
?Delapan hari setelah pertemuan mereka dengan Maurer, Freya memutuskan untuk pergi ke Goddess Temple dalam rangka menjadi lebih kuat juga bertemu dengan Valkyrie, Audelia dan Helena pergi ke Kota Taris untuk bertemu dengan pandai besi Yun-yun, dan aku bersama dengan Garm pergi ke kota Grizel.
Yah.. Maurer yang juga kakaknya Garm ikut bersama kami kesana, diperjalanan dia hanya memelototiku dengan sinis, seakan dia tidak ingin Garm dekat-dekat denganku, tapi anehnya selama perjalanan Garm terlihat sangat bersemangat.
Awalnya aku hanya memberikan beberapa potong daging panggang pada Garm, tapi dia malah tiba-tiba nongol dan memakan daging panggang yang kuberikan pada Garm, dan itu semua terjadi disaat kami bermalam dijalan.
Didalam tidur-pun dia juga selalu berada ditengah-tengah kami agar tidak terjadi hal yang diinginkan, terus dan terus saja dia mengoceh ini itu tentang suami yang ideal untuk adiknya.
......•Tengah Malam•......
...Disuatu tempat saat berjalan ke Grizel...
Terlihat Garm sudah tidur pulas menggunakan kantung tidurnya, hanya ada aku dan Maurer yang masih terjaga didepan api unggun, sebelumnya Maurer menyuruhku untuk beristirahat, tapi aku menolaknya, yah.. aku belum bisa tidur.
"Hei, adik.. aku ingin bertanya satu hal, tentang kalung itu, darimana kau mendapatkannya?" tanya Maurer sambil menambahkan kayu pada api unggun itu, clack-clack bunyi dari lemparan kayu kearah api unggun itu, crackle!
"Aku-pun tidak tau, waktu itu Altares yang juga guruku bilang untuk tidak menghilangkannya, katanya pemberian dari seseorang untuk melindungiku." Jelasku padanya.
"Yah.. baiklah kalau seperti itu.. Hahahaha!" Jawab Maurer sambil tertawa.
"Kau kenapa?" Tanyaku sambil dengan perasaan Maurer ini benar-benar aneh.
"Tidak ada apa-apa.. tenang saja yang dikatakan gurumu itu benar" Jawabnya.
"Yah.. Terserahlah... aku tidur dulu.." Jawabku ketus.
Beberapa saat kemudian. . .
Terlihat Warlen dan Garm yang sudah tertidur.
"Kalung yang melambangkan sekutu Lilith, aku penasaran apakah adiknya Zarin yang berada didalam kalung itu" ucap Maurer kecil sambil memandangi api unggun itu.
Terlihat diatas langit dibawah sinar bulan ada orang yang sedang terbang menggunakan sayapnya, namun dirinya tertutup oleh bayangan sihir miliknya.
"Hm~ kau memanggilku Maurer?" ucap orang yang terbang itu.
"Ternyata kau, benar-benar tidak sopan, berbicara padaku tapi tidak menampakkan dirimu" ucap Maurer sambil melihat kearah Api Unggun itu.
"Mulutmu itu tetap saja kasar pada wanita, bersikaplah sedikit lembut, keburukan mulutmu-lah yang menyebabkan dirimu belum menikah." ucap perempuan ketus.
"Kau.. ingin bertarung denganku sekarang?" ucap Maurer yang kesal kemudian mematahkan ranting kayu yang ada ditangannya, ctas!
"Benar, kau itu kasar" ucap perempuan itu ketus.
"Apa yang kau rencanakan untuk dirinya Lilith?" tanya Maurer pada Lilith sambil melihat Warlen.
"Tidak ada... setidaknya aku ingin melihatnya menjadi seseorang yang kuat, dan jangan lupa adiknya bersama dengan dirinya setiap waktu" ucap Lilith kemudian pergi meninggalkan Maurer.
