidak ingin memperlihatkannya? sungguh orang yang sangat waspada.
Mungkin dia benar-benar bisa membuka segel yang mengurung Marie. Warlen sang Putra Amber Lilith.
"Hmph! Apa maumu?" Tanyaku tegas kearah Warlen.
__ADS_1
•Sakamichi/Warlen
Aku menjawab perkataannya dengan tegas, aku menatap matanya dengan tajam, aku berkata-kata lantang agar bisa diterima sebagai muridnya, aku ingin dia mengajarkan banyak hal tentang cara kerja dunia ini.
Diawal pertemuan kami, Altares menolakku mentah-mentah, setelah aku menjelaskan semua yang terjadi, alasan utama dia menolakku.
Disebabkan karena aku terlalu naif dalam mengambil keputusan dan memutuskan hubunganku dengan Valkyrie yang menjadi simbol pahlawanku.
Namun aku terus memohon kepadanya untuk mengajariku semuanya, hari demi hari aku terus menunggu dan menunggu, aku sangat ingin menjadi lebih kuat.
Bahkan aku berkemah dan tidur disana, setiap harinya aku hanya memakan satu daging kering dari kantung pemberian wanita itu.
Terkadang aku melihat Altares menghilang pada malam hari, dan juga terkadang aku melihatnya memperhatikanku sesekali, mungkin selama aku tidak mengganggunya, dia tidak akan memperdulikanku.
Seminggu telah berlalu sejak aku menunggu Altares, terkadang ada beberapa penjarah makam yang datang kesini, kebanyakan mereka semua dibunuh oleh Altares.
Kemudian dijadikan pasukannya, dari ras manusia, elf, dwarf, monster bahkan ada ras iblis lemah yang datang kesini.
Dua minggu kemudian persediaan makanku sudah habis, hari-hariku kulalui dengan cukup sulit, terkadang aku memakan hewan-hewan kecil yang hidup direruntuhan ini, dan selamat untuk Helena yang akan menikahi Daren, maaf aku tidak bisa datang.
Dihari berikutnya, aku melihat Altares berdiri tepat dihadapanku setelah aku bangun dari tidurku, dia akan menjadikanku muridnya jika aku bisa menggunakan Dark Iron Fist (Sebuah sihir tingkat lanjut dari Iron Body).
Dia juga menawarkan sebuah kontrak, apabila aku tidak berhasil maka nyawaku yang akan menjadi taruhannya, akupun menerima tawarannya.
Setelahnya aku mulai berlatih dengan pasukan tengkorak miliknya, dan dia melarangku menggunakan element, dia juga menjelaskan padaku kalau inti sihir dan element itu berbeda.
Mungkin penjelasan mudahnya adalah, jika aku ingin menggunakan element maka aku harus melihat kearah kiri, dan jika aku ingin menggunakan sihir maka aku harus melihat kearah kanan.
Jika ingin menggunakan keduanya, mataku harus bisa melihat kekiri dan kekanan secara bersamaan... mungkin bisa dibilang membelah diri.
Entah bagaimana caranya aku bisa dengan mudah menggunakan element, sebenarnya aku tidak paham, tapi aku juga paham dengan penjelasan Altares.
Hanya saja aku belum bisa menggunakan inti sihirku dengan baik saat ini, Altares hanya menyuruhku untuk memusatkan tenagaku di kepalan tanganku saat ini
Waktuku hanya kurang dari empat tahun sebelum Lucifer bangkit, aku harus menjadi lebih kuat untuk melindungi kalian semua, aku berjanji aku tidak akan mengecewakanmu Alexander.
Kupikir akan keren saat memikirkan hal ini dengan melihat keatas langit biru, aku malah kena uppercut pasukan tengkorak ini.
Buagh!! Suara dari pukulan tengkorak yang mengenai rahang Warlen K.O. , terlihat Warlen yang pingsan.
•Altares Larden
Apa yang sedang dia lakukan? Mencoba gerakan baru? Benar-benar jenius sejati. "Hmph!" Ucapku saat melihat Warlen yang terjatuh.
END. .
______________________________________
Pesan Penullis :
__ADS_1
Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.
Terima Kasih