"Masih saja menyuruh-nyuruh seperti biasa, dasar wanita. Haah~ perasaanku mengatakan membimbingnya pasti akan sangat berat" ucap Maurer kemudian melihat kearah bulan purnama yang bersinar pada malam itu.
Tengah malam itu-pun dilewati dengan cahaya bulan purnama yang bersinar terang, disertai angin sepoi-sepoi dan Maurer yang tertidur dalam keadaan duduk didepan api unggun itu.
Esok harinya, mereka berjalan dari pagi hingga sore hari sampai akhirnya tiba di Kerajaan Grizel, Kerajaan yang sangat tertutup dari Benua Elzia, mereka sama sekali tidak memiliki hubungan Diplomasi dengan Kerajaan lain kecuali Kerajaan Duskford.
...Kerajaan Grizel...
Maurer yang menjelaskan ini semua pada kami, Aku melihat Gerbang Kerajaan Grizel dengan tercengang dan sangat kaget, ternyata sisi gerbangnya berwarna pink dan ada tanda hati yang juga berwarna pink ditengah-tengah gerbang itu, ditambah dengan pintu gerbangnya yang terbuat dari emas.
"Apa... kau tidak salah Kerajaan?" tanyaku menatap Maurer dengan rasa tidak percaya, tapi Maurer hanya tersenyum melihatku, dan Garm merasa bersemangat melihat tampilan Gerbang yang imut ini.
Pintu Gerbang terbuka, kemudian. . .
"ADA APA DENGAN KERAJAAN INI!?" Aku melihat banyak sekali monster dan iblis yang sedang berdagang disepanjang jalan, mereka membuka kios-kios milik mereka sendiri, ada juga beberapa pelanggan mereka, juga para penduduk yang berlalu-lalang.
"A...APA YANG MEREKA LAKUKAN!?" tanyaku yang terkejut melihat keadaan ini, nampak Garm malah sangat senang berada disini, aku bisa melihat mulutnya yang mengeluarkan liur sangat banyak seakan ingin membeli makanan yang dijual monster dan iblis itu.
"Berbisnis." Jawab Maurer singkat kepadaku, sambil mengedipkan matanya kearahku.
__ADS_1
'Brengsek....' kata batinku sambil melihat wajah Maurer dengan ekspresiku yang jengkel, namun dia hanya tersenyum kepadaku, seakan dia bilang 'Kau yang brengsek.' "Yah... ok" ucapku padanya.
Kami akhirnya berjalan melewati kerumunan penduduk itu, Garm sangat berantusias untuk mencicipi makanan yang dijual disini, entah kenapa Maurer melihatku tajam, aku tak mengerti apa yang dia inginkan.
Tap-Tap-Tap suara dari langkah kaki kami, Maurer masih melihatku dengan tatapan tajam, entah apa yang dia inginkan.
10 Detik berlaru TATAP Maurer.
20 Detik berlalu TATAP Maurer.
30 Detik berlalu TATAP Maurer.
'Apa yang di inginkan sibrengsek ini sih...!?' Kata batinku sambil melihat Maurer kesal, bruk! terlihat Garm menabrak punggungku, Garm-pun hampir terjatuh, tapi aku menangkap punggungnya seperti pose orang berdansa.
"Kau tidak apa-apa Garm?" ucapku sambil memegangi punggung Garm.
"Tidak~ Kamu jahat sekali, sebagai permintaan maaf-mu, kamu harus mentraktirku~ Kyaa~" ucap Maurer yang berdiri disamping kami.
"Hah!?" ucapku sambil menatap Maurer kesal.
"Kyaa~ aku lupa aku harus pergi menyiapkan sesuatu~ Selamat Tinggal! Kutitipkan adikku padamu~" ucap Maurer sambil melambaikan tangannya pada kami.
"Merepot-" kalimatku belum selesai, tiba-tiba Maurer menatap wajahku dan berkata "Jangan sampai kau membuatnya menangis!" ucapnya dengan nada yang seram kemudian pergi.
"......" tatapku pada Maurer.
"Sampai kapan kau mau memegangiku?" tanya Garm padaku sambil menatapku tajam.
Entah kenapa mereka berdua ini pasangan kakak adik yang aneh, pada akhirnya aku-pun menghabiskan waktuku bersama dengan Garm, yah... kupikir tak ada salahnya sedikit bersenang-senang sebelum latihan.
Kota Kerajaan ini ramai sekali, jauh lebih ramai dibandingkan Kota Duskford dan Larden, dan bagiku ini pertama kalinya aku berkencan dengan seorang gadis selama 29 tahun hidupku.
Lagipula aku bisa melihat Garm yang tersenyum dan lebih ceria setelah pertempuran kami sebelumnya, Maruer juga sebenarnya kakak yang baik, aku mengerti dengan maksud dari perbuatannya, jujur saja aku juga ingin seorang adik, bagaimana rasanya jadi seorang kakak ya?
'Trio BarPlinBol, kuharap kalian baik-baik saja'
Plin-Plan : Helena
Cebol : Audelia
...Goddess Temple...
...
Pict From Google...
Terlihat Freya sudah sampai didepan jembatan kayu yang dilindungi oleh perisai cahaya kuning itu, dia berdiri menatap perisai itu dengan curiga, enam hari perjalanan yang melelahkan seorang diri.
"Sekelilingku hanya terlihat reruntuhan, rumah-rumah kosong, apa tidak ada penghuni lain disini?" ucap Freya sambil melihat sekelilingnya.
Terlihat Freya mencoba menyentuh perisai kuning itu, 'Ternyata sama seperti tembok milik Alexander' kata batin Freya.
Freya-pun berjalan mengitari tempat itu, tapi tetap saja tak ada petunjuk yang dia dapatkan, sampai akhirnya dia berhenti ditempat dia berdiri sebelumnya.
"Guardian Angel!" ucap Valkyrie kemudian dia bertransformasi, lalu tak disangka-sangka ternyata perisai kuning itu menghilang, kemudian dia masuk kedalam persiai dan melewati jembatan itu.
Sesaat setelah dia masuk, tiba-tiba ada suara yang merdu menyambutnya "Gadis muda, apa yang membuat dirimu sampai ketempat ini?" tanya suara itu kepada Freya.
'Suara siapa itu? perempuan?' tanya Freya dalam benaknya, "Namaku Freya Duskford Eirini, seseorang yang menjalin kontrak dengan Dewi Valkyrie, aku kesini untuk menjadi lebih kuat demi mengalahkan Raja Iblis Lucifer, dan membantu rekan-rekanku dalam pertempuran nanti" Jelas Freya pada suara itu.
"Gadis muda, apa tujuanmu datang kemari?" Tanya suara itu sekali lagi pada Freya.
"Bukankah sudah kubilang aku ingin mengalahkan Raja Iblis Lucifer dan membantu rekan-rekanku." Jelas Freya sekali lagi.
"Dewi Valkyrie, dimana dia?" Tanya suara itu seakan dia tau tentang keadaan yang sudah dilalui oleh Freya.
__ADS_1
Terlihat Freya terdiam mendengar pertanyaan itu, lalu "Sebaiknya kau pergi dari sini jika kau masih ragu-ragu, kembalilah dalam waktu tiga hari lagi" jelas suara itu.
Kemudian tiba-tiba Freya dipindahkan kelokasi tempat awal dia datang, mengetahui kejadian itu, Freya terdiam ditempat dan mulai menangis, sendirian tanpa siapapun, dalam hatinya dia bertanya-tanya, 'Alexander... untuk siapa aku berjuang sekarang, dan Valkyrie... aku minta maaf.'
Sementara itu Helena dan Audelia. . .
...•Siang Hari•...
......Kota Taris......
......[Laut Taris]......
Suasana dilaut sangatlah tenang, air yang berwarna biru, ombak-ombak kecil yang kelihatan, angin sepoi-sepoi dan beberapa burung laut sedang berterbangan diatas langit biru mengelilingi awan-awan, matahari juga ikut menyinari indahnya pemandangan ini, kapal-kapal nelayan juga terlihat sedang menangkap ikan.
Terlihat Audelia dan Helena sedang mendayung dengan sangat cepat, dengan wajah yang panik dan lucu, mereka saling beradu mulut menyalahkan satu sama lain.
Entah apa yang dialami mereka, akan tetapi saat ini Kura-kura raksaksa seukuran 100 kali lipat dari Kapal Tanker, sedang mengejar mereka dari belakang.
"INI SALAHMU PUTRI CEBOL!" Teriak Helena yang marah sambil mendayung.
"AKU PIKIR ITU HANYA-LAH SEBUAH PULAU! JANGAN PANGGIL AKU CEBOL!" Jawab Audelia sambil berteriak dan mendayung.
Beberapa menit sebelumnya. . .
Terlihat Helena dan Audelia sedang menikmati laut yang indah ini, tapi tiba-tiba Audelia melihat sebuah pulau dengan pegunungan, hutan liar serta bebatuan diatasnya, sudah seminggu mereka terombang-ambing atas laut tidak menginjak daratan.
"PULAU!!!!" Teriak Audelia pada Helena sambil menunjuk kearah pulau itu, nampak Helena yang merasa aneh dengan kehadiran pulau itu mulai mengamatinya.
"Pulau?" baru saja Helena berkata seperti itu, tiba-tiba BYUR! Audelia malah nyemplung kedalam air dan mulai berenang kearah pulau itu.
"Hah?" kemudian Helena melihat ke peta ditangannya yang sebelumnya diberikan oleh Maurer, dan dia terkejut karena seharusnya tidak ada pulau di sekitar mereka.
"AUDELIA KESINI!" Teriak Helena memanggil Audelia.
Terlihat Audelia yang terdiam, dan kemudian ombaknya tiba-tiba membesar, muncul bayangan yang sangat besar diatas laut itu, lalu kemudian Audelia melihat seekor kura-kura raksaksa yang sangat-sangat besar sekali.
"Tidak mungkin, Aspidochelone..." ucap Helena sambil melihat kura-kura itu.
"AAAAAAA.. TOLONG AKU HELENA!!!" teriak Audelia sambil berenang dengan cepat kearah sekoci kecil itu.
Entah bagaimana caranya Audelia akhirnya sampai diatas sekoci kecil yang terombang-ambing ombak besar itu, bahkan sekocinya TIDAK TENGGELAM!!
TIDAK TENGGELAM-LAM-LAM-lam, pengen aja ngulang-ngulang.. hehe..
Audelia dan Helena-pun mendayung bersama sekuat tenaga.
...Saat ini. . ....
Terlihat mereka berdua sudah selamat dari kejaran mahluk itu, dan bersandar ditepian Pantai Helena terlihat sangat kelelahan setelah melalui semua itu, tapi berbeda dengan Audelia yang terlihat bersemangat.
"Idemu bagus juga, Putri Plin-Plan" ucap Audelia sambil melihat keatas langit yang cerah.
"Sifatmu sangat berubah ya? Cebol?" ucap Helena sambil tersenyum kearah Audelia.
"Yah.. sesekali kita harus bersenang-senang, kuharap yang lainnya juga sama.." ucap Audelia.
"Kau benar juga.." jawab Helena kemudian, dia terbesit sedikit pertanyaan dalam batinnya 'Ibu semoga kau baik-baik saja' sambil melihat kearah langit bersamaan dengan Audelia.
_____________________________________________
BAB VIII PART 3 : THE PAST
Pesan Penullis :
Jika ada kesalahan kata saya mohon maaf, semoga kalian menikmati cerita saya.
Terima Kasih
__ADS_